Archive for September 2015
Tak Pernah Tersampai
By : Pena Tinta HitamKarya : Vincentius S.
Setelah 6 tahun lamanya belajar, aku
melanjutkan ke jenjang SMP, jenjang yang dibilang masa peralihan anak-anak menuju remaja.
Kenyataannya jauh berbeda dari yg kubayangkan. Kegiatan belajar, bermain
ataupun beraktivitas, tak berbeda dari SD.
Hari hari baru di SMP dimulai, melakukan
kegiatan seperti biasa, bermain, kumpul dengan teman, berbincang-bincang,
hingga suatu ketika kumelihat anak perempuan dikelasku sedang menangis ditemani
temannya. Ketika kulihat, aku berpikir “ anak itu kenapa? Apakah dia sakit,
atau terjadi sesuatu”. Tapi aku penasaran penyebab dia begitu. Lalu kutanya dan
aku terkejut. Ternyata anak perempuan itu tadi malam ditembak oleh teman
sekelasku yg bernama Denny lewat sms. Akupun bertanya tanya, “apa itu ditembak?” , “apa itu pacar?”, “apakah
menyenangkan atau menakutkan?”. Ya waktu itu aku tidak mengenal namaya pacaran
lah, cinta lah, atau apalah. Yang kutahu hanya belajar dan bergaul dengan teman
teman sebaya, seperti sewajarnya.
Lama sesudah peristiwa itu terjadi, Aku
melihat seorang gadis lewat didepan kelasku. Aku memandang ke arahnya, didalam
hati bertanya tanya “siapakah dia?”, “ kelas berapa?” “paras wajah yang indah, tinggi, berambut
panjang, hitam mengkilap, adakah kata – kata manis lagi yg harus kukatakan?
Mungkin itu sebagian kata yang mengungkapkan tentang gadis itu” dalam hatiku
bergumam sendiri. Tak henti aku melihat gadis itu hingga ia hilang dari
pandanganku. Sejak aku melihat gadis itu, aku malah menjadi penasaran siapa ia,
ingin tahu namanya dan hal hal lainnya. Hari ke hari aku terus memikirkan gadis
itu, berharap bisa melihat dan berbicara kepadanya. Tetapi aku ingat, apa yang
aku lakukan? Kenapa malah aku memikirkannya dan yang mengganjal dihati, ada
rasa yang aneh, mungkin belum pernah aku merasakannya. Mungkin ini yang disebut
orang kebanyakan yaitu cinta pandangan pertama. Namun, karena tak tahu hal itu,
aku acuhkan rasa ini. Jika gadis itu lewat didepanku ,yang ku lakukan hanya
termenung melihat pesona yang ada di wajahnya.
Waktu telah berlalu hingga aku naik ke
kelas 2. Kulihat di daftar pengumuman kelas, gadis itu masuk dikelas “orang pintar”. Tak kusangka gadis
itu pintar meski kelihatannya dia pendiam, kalem, dan tak seperti gadis
kebanyakan. Tapi entah kenapa lama – lama hati ini mulai berdegup ketika melihat
dia dari dekat saat berjalan dilorong sekolah atau berpapasan saat menuju
kantin, atau ketika kita saling melihat secara tak sengaja saat didepan kelas
masing. Apakah ini yang dinamakan cinta? Akupun tak tahu menahu tentang itu.
Yang kutahu, aku merasa senang saja ketika melihat gadis itu, tak kurang, tak
lebih. Hari-hari berlalu begitu saja, entah apa yang membuat aku bersemangat
berangkat sekolah. Apa karena aku melihat “gadis” itu terus menerus? Entahlah,
aku bingung dibuatnya, karena setiap kupikirkan, semakin tak jelas juga
jawabannya. Sudahlah, yang aku pikirkan sekarang adalah sekolah, itu saja dulu.
Suatu hari saat jam istirahat, aku melihat dia
sendirian didepan kelas, ada yang mengatakan dari dalam hati “apa aku mulai
berkenalan dengan gadis itu?”, “ah, tapi buat apa aku kesana, buang buang waktu
senggangku saja”, “tapi aku belum pernah mengenal gadis itu sejak kelas 1”.
Konflik batinpun terjadi didalam diriku sembari aku melihat wajah cantiknya
itu. Ketika aku mulai memberanikan diri melangkahkan 1 kaki kearah kelasnya,
tanpa sengaja aku melihat dia sedang berbicara dengan kakak kelas yang ada di
seberang, karena kelas mereka berhadapan satu sama lain hanya dipisahkan dengan
ruangan aula yang memang terbuka disekolahku, jadi mereka bisa melihat kelas
satu sama lain. Seketika itu, akupun berhenti memandangi gadis itu yang tengah
berbicara dengan kakak kelas itu dan berpaling darinya. Yang kupikirkan waktu
itu “apakah mereka berdua sudah pacaran atau masih berkenalan?”. Tanpa kusadari
ada seorang temanku yg dari tadi memperhatikanku dari belakang. Akupun curiga,
seperti ada yang memperhatikanku dari belakang, kumenoleh, tapi tak ada
siapa-siapa. Lanjut aku menuju ke dalam kelas.
Lama setelah kulihat beberapa kali gadis
itu, lagi-lagi mulai ada rasa yang aneh didalam diriku. Rasa yang kurasakan
sebelumnya tapi tetap tak kumengerti. “Apakah ini yang namanya cinta?” gumamku
didalam hati. Setiap aku melihat kearah gadis itu, rasanya nyaman, tenang,
seperti semua masalah hilang. Tetapi setiap berpapasan dijalan, hatiku mulai
tak karuan, apalagi kalau bersenggolan dengan gadis itu, senangnya hatiku. “apa
ini yang dinamakan dengan cinta? Cinta pandangan pertamakah / cinta untuk yang
pertama kali?” lagi-lagi aku terus memikirkan itu, seperti tak ada hal lain
yang kupikirkan saja.
Hari demi hari kulalui, aku melihat
kembali gadis itu datang kesekolah dengan wajah ceria, baru kali ini kumelihat
cerianya sebesar ini. Semakin lama kumemandanginya, semakin dalam pula rasa
yang ada didalam hatiku. Namun, jika kulihat sesekali gadis itu sedang
berbicara dengan kakak kelas yang ada dikelas seberang, entah mengapa hatiku
terasa ngilu, rasanya dengan melihat mereka berdua saja hatiku seperti dihujam dengan sebilah parang
yang tajam.
Akupun mulai mencari tahu hubungan kakak
kelas dengan gadis itu. Aku mulai mencari tahu mula mula dari seorang teman
dekat gadis itu, dia berkata bahwa kakak kelas itu adalah pacar gadis itu sejak
kelas 1. Betapa terkejutnya, fakta yang ada dibalik pembicaran yang sering
mereka berdua. Tapi aku tak boleh menimbulkan kecurigaan temanku karena
ekspresi mukaku yang langsung berubah, aku lalu menyingkir dari kerumunan
temanku dan pergi. Lama kelamaan aku berpikir tentang hal ini lagi dan lagi,
apakah ini yang dinamakan cinta? Mudah menyukai orang, sekali suka tak bisa
digantikan dengan orang lain, dan akan terasa sakit sekali jika melihat orang
yang kau sayangi bersama dengan yang orang lain. Selama itu aku terus mencari
jawaban atas apa yang kurasa dan definisi cinta itu.
Hari senin, kulihat gadis itu berangkat
pagi sekali, gadis itu sudah berada didepan kelas setelah tak lama ia menaruh
tas. Entah sedang melamun, memikirkan sesuatu atau sedang menunggu kakak
kelasnya itu. Aku terus memandanginya sampai gadis itu masuk kembali kekelasnya. Setelah itu
sampai akhir pelajaran, aku tak melihat gadis itu didepan kelas lagi. Kemudian
hari selasa, aku berangkat agak kesiangan, lalu aku berangkat tergesa – gesa.
Lalu aku berpapasan dengan gadis itu dijalan bersama ayahnya naik motor. Aku
jadi penasaran “dimanakah rumahnya? Seperti apa rumahnya? Tapi tunggu kenapa
aku penasaran seperti ini? ah, yang paling penting aku sampai dulu kesekolah”.
Sesampainya disekolah, aku tak melihat gadis itu keluar kelas. Mungkin sedang
bercanda, atau mengerjakan tugas, entahlah. Sampai akhir pelajaran aku tak
melihatnya lagi. Terpikir kalau gadis itu ibarat bulan yang hanya bisa dilihat
1 kali dalam sehari.
