Popular Post

Archive for September 2015

Tak Pernah Tersampai

By : Pena Tinta Hitam

Karya : Vincentius S.


Setelah 6 tahun lamanya belajar, aku melanjutkan ke jenjang SMP, jenjang yang dibilang  masa peralihan anak-anak menuju remaja. Kenyataannya jauh berbeda dari yg kubayangkan. Kegiatan belajar, bermain ataupun beraktivitas, tak berbeda dari SD.
Hari hari baru di SMP dimulai, melakukan kegiatan seperti biasa, bermain, kumpul dengan teman, berbincang-bincang, hingga suatu ketika kumelihat anak perempuan dikelasku sedang menangis ditemani temannya. Ketika kulihat, aku berpikir “ anak itu kenapa? Apakah dia sakit, atau terjadi sesuatu”. Tapi aku penasaran penyebab dia begitu. Lalu kutanya dan aku terkejut. Ternyata anak perempuan itu tadi malam ditembak oleh teman sekelasku yg bernama Denny lewat sms. Akupun bertanya tanya, “apa  itu ditembak?” , “apa itu pacar?”, “apakah menyenangkan atau menakutkan?”. Ya waktu itu aku tidak mengenal namaya pacaran lah, cinta lah, atau apalah. Yang kutahu hanya belajar dan bergaul dengan teman teman sebaya, seperti sewajarnya.
Lama sesudah peristiwa itu terjadi, Aku melihat seorang gadis lewat didepan kelasku. Aku memandang ke arahnya, didalam hati bertanya tanya “siapakah dia?”, “ kelas berapa?”  “paras wajah yang indah, tinggi, berambut panjang, hitam mengkilap, adakah kata – kata manis lagi yg harus kukatakan? Mungkin itu sebagian kata yang mengungkapkan tentang gadis itu” dalam hatiku bergumam sendiri. Tak henti aku melihat gadis itu hingga ia hilang dari pandanganku. Sejak aku melihat gadis itu, aku malah menjadi penasaran siapa ia, ingin tahu namanya dan hal hal lainnya. Hari ke hari aku terus memikirkan gadis itu, berharap bisa melihat dan berbicara kepadanya. Tetapi aku ingat, apa yang aku lakukan? Kenapa malah aku memikirkannya dan yang mengganjal dihati, ada rasa yang aneh, mungkin belum pernah aku merasakannya. Mungkin ini yang disebut orang kebanyakan yaitu cinta pandangan pertama. Namun, karena tak tahu hal itu, aku acuhkan rasa ini. Jika gadis itu lewat didepanku ,yang ku lakukan hanya termenung melihat pesona yang ada di wajahnya.
Waktu telah berlalu hingga aku naik ke kelas 2. Kulihat di daftar pengumuman kelas, gadis itu masuk  dikelas “orang pintar”. Tak kusangka gadis itu pintar meski kelihatannya dia pendiam, kalem, dan tak seperti gadis kebanyakan. Tapi entah kenapa lama – lama hati ini mulai berdegup ketika melihat dia dari dekat saat berjalan dilorong sekolah atau berpapasan saat menuju kantin, atau ketika kita saling melihat secara tak sengaja saat didepan kelas masing. Apakah ini yang dinamakan cinta? Akupun tak tahu menahu tentang itu. Yang kutahu, aku merasa senang saja ketika melihat gadis itu, tak kurang, tak lebih. Hari-hari berlalu begitu saja, entah apa yang membuat aku bersemangat berangkat sekolah. Apa karena aku melihat “gadis” itu terus menerus? Entahlah, aku bingung dibuatnya, karena setiap kupikirkan, semakin tak jelas juga jawabannya. Sudahlah, yang aku pikirkan sekarang adalah sekolah, itu saja dulu.
 Suatu hari saat jam istirahat, aku melihat dia sendirian didepan kelas, ada yang mengatakan dari dalam hati “apa aku mulai berkenalan dengan gadis itu?”, “ah, tapi buat apa aku kesana, buang buang waktu senggangku saja”, “tapi aku belum pernah mengenal gadis itu sejak kelas 1”. Konflik batinpun terjadi didalam diriku sembari aku melihat wajah cantiknya itu. Ketika aku mulai memberanikan diri melangkahkan 1 kaki kearah kelasnya, tanpa sengaja aku melihat dia sedang berbicara dengan kakak kelas yang ada di seberang, karena kelas mereka berhadapan satu sama lain hanya dipisahkan dengan ruangan aula yang memang terbuka disekolahku, jadi mereka bisa melihat kelas satu sama lain. Seketika itu, akupun berhenti memandangi gadis itu yang tengah berbicara dengan kakak kelas itu dan berpaling darinya. Yang kupikirkan waktu itu “apakah mereka berdua sudah pacaran atau masih berkenalan?”. Tanpa kusadari ada seorang temanku yg dari tadi memperhatikanku dari belakang. Akupun curiga, seperti ada yang memperhatikanku dari belakang, kumenoleh, tapi tak ada siapa-siapa. Lanjut aku menuju ke dalam kelas.
Lama setelah kulihat beberapa kali gadis itu, lagi-lagi mulai ada rasa yang aneh didalam diriku. Rasa yang kurasakan sebelumnya tapi tetap tak kumengerti. “Apakah ini yang namanya cinta?” gumamku didalam hati. Setiap aku melihat kearah gadis itu, rasanya nyaman, tenang, seperti semua masalah hilang. Tetapi setiap berpapasan dijalan, hatiku mulai tak karuan, apalagi kalau bersenggolan dengan gadis itu, senangnya hatiku. “apa ini yang dinamakan dengan cinta? Cinta pandangan pertamakah / cinta untuk yang pertama kali?” lagi-lagi aku terus memikirkan itu, seperti tak ada hal lain yang kupikirkan saja.
Hari demi hari kulalui, aku melihat kembali gadis itu datang kesekolah dengan wajah ceria, baru kali ini kumelihat cerianya sebesar ini. Semakin lama kumemandanginya, semakin dalam pula rasa yang ada didalam hatiku. Namun, jika kulihat sesekali gadis itu sedang berbicara dengan kakak kelas yang ada dikelas seberang, entah mengapa hatiku terasa ngilu, rasanya dengan melihat mereka berdua saja  hatiku seperti dihujam dengan sebilah parang yang tajam.
Akupun mulai mencari tahu hubungan kakak kelas dengan gadis itu. Aku mulai mencari tahu mula mula dari seorang teman dekat gadis itu, dia berkata bahwa kakak kelas itu adalah pacar gadis itu sejak kelas 1. Betapa terkejutnya, fakta yang ada dibalik pembicaran yang sering mereka berdua. Tapi aku tak boleh menimbulkan kecurigaan temanku karena ekspresi mukaku yang langsung berubah, aku lalu menyingkir dari kerumunan temanku dan pergi. Lama kelamaan aku berpikir tentang hal ini lagi dan lagi, apakah ini yang dinamakan cinta? Mudah menyukai orang, sekali suka tak bisa digantikan dengan orang lain, dan akan terasa sakit sekali jika melihat orang yang kau sayangi bersama dengan yang orang lain. Selama itu aku terus mencari jawaban atas apa yang kurasa dan definisi cinta itu.
Hari senin, kulihat gadis itu berangkat pagi sekali, gadis itu sudah berada didepan kelas setelah tak lama ia menaruh tas. Entah sedang melamun, memikirkan sesuatu atau sedang menunggu kakak kelasnya itu. Aku terus memandanginya sampai gadis  itu masuk kembali kekelasnya. Setelah itu sampai akhir pelajaran, aku tak melihat gadis itu didepan kelas lagi. Kemudian hari selasa, aku berangkat agak kesiangan, lalu aku berangkat tergesa – gesa. Lalu aku berpapasan dengan gadis itu dijalan bersama ayahnya naik motor. Aku jadi penasaran “dimanakah rumahnya? Seperti apa rumahnya? Tapi tunggu kenapa aku penasaran seperti ini? ah, yang paling penting aku sampai dulu kesekolah”. Sesampainya disekolah, aku tak melihat gadis itu keluar kelas. Mungkin sedang bercanda, atau mengerjakan tugas, entahlah. Sampai akhir pelajaran aku tak melihatnya lagi. Terpikir kalau gadis itu ibarat bulan yang hanya bisa dilihat 1 kali dalam sehari.
Lanjut hari rabu, tak seperti biasanya, tak kulihat dia waktu berangkat sekolah ataupun didepan kelasnya. Ingin sekali aku melirik kelasnya, tapi kubungkam saja rasa penasaran itu dalam – dalam karena takut. Dan sepertinya ini hari pertama ku tak melihat gadis itu. Hari demi hari, kulalui tanpa senyum yang menghiasi bibirnya yang lentik tipis merah jambu, yang menambah cantik wajahnya dengan rambut hitam yg diseka karet rambut yang terurai hingga punggung. Terasa hampa sekali ini hidupku tanpa ada sosok gadis yang biasa berdiri didepan kelasnya.
Kejadian tersebut terus berlanjut hingga aku naik ke kelas 3. Serasa sangat jauh, ibarat kelas gadis itu Timur, aku di Barat. Perlahan, aku mulai belajara melupakan gadis itu dan ingin fokus pada ujian sekolah dan nasional karena aku sudah kelas 3 sekarang. Hari demi hari berlalu ku mulai lupakan gadis itu. Tanpa sengaja setelah lama tak kulihat, gadis itu sedang berdiri sendirian didepan kelas seperti kebiasaanya waktu dulu, sedang apa akupun tak tahu. Yang terlintas dipikiranku adalah “paling ia sedih karena kehilangan pacarnya yang telah lulus tahun lalu.” Dalam hatiku terasa senang tak ada yang memilikinya lagi tapi sedih juga kalau melihat dia seperti itu. Kemudian aku berlalu menuju kantin tanpa memandangi gadis itu lagi.