Lanjut hari rabu, tak seperti biasanya,
tak kulihat dia waktu berangkat sekolah ataupun didepan kelasnya. Ingin sekali
aku melirik kelasnya, tapi kubungkam saja rasa penasaran itu dalam – dalam
karena takut. Dan sepertinya ini hari pertama ku tak melihat gadis itu. Hari
demi hari, kulalui tanpa senyum yang menghiasi bibirnya yang lentik tipis merah
jambu, yang menambah cantik wajahnya dengan rambut hitam yg diseka karet rambut
yang terurai hingga punggung. Terasa hampa sekali ini hidupku tanpa ada sosok
gadis yang biasa berdiri didepan kelasnya.
Kejadian tersebut terus berlanjut hingga
aku naik ke kelas 3. Serasa sangat jauh, ibarat kelas gadis itu Timur, aku di
Barat. Perlahan, aku mulai belajara melupakan gadis itu dan ingin fokus pada
ujian sekolah dan nasional karena aku sudah kelas 3 sekarang. Hari demi hari
berlalu ku mulai lupakan gadis itu. Tanpa sengaja setelah lama tak kulihat,
gadis itu sedang berdiri sendirian didepan kelas seperti kebiasaanya waktu
dulu, sedang apa akupun tak tahu. Yang terlintas dipikiranku adalah “paling ia
sedih karena kehilangan pacarnya yang telah lulus tahun lalu.” Dalam hatiku
terasa senang tak ada yang memilikinya lagi tapi sedih juga kalau melihat dia
seperti itu. Kemudian aku berlalu menuju kantin tanpa memandangi gadis itu
lagi.
Setelah sekian lama tak memikirkannya
tiba - tiba pertengahan tahun, salah seorang temanku lebih tepatnya sahabat,
diam-diam tahu kalau aku menaruh perhatian pada gadis itu sejak lama. Kemudian
dia menuliskan namaku dan gadis itu di meja yang ditempati gadis itu. Ah,
sialnya tulisan itu menyebar dikelasku dan kelas gadis itu. “Dasar! Temanku
seperti anak anak saja.” Kataku kesal dalam hati. Aku tak tahu apa yang harus
kuperbuat saat itu. Setiap teman sering menyebut namaku ketika gadis itu lewat,
sungguh tindakan konyol dan malu aku dibuat oleh temanku itu. Tetapi sepertinya
gadis itu tak tahu maksud tulisan dan ledekan temanku itu dan bersikap acuh tak acuh / menganggap
hal itu tak pernah terjadi.
Lama kelamaan isu itu hilang dan ingin
rasanya memarahi sahabatku itu, tetapi tak tega aku berbuat pada temanku
sendiri, tak enak rasanya. Kuputuskan bicara dengan dia, malah nyengir saja
tentang masalah ini, malah memberi aku nomor hp gadis itu. Aku terkejut atas
apa yang dikatakannya. “Apa maksudnya ini, apa hanya jebakan supaya aku malu
lagi?” pikirku. Kutanya sekali lagi apa maksudnya, dia berkata hanya ingin
membantu aku dekat dengan gadis itu. Senang sekaligus berdebar debar tetapi tak
lepas juga dari ras curiga, namun apa yang harus aku lakukan dengan nomor ini,
sms kah atau kutelpon sajakah. Karena baru kali ini aku merasakan hal ini
dengan seorang gadis. Ah , sial, pintar sekali temanku itu membuat aku bingung
seperti ini. Namun aku berpikir tentang
kenyataan yang ada didepanku. “jikalau aku luruskan pikiranku maka aku dapat 2
pilihan, pilih fokus ke ujian karena statusku siswa kelas 3 atau fokus ke gadis
yang kusuka itu?” konflik ini berkecamuk dalam hati dan pikiran, seakan
bertentangan satu dengan yang lain. Tapi setelah lama kumemikirkannya, pada
akhirnya aku memilih fokus ujian dan lanjut ke sekolah yang kuinginkan. Waktu
itu aku pikir “toh wanita itu banyak! Bukan hanya ada 1 atau hanya ia saja,
jadi aku bisa mencari penggantinya saat aku masuk ke sekolah lanjutan nanti”.
Hari ke hari, bulan ganti bulan, hingga
akhirnya saat ujianpun tiba. Aku menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta
tentang soal ujian ini dan masalah perasaanku dengan gadis itu, mana jalan yang
ditunjukan-Nya yang terbaik. Apakah kita akan berpisah setelah ini atau kita
akan bertemu disekolah baru nanti. Aku mengerjakan soal ujian sekolah dan
nasional dengan penuh harapan. Ya, aku ingin hasil yang optimal dalam ujian
ini. Karena aku tak mau usaha yang kulakukan sia sia belaka. Karena gadis
itulah, aku berangkat pagi-pagi dengan penuh semangat, berusaha belajar sebaik
mungkin agar aku bisa lulus bersamanya.
Akhirnya, sekian lama perjuanganku
selama 3 tahun ini ditentukan oleh ujian sekolah dan nasional, telah kulalui
semua. Sekarang aku hanya perlu menunggu hasil dari ujian itu. Selama menunggu,
terlintas seperti jet tempur wajah dan sosok gadis itu lagi. Ah, sial, teringat
kembali aku dengan dirinya. Tapi dengan munculnya gadis itu kembali dari bawah
alam sadarku, aku merasa sedih karena selama 3 tahun ini aku hanya bisa
memandanginya dari belakang, seperti orang yang berjalan bersama bayangannya,
gadis itu adalah orang yang berjalan, dan aku hanya bayangan yang ada
dibelakangnya. Atau ada ungkapan lain yang menggambarkan keadaanku, seperti
memandangi bayangan cahaya bulan yang ada di air, yang tak pernah bisa
tersentuh. Begitu besarnya jarakku dengan gadis itu, padahal jelas didepan mata.
Setelah seminggu, pengumuman kelulusan
itupun akhirnya dibacakan. Kepala sekolah membacakan waktu acara kelulusan yang
telah dibuat sebelumnya oleh pihak sekolah, lalu kepsek menyatakan bahwa semua
siswa kelas 3 berhasil lulus ujian dan lulus dari sekolah dengan nilai yang
memuaskan. Betapa bahagianya aku saat mendengar hal itu. Akhirnya perjuanganku
tak sia – sia dan dapat membuat bahagia kedua orang tuaku dan diriku sendiri.
Tetapi jauh didalam lubuk hatiku, aku merasa sedih karena harus berpisah dengan
gadis itu.
Ketika dan aku dengar dari teman teman,
gadis itu ingin masuk ke SMA, sedangkan aku ingin masuk ke SMK, dengan semuanya
itu, aku merasa kecewa juga karena tak berani mengakui perasaan ku ini kepada
gadis itu. Jadi teringat kata – kata orang tua dulu, “ jika kamu tak memiliki
keberanian dan tekad yang kuat, maka impianmu hanyalah khayalan belaka.” . Aku
sedikit mengerti maksudnya tapi tak semudah seperti membalikan telapak tangan,
kenyataannya lebih susah dari pikiranku. Disaat aku yakin ingin menemui gadis
itu, ada saja halangannya. Entah itu teman yang memanggilku, atau gadis itu
ditemani temannya, hingga aku tak bisa melihat gadis itu sendirian. Terlepas
dari itu semua aku pasrahkan semua pada Sang Pencipta saja, biar Ia yang
mengaturnya.
Saat merayakan pesta kelulusan bersama,
kupikir hal terakhir yang kulakukan saat bersama gadis itu didalam pesta, yaitu
tak henti memandang wajah cantik nan rupawan miliknya, dan tawa cerianya yang
menghiasi wajah yang cantik itu yang sedang larut dalam kesenangan. Kulihat dia
bahagia merayakannya bersama teman teman. Namun pada akhirnya, apa yang aku
takutkan, kini menjadi nyata, hari terakhir sebelum benar benar pergi berpisah.
“Huft, kupasrahkan saja pada Yang Kuasa, toh kalau kita berbeda sekolah, mungkin
ini yang terbaik.” Gumamku dalam hati yang pilu ini.
Saat menunggu pendaftaram sekolah
dibuka, aku coba untuk sms gadis itu. Rasa grogi sempat menghampiri, “kalau dia
tanya ini siapa bagaimana? Harus jawab apa?” takutku. Kukesampingkan saja dulu
rasa itu, yang penting lakukan dulu. Tapi tak sesuai dugaanku, tak ada balasan
apapun sesaat setelah sms dia. Yang ada hanya sms teman-teman menanyaiku
tentang sekolah mana yang kupilih nanti. Masa bodoh dengan sekolah nanti. Yang
kutunggu hanya balasan dari gadis itu. Hingga saat pendaftaran dibuka, tak ada
balasan apapun.
Mulai
putus asa dengan gadis itu, kuluapkan emosi itu dengan bertekad masuk ke
sekolah favorit, agar aku tak terlihat seperti orang bodoh dimatanya, yang
gagal masuk sekolah favorit. Jika itu terjadi, maka tak ada harapan / alasan
bagiku bertemu dengan gadis itu. Akupun pasrah kepada Sang Pencipta seraya
berdoa kepada-Nya agar aku dapat masuk ke sekolah itu dan tak lupa juga
berusaha sekuat tenaga agar dapat menyelesaikan semua tes yang ada. Jika
diterima di sekolah itu, aku akan bersykur pada sang Kuasa, berterima kasih
kepada orang tua, dan ada rasa bangga dalam hati jika aku bertemu dengannya
kelak.
Saat pengumuman penerimaan, aku ternyata
diterima di sekolah itu. Tak bisa dikatakan dengan kata-kata perasaanku. Tetapi
“dunia seperti selebar daun kelor” kalimat itu yang terlintas dipikiranku saat
lihat gadis itu masuk ke sekolah yang sama denganku. “apa maksudnya ini? What,
why and how?” hanya kata itu yang kutahu. Entah apa rencana Sang Pencipta
mempertemukan kita kembali. Padahal waktu itu kupikir itu pesta kelulusan
menjadi yang terakhir kali aku akan melihat sosok gadis itu. Tapi semua meleset
jauh. Ah, sudahlah, yang terpenting ku masuk sekolah yang kumau dan kuanggap
kejutan bahwa gadis itu masuk juga ke sekolah yang sama.
Namun, disekolah baru itu , aku justru
jarang melihat dia, baik dikantin maupun ketika jam-jam istirahat tiba. Meski
masuk kesekolah yang sama, tetapi rasanya seperti gadis itu tak bersekolah
disini, “dekat dimata, jauh dihati”. Dan kejadian itu terjadi selama 1 tahun
yang berarti selama aku kelas 1 di sekolah baru itu, selama itu pulalah hampa
yang kurasakan setiap hari sehingga seakan-akan sudah terbiasa. Hatiku mulai
kembali seperti saat aku yang belum pernah melihat gadis itu.
Kemudian kuputuskan aku akan menyatakan
perasaan yang kurasakan selama 4 tahun ini sejak SMP setelah berkali-kali gagal
dan takut. Kucoba mulai dari sms dia berkali kali , bahkan kucoba telpon, tapi
belum mendapatkan hasil. Setelah sekian lama, akhirnya dia membalas sms ku.
Selang waktunya sekitar 6 bulan yang berarti aku kelas 2 pertengahan tahun
dimulai aku sms gadis itu awal kelas 2. Meski lama sekali, aku senang sekali
akhirnya gadis itu mau membalasnya. Gadis itu bertanya tentang siapa aku, lalu
aku menjawabnya dengan nama samaran dan kubuat alasan supaya gadis itu percaya
bahwa aku orang baik, bukan orang iseng/jahil. Sudah kupendam lama sekali
perasaan ini, akhirnya aku bisa menyampaikannya. Lalu aku membalas bahwa “aku
ada keperluan denganmu tentang tugas tugas sekolah, meski kelas kita berbeda,
bisakah kita ketemuan di Tea house hari Sabtu jam 4 sore, bisakah?” setidaknya
itulah yang berani kukatakan kepada gadis itu. Satu jam kemudian aku mendapat
sms. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi, karena sms itu mengatakan bahwa
gadis itu bisa datang. Betapa senang dan deg deg’an hatiku ini, setelah sekian
lama akhirnya kubisa mengungkapkan perasaanku ini. Akupun tak sabar menunggu
hari itu. Hari Sabtu pun tiba, aku cepat cepat kembali kerumah setelah
pembelajaran dikelas sudah selesai. Baguslah tidak ada yang curiga kenapa aku
tergesa gesa pulang, untung aku mempunyai teman yang cuek dengan lingkungan
sekitar. Tepat setengah 4 aku sudah sampai di tempat yang kami sepakati
sebelumnya. Karena gadis itu belum tahu siapa aku dan wajahku, akupun sedikit
tenang dan tegang, jika hal yang tak diinginkan terjadi. Lama menunggu akhirnya
gadis itu datang tepat pukul jam 4 sore. Seperti biasa gadis itu tampak
mengenakan pakaian sederhana, namun tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun.
Aku tampak gugup dibuatnya. Gadis itupun masuk, aku senang bisa melihatnya
kembali setelah disekolah tidak pernah melihatnya, tetapi ada pemandangan yang
berbeda. Dibelakang gadis itu ada seorang laki – laki yang menemaninya.
“Sepertinya dia pacarnya” kataku dalam hati melihat cara mereka berjalan dan
berbicara memang seperti orang berpacaran. Saat kulihat dia dengan orang lain,
aku bingung akan melakukan apa, tetap bertemu atau bagaimana. Setelah lama
kuberpikir, aku putuskan untuk pergi dan membatalkan janji itu, meski kecewa
tak bisa bertemu secara khusus. Aku berlalu melewati persis didepan gadis itu.
Dengan berat hati aku lakukan itu semua. Ya, tak semua hal yang kau lakukan /
pikirkan sesuai dengan rencana, aku telah gagal untuk menyatakan perasaanku
pada gadis itu.
Putus asa, galau, merana, mulai kubuang
semua kenangan tentang gadis itu, kembali menjadi diriku yang dulu, kupikir itu
hal terbaik sekarang, yang belum mengenal gadis itu, apalagi cinta. Ya,...
apalah arti cinta? Satu kata yang masih belum kumengerti hingga saat ini. Cinta
yang dimaksud orang kebanyakan adalah cinta nafsu, yang mana penuh dengan
egois, keinginan pribadi, dsb.
Namun aku ingin mengartikan cinta
sebagai cinta yang positif, cinta yang saling membantu, bukan saling ingin
diperhatikan atau saling memanfaatkan dan akhirnya saling benci ketika putus.
Cinta yang kurasakan ini, entah itu
cinta yang positif atau yang negatif. Aku mencoba mencari jawabannya dengan
memutuskan kembali bahwa aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Kali ini aku
beranikan diri untuk bertemu dengannya secara langsung saat pulang sekolah.
Tepat digerbang sekolah, aku melihatnya
dari kejauhan tetapi dia bersama teman lelakinya. Jadi kuputuskan untuk
berjalan dibelakangnya. Selama berjalan dibelakangnya, kulihat dia sedang
bergurau dengan temannya itu, membuat aku cemburu saja. Ya, meski tidak ada
hubunganya, tetapi entah kenapa hatiku tak tenang cenderung sakit.
Tiba-tiba ada suara gemuruh dibelakang,
kulihat segerombolan pelajar saling kejar-kejaran, ternyata ada tawuran! Kulihat teman lelaki itu malah lari
meninggalkan gadis itu, dan gadis itu juga ikut lari karena ketakutan. Tanpa
sengaja ada yang melemparkan batu, sialnya tepat ke arah gadis itu. Secara
spontan aku berlari ke arahnya dan mendorongnya. Dan,.....
Saat kuterbangun, aku sudah berada di
UKS sekolah, karena kejadiannya tidak jauh dari sekolahku. Kucoba ingat-ingat
kejadian tadi ketika aku terkena lemparan batu saat menolong gadis tadi. Masih
nyeri dipunggungku gara-gara itu batu. Tetapi kulihat sekelilingku, tak ada
orang lagi. Aku bangun lalu memakai seragamku kembali, diluar ada guru yang
merawat luka-lukaku. Setelah berterimakasih dengan guru, aku kembali kerumah.
Sesampai dirumah, aku memikirkan keadaan
gadis itu. Apakah dia baik-baik saja atau bagaimana. Sampai tak tenang tidurku
gara-gara memikirkan gadis itu. Hari esoknya, sesampai disekolah, aku tak
melihat gadis itu di kantin, biasanya dia kekantin. Saat di kelas, kumendengar
ada info kalau tawuran kemarin memakan korban, aku terkejut! Apa gadis kemarin
yang menjadi korbannya?. Saat kutegaskan lagi tentang info itu ternyata bukan
gadis itu, dan tidak ada korban jiwa. Lega rasanya mendengar hal itu, ternyata
bukan dia. Hingga pulang sekolah aku masih memikirkan keadaan gadis itu. Aku
sms, bbm, line semuanya tak ada respon. Mulai berpikir yang tidak-tidak, lebih
baik aku pulang.