Setelah sekian lama tak memikirkannya tiba - tiba pertengahan tahun, salah seorang temanku lebih tepatnya sahabat, diam-diam tahu kalau aku menaruh perhatian pada gadis itu sejak lama. Kemudian dia menuliskan namaku dan gadis itu di meja yang ditempati gadis itu. Ah, sialnya tulisan itu menyebar dikelasku dan kelas gadis itu. “Dasar! Temanku seperti anak anak saja.” Kataku kesal dalam hati. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat saat itu. Setiap teman sering menyebut namaku ketika gadis itu lewat, sungguh tindakan konyol dan malu aku dibuat oleh temanku itu. Tetapi sepertinya gadis itu tak tahu maksud tulisan dan ledekan temanku  itu dan bersikap acuh tak acuh / menganggap hal itu tak pernah terjadi.
Lama kelamaan isu itu hilang dan ingin rasanya memarahi sahabatku itu, tetapi tak tega aku berbuat pada temanku sendiri, tak enak rasanya. Kuputuskan bicara dengan dia, malah nyengir saja tentang masalah ini, malah memberi aku nomor hp gadis itu. Aku terkejut atas apa yang dikatakannya. “Apa maksudnya ini, apa hanya jebakan supaya aku malu lagi?” pikirku. Kutanya sekali lagi apa maksudnya, dia berkata hanya ingin membantu aku dekat dengan gadis itu. Senang sekaligus berdebar debar tetapi tak lepas juga dari ras curiga, namun apa yang harus aku lakukan dengan nomor ini, sms kah atau kutelpon sajakah. Karena baru kali ini aku merasakan hal ini dengan seorang gadis. Ah , sial, pintar sekali temanku itu membuat aku bingung seperti ini. Namun  aku berpikir tentang kenyataan yang ada didepanku. “jikalau aku luruskan pikiranku maka aku dapat 2 pilihan, pilih fokus ke ujian karena statusku siswa kelas 3 atau fokus ke gadis yang kusuka itu?” konflik ini berkecamuk dalam hati dan pikiran, seakan bertentangan satu dengan yang lain. Tapi setelah lama kumemikirkannya, pada akhirnya aku memilih fokus ujian dan lanjut ke sekolah yang kuinginkan. Waktu itu aku pikir “toh wanita itu banyak! Bukan hanya ada 1 atau hanya ia saja, jadi aku bisa mencari penggantinya saat aku masuk ke sekolah lanjutan nanti”.
Hari ke hari, bulan ganti bulan, hingga akhirnya saat ujianpun tiba. Aku menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta tentang soal ujian ini dan masalah perasaanku dengan gadis itu, mana jalan yang ditunjukan-Nya yang terbaik. Apakah kita akan berpisah setelah ini atau kita akan bertemu disekolah baru nanti. Aku mengerjakan soal ujian sekolah dan nasional dengan penuh harapan. Ya, aku ingin hasil yang optimal dalam ujian ini. Karena aku tak mau usaha yang kulakukan sia sia belaka. Karena gadis itulah, aku berangkat pagi-pagi dengan penuh semangat, berusaha belajar sebaik mungkin agar aku bisa lulus bersamanya.
Akhirnya, sekian lama perjuanganku selama 3 tahun ini ditentukan oleh ujian sekolah dan nasional, telah kulalui semua. Sekarang aku hanya perlu menunggu hasil dari ujian itu. Selama menunggu, terlintas seperti jet tempur wajah dan sosok gadis itu lagi. Ah, sial, teringat kembali aku dengan dirinya. Tapi dengan munculnya gadis itu kembali dari bawah alam sadarku, aku merasa sedih karena selama 3 tahun ini aku hanya bisa memandanginya dari belakang, seperti orang yang berjalan bersama bayangannya, gadis itu adalah orang yang berjalan, dan aku hanya bayangan yang ada dibelakangnya. Atau ada ungkapan lain yang menggambarkan keadaanku, seperti memandangi bayangan cahaya bulan yang ada di air, yang tak pernah bisa tersentuh. Begitu besarnya jarakku dengan gadis itu, padahal jelas didepan mata.
Setelah seminggu, pengumuman kelulusan itupun akhirnya dibacakan. Kepala sekolah membacakan waktu acara kelulusan yang telah dibuat sebelumnya oleh pihak sekolah, lalu kepsek menyatakan bahwa semua siswa kelas 3 berhasil lulus ujian dan lulus dari sekolah dengan nilai yang memuaskan. Betapa bahagianya aku saat mendengar hal itu. Akhirnya perjuanganku tak sia – sia dan dapat membuat bahagia kedua orang tuaku dan diriku sendiri. Tetapi jauh didalam lubuk hatiku, aku merasa sedih karena harus berpisah dengan gadis itu.
Ketika dan aku dengar dari teman teman, gadis itu ingin masuk ke SMA, sedangkan aku ingin masuk ke SMK, dengan semuanya itu, aku merasa kecewa juga karena tak berani mengakui perasaan ku ini kepada gadis itu. Jadi teringat kata – kata orang tua dulu, “ jika kamu tak memiliki keberanian dan tekad yang kuat, maka impianmu hanyalah khayalan belaka.” . Aku sedikit mengerti maksudnya tapi tak semudah seperti membalikan telapak tangan, kenyataannya lebih susah dari pikiranku. Disaat aku yakin ingin menemui gadis itu, ada saja halangannya. Entah itu teman yang memanggilku, atau gadis itu ditemani temannya, hingga aku tak bisa melihat gadis itu sendirian. Terlepas dari itu semua aku pasrahkan semua pada Sang Pencipta saja, biar Ia yang mengaturnya.
Saat merayakan pesta kelulusan bersama, kupikir hal terakhir yang kulakukan saat bersama gadis itu didalam pesta, yaitu tak henti memandang wajah cantik nan rupawan miliknya, dan tawa cerianya yang menghiasi wajah yang cantik itu yang sedang larut dalam kesenangan. Kulihat dia bahagia merayakannya bersama teman teman. Namun pada akhirnya, apa yang aku takutkan, kini menjadi nyata, hari terakhir sebelum benar benar pergi berpisah. “Huft, kupasrahkan saja pada Yang Kuasa, toh kalau kita berbeda sekolah, mungkin ini yang terbaik.” Gumamku dalam hati yang pilu ini.
Saat menunggu pendaftaram sekolah dibuka, aku coba untuk sms gadis itu. Rasa grogi sempat menghampiri, “kalau dia tanya ini siapa bagaimana? Harus jawab apa?” takutku. Kukesampingkan saja dulu rasa itu, yang penting lakukan dulu. Tapi tak sesuai dugaanku, tak ada balasan apapun sesaat setelah sms dia. Yang ada hanya sms teman-teman menanyaiku tentang sekolah mana yang kupilih nanti. Masa bodoh dengan sekolah nanti. Yang kutunggu hanya balasan dari gadis itu. Hingga saat pendaftaran dibuka, tak ada balasan apapun. 
Mulai  putus asa dengan gadis itu, kuluapkan emosi itu dengan bertekad masuk ke sekolah favorit, agar aku tak terlihat seperti orang bodoh dimatanya, yang gagal masuk sekolah favorit. Jika itu terjadi, maka tak ada harapan / alasan bagiku bertemu dengan gadis itu. Akupun pasrah kepada Sang Pencipta seraya berdoa kepada-Nya agar aku dapat masuk ke sekolah itu dan tak lupa juga berusaha sekuat tenaga agar dapat menyelesaikan semua tes yang ada. Jika diterima di sekolah itu, aku akan bersykur pada sang Kuasa, berterima kasih kepada orang tua, dan ada rasa bangga dalam hati jika aku bertemu dengannya kelak.
Saat pengumuman penerimaan, aku ternyata diterima di sekolah itu. Tak bisa dikatakan dengan kata-kata perasaanku. Tetapi “dunia seperti selebar daun kelor” kalimat itu yang terlintas dipikiranku saat lihat gadis itu masuk ke sekolah yang sama denganku. “apa maksudnya ini? What, why and how?” hanya kata itu yang kutahu. Entah apa rencana Sang Pencipta mempertemukan kita kembali. Padahal waktu itu kupikir itu pesta kelulusan menjadi yang terakhir kali aku akan melihat sosok gadis itu. Tapi semua meleset jauh. Ah, sudahlah, yang terpenting ku masuk sekolah yang kumau dan kuanggap kejutan bahwa gadis itu masuk juga ke sekolah yang sama.
Namun, disekolah baru itu , aku justru jarang melihat dia, baik dikantin maupun ketika jam-jam istirahat tiba. Meski masuk kesekolah yang sama, tetapi rasanya seperti gadis itu tak bersekolah disini, “dekat dimata, jauh dihati”. Dan kejadian itu terjadi selama 1 tahun yang berarti selama aku kelas 1 di sekolah baru itu, selama itu pulalah hampa yang kurasakan setiap hari sehingga seakan-akan sudah terbiasa. Hatiku mulai kembali seperti saat aku yang belum pernah melihat gadis itu.
Kemudian kuputuskan aku akan menyatakan perasaan yang kurasakan selama 4 tahun ini sejak SMP setelah berkali-kali gagal dan takut. Kucoba mulai dari sms dia berkali kali , bahkan kucoba telpon, tapi belum mendapatkan hasil. Setelah sekian lama, akhirnya dia membalas sms ku. Selang waktunya sekitar 6 bulan yang berarti aku kelas 2 pertengahan tahun dimulai aku sms gadis itu awal kelas 2. Meski lama sekali, aku senang sekali akhirnya gadis itu mau membalasnya. Gadis itu bertanya tentang siapa aku, lalu aku menjawabnya dengan nama samaran dan kubuat alasan supaya gadis itu percaya bahwa aku orang baik, bukan orang iseng/jahil. Sudah kupendam lama sekali perasaan ini, akhirnya aku bisa menyampaikannya. Lalu aku membalas bahwa “aku ada keperluan denganmu tentang tugas tugas sekolah, meski kelas kita berbeda, bisakah kita ketemuan di Tea house hari Sabtu jam 4 sore, bisakah?” setidaknya itulah yang berani kukatakan kepada gadis itu. Satu jam kemudian aku mendapat sms. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi, karena sms itu mengatakan bahwa gadis itu bisa datang. Betapa senang dan deg deg’an hatiku ini, setelah sekian lama akhirnya kubisa mengungkapkan perasaanku ini. Akupun tak sabar menunggu hari itu. Hari Sabtu pun tiba, aku cepat cepat kembali kerumah setelah pembelajaran dikelas sudah selesai. Baguslah tidak ada yang curiga kenapa aku tergesa gesa pulang, untung aku mempunyai teman yang cuek dengan lingkungan sekitar. Tepat setengah 4 aku sudah sampai di tempat yang kami sepakati sebelumnya. Karena gadis itu belum tahu siapa aku dan wajahku, akupun sedikit tenang dan tegang, jika hal yang tak diinginkan terjadi. Lama menunggu akhirnya gadis itu datang tepat pukul jam 4 sore. Seperti biasa gadis itu tampak mengenakan pakaian sederhana, namun tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun. Aku tampak gugup dibuatnya. Gadis itupun masuk, aku senang bisa melihatnya kembali setelah disekolah tidak pernah melihatnya, tetapi ada pemandangan yang berbeda. Dibelakang gadis itu ada seorang laki – laki yang menemaninya. “Sepertinya dia pacarnya” kataku dalam hati melihat cara mereka berjalan dan berbicara memang seperti orang berpacaran. Saat kulihat dia dengan orang lain, aku bingung akan melakukan apa, tetap bertemu atau bagaimana. Setelah lama kuberpikir, aku putuskan untuk pergi dan membatalkan janji itu, meski kecewa tak bisa bertemu secara khusus. Aku berlalu melewati persis didepan gadis itu. Dengan berat hati aku lakukan itu semua. Ya, tak semua hal yang kau lakukan / pikirkan sesuai dengan rencana, aku telah gagal untuk menyatakan perasaanku pada gadis itu.
Putus asa, galau, merana, mulai kubuang semua kenangan tentang gadis itu, kembali menjadi diriku yang dulu, kupikir itu hal terbaik sekarang, yang belum mengenal gadis itu, apalagi cinta. Ya,... apalah arti cinta? Satu kata yang masih belum kumengerti hingga saat ini. Cinta yang dimaksud orang kebanyakan adalah cinta nafsu, yang mana penuh dengan egois, keinginan pribadi, dsb.
Namun aku ingin mengartikan cinta sebagai cinta yang positif, cinta yang saling membantu, bukan saling ingin diperhatikan atau saling memanfaatkan dan akhirnya saling benci ketika putus.
Cinta yang kurasakan ini, entah itu cinta yang positif atau yang negatif. Aku mencoba mencari jawabannya dengan memutuskan kembali bahwa aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Kali ini aku beranikan diri untuk bertemu dengannya secara langsung saat pulang sekolah.
Tepat digerbang sekolah, aku melihatnya dari kejauhan tetapi dia bersama teman lelakinya. Jadi kuputuskan untuk berjalan dibelakangnya. Selama berjalan dibelakangnya, kulihat dia sedang bergurau dengan temannya itu, membuat aku cemburu saja. Ya, meski tidak ada hubunganya, tetapi entah kenapa hatiku tak tenang cenderung sakit.
Tiba-tiba ada suara gemuruh dibelakang, kulihat segerombolan pelajar saling kejar-kejaran, ternyata ada tawuran!  Kulihat teman lelaki itu malah lari meninggalkan gadis itu, dan gadis itu juga ikut lari karena ketakutan. Tanpa sengaja ada yang melemparkan batu, sialnya tepat ke arah gadis itu. Secara spontan aku berlari ke arahnya dan mendorongnya. Dan,.....
Saat kuterbangun, aku sudah berada di UKS sekolah, karena kejadiannya tidak jauh dari sekolahku. Kucoba ingat-ingat kejadian tadi ketika aku terkena lemparan batu saat menolong gadis tadi. Masih nyeri dipunggungku gara-gara itu batu. Tetapi kulihat sekelilingku, tak ada orang lagi. Aku bangun lalu memakai seragamku kembali, diluar ada guru yang merawat luka-lukaku. Setelah berterimakasih dengan guru, aku kembali kerumah.
Sesampai dirumah, aku memikirkan keadaan gadis itu. Apakah dia baik-baik saja atau bagaimana. Sampai tak tenang tidurku gara-gara memikirkan gadis itu. Hari esoknya, sesampai disekolah, aku tak melihat gadis itu di kantin, biasanya dia kekantin. Saat di kelas, kumendengar ada info kalau tawuran kemarin memakan korban, aku terkejut! Apa gadis kemarin yang menjadi korbannya?. Saat kutegaskan lagi tentang info itu ternyata bukan gadis itu, dan tidak ada korban jiwa. Lega rasanya mendengar hal itu, ternyata bukan dia. Hingga pulang sekolah aku masih memikirkan keadaan gadis itu. Aku sms, bbm, line semuanya tak ada respon. Mulai berpikir yang tidak-tidak, lebih baik aku pulang.
Lanjut hari selanjutnya, saat berangkat sekolah, terlihat gadis manis itu masuk ke sekolah lagi diantar oleh ayahnya. Saat kulihat itu, senang rasanya bisa melihanya lagi, tetapi ada benda kecil yang menghiasi wajah cantiknya, menilik lebih dekat saat berpapasan, ternyata tensoplas dikeningnya. Bingung, jika melihat  waktu kemarin, padahal dia tidak terkena apapun, lukaku saja masih sakit, kenapa ada tensoplas?. Tanya sana-sini, ternyata gadis itu kemarin saat aku dorong kedepan, kepalanya teratuk mobil yang parkir didepannya. Mendengar info itu aku merasa bersalah karena telah mendorongnya dengan keras waktu itu karena panik. Ada rasa ingin meminta maaf kepadanya, sekaligus modus untuk berkenalan dengannya. Kuberanikan diri ke kelasnya saat jam istirahat. Kuminta temannya memanggilkannya, dan saat bertemu dengannya hatiku berdebar kencang, tanganku dingin dan intonasi suaraku tak beraturan. Kemudian aku meminta maaf atas kejadian yang lalu, dia malah terlihat bingung, seakan menyiratkan dia tak tahu tentang kejadian waktu lalu. Aku juga bingung, kenapa dia tak mengingatku yang sudah mendorongnya hingga dia terbentur mobil waktu itu. Yang dia ingat adalah teman lelaki itu yang menolongnya saat tawuran dan waktu pingsan. Dia bertanya kepada teman lelaki yang kulihat waktu itu tentang kejadian kemarin. Teman lelaki itu menjawab seperti yang dikatakan gadis itu. Seperti berada di tengah-tengah lubang hitam , posisiku saat mendengar hal itu. Apa iya kejadiannya seperti itu, masih tak percaya. Tak terasa jam istirahat selesai bel pun berbunyi. Menyadarkan aku dari lamunanku. Aku meminta maaf atas kesalahpahaman ini dengan gadis meski itu tidak benar lalu aku pergi. Aku berlalu dari mereka berdua, dan sekali lagi aku kehilangan kesempatanku untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Terlintas dibenakku, siapa teman lelaki nya itu? Apakah perkataan teman lelaki itu benar?
Tak sengaja saat memalingkan wajah, kulihat sorot mata teman lelaki itu padaku benci dan merasa menang, terlihat sinis. Tetapi saat kuberbicara dengan gadis itu pandangannya seperti ingin membunuh. Lain jika sedang bicara dengan gadis itu, mata lelaki itu terlihat senang. Berbeda pula dengan mata gadis itu padaku, dibalik mata indahnya itu tersirat kata yang ingin dikatakannya dalam hatinya. Arti dari sorotan mata teman lelaki kepada gadis itu? Pesan apa yang ada dibalik mata gadis itu? Perasaan teman lelaki kepada gadis itu, fakta yang sebenarnya dibalik peristiwa tawuran itu, Dan apa ini saling terkait dengan 5 kata itu?
Sambil berjalan, aku berpikir tentang pertanyaan itu dalam hati.
1  kesimpulan yang kutahu, apakah itu benar atau tidak, jawaban dari semua pertanyaanku dan fakta dibalik sorot mata dan semuanya adalah.....
...