Lanjut hari selanjutnya, saat berangkat
sekolah, terlihat gadis manis itu masuk ke sekolah lagi diantar oleh ayahnya.
Saat kulihat itu, senang rasanya bisa melihanya lagi, tetapi ada benda kecil
yang menghiasi wajah cantiknya, menilik lebih dekat saat berpapasan, ternyata
tensoplas dikeningnya. Bingung, jika melihat
waktu kemarin, padahal dia tidak terkena apapun, lukaku saja masih
sakit, kenapa ada tensoplas?. Tanya sana-sini, ternyata gadis itu kemarin saat
aku dorong kedepan, kepalanya teratuk mobil yang parkir didepannya. Mendengar
info itu aku merasa bersalah karena telah mendorongnya dengan keras waktu itu
karena panik. Ada rasa ingin meminta maaf kepadanya, sekaligus modus untuk
berkenalan dengannya. Kuberanikan diri ke kelasnya saat jam istirahat. Kuminta
temannya memanggilkannya, dan saat bertemu dengannya hatiku berdebar kencang,
tanganku dingin dan intonasi suaraku tak beraturan. Kemudian aku meminta maaf
atas kejadian yang lalu, dia malah terlihat bingung, seakan menyiratkan dia tak
tahu tentang kejadian waktu lalu. Aku juga bingung, kenapa dia tak mengingatku
yang sudah mendorongnya hingga dia terbentur mobil waktu itu. Yang dia ingat
adalah teman lelaki itu yang menolongnya saat tawuran dan waktu pingsan. Dia
bertanya kepada teman lelaki yang kulihat waktu itu tentang kejadian kemarin.
Teman lelaki itu menjawab seperti yang dikatakan gadis itu. Seperti berada di
tengah-tengah lubang hitam , posisiku saat mendengar hal itu. Apa iya
kejadiannya seperti itu, masih tak percaya. Tak terasa jam istirahat selesai
bel pun berbunyi. Menyadarkan aku dari lamunanku. Aku meminta maaf atas
kesalahpahaman ini dengan gadis meski itu tidak benar lalu aku pergi. Aku
berlalu dari mereka berdua, dan sekali lagi aku kehilangan kesempatanku untuk
menyatakan perasaanku kepadanya. Terlintas dibenakku, siapa teman lelaki nya
itu? Apakah perkataan teman lelaki itu benar?
Tak sengaja saat memalingkan wajah,
kulihat sorot mata teman lelaki itu padaku benci dan merasa menang, terlihat
sinis. Tetapi saat kuberbicara dengan gadis itu pandangannya seperti ingin
membunuh. Lain jika sedang bicara dengan gadis itu, mata lelaki itu terlihat
senang. Berbeda pula dengan mata gadis itu padaku, dibalik mata indahnya itu
tersirat kata yang ingin dikatakannya dalam hatinya. Arti dari sorotan mata
teman lelaki kepada gadis itu? Pesan apa yang ada dibalik mata gadis itu?
Perasaan teman lelaki kepada gadis itu, fakta yang sebenarnya dibalik peristiwa
tawuran itu, Dan apa ini saling terkait dengan 5 kata itu?
Sambil berjalan, aku berpikir tentang
pertanyaan itu dalam hati.
1
kesimpulan yang kutahu, apakah itu benar atau tidak, jawaban dari semua
pertanyaanku dan fakta dibalik sorot mata dan semuanya adalah.....
...
Cinta Beda Agama
By : Pena Tinta HitamKarya : Okta Ayu S
Aku Citra, gadis 16 tahun yang tinggal di ibu kota
Jawa Tengah, ya Semarang .
Aku berasal dari Bandung , pindah ke Semarang 1 tahun yang
lalu. Aku seorang anak tunggal, tidak mempunyai kakak maupun adik. Ayahku
bekerja di suatu perusahaan yg ada di Semarang ,
sedangkan ibuku menjaga toko dirumah yang sudah disediakan ayah. Keluargaku
pindah ke Semarang karena ayah ditugaskan di Semarang untuk beberapa
tahun. Sekarang aku menduduki bangku SMA kelas 2, aku bersekolah di SMA Swasta
ternama di Semarang, aku masuk di kelas MIA.
Hari ini hari Senin, yang pastinya ada upacara bendera di sekolah,
semalam aku begadang karena menyelesaikan tugas – tugas sekolah. Hari ini aku
bangun kesiangan, sehingga aku tidak sholat subuh, alarm pun tidak terdengar,
mungkin aku terlalu lelah, ibu juga tidak pernah membangunkanku agar aku
menjadi anak yg mandiri dan bertanggung jawab. Setelah aku melirik ke arah jam,
waktu menunjukkan pukul 6.30 sedangkan sekolahku masuk pukul 6.45 aku bergegas
mandi dan langsung berpamitan untuk berangkat sekolah. Tidak sempat sarapan aku
langsung mengeluarkan sepeda motor dan langsung berangkat sekolah.
Sesampai di sekolah, ya dugaanku benar, aku benar – benar terlambat.
Sehingga aku berbaris di barisan paling pojok, dan dipermalukan seusai upacara.
“Monster Day” pikirku, dikelas aku memang duduk sendirian, jam pertama
pelajaran kimia
“Udah telat, dipermaluin, abis ini mikir lagi” gerutuku dikelas
Tiba – tiba guru kimia masuk bersama seorang pria, berkulit putih, manis,
mempunyai tubuh atletis. Seketika murid perempuan dikelas melongo terpesona
melihat pria tersebut.
“Selamat pagi anak – anak” suara guru kimia yg lumayan keras mengejutkan
kami yg sedang terpesona melihat pria tersebut.
“Pagi bu” jawab kami serempak
“Ini murid baru, pindahan dari Singapura”
Seketika kami terkejut, mendengar dia bukan asli Indoesia, pria tersebut
mengenalkan dirinya sendiri.
“Hai namaku Aditya Orlando, kalian bisa memanggil saya Adit”
“Suara yg manis” batinku
Ibu guru mempersilahkan adit duduk disampingku, sebagai wanita tentunya
aku merasa senang, aku hanya berharap dia
menjadi sahabatku. Bel istirahatpun berbunyi, seperti hari – hari
sebelumnya, setiap istirahat pertama aku menyempatkan untuk sholat duha.
Setelah sholat aku masuk kembali ke dalam kelas, disana hanya ada adit, duduk
dibangkunya, ya tepatnya berseblahan dengan tempat dudukku. Aku duduk di
bangkuku, kami tetap terdiam, tak ada satu kata pun yg terucap dari kami.
”Adit” ucapnya sambil menjulurkan tangannya
“Citra” jawabku sambil membalas uluran tangannya
Dia membalas dengan senyuman
“Senyuman yang manis” ucapku dalam hati
Setelah itu kami mengobrol berbagai hal, mulai dari pelajaran hingga
kehidupan sehari hari. Semakin lama kami semakin dekat, hingga teman – teman
mengira kami berpacaran. Namun setelah selama ini aku tidak pernah melihat dia
sholat, aku tekadkan untuk bertanya, ternyata agamanya Katolik, aku meminta
maaf kepadanya, namun ia tak mempermasalahkan semua itu.
Setiap sabtu sekolahku libur, Adit berencana untuk datang kerumahku, ya
untuk pertama kalinya. Kebetulan hari ini ayah juga libur, jadi dirumah.