Cinta Beda Agama

By : Pena Tinta Hitam

Karya : Okta Ayu S


Aku Citra, gadis 16 tahun yang tinggal di ibu kota Jawa Tengah, ya Semarang. Aku berasal dari Bandung, pindah ke Semarang 1 tahun yang lalu. Aku seorang anak tunggal, tidak mempunyai kakak maupun adik. Ayahku bekerja di suatu perusahaan yg ada di Semarang, sedangkan ibuku menjaga toko dirumah yang sudah disediakan ayah. Keluargaku pindah ke Semarang karena ayah ditugaskan di Semarang untuk beberapa tahun. Sekarang aku menduduki bangku SMA kelas 2, aku bersekolah di SMA Swasta ternama di Semarang, aku masuk di kelas MIA.
Hari ini hari Senin, yang pastinya ada upacara bendera di sekolah, semalam aku begadang karena menyelesaikan tugas – tugas sekolah. Hari ini aku bangun kesiangan, sehingga aku tidak sholat subuh, alarm pun tidak terdengar, mungkin aku terlalu lelah, ibu juga tidak pernah membangunkanku agar aku menjadi anak yg mandiri dan bertanggung jawab. Setelah aku melirik ke arah jam, waktu menunjukkan pukul 6.30 sedangkan sekolahku masuk pukul 6.45 aku bergegas mandi dan langsung berpamitan untuk berangkat sekolah. Tidak sempat sarapan aku langsung mengeluarkan sepeda motor dan langsung berangkat sekolah.
Sesampai di sekolah, ya dugaanku benar, aku benar – benar terlambat. Sehingga aku berbaris di barisan paling pojok, dan dipermalukan seusai upacara. “Monster Day” pikirku, dikelas aku memang duduk sendirian, jam pertama pelajaran kimia
“Udah telat, dipermaluin, abis ini mikir lagi” gerutuku dikelas
Tiba – tiba guru kimia masuk bersama seorang pria, berkulit putih, manis, mempunyai tubuh atletis. Seketika murid perempuan dikelas melongo terpesona melihat pria tersebut.
“Selamat pagi anak – anak” suara guru kimia yg lumayan keras mengejutkan kami yg sedang terpesona melihat pria tersebut.
“Pagi bu” jawab kami serempak
“Ini murid baru, pindahan dari Singapura”
Seketika kami terkejut, mendengar dia bukan asli Indoesia, pria tersebut mengenalkan dirinya sendiri.
“Hai namaku Aditya Orlando, kalian bisa memanggil saya Adit”
“Suara yg manis” batinku

Ibu guru mempersilahkan adit duduk disampingku, sebagai wanita tentunya aku merasa senang, aku hanya berharap dia  menjadi sahabatku. Bel istirahatpun berbunyi, seperti hari – hari sebelumnya, setiap istirahat pertama aku menyempatkan untuk sholat duha. Setelah sholat aku masuk kembali ke dalam kelas, disana hanya ada adit, duduk dibangkunya, ya tepatnya berseblahan dengan tempat dudukku. Aku duduk di bangkuku, kami tetap terdiam, tak ada satu kata pun yg terucap dari kami.
”Adit” ucapnya sambil menjulurkan tangannya
“Citra” jawabku sambil membalas uluran tangannya
Dia membalas dengan senyuman
“Senyuman yang manis” ucapku dalam hati
Setelah itu kami mengobrol berbagai hal, mulai dari pelajaran hingga kehidupan sehari hari. Semakin lama kami semakin dekat, hingga teman – teman mengira kami berpacaran. Namun setelah selama ini aku tidak pernah melihat dia sholat, aku tekadkan untuk bertanya, ternyata agamanya Katolik, aku meminta maaf kepadanya, namun ia tak mempermasalahkan semua itu.
Setiap sabtu sekolahku libur, Adit berencana untuk datang kerumahku, ya untuk pertama kalinya. Kebetulan hari ini ayah juga libur, jadi dirumah. Setelah aku menunggu cukup lama, pukul 09.00 Adit sampai didepan rumah. Aku membukakan pintu gerbang, dia tersenyum padaku. Adit ku persilahkan masuk ke dalam rumah, dan aku persilahkan duduk diruang tamu. Ayah dan ibuku keluar, Adit bersalaman dengan kedua orang tuaku. Mereka ber bincang bicang berbagai hal, dan aku membuatkan minuman untuk Adit, orang tuaku masuk kedalam, dan aku duduk disamping adit, kami bercanda, dan mengobrol berbagai hal, ternyata Adit dulu pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta, lalu pindah lagi ke Australia karena ayahnya ditugaskan disana, Adit berasal dari keluarga Broken Home, mamahnya tinggal bersama adiknya di Belanda. Ayahnya asli Jerman, Ibunya asli Belanda, namun dulu Adit dilahirkan di Canada ketika orang tuanya tinggal disana, Adit tinggal tidak menetap, karena ayahnya juga bekerja nya selalu ditugaskan di berbagai kota, bahkan hingga luar negri. Namun Adit saat ini ingin menetap di Semarang saja, karena menurutnya kalau di luar negri dia merasa lingkungannya kurang baik. Walaupun dia berasal dari luar negeri juga. Waktu menunjukkan pukul 12.00 Adit mengajakku pergi, namun beberapa saat kemudian adzan dzuhur terdengar, orang tuaku mengingatkan untuk sholat terlebih dahulu, sebelumnya aku berbicara kepada orang tuaku bahwa Adit non muslim. Orang tuaku mengerti, setelah sholat aku langsung bersiap untuk pergi bersama Adit
“Mau kemana dit?”
“Jalan aja, daripada kamu suntuk dirumah”
“Pengertian ciee”
Adit hanya tersenyum mendengar ledekanku itu. Ia berhenti didepan pedagang ice cream kaki lima.
Ia memesan hanya satu
‘Loh, kok cuma 1? Aku nggak dibeliin nih?” ucapku
“enggak kok, itu buat kamu”
“Loh kamu?” tanyaku pada Adit
“Ga nafsu makan ice cream” jawabnya
“Alahh, palingan juga ga punya uang kan dit” ledekku pada Adit
“Haha, engga, ngaco deh, berapa sih berapa? Hmm” jawab Adit dengan songongnya
“Terus kenapa kamu nggak pesen sih dit?” tanyaku kembali
“Gapapa kok, bukan levelan aku di kaki lima kayak gini” ucapnya sombong
“Haha sombong banget dit, yg ngajakin kesini kan kamu”jawabku
“Mas, tambah 1 lagi ya” tuturku pada pedagang ice cream tersebut
“Loh cit” protes adit
“Udah diem tinggal makan juga ribet amat dit” jawabku
Adit pun memakan ice cream itu, sambil melirik kearahku ia tersenyum
“Apaan sih dit, ngeliatinnya gitu banget”
“Ciee salting ciee”
“Engga dih, kamu tuh terpesona kali sama aku”
“PD cie, terpesona sama kamu? Engga dih, kamu aja cerewet, bawel, PD, nyebelin gitu” ledek Adit
“Ditttttttt, ice creamnya aku lempar ke kamu nih” ancamku

“Haha coba sini kalo berani” ledek Adit kembali
”Bodo amat dit” jawabku sambil cemberut
“Kok cemberut gitu sih? Jangan marah deh, itu loh makan ice cream yg bener, masa makan ice cream aja masih kaya anak TK, belepotan gitu”
“Adit!!” tuturku sambil mengelap pipi dengan tanganku sendiri
“Sini sini aku lapin, ngelap aja ngga bisa”
Adit mengelap pipiku dengan lembut, aku menatap matanya, dan ia menatap mataku. Beberapa detik kami saling berpandangan
“Ehemm, mba mas kalo pacaran jangan disini, masa pacaran dipinggir jalan gini” ledek pembeli lain yg sedang duduk bersama teman – temannya yg juga ikut menertawakan.
Aku malu, spontan aku langsung menunduk, Adit mencubit pipiku
“Dit, apaan sih? Malu tau”
“Haha kamu kenapa cit? biasanya malu maluin juga”
Aku hanya terdiam, menahan malu. Adit membayar ice cream itu dan mengajakku pergi, namun heranku ice cream milik Adit masih tersisa cukup banyak. Padahal menurutku rasanya enak. Adit memberhentikan motornya di taman, kami berjalan mengintari taman sambil bercanda, Adit menggandeng tanganku, kami duduk di kursi yg ada di taman tersebut.
“Dit”
“Hmm”
“Tadi kok kamu nggak ngehabisin ice creamnya?”
“Ice Cream dibahas mulu”
“Ya abis ice cream enak ngga kamu makan”
“Jadi kamu mau lagi?”
“Bukannya gitu dit, ya heran aja sama kamu”
“Tadi kan ice cream ada kandungan susunya”
“Ya iyalah dit, makanya enak”
“Makanya juga ngga aku makan”
“Adittt”
“Apa sih cit?”
“Jawabnya serius dong dit”
“Kalo ngga serius ngga aku jawab cit”
“Dit, liat aku deh”
Adit menatapku, tatapannya tajam, ia tersenyum, sangat manis.
“Hmm, apalagi?” ucapnya sambil tersenyum
Aku hanya terdiam, terpesona dengan senyuman manis Adit
“Cittt, apa sih?”
“Hm, gapapa gapapa”
“Kan aneh” ledeknya
“Kenapa sih dit sama susu yg ada di ice cream?”
“Gapapa sih cit, aku alergi sama susu”
“Dit, kenapa ngga bilang tadi? Terus kalo kamu kenapa – napa gimana? Tanyaku panik
“Cie care sama aku. Kalo aku kenapa-napa? Ya aku salahin kamu lah” ujarnya
“Adit ih, yaudah yuk ke dokter kita periksa”
“Gausah, gapapa kok, aku juga masih sehat nih, makan aja yuk, aku laper”
“Dit, kamu sekarang sehat, tapi gatau nanti, ke dokter aja dulu baru makan”
“Udah ayuk makan, udah sore nih, km juga daritadi blm makan kan?”
“Iya sih dit, tapi bentar aku ke mushola depan dulu ya aku sholat azhar dulu”
“Yaudah, aku nunggu depan mushola ya”
Setelah sholat aku langsung menghampiri Adit. Muka Adit terlihat pucat.
“Dit, kamu pucet loh, ke dokter aja yuk, nanti kalo km kenapa-napa gimana?”
“Ini efek laper doang kok, yaudah ayuk makan”
Sesampai di café kami memesan makanan dan aku terus menanyakan keadaan Adit, Muka Adit semakin pucat, setiap aku bertanya Adit hanya tersenyum, meyakinkan aku bahwa dia baik – baik saja.
Tiba – tiba 2 teman laki – laki sekelasku datang, Kevin dan Leo, mereka juga teman baik Adit.
Adit meminta Kevin mengantarkanku, aku tidak mau, dan menggerutu karena Leo akan pergi dengan Adit. Sesampai dirumah, orang tuaku menanyakan mengapa bukan Adit yang mengantar
“Ada keperluan” jawabku langsung menuju ke kamar
Setelah sampai di kamar aku membuka smartphone milikku. Ternayata ada pesan singkat dari Adit
“Udah Sampai Rumah Cit?”
“Udah” balasku singkat
“yaudah istirahat sana, makasih ya udah nemenin jalan” balasnya kembali
“ya” balasanku cuek karna aku masih merasa kesal dengannya
Setelah itu Adit tidak ada kabar hingga minggu pagi, aku menelfonnya tak ada jawaban.
“Ke Gereja mungkin” pikirku
Aku munggu kabarnya hingga siang, namun dia sama sekali tak ada kabar. Aku menanyakan pada Kevin, apakah Adit masih bersama Leo.
“Dari kemaren juga Leo ngga ngasih tau kemana, yang jelas mereka lagi pergi, gatau kemana”
Aku semakin cemas memikirkan Adit, bagaimana keadaannya? Apakah dia baik – baik saja?
Aku ingin kerumahnya tapi aku tidak tau dimana rumahnya, hingga malam hari Adit tak ada kabar. Aku susah tidur memikirkannya. Pagi pun tiba, aku segera menuju ke sekolah, biasanya sebelum aku di kelas Adit sudah berada dikelas. Ketika aku masuk kelas hanya ada Kevin dan Leo
“Dimana Adit?” tanyaku pada diriku sendiri
Hingga bel sepulang sekolahpun Adit tetap tak nampak. Leo dan Kevin pun mengaku juga tidak tau dimana Adit. Aku tidak bisa fokus dalam hal apapun, di pikiranku hanya memikirkan Adit dan Adit.

Selasa, aku masuk kelas dan Adit menyambutku dengan senyuman
”Pagi cit” sapanya manis
Aku hanya diam karna kesal dengannya
“Syukurlah Adit baik – baik saja” ucapku dalam hati
“Dari kemaren nyariin aku ya?”
Aku tetap terdiam
“Kemaren aku di rumah tidur”
“Ngga percaya” jwbku yakin karna Adit bukan type orang yang doyan tidur
“Cit”
Aku hanya melirik
“Jujur ya, kemarin aku di rumah sakit”
“Ngapain?” tanyaku pada Adit
“Aku sakit, makanya dirawat dirumah sakit” jawabnya santai
“Kok kamu ngga ngasih kabar aku? Kok kamu diem aja? Kok ngga ngomong? Leo sama Kevin tau? Kamu sakit apa? Terus sekarang keadaan kamu gimana?” tanyaku nerocos
“Tanya satu – satu bisa kan cit?”
“Aditt, ayo jawab”
“hmm oke, kemarin waktu kamu dianter pulang Kevin, sebenernya aku nggak pergi sama Leo, setelah kamu pulang aku pingsan, dan Leo bawa aku ke rumah sakit, aku sekarang gapapa kok, karna susu kemaren” jelasnya santai
“Dit, maafin aku, aku gatau kalo km alergi susu, maafin aku udah marah sama kamu, maafin aku, gara – gara aku kamu sakit gini” ucapku menahan air mata
“Cit, aku udah nggapapa kok, udah sehat nih” jawabnya berusaha membuatku tenang
Tiba – tiba Adit merangkulku dan mengusap air mataku. Dia tersenyum
“Nanti pulang sekolah aku anter kamu pulang” ucap Adit membuatku kaget
Hari ini aku memang tidak membawa motor karna motoku sedang di service.
“Tapi dit, kamu kan harus istirahat, aku pulang sendiri gapapa kok”
“Aku udah sehat kok cit, lagian rumah kamu ngga di luar negri kan, setengah jam juga nyampe”
“Yaudah dit terserah kamu aja” dalam hatiku merasa senang
Bel pulang sekolahpun berbunyi
“Aku ke parkiran dulu, kamu nunggu depan gerbang aja ya” ucap Adit kepadaku
“Iya dit”
Sebelum menuju gerbang, aku menyempatkan ke kantin untuk membelikan minuman untuk Adit.
“Nih” tanganku menjulurkan botol minuman ke Adit
“Makasih cit, yaudah yuk” ucap Adit sembari meneguk minumannya
Jalan yg dilewati Adit bukan jalan ke arah rumahku. Akupun kebingungan
“Dit, mau kemana?”
“Kerumahku cit, aku ganti baju bentar, kebetulan papahku juga lagi dirumah, kamu kenalan sekalian”
Aku terkejut mendengar perkataan Adit, keringat dingin mengucur di tubuhku. Grogi, takut jadi satu, pikiran negatifku pun mulai bermunculan di otakku
“Bagaimana kalau papahnya tidak menyukaiku” itulah salah satu yg ada di otakku
Motornya berhenti tepat di rumah mewah, aku hanya terdiam mematung
“Cit, ayok masuk” ajak Adit sambil menarik tanganku
Pintu rumah dibukakan oleh 2 orang pembantunya, Rumahnya seperti istana di dalam dongeng, aku terkesima dengan isinya
“Duduk dulu cit, aku ganti baju dulu” ucap Adit
“Mau minum apa non?” Tanya salah satu pembantunya kepadaku
“Engga, ngga usah makasih” ucapku
“Bikinin jus aja bi, kasih es batu ya” teriak Adit sambil menaiki tangga
Aku ditinggalkan sendirian diruangan itu, aku hanya bermain smartphone sambil menunggu Adit, didepanku sudah ada berbagai makanan dan jus yg telah dihidangkan
“Dimakan cit” ucap Adit mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan kembali membuka smartphone ku. Tiba – tiba Adit mengambilnya dan menaruhnya di atas meja
“Apaan sih dit, ganggu deh”
“Gapapa, seneng aja liat kamu marah”
Tiba – tiba seseorang datang dari dalam, berpakaian rapi, memakai jas.
“Pah, mau kemana?” Tanya Adit pada laki – laki itu
Dari situ aku yakin bahwa itu papahnya
“Mau ke Kalimantan dit, papah pulang seminggu lagi, kamu jaga diri ya, jangan sampai sakit lagi” ucap laki laki itu dengan perhatian
“iya pah, pah kenalin ini citra temen sekelas aku”
Papahnya tersenyum, dan aku bersalaman
“Namanya cantik, sama seperti orangnya” puji papahnya
“Makasih om” jawabku sambil tersenyum
“Yaudah dit, papah pergi dulu, mari citra” pamitnya sambil mengembangkan senyuman
“Iya om, ati-ati”
“Ati – ati pah”
Pembantu Adit membawakan makan siang dan obat untuk Adit
“Mas Adit, ini obatnya, diminum setelah makan, jangan sampai telat ya mas” tutur pembantunya
“Iya bi, makasih ya”
Pembantunya hanya menjawab dengan senyuman
“Udah yuk cit mau pulang sekarang atau nanti, ntar dicariin mamah kamu loh”
“Tadi aku udah telfon ibu, aku udah bilang lagi dirumah kamu, km makan dulu nih, terus minum obatnya” ucapku
“Males ntaran aja, kalo kamu yang nyuapin aku baru mau” jawab Adit manja

“Ada sekop nggak dit?”
”Buat apaan Cit?
“Katanya mau disuapin”
“Ohh maksud kamu suapin pake sekop? Cantik cantik jahat”

“Canda doang dit”
”Café aja yuk cit”
“Ngapain?”
“Makan lah, yakali ke café tidur”
Kami pun menuju café terdekat, setelah kami memesan makanan dan selesai makan aku menyodorkan obat ke Adit