Setelah aku menunggu cukup lama, pukul 09.00 Adit sampai didepan rumah. Aku
membukakan pintu gerbang, dia tersenyum padaku. Adit ku persilahkan masuk ke
dalam rumah, dan aku persilahkan duduk diruang tamu. Ayah dan ibuku keluar,
Adit bersalaman dengan kedua orang tuaku. Mereka ber bincang bicang berbagai
hal, dan aku membuatkan minuman untuk Adit, orang tuaku masuk kedalam, dan aku
duduk disamping adit, kami bercanda, dan mengobrol berbagai hal, ternyata Adit
dulu pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta, lalu pindah lagi ke
Australia karena ayahnya ditugaskan disana, Adit berasal dari keluarga Broken
Home, mamahnya tinggal bersama adiknya di Belanda. Ayahnya asli Jerman, Ibunya
asli Belanda, namun dulu Adit dilahirkan di Canada ketika orang tuanya tinggal
disana, Adit tinggal tidak menetap, karena ayahnya juga bekerja nya selalu
ditugaskan di berbagai kota, bahkan hingga luar negri. Namun Adit saat ini ingin
menetap di Semarang
saja, karena menurutnya kalau di luar negri dia merasa lingkungannya kurang
baik. Walaupun dia berasal dari luar negeri juga. Waktu menunjukkan pukul 12.00
Adit mengajakku pergi, namun beberapa saat kemudian adzan dzuhur terdengar, orang
tuaku mengingatkan untuk sholat terlebih dahulu, sebelumnya aku berbicara
kepada orang tuaku bahwa Adit non muslim. Orang tuaku mengerti, setelah sholat
aku langsung bersiap untuk pergi bersama Adit
“Mau kemana dit?”
“Jalan aja, daripada kamu suntuk dirumah”
“Pengertian ciee”
Adit hanya tersenyum mendengar ledekanku itu. Ia berhenti didepan
pedagang ice cream kaki lima .
Ia memesan hanya satu
‘Loh, kok cuma 1? Aku nggak dibeliin nih?” ucapku
“enggak kok, itu buat kamu”
“Loh kamu?” tanyaku pada Adit
“Ga nafsu makan ice cream” jawabnya
“Alahh, palingan juga ga punya uang kan dit” ledekku pada Adit
“Haha, engga, ngaco deh, berapa sih berapa? Hmm” jawab Adit dengan
songongnya
“Terus kenapa kamu nggak pesen sih dit?” tanyaku kembali
“Gapapa kok, bukan levelan aku di kaki lima kayak gini” ucapnya sombong
“Haha sombong banget dit, yg ngajakin kesini kan kamu”jawabku
“Mas, tambah 1 lagi ya” tuturku pada pedagang ice cream tersebut
“Loh cit” protes adit
“Udah diem tinggal makan juga ribet amat dit” jawabku
Adit pun memakan ice cream itu, sambil melirik kearahku ia tersenyum
“Apaan sih dit, ngeliatinnya gitu banget”
“Ciee salting ciee”
“Engga dih, kamu tuh terpesona kali sama aku”
“PD cie, terpesona sama kamu? Engga dih, kamu aja cerewet, bawel, PD,
nyebelin gitu” ledek Adit
“Ditttttttt, ice creamnya aku lempar ke kamu nih” ancamku
“Haha coba sini kalo berani” ledek Adit kembali
”Bodo amat dit” jawabku sambil cemberut
“Kok cemberut gitu sih? Jangan marah deh, itu loh makan ice cream yg
bener, masa makan ice cream aja masih kaya anak TK, belepotan gitu”
“Adit!!” tuturku sambil mengelap pipi dengan tanganku sendiri
“Sini sini aku lapin, ngelap aja ngga bisa”
Adit mengelap pipiku dengan lembut, aku menatap matanya, dan ia menatap
mataku. Beberapa detik kami saling berpandangan
“Ehemm, mba mas kalo pacaran jangan disini, masa pacaran dipinggir jalan
gini” ledek pembeli lain yg sedang duduk bersama teman – temannya yg juga ikut
menertawakan.
Aku malu, spontan aku langsung menunduk, Adit mencubit pipiku
“Dit, apaan sih? Malu tau”
“Haha kamu kenapa cit? biasanya malu maluin juga”
Aku hanya terdiam, menahan malu. Adit membayar ice cream itu dan
mengajakku pergi, namun heranku ice cream milik Adit masih tersisa cukup
banyak. Padahal menurutku rasanya enak. Adit memberhentikan motornya di taman,
kami berjalan mengintari taman sambil bercanda, Adit menggandeng tanganku, kami
duduk di kursi yg ada di taman tersebut.
“Dit”
“Hmm”
“Tadi kok kamu nggak ngehabisin ice creamnya?”
“Ice Cream dibahas mulu”
“Ya abis ice cream enak ngga kamu makan”
“Jadi kamu mau lagi?”
“Bukannya gitu dit, ya heran aja sama kamu”
“Tadi kan
ice cream ada kandungan susunya”
“Ya iyalah dit, makanya enak”
“Makanya juga ngga aku makan”
“Adittt”
“Apa sih cit?”
“Jawabnya serius dong dit”
“Kalo ngga serius ngga aku jawab cit”
“Dit, liat aku deh”
Adit menatapku, tatapannya tajam, ia tersenyum, sangat manis.
“Hmm, apalagi?” ucapnya sambil tersenyum
Aku hanya terdiam, terpesona dengan senyuman manis Adit
“Cittt, apa sih?”
“Hm, gapapa gapapa”
“Kan
aneh” ledeknya
“Kenapa sih dit sama susu yg ada di ice cream?”
“Gapapa sih cit, aku alergi sama susu”
“Dit, kenapa ngga bilang tadi? Terus kalo kamu kenapa – napa gimana?
Tanyaku panik
“Cie care sama aku. Kalo aku kenapa-napa? Ya aku salahin kamu lah”
ujarnya
“Adit ih, yaudah yuk ke dokter kita periksa”
“Gausah, gapapa kok, aku juga masih sehat nih, makan aja yuk, aku laper”
“Dit, kamu sekarang sehat, tapi gatau nanti, ke dokter aja dulu baru
makan”
“Udah ayuk makan, udah sore nih, km juga daritadi blm makan kan ?”
“Iya sih dit, tapi bentar aku ke mushola depan dulu ya aku sholat azhar
dulu”
“Yaudah, aku nunggu depan mushola ya”
Setelah sholat aku langsung menghampiri Adit. Muka Adit terlihat pucat.
“Dit, kamu pucet loh, ke dokter aja yuk, nanti kalo km kenapa-napa
gimana?”
“Ini efek laper doang kok, yaudah ayuk makan”
Sesampai di café kami memesan makanan dan aku terus menanyakan keadaan
Adit, Muka Adit semakin pucat, setiap aku bertanya Adit hanya tersenyum,
meyakinkan aku bahwa dia baik – baik saja.
Tiba – tiba 2 teman laki – laki sekelasku datang, Kevin dan Leo, mereka
juga teman baik Adit.
Adit meminta Kevin mengantarkanku, aku tidak mau, dan menggerutu karena
Leo akan pergi dengan Adit. Sesampai dirumah, orang tuaku menanyakan mengapa
bukan Adit yang mengantar
“Ada
keperluan” jawabku langsung menuju ke kamar
Setelah sampai di kamar aku membuka smartphone milikku. Ternayata ada
pesan singkat dari Adit
“Udah Sampai Rumah Cit?”
“Udah” balasku singkat
“yaudah istirahat sana, makasih ya
udah nemenin jalan” balasnya
kembali
“ya” balasanku cuek karna aku masih merasa kesal
dengannya
Setelah itu Adit tidak ada kabar hingga minggu pagi, aku menelfonnya tak
ada jawaban.
“Ke Gereja mungkin” pikirku
Aku munggu kabarnya hingga siang, namun dia sama sekali tak ada kabar.
Aku menanyakan pada Kevin, apakah Adit masih bersama Leo.
“Dari kemaren juga Leo ngga ngasih
tau kemana, yang jelas mereka lagi pergi, gatau kemana”
Aku semakin cemas memikirkan Adit, bagaimana keadaannya? Apakah dia baik
– baik saja?
Aku ingin kerumahnya tapi aku tidak tau dimana rumahnya, hingga malam
hari Adit tak ada kabar. Aku susah tidur memikirkannya. Pagi pun tiba, aku
segera menuju ke sekolah, biasanya sebelum aku di kelas Adit sudah berada
dikelas. Ketika aku masuk kelas hanya ada Kevin dan Leo
“Dimana Adit?” tanyaku pada diriku sendiri
Hingga bel sepulang sekolahpun Adit tetap tak nampak. Leo dan Kevin pun
mengaku juga tidak tau dimana Adit. Aku tidak bisa fokus dalam hal apapun, di
pikiranku hanya memikirkan Adit dan Adit.
Selasa, aku masuk kelas dan Adit menyambutku dengan senyuman
”Pagi cit” sapanya manis
Aku hanya diam karna kesal dengannya
“Syukurlah Adit baik – baik saja” ucapku dalam hati
“Dari kemaren nyariin aku ya?”