“Loh kok?” Tanya Adit”
”Iya, tadi sengaja aku bawain, udah buruan di minum obatnya”
Setelah itu Adit mengantarkanku pulang
“Mampir dit”
“Udah sore cit, besok aja, nih” ucap adit sambil menyodorkan coklat ke arahku
“Apaan nih dit?”
“Udah makan aja, aku ngga bakal ngeracunin kamu kok”
“Bukannya gitu dit, makasih ya” ucapku pada Adit
“Yaudah aku pulang dulu cit, jangan lupa dimakan”
“Siap bos, ati – ati dit, jangan ngebut”
Adit hanya tersenyum. Aku masuk kedalam rumah sambil bersenandung ria.
“Seneng banget nih kayaknya” ledek ibu
“Apaan sih bu, engga kok biasa aja”
“Terus itu coklat?” ledek ibu sambil melirik kearah tanganku yang membawa coklat
“Dari Adit” jawabku sambil nyelonong ke dalam kamar
Sesampai di kamar aku langsung menghubungi Adit
“Udah sampai rumah dit?”
“udah cit, barusan”
“yaudah jangan lupa mandi, minum obatnya yg teratur”
“iya bawel, siap. Makasih ya”
“Aku juga makasih ya udah di kasih coklat”
“jangan lupa dimakan”
“Pulang itu mandi ganti baju, bukannya ngeliat Hp sambil senyum – senyum” ucap ibu mengagetkanku
Aku segera menaruh hp, dan bergegas menuju ke kamar mandi, waktu menunjukkan pukul 19.00. Aku menuju meja belajar untuk belajar, aku melihat coklat dari Adit, dan memakannya, tak lupa aku membalas sms Adit yg belum sempat aku balas tadi
“Iya ini lagi dimakan”
“makan coklat malem – malem ntar gemuk loh”
“haha bodo amat dit”
“gemuk tapi tetep cantik kok”
“apaan sih dit, gombal”
“yaudah sana belajar, jangan main hp mulu”
“iya ini mau belajar”
“semangat belajar ya cit”
“iya dit, kamu juga ya”
Aku meneruskan belajarku, tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. rasa mengantuk datang kepadaku. Tiba – tiba ada telfon, ternyata Adit. Segera aku mengangkat telfonnya
“Cit?”
“Iya dit, kenapa?”
“Gapapa kok, kok kamu belum tidur?”
“Kamu juga kenapa belum tidur?”
“Mau telfon kamu dulu baru tidur”
“Emang telfon mau ngomong apa?”
“Cuma mau Tanya, belajarnya udah selesai? Tugas mat udah dikerjain?”
“Barusan selesai, mat ada tugas? Yg mana halaman berapa?”
“haha, enggak ada kok, canda”
“Adittt, nyebelin kan”
“yaudah cit tidur sana, udah malem, besok kesiangan loh”
“iya dit”
“motor udah jadi?”
“Belom”
“Yaudah aku jemput kamu besok jam 06.25 didepan rumah km”
“berangkat sendiri aja gapapa kok dit”
“Ngga usah protes, udah tidur, besok aku jemput, malem cit, jangan lupa baca doa”
“Malem juga dit, iya kamu juga ya”
Tut… tut…
Telfon pun terputus, Adit mematikannya, dan aku beranjak untuk tidur.
Keesokan harinya entah mengapa alarmku tidak terdengar. Aku melirik jam diangka 6 lebih 10 menit.
“Matii, bakalan telat” gumamku
Seusai mandi aku melihat Adit sudah didepan rumah.
“Dit, kamu duluan aja aku kesiangan, nanti aku berangkat sendiri aja daripada kamu juga telat nanti” teriakku kepada Adit
Belum ada jawaban dari Adit aku bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat. Melirik jam, dan jarum jam menunjukkan pukul 6.40
Aku langsung keluar dan melihat Adit didepan
“Dit, kan aku udah bilang, kamu duluan aja, daripada kamu telat”
“Udah ayok buruan” ucapnya
Sesampai disekolah kita mendapat hukuman, dan tidak dapat mengikuti pelajaran pada jam pertama
“Maaf ya dit”
“Gapapa, santai”
“Kan aku tadi udah bilang kamu duluan aja, kamu sih pake nungguin aku segala”
“Udah terlanjur, gapapa kok, lagian juga hukumannya gitu doang, lagian ngga ikut pelajaran jam pertama doang, matematika kan?”
“Iya matematika, sejam doang”
“Mat ada tugas”
“Terus kenapa kamu nggak bilang aku? Aku belum ngerjain dit” ucapku panik
“Udah santai, ke kantin aja yuk”
“Dit kita telat, masa malah ke kantin”
“Terus kamu nunggu disini? Kamu juga belum ngerjain matematika kan? Aku udah kok, ayo ke kantin, kamu nyalin ini, nanti kalo ditanyain tinggal ngasihin” ujar Adit sambil menarik tanganku
“Kok kamu nggak bilang semalem ada tugas?”
“Udah malem, kasian, kamu juga ngantuk, apalagi kalo aku bilang ada tugas, tidur jam berapa coba”
“Makasih dit” ucapku sambil mengembalikan bukunya
Kami sudah menduduki bangku kelas 3, dan mulai persiapan untuk ujian, karena sama – sama sibuk aku dan Adit jarang pergi bersama. Sejak kelas 3 juga aku baru menyadari bahwa aku terkena kanker, sudah stadium 3, Adit tidak mengetahuinya, sengaja aku tidak memberi tahunya, karna aku tidak ingin Adit khawatir. Setiap 2 minggu sekali aku harus ke dokter untuk cuci darah. Sudah beberapa bulan aku tidak ke dokter dan tidak meminum obat, karena aku sibuk dengan persiapan ujian disekolahku. Rambutku satu persatu mulai rontok, aku terkadang mimisan.
Saat itu sedang ada pelajaran bahasa Indonesia, tiba – tiba darah keluar dari hidungku, bergegas aku mencari tisu, aku tidak ingin Adit melihatnya. Akupun mendapatkan tisu dan segera mengelap darah itu.
“Cit, kamu kenapa?” Tanya Adit yg ternyata melihatku
“Gapapa kok dit” ucapku sambil tersenyum
Adit mengelap sisa darah yg keluar dari hidungku dengan tangannya
“Cit, kita ke dokter sekarang”
“Ngga usah dit ini palingan cuma kecapekan kok” jawabku meyakinkan
Adit berdiri dan meminta izin kepada guru pengampu, dan diizinkan, adit menuntunku kearah motornya, ia tidak mempedulikan tas yg ada dikelas. Ia langsung membawaku ke dokter, kebetulan dokter itu yg biasanya aku periksa dulu, jadi dokter itu telah mengenalku. Dokter langsung memeriksaku, ketika dokter memeriksaku Adit mengusap rambutku, dan rambutku ada ditangannya, ya tepatnya rontokan rambutku. Adit terkejut, setelah selesai diperiksa Adit menanyakan keadaanku kepada dokter.
“Citra, kanker kamu sudah stadium ahkir, beberapa bulan belakangan ini kamu juga tidak datang untuk check up keadaan kamu” ujar dokter tersebut
Adit terkejut, dan meneteskan air mata, aku tak tau harus berbuat apa. Aku hanya terdiam, dan menatap Adit. Kami langsung pulang, namun tidak pulang kerumah, melainkan ke rumah Adit, kebetulan papahnya sedang berada di Sumatra, aku duduk di sofa, bersama Adit disampingku. Kami sama – sama terdiam.
“Dit”
Adit hanya terdiam, dan nampaknya sedang memikirkan sesuatu
“Dit, aku nggapapa kok”
“Kamu bilang kamu gapapa? Kanker kamu udah stadium ahkir cit, kamu masih bilang kamu gapapa? Kenapa sih cit dari dulu kamu ngga bilang ke aku?”
“Aku Cuma ngga mau kamu khawatir dit”
“Tapi kalo kayak gini aku lebih khawatir cit”
“Iya dit, aku minta maaf”
“Ngga perlu minta maaf, mulai besok kamu ngga usah berangkat ke sekolah, kamu dirumah aja, aku yang bilang sama orang tua kamu”
“Ngga usah dit, aku masih kuat kok, jangan bilang ke orang tua aku dit, aku ngga mau keluargaku khawatir, aku udah banyak nyusahin mereka”
“Tapi cit, kamu harus banyak istirahat, kamu nggak boleh kecapekan, aku sayang sama kamu cit, aku gamau kamu kenapa – napa”
Ucapan Adit membuatku terkejut
“Aku cinta sama kamu, tapi aku sadar kita beda agama, aku cuma bisa ngejaga kamu dengan cara kaya gini”
Mendengar pernyataan Adit aku meneteskan air mata
“Dit, aku juga cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu ninggalin aku” ujarku sambil meneteskan air mata
Adit mengelap air mataku
“Udah yuk aku anter pulang, keburu sore, nanti kamu dicariin orang tua kamu”
Adit mengantarku pulang. Keesokan harinya saat aku akan mengeluarkan motor, sedangkan aku melihat mobil merah didepan gerbang
”Seperti mobil Adit” batinku
Tiba – tiba seorang laki – laki turun dari mobil itu, ya Adit
“Dit, kamu ngapain disini?”
“Jemput kamu”
“Loh dit”
“Yaudah ayuk, nanti pulang juga aku anter kok, mulai sekarang kamu nggak usah bawa motor sendiri, aku bakal jemput kamu tiap hari dan nganter kamu pulang tiap hari”
“Kan ngerepotin kamu dit, aku kan bisa bawa motor sendiri, lagian kok tumben kamu bawa mobil, emang motor kamu kemana dit?”
“Udah ayok berangkat, nanti telat, gausah banyak protes, nurut aja, motor dirumah, aku sengaja bawa mobil, kalo kamu cape kamu bisa tidur”
‘Iya, iya, makasih ya dit”

Adit langsung menuntunku masuk kedalam mobil, membukakakn pintu untukku. 
Sesampai di kelas Kevin dan Leo langsung menyambut kami dengan celaan mereka
“Ciee yang sekarang pacaran, makan – makan sob” ucap Kevin
“Iya ntar pulang sekolah makan – makan di kantin” jawab Adit
“Dih, seorang Adit masa iya nraktir di kantin doang, Resto dong dit” cetus Leo
“Iya deh iya, terserah kalian nanti mau dimana” jawab Adit kembali
Aku hanya tersenyum, tubuhku lemas, Adit menyadarinya dan menuntunku untuk duduk di bangku
“Duh Citra serasa tuan putri ya sekarang” ledek Leo
Aku tidak mempedulikan cetusan Leo
“Ngeledekin Citra urusannya sama aku loh” ucap Adit
Mereka tertawa melihat ekspresi Adit yg seperti pahlawan kesiangan, sedangkan aku hanya memberikan senyum tipis, badanku terasa sangat lemas, seperti tak berdaya. Bel masuk pun berbunyi. Sepanjang pelajaran Adit terus mengkhawatirkanku, ia selalu menoleh ke arahku. Lagi – lagi aku mimisan, Adit sudah terbiasa melihat aku mimisan, ia selalu mengelap darah yg keluar dengan tangannya, ia tak merasa jijik sedikitpun. Sepulang sekolah Kevin dan Leo menagih janji Adit untuk mentraktirnya di Restoran
“Kamu masih kuat? Kalo nggak kuat aku anter kamu pulang dulu aja” ucap Adit dengan penuh perhatian
“Masih kok dit, tenang aja, lagian aku juga males dirumah, bosen” jawabku
Kami ber4 menuju Restoran menggunakan mobil milik Adit, Kevin yg menyetir dan Leo duduk didepan,ya disamping Kevin, aku dan Adit duduk dibelakang. Disepanjang jalan Adit terus menggenggam tanganku, sesampai di restoran kami langsung memesan, sambil menunggu pesanan datang Adit, Leo, Kevin bercerita, bercanda, hingga mereka tertawa terbahak-bahak. Aku senang melihat senyum lebar Adit, manis sekali. Setelah pesanan datang Kevin dan Leo langsung menyantap makanan tersebut, menghiraukan lingkungan sekitar. Aku sama sekali tak mempunyai nafsu untuk makan, Adit dengan setia menyuapkan makananku, dengan lembut, sedangkan dia sendiri tidak peduli dengan makanan yg dia pesan sudah dingin di meja.
“Udah dit, kamu makan dulu aja, aku udah kenyang”
“Cit, baru aja 3 sendok, makan lagi ya” bujuk Adit
“Ehemm, mentang – mentang baru jadian, sweet banget gitu” ledek Kevin
“Sini vin, suap – suapan sini sama aku” canda Leo
Kevin langsung menganga, seperti anak kecil yg memberi isyarat ibunya untuk menyuapkan makanan, Leo tidak menyuapkan makanannya tapi malah menampar pipi Kevin, Kevinpun menggerutu dengan mimik muka yg lucu. Kami tertawa melihatnya.
Seusai makan kami menuju sekolah kembali karena motor Kevin dan Leo masih ada di sekolah, setelah mengantar mereka Adit memberhentikan mobilnya di sebuah taman, ia mengambil gitar di bagasi belakang. Kami duduk di kursi taman, Adit menyanyikan beberapa lagu untukku. Beberapa jam kami disitu, tak henti – hentinya Adit membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya. Hari semakin malam adit mengantarkanku pulang.

1 Bulan Kemudian
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, namun aku tak bisa hadir, karena aku terbaring lemah dirumah sakit, Adit yg selalu mondar – mandir datang ke rumah sakit untuk menemaniku, aku sadar kita memang beda agama, namun cinta menyatukan kita. Siang itu pukul 14.30 Adit datang, membuka pintu sambil tersenyum, ia membawa secarik kertas.
“Nihh” kertas itu diberikan kepadaku
“Aku lulus nggak dit?” tanyaku padanya
“Enggak cit” jawabnya sambil ber ekspresi sedih
Aku membuka kertas itu dan isinya pengumuman kelulusanku bertuliskan “LULUS”
Senang sekali saat itu, dan ternyata Adit membohongiku. Adit memberikan aku coklat dan kertas diselipkannya di coklat. Aku boleh membukanya ketika ia sudah pulang.
“Cit, aku pengen deh besok lanjut kuliah sama kamu, kita bareng – bareng terus ya cit”
“Iya dit, semoga ya, tapi aku nggak yakin aku bakalan tetep stay sama kamu”
“Maksud kamu mau ninggalin aku? Terus kamu cari yg lebih ganteng dari aku? Emang aku kurang ganteng ya cit?”
“Bukannya gitu dit, aku nggak bisa stay sama kamu karena aku sadar umur aku nggak bakalan panjang, mungkin nanti, besok, atau lusa dit”
“Cit, kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, kamu lawan penyakit kamu, aku disini stay sama kamu, aku mau kamu sembuh, aku mau kita bareng – bareng terus”
Laki – laki memakai jas, rapih memasuki ruanganku, dan membawa buah – buahan, memberikan senyuman manisnya
“Eh pah, aku kira papah nggak jadi kesini” ucap adit
“Kebetulan papah sampai tadi sore, jadi papah bisa kesini, Citra cepat sembuh ya, Adit galau tuh mikirin kamu terus”
Akupun tersenyum sambil melirik ke arah Adit. Kami mengobrol, sesekali tertawa. Waktu menunjukkan pukul 20.55
“Dit, udah malem, papah pulang dulu ya, besok papah harus ke Surabaya, kamu ikut pulang sekarang atau nanti?”
“Nanti aja pah, nungguin Citra dulu, kasihan citra sendirian”
“Nggapapa kok dit, kamu pulang aja” ucapku