Aku tetap terdiam
“Kemaren aku di rumah tidur”
“Ngga percaya” jwbku yakin karna Adit bukan type orang yang doyan tidur
“Cit”
Aku hanya melirik
“Jujur ya, kemarin aku di rumah sakit”
“Ngapain?” tanyaku pada Adit
“Aku sakit, makanya dirawat dirumah sakit” jawabnya santai
“Kok kamu ngga ngasih kabar aku? Kok kamu diem aja? Kok ngga ngomong?
Leo sama Kevin tau? Kamu sakit apa? Terus sekarang keadaan kamu gimana?”
tanyaku nerocos
“Tanya satu – satu bisa kan
cit?”
“Aditt, ayo jawab”
“hmm oke, kemarin waktu kamu dianter pulang Kevin, sebenernya aku nggak
pergi sama Leo, setelah kamu pulang aku pingsan, dan Leo bawa aku ke rumah
sakit, aku sekarang gapapa kok, karna susu kemaren” jelasnya santai
“Dit, maafin aku, aku gatau kalo km alergi susu, maafin aku udah marah
sama kamu, maafin aku, gara – gara aku kamu sakit gini” ucapku menahan air mata
“Cit, aku udah nggapapa kok, udah sehat nih” jawabnya berusaha membuatku
tenang
Tiba – tiba Adit merangkulku dan mengusap air mataku. Dia tersenyum
“Nanti pulang sekolah aku anter kamu pulang” ucap Adit membuatku kaget
Hari ini aku memang tidak membawa motor karna motoku sedang di service.
“Tapi dit, kamu kan
harus istirahat, aku pulang sendiri gapapa kok”
“Aku udah sehat kok cit, lagian rumah kamu ngga di luar negri kan , setengah jam juga
nyampe”
“Yaudah dit terserah kamu aja” dalam hatiku merasa senang
Bel pulang sekolahpun berbunyi
“Aku ke parkiran dulu, kamu nunggu depan gerbang aja ya” ucap Adit
kepadaku
“Iya dit”
Sebelum menuju gerbang, aku menyempatkan ke kantin untuk membelikan
minuman untuk Adit.
“Nih” tanganku menjulurkan botol minuman ke Adit
“Makasih cit, yaudah yuk” ucap Adit sembari meneguk minumannya
Jalan yg dilewati Adit bukan jalan ke arah rumahku. Akupun kebingungan
“Dit, mau kemana?”
“Kerumahku cit, aku ganti baju bentar, kebetulan papahku juga lagi
dirumah, kamu kenalan sekalian”
Aku terkejut mendengar perkataan Adit, keringat dingin mengucur di
tubuhku. Grogi, takut jadi satu, pikiran negatifku pun mulai bermunculan di otakku
“Bagaimana kalau papahnya tidak menyukaiku” itulah salah satu yg ada di
otakku
Motornya berhenti tepat di rumah mewah, aku hanya terdiam mematung
“Cit, ayok masuk” ajak Adit sambil menarik tanganku
Pintu rumah dibukakan oleh 2 orang pembantunya, Rumahnya seperti istana
di dalam dongeng, aku terkesima dengan isinya
“Duduk dulu cit, aku ganti baju dulu” ucap Adit
“Mau minum apa non?” Tanya salah satu pembantunya kepadaku
“Engga, ngga usah makasih” ucapku
“Bikinin jus aja bi, kasih es batu ya” teriak Adit sambil menaiki tangga
Aku ditinggalkan sendirian diruangan itu, aku hanya bermain smartphone
sambil menunggu Adit, didepanku sudah ada berbagai makanan dan jus yg telah
dihidangkan
“Dimakan cit” ucap Adit mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan kembali membuka smartphone ku. Tiba – tiba Adit
mengambilnya dan menaruhnya di atas meja
“Apaan sih dit, ganggu deh”
“Gapapa, seneng aja liat kamu marah”
Tiba – tiba seseorang datang dari dalam, berpakaian rapi, memakai jas.
“Pah, mau kemana?” Tanya Adit pada laki – laki itu
Dari situ aku yakin bahwa itu papahnya
“Mau ke Kalimantan dit, papah pulang
seminggu lagi, kamu jaga diri ya, jangan sampai sakit lagi” ucap laki laki itu
dengan perhatian
“iya pah, pah kenalin ini citra temen sekelas aku”
Papahnya tersenyum, dan aku bersalaman
“Namanya cantik, sama seperti orangnya” puji papahnya
“Makasih om” jawabku sambil tersenyum
“Yaudah dit, papah pergi dulu, mari citra” pamitnya sambil mengembangkan
senyuman
“Iya om, ati-ati”
“Ati – ati pah”
Pembantu Adit membawakan makan siang dan obat untuk Adit
“Mas Adit, ini obatnya, diminum setelah makan, jangan sampai telat ya
mas” tutur pembantunya
“Iya bi, makasih ya”
Pembantunya hanya menjawab dengan senyuman
“Udah yuk cit mau pulang sekarang atau nanti, ntar dicariin mamah kamu
loh”
“Tadi aku udah telfon ibu, aku udah bilang lagi dirumah kamu, km makan
dulu nih, terus minum obatnya” ucapku
“Males ntaran aja, kalo kamu yang nyuapin aku baru mau” jawab Adit manja
“Ada
sekop nggak dit?”
”Buat apaan Cit?
“Katanya mau disuapin”
“Ohh maksud kamu suapin pake sekop? Cantik cantik jahat”
“Canda doang dit”
”Café aja yuk cit”
“Ngapain?”
“Makan lah, yakali ke café tidur”
Kami pun menuju café terdekat, setelah kami memesan makanan dan selesai
makan aku menyodorkan obat ke Adit
“Loh kok?” Tanya Adit”
”Iya, tadi sengaja aku bawain, udah buruan di minum obatnya”
Setelah itu Adit mengantarkanku pulang
“Mampir dit”
“Udah sore cit, besok aja, nih” ucap adit sambil menyodorkan coklat ke
arahku
“Apaan nih dit?”
“Udah makan aja, aku ngga bakal ngeracunin kamu kok”
“Bukannya gitu dit, makasih ya” ucapku pada Adit
“Yaudah aku pulang dulu cit, jangan lupa dimakan”
“Siap bos, ati – ati dit, jangan ngebut”
Adit hanya tersenyum. Aku masuk kedalam rumah sambil bersenandung ria.
“Seneng banget nih kayaknya” ledek ibu
“Apaan sih bu, engga kok biasa aja”
“Terus itu coklat?” ledek ibu sambil melirik kearah tanganku yang
membawa coklat
“Dari Adit” jawabku sambil nyelonong ke dalam kamar
Sesampai di kamar aku langsung menghubungi Adit
“Udah sampai rumah dit?”
“udah cit, barusan”
“yaudah jangan lupa mandi, minum
obatnya yg teratur”
“iya bawel, siap. Makasih ya”
“Aku juga makasih ya udah di kasih
coklat”
“jangan lupa dimakan”
“Pulang itu mandi ganti baju, bukannya ngeliat Hp sambil senyum –
senyum” ucap ibu mengagetkanku
Aku segera menaruh hp, dan bergegas menuju ke kamar mandi, waktu
menunjukkan pukul 19.00. Aku menuju meja belajar untuk belajar, aku melihat
coklat dari Adit, dan memakannya, tak lupa aku membalas sms Adit yg belum
sempat aku balas tadi
“Iya ini lagi dimakan”
“makan coklat malem – malem ntar
gemuk loh”
“haha bodo amat dit”
“gemuk tapi tetep cantik kok”
“apaan sih dit, gombal”
“yaudah sana belajar, jangan main hp
mulu”
“iya ini mau belajar”
“semangat belajar ya cit”
“iya dit, kamu juga ya”
Aku meneruskan belajarku, tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. rasa
mengantuk datang kepadaku. Tiba – tiba ada telfon, ternyata Adit. Segera aku
mengangkat telfonnya
“Cit?”
“Iya dit, kenapa?”
“Gapapa kok, kok kamu belum tidur?”
“Kamu juga kenapa belum tidur?”
“Mau telfon kamu dulu baru tidur”
“Emang telfon mau ngomong apa?”
“Cuma mau Tanya, belajarnya udah
selesai? Tugas mat udah dikerjain?”
“Barusan selesai, mat ada tugas? Yg
mana halaman berapa?”
“haha, enggak ada kok, canda”
“Adittt, nyebelin kan ”
“yaudah cit tidur sana, udah malem,
besok kesiangan loh”
“iya dit”
“motor udah jadi?”
“Belom”
“Yaudah aku jemput kamu besok jam
06.25 didepan rumah km”
“berangkat sendiri aja gapapa kok
dit”
“Ngga usah protes, udah tidur, besok
aku jemput, malem cit, jangan lupa baca doa”
“Malem juga dit, iya kamu juga ya”
Tut… tut…
Telfon pun terputus, Adit mematikannya, dan aku beranjak untuk tidur.
Keesokan harinya entah mengapa alarmku tidak terdengar. Aku melirik jam
diangka 6 lebih 10 menit.
“Matii, bakalan telat” gumamku
Seusai mandi aku melihat Adit sudah didepan rumah.
“Dit, kamu duluan aja aku kesiangan, nanti aku berangkat sendiri aja
daripada kamu juga telat nanti” teriakku kepada Adit
Belum ada jawaban dari Adit aku bergegas mempersiapkan diri untuk
berangkat. Melirik jam, dan jarum jam menunjukkan pukul 6.40
Aku langsung keluar dan melihat Adit didepan
“Dit, kan
aku udah bilang, kamu duluan aja, daripada kamu telat”
“Udah ayok buruan” ucapnya
Sesampai disekolah kita mendapat hukuman, dan tidak dapat mengikuti
pelajaran pada jam pertama
“Maaf ya dit”
“Gapapa, santai”
“Kan
aku tadi udah bilang kamu duluan aja, kamu sih pake nungguin aku segala”
“Udah terlanjur, gapapa kok, lagian juga hukumannya gitu doang, lagian
ngga ikut pelajaran jam pertama doang, matematika kan ?”
“Iya matematika, sejam doang”
“Mat ada tugas”
“Terus kenapa kamu nggak bilang aku? Aku belum ngerjain dit” ucapku
panik
“Udah santai, ke kantin aja yuk”
“Dit kita telat, masa malah ke kantin”
“Terus kamu nunggu disini? Kamu juga belum ngerjain matematika kan ? Aku udah kok, ayo
ke kantin, kamu nyalin ini, nanti kalo ditanyain tinggal ngasihin” ujar Adit
sambil menarik tanganku
“Kok kamu nggak bilang semalem ada tugas?”
“Udah malem, kasian, kamu juga ngantuk, apalagi kalo aku bilang ada
tugas, tidur jam berapa coba”
“Makasih dit” ucapku sambil mengembalikan bukunya
Kami sudah menduduki bangku kelas 3, dan mulai persiapan untuk ujian,
karena sama – sama sibuk aku dan Adit jarang pergi bersama. Sejak kelas 3 juga
aku baru menyadari bahwa aku terkena kanker, sudah stadium 3, Adit tidak
mengetahuinya, sengaja aku tidak memberi tahunya, karna aku tidak ingin Adit
khawatir. Setiap 2 minggu sekali aku harus ke dokter untuk cuci darah. Sudah
beberapa bulan aku tidak ke dokter dan tidak meminum obat, karena aku sibuk
dengan persiapan ujian disekolahku. Rambutku satu persatu mulai rontok, aku
terkadang mimisan.
Saat itu sedang ada pelajaran bahasa Indonesia , tiba – tiba darah keluar
dari hidungku, bergegas aku mencari tisu, aku tidak ingin Adit melihatnya.
Akupun mendapatkan tisu dan segera mengelap darah itu.
“Cit, kamu kenapa?” Tanya Adit yg ternyata melihatku
“Gapapa kok dit” ucapku sambil tersenyum
Adit mengelap sisa darah yg keluar dari hidungku dengan tangannya
“Cit, kita ke dokter sekarang”
“Ngga usah dit ini palingan cuma kecapekan kok” jawabku meyakinkan
Adit berdiri dan meminta izin kepada guru pengampu, dan diizinkan, adit
menuntunku kearah motornya, ia tidak mempedulikan tas yg ada dikelas. Ia
langsung membawaku ke dokter, kebetulan dokter itu yg biasanya aku periksa
dulu, jadi dokter itu telah mengenalku. Dokter langsung memeriksaku, ketika
dokter memeriksaku Adit mengusap rambutku, dan rambutku ada ditangannya, ya
tepatnya rontokan rambutku. Adit terkejut, setelah selesai diperiksa Adit
menanyakan keadaanku kepada dokter.
“Citra, kanker kamu sudah stadium ahkir, beberapa bulan belakangan ini
kamu juga tidak datang untuk check up keadaan kamu” ujar dokter tersebut
Adit terkejut, dan meneteskan air mata, aku tak tau harus berbuat apa.
Aku hanya terdiam, dan menatap Adit. Kami langsung pulang, namun tidak pulang
kerumah, melainkan ke rumah Adit, kebetulan papahnya sedang berada di Sumatra , aku duduk di sofa, bersama Adit disampingku.
Kami sama – sama terdiam.
“Dit”
Adit hanya terdiam, dan nampaknya sedang memikirkan sesuatu
“Dit, aku nggapapa kok”
“Kamu bilang kamu gapapa? Kanker kamu udah stadium ahkir cit, kamu masih
bilang kamu gapapa? Kenapa sih cit dari dulu kamu ngga bilang ke aku?”
“Aku Cuma ngga mau kamu khawatir dit”
“Tapi kalo kayak gini aku lebih khawatir cit”
“Iya dit, aku minta maaf”
“Ngga perlu minta maaf, mulai besok kamu ngga usah berangkat ke sekolah,
kamu dirumah aja, aku yang bilang sama orang tua kamu”
“Ngga usah dit, aku masih kuat kok, jangan bilang ke orang tua aku dit,
aku ngga mau keluargaku khawatir, aku udah banyak nyusahin mereka”
“Tapi cit, kamu harus banyak istirahat, kamu nggak boleh kecapekan, aku sayang
sama kamu cit, aku gamau kamu kenapa – napa”
Ucapan Adit membuatku terkejut
“Aku cinta sama kamu, tapi aku sadar kita beda agama, aku cuma bisa
ngejaga kamu dengan cara kaya gini”
Mendengar pernyataan Adit aku meneteskan air mata
“Dit, aku juga cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu
ninggalin aku” ujarku sambil meneteskan air mata
Adit mengelap air mataku
“Udah yuk aku anter pulang, keburu sore, nanti kamu dicariin orang tua
kamu”
Adit mengantarku pulang. Keesokan harinya saat aku akan mengeluarkan
motor, sedangkan aku melihat mobil merah didepan gerbang
”Seperti mobil Adit” batinku
Tiba – tiba seorang laki – laki turun dari mobil itu, ya Adit
“Dit, kamu ngapain disini?”
“Jemput kamu”
“Loh dit”
“Yaudah ayuk, nanti pulang juga aku anter kok, mulai sekarang kamu nggak
usah bawa motor sendiri, aku bakal jemput kamu tiap hari dan nganter kamu
pulang tiap hari”
“Kan ngerepotin kamu dit, aku kan bisa bawa motor
sendiri, lagian kok tumben kamu bawa mobil, emang motor kamu kemana dit?”
“Udah ayok berangkat, nanti telat, gausah banyak protes, nurut aja,
motor dirumah, aku sengaja bawa mobil, kalo kamu cape kamu
bisa tidur”
‘Iya, iya, makasih ya dit”
Adit langsung menuntunku masuk kedalam mobil, membukakakn pintu untukku.
Sesampai di kelas Kevin dan Leo langsung menyambut kami dengan celaan mereka
“Ciee yang sekarang pacaran, makan – makan sob” ucap Kevin
“Iya ntar pulang sekolah makan – makan di kantin” jawab Adit
“Dih, seorang Adit masa iya nraktir di kantin doang, Resto dong dit”
cetus Leo
“Iya deh iya, terserah kalian nanti mau dimana” jawab Adit kembali
Aku hanya tersenyum, tubuhku lemas, Adit menyadarinya dan menuntunku
untuk duduk di bangku
“Duh Citra serasa tuan putri ya sekarang” ledek Leo
Aku tidak mempedulikan cetusan Leo
“Ngeledekin Citra urusannya sama aku loh” ucap Adit
Mereka tertawa melihat ekspresi Adit yg seperti pahlawan kesiangan,
sedangkan aku hanya memberikan senyum tipis, badanku terasa sangat lemas,
seperti tak berdaya. Bel masuk pun berbunyi. Sepanjang pelajaran Adit terus
mengkhawatirkanku, ia selalu menoleh ke arahku. Lagi – lagi aku mimisan, Adit
sudah terbiasa melihat aku mimisan, ia selalu mengelap darah yg keluar dengan
tangannya, ia tak merasa jijik sedikitpun. Sepulang sekolah Kevin dan Leo
menagih janji Adit untuk mentraktirnya di Restoran
“Kamu masih kuat? Kalo nggak kuat aku anter kamu pulang dulu aja” ucap
Adit dengan penuh perhatian
“Masih kok dit, tenang aja, lagian aku juga males dirumah, bosen”
jawabku
Kami ber4 menuju Restoran menggunakan mobil milik Adit, Kevin yg
menyetir dan Leo duduk didepan,ya disamping Kevin, aku dan Adit duduk
dibelakang. Disepanjang jalan Adit terus menggenggam tanganku, sesampai di
restoran kami langsung memesan, sambil menunggu pesanan datang Adit, Leo, Kevin
bercerita, bercanda, hingga mereka tertawa terbahak-bahak. Aku senang melihat
senyum lebar Adit, manis sekali. Setelah pesanan datang Kevin dan Leo langsung
menyantap makanan tersebut, menghiraukan lingkungan sekitar. Aku sama sekali
tak mempunyai nafsu untuk makan, Adit dengan setia menyuapkan makananku, dengan
lembut, sedangkan dia sendiri tidak peduli dengan makanan yg dia pesan sudah
dingin di meja.
“Udah dit, kamu makan dulu aja, aku udah kenyang”
“Cit, baru aja 3 sendok, makan lagi ya” bujuk Adit
“Ehemm, mentang – mentang baru jadian, sweet banget gitu” ledek Kevin
“Sini vin, suap – suapan sini sama aku” canda Leo
Kevin langsung menganga, seperti anak kecil yg memberi isyarat ibunya
untuk menyuapkan makanan, Leo tidak menyuapkan makanannya tapi malah menampar
pipi Kevin, Kevinpun menggerutu dengan mimik muka yg lucu. Kami tertawa
melihatnya.
Seusai makan kami menuju sekolah kembali karena motor Kevin dan Leo
masih ada di sekolah, setelah mengantar mereka Adit memberhentikan mobilnya di
sebuah taman, ia mengambil gitar di bagasi belakang. Kami duduk di kursi taman,
Adit menyanyikan beberapa lagu untukku. Beberapa jam kami disitu, tak henti –
hentinya Adit membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya. Hari semakin malam
adit mengantarkanku pulang.
1 Bulan Kemudian
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, namun aku tak bisa hadir,
karena aku terbaring lemah dirumah sakit, Adit yg selalu mondar – mandir datang
ke rumah sakit untuk menemaniku, aku sadar kita memang beda agama, namun cinta
menyatukan kita. Siang itu pukul 14.30 Adit datang, membuka pintu sambil
tersenyum, ia membawa secarik kertas.
“Nihh” kertas itu diberikan kepadaku
“Aku lulus nggak dit?” tanyaku padanya
“Enggak cit” jawabnya sambil ber ekspresi sedih
Aku membuka kertas itu dan isinya pengumuman kelulusanku bertuliskan “LULUS”
Senang sekali saat itu, dan ternyata Adit membohongiku. Adit memberikan
aku coklat dan kertas diselipkannya di coklat. Aku boleh membukanya ketika ia
sudah pulang.
“Cit, aku pengen deh besok lanjut kuliah sama kamu, kita bareng – bareng
terus ya cit”
“Iya dit, semoga ya, tapi aku nggak yakin aku bakalan tetep stay sama
kamu”
“Maksud kamu mau ninggalin aku? Terus kamu cari yg lebih ganteng dari
aku? Emang aku kurang ganteng ya cit?”
“Bukannya gitu dit, aku nggak bisa stay sama kamu karena aku sadar umur
aku nggak bakalan panjang, mungkin nanti, besok, atau lusa dit”
“Cit, kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, kamu lawan penyakit kamu, aku
disini stay sama kamu, aku mau kamu sembuh, aku mau kita bareng – bareng terus”
Laki – laki memakai jas, rapih memasuki ruanganku, dan membawa buah –
buahan, memberikan senyuman manisnya
“Eh pah, aku kira papah nggak jadi kesini” ucap adit
“Kebetulan papah sampai tadi sore, jadi papah bisa kesini, Citra cepat
sembuh ya, Adit galau tuh mikirin kamu terus”
Akupun tersenyum sambil melirik ke arah Adit. Kami mengobrol, sesekali
tertawa. Waktu menunjukkan pukul 20.55
“Dit, udah malem, papah pulang dulu ya, besok papah harus ke Surabaya , kamu ikut pulang
sekarang atau nanti?”
“Nanti aja pah, nungguin Citra dulu, kasihan citra sendirian”
“Nggapapa kok dit, kamu pulang aja” ucapku
“Nanti aja gapapa kok cit”
”Yaudah papah pulang dulu ya dit, kamu nanti ati- ati pulangnya”
“Iya pah”
“Mari Citra, cepet sembuh ya”
“Iya om, terimakasih”
Aku ditemani Adit hingga larut malam, waktu menunjukkan pukul 22.45
“Dit, pulang sana
udah malem”
“Oh, jadi ceritanya ngusir nih”
“Bukannya ngusir dit, cumakan udah malem”
“Iya sayang, iya, aku pulang ya, besok pagi aku kesini lagi” ucap Adit
sambil tersenyum dan meninggalkan ruanganku.
Aku membalas dengan senyuman, setelah ia meninggalkan ruangan, aku
membuka kertas yg ada di selipan coklat itu. Ternyata kertas itu bertuliskan
“I Love You Sayang, cepet sembuh ya
biar kita bisa pergi bareng lagi, biar kita bisa kuliah bareng”
Aku membacanya sambil tersenyum dan meneteskan air mata, ya air mata
haru.
Keesokan harinya aku bangun, kira – kira pukul 07.15. Adit disebelahku
dan membawa bunga, kue tart lengkap dengan lilinnya dan sekotak kado.
“Happy Birtday Citra. Happy Bithday Citra. Happy Birthday, Happy
Birthday, Happy Birthday Citra” lantunan yg berasal dari Adit
Aku tersadar ini tanggal 25 Juli, hari ulang tahunku
Aku meneteskan air mata, aku tak mengira Adit mengingatnya, padahal aku
tak pernah memberitahunya.
“Happy birthday ya sayang, cepet sembuh, panjang umur ya sayang”
“Makasih dit, makasih buat semuanya, maafin aku yg ngga bisa nyenengin
kamu, aku udah jelek dit, aku udah nggak punya rambut, aku yg sakit – sakitan
dan kamu masih setia nyenengin aku, ngehibur aku, nungguin aku, ngerawat aku
kayak gini” ujarku dengan meneteskan air mata
“Cit, aku bener – bener cinta sama kamu ya walaupun aku tau kita beda
agama, tapi aku nggak peduli sama semua itu, sekarang, nanti, besok, lusa, dan
sampai kapanpun aku bakalan tetep ada disamping kamu” ucap Adit
“Tapi dit, aku nggak yakin umurku bakalan panjang”
“Yakinin diri kamu, percaya kalo kamu bisa sembuh”
“Dit, makasih ya udah ada buat aku terus, maaf aku selalu ngerepotin
kamu”
“Kamu nggak ngerepotin kok cit, aku seneng kalo ada disamping kamu
terus, I’ll stay here to you, if you need something, tell me”
“Thank you dit, you’re my prince, love you so much”
Adit hanya tersenyum, Akupun membuka kado dari Adit, ternyata kotak itu
berisi Al-Quran.
“Dit, makasih ya”
“Maaf ya cit aku nggak bisa ngimamin kamu waktu sholat, aku nggak bisa
ngaji bareng sama kamu”
“Dit, aku ngerti kok, kamu nerima aku aja udah lebih dari cukup, makasih
ya dit”
Aditpun menggenggam tanganku sembari memberikan senyum manisnya
“Dit, aku kangen waktu dulu kita ke taman, tapi aku tau itu semua nggak
mungkin, dengan keadaan ku yg seperti ini, pasti aku bakalan buat kamu malu” ucapku
lirih
Adit pun keluar dan aku tak tau ia kemana, beberapa saat kemudian ia
datang, membawakan kursi roda, dan tersenyum
“Yuk ke taman, aku udah izin sama dokter kok, tamannya kan juga ngga jauh dari sini”
Akupun dituntun Adit