“Nanti aja gapapa kok cit”
”Yaudah papah pulang dulu ya dit, kamu nanti ati- ati pulangnya”
“Iya pah”
“Mari Citra, cepet sembuh ya”
“Iya om, terimakasih”
Aku ditemani Adit hingga larut malam, waktu menunjukkan pukul 22.45
“Dit, pulang sana udah malem”
“Oh, jadi ceritanya ngusir nih”
“Bukannya ngusir dit, cumakan udah malem”
“Iya sayang, iya, aku pulang ya, besok pagi aku kesini lagi” ucap Adit sambil tersenyum dan meninggalkan ruanganku.
Aku membalas dengan senyuman, setelah ia meninggalkan ruangan, aku membuka kertas yg ada di selipan coklat itu. Ternyata kertas itu bertuliskan
“I Love You Sayang, cepet sembuh ya biar kita bisa pergi bareng lagi, biar kita bisa kuliah bareng”
Aku membacanya sambil tersenyum dan meneteskan air mata, ya air mata haru.
Keesokan harinya aku bangun, kira – kira pukul 07.15. Adit disebelahku dan membawa bunga, kue tart lengkap dengan lilinnya dan sekotak kado.
“Happy Birtday Citra. Happy Bithday Citra. Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Citra” lantunan yg berasal dari Adit
Aku tersadar ini tanggal 25 Juli, hari ulang tahunku
Aku meneteskan air mata, aku tak mengira Adit mengingatnya, padahal aku tak pernah memberitahunya.
“Happy birthday ya sayang, cepet sembuh, panjang umur ya sayang”
“Makasih dit, makasih buat semuanya, maafin aku yg ngga bisa nyenengin kamu, aku udah jelek dit, aku udah nggak punya rambut, aku yg sakit – sakitan dan kamu masih setia nyenengin aku, ngehibur aku, nungguin aku, ngerawat aku kayak gini” ujarku dengan meneteskan air mata
“Cit, aku bener – bener cinta sama kamu ya walaupun aku tau kita beda agama, tapi aku nggak peduli sama semua itu, sekarang, nanti, besok, lusa, dan sampai kapanpun aku bakalan tetep ada disamping kamu” ucap Adit
“Tapi dit, aku nggak yakin umurku bakalan panjang”
“Yakinin diri kamu, percaya kalo kamu bisa sembuh”
“Dit, makasih ya udah ada buat aku terus, maaf aku selalu ngerepotin kamu”
“Kamu nggak ngerepotin kok cit, aku seneng kalo ada disamping kamu terus, I’ll stay here to you, if you need something, tell me”
“Thank you dit, you’re my prince, love you so much”
Adit hanya tersenyum, Akupun membuka kado dari Adit, ternyata kotak itu berisi Al-Quran.
“Dit, makasih ya”
“Maaf ya cit aku nggak bisa ngimamin kamu waktu sholat, aku nggak bisa ngaji bareng sama kamu”
“Dit, aku ngerti kok, kamu nerima aku aja udah lebih dari cukup, makasih ya dit”
Aditpun menggenggam tanganku sembari memberikan senyum manisnya
“Dit, aku kangen waktu dulu kita ke taman, tapi aku tau itu semua nggak mungkin, dengan keadaan ku yg seperti ini, pasti aku bakalan buat kamu malu” ucapku lirih
Adit pun keluar dan aku tak tau ia kemana, beberapa saat kemudian ia datang, membawakan kursi roda, dan tersenyum
“Yuk ke taman, aku udah izin sama dokter kok, tamannya kan juga ngga jauh dari sini”
Akupun dituntun Adit perlahan agar bisa pindah ke kursi roda. Ia mendorong kursi roda menuju taman, sesampai di taman aku menjadi pusat perhatian orang di sekeliling, Adit menatapku dan aku hanya tersenyum untuk meyakinkan Adit bahwa aku baik – baik saja. Segerombolan anak remaja seusia kami menghampiri kami, ternyata itu teman – teman komunitas basket Adit. Adit mengenalkanku pada mereka.
“Kenalin ini citra, pacar” ucap Adit dengan rasa bangga
Aku hanya tersenyum, mereka melihatku dengan jijik, bahkan ekspresi muka mereka tidak mengenakkan
“Dit, kamu yakin ini pacar kamu?” ucap salah seorang temannya
“Iyalah, ada yg salah?” sahut Adit
“Ngga nyangka aja kamu pacaran sama cewe yang nggak ada bagus – bagusnya, penyakitan juga kan, duduk di kursi roda ngga bisa ngapa-ngapain” ucap temannya yg lain.
“Kalo kesini Cuma mau ngeledekin mending pergi aja deh” bentak Adit
Merekapun langsung pergi, aku tak bisa membendung air mataku, pertahananku jebol, tetesan air mata mengalir di pipiku.
“Maafin mereka ya cit” ucap Adit
“Dit, aku minta maaf kalo kehadiranku dihidupmu Cuma ngebuat kamu malu, maaf aku udah buat kamu malu di depan teman – temanmu, aku emang cewe yg nggak berguna dit, tinggalin aja aku, kamu bisa cari yg lebih daripada aku” ucapku sambil terus meneteskan air mata
“Aku sayang kamu cit, aku nerima kamu walaupun keadaan kamu kaya gini, aku ngga peduli sama semuanya, jangan peduliin omongan mereka, aku bakalan terus disamping kamu, sampai kapanpun” ucap adit sambil mengelap air mataku
Aku menatap Adit, memberikan senyuman tipis
“Cit, udah mulai malem nih, ke rumah sakit yuk, nanti dicariin orang tua kamu, dicariin dokter juga”
Aku hanya mengangguk, sampai di ruanganku Adit menuntunku kembali ke kasur, namun entah mengapa badanku terasa sangat lemas, Adit menggendongku.
Tiba – tiba orang tuaku datang. Mereka berbincang dengan Adit. Badanku benar – benar terasa lemas, entah apa yang terjadi padaku setelah itu.
“Citttt..citra, kamu kenapa cit?” Adit khawatir
Orang tua citrapun memanggilkan dokter, dan dokter memberikan isyarat pada kami untuk keluar. Dokter pun memeriksa citra. Setelah memeriksa dokter keluar.
“Gimana keadaan anak saya dok?” Tanya ibu citra sambil menangis
“Maaf bu, citra sekarang dalam keadaan kritis, ada dua kemungkinan, citra bisa selamat dan melewati masa kritisnya, atau dia pergi meninggalkan kita” jelas dokter
Adit, dan orang tua citra menangis mendengar kabar tersebut.
“Bolehkah saya masuk dok?” Tanya adit pada dokter
“Silahkan, nanti kalo ada apa – apa bisa memanggil saya” jawab dokter
Adit menginap dirumah sakit, orang tua citra harus pulang karma ada keperluan, dan mempercayai adit untuk menunggu citra.
Keesokan harinya ada suara wanita yg lemas, dan lemah memanggil nama Adit, Adit pun terbangun
“Cit, kamu udah sadar, kamu gimana keadaannya, aku khawatir sama kamu, aku ngga mau kamu tambah parah, aku mau kamu sembuh” ucap Adit sambil meneteskan air mata
“Aku gapapa kok dit” ucap Citra dengan suara lemas
“Aku panggil dokter sebentar ya cit, kamu baik – baik ya”
Adit memanggil dokter, setelah dokter datang Citra pun berbisik kepada dokter. Dan beberapa saat kemudian Adit diminta untuk keluar.
“Dok bagaimana keadaan saya dok?” Tanya Citra pada dokter
Dokterpun hanya terdiam
“Aku tahu umurku sudah tak lama lagi dok” ujar Citra sembari mengambil secarik kertas dan bolpoin
Citra menuliskan sesuatu, dan beberapa menit kemudia ia meneteskan air mata, ia mengambil sesuatu dalam laci didekatnya, ia melipat kertas itu dan didalam lipatan itu ada sesuatu, ia memberikan lipatan tersebut ke dokter
“Ini buat Adit dok, dikasihinnya kalo besok aku sudah berbeda alam dengan Adit ya dok. Tolong kasih tau Adit kalau aku baik – baik saja”
“Baiklah” jawab dokter tersebut
“Terimakasih dok”
Dokter hanya membalas dengan senyuman. Dokterpun keluar
“Bagaimana keadaan citra dok?” Tanya Adit
“Baik – baik saja kok, jaga dia” tutur dokter meninggalkan Adit
Seminggu kemudian, rambut Citra benar- benar habis, mukanya sangat pucat, ia terbaring lemas, walaupun begitu ia tetap tersenyum.
“Dit, makasih ya selama ini kamu udah jagain aku, hari ini hari ulang tahun kamu kan, maaf ya dit aku ngga bisa ngasih apa –apa ke kamu”
“Aku nggak perlu sesuatu dari kamu kok cit, kamu ada disamping aku aja udah lebih dari cukup” ucap Adit sambil menggenggam tangan Citra
“Aku yang kaya gini? Yang Cuma malu – maluin kamu karma keadaanku seperti ini?”
“Bagaimanapun keadaanmu aku tetep sayang sama kamu cit, aku nggak malu sama kamu, kamu udah kaya malaikat dihidupku, hebat ya cit Tuhan kamu, nyiptain hamba se istimewa kamu”
“Dit, makasih yaa, makasih buat semuanya, jangan lupa ke gereja, jangan males buat ke gereja”
“Iya cit, pasti kok”
“Dit aku suka lagunya marcell deh, pas banget buat kita”
Citra memutar lagu tersebut dari handphonenya
Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin
Iman kita yg berbeda
Tuhan memang satu
Kita yg tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cita takkan bisa pergi
Adit mematikan lagu itu
“Kamu ataupun aku nggak boleh ada yg pergi, kita tetep sama – sama kok”
“Dit, aku capek, aku udah nggak kuat, aku mau tidur”
“Yaudah kamu tidur aja cit, aku disini kok”
Hingga beberapa jam citra dibangunkan untuk minum obat, namun tak ada reaksi dari citra, Adit memanggil dokter sambil menangis, mengkhawatirkan citra. Setelah dokter memeriksa, dokter menghela nafas panjang.
“Citra sudah meninggalkan kita, kamu yg sabar ya” ucap dokter kepada Adit, sambil menyodorkan lipatan kertas
Pemakaman citra dilakukan esok hari karena hari mulai malam, adit terus disamping jenazah citra. Keesokan harinya adit mengantar pemakaman citra. Sesampai dirumah tubuhku terasa lemas. “Inikah kado ulang tahunku? Aku sayang kamu cit, aku nggak mau kehilangan kamu” omelan adit pada dirinya sendiri. Adit ingat dengan kertas yang diberikan dokter kemarin, ia membukanya, didalam lipatan kertas itu tenyata ada kalung, berliontin salib. Adit melihat kalung itu sambil meneteskan air matanya. Dan iapun membaca Surat yg berisi

Hai Adit,
Kamu jaga diri baik – baik ya, makasih udah setia nungguin aku yang penyakitan ini.
Makasih udah ngerawat aku, makasih kamu udah sayang sama aku, makasih udah nerima aku,makasih buat coklatnya, makasih udah selalu ngehibur aku, ya walaupun kita beda keyakinan, kamu masih nerima aku.
Aku sadar disaat aku ke masjid, kamu ke gereja, disaat aku membuka Al-Quran kamu membuka Alkitab, saat kamu memakai gelang salib, aku menggenggam tasbih. Walaupun agama kita berbeda, cinta menyatukan kita. Makasih dit buat semuanya, mungkin setelah aku pergi kamu bisa cari yang lebih dari aku, makasih ya dit udah bikin aku seneng selama ini, aku lebih bahagia disini, aku nggak ngerasa kesakitan lagi, kamu jangan nangisin aku ya dit, doain aja aku di surga, aku nggak bermaksud ninggalin kamu kok dit, ini udah kehendak Allah. Maafin aku yang udah bikin kamu malu dengan keadaan fisik aku, makasih kamu udah ngebela aku di depan teman – temanmu saat mereka menertawakan keadaanku. Aku sayang kamu dit, jangan nangis mulu, aku sedih disini liat kamu nangis. Aku pengen liat kamu bahagia dit, aku pengen banget bahagia sama kamu, tapi aku tau itu semua mustahil karena aku juga udah pergi. Walaupun aku pergi dari dunia ini bukan berarti aku pergi dari hati km dit. Jaga baik – baik kalungnya ya dit, jangan lupain semua kenangan kita. Jangan males ke gereja. Makasih pangeranku, makasih malaikat hatiku. Maaf ngerepotin kamu selama ini, kamu udah bebas kok dari cewe penyakitan yg suka ngerepotin kamu, yang selalu nyusahin kamu. Aku sayang banget sama kamu dit


Citra

- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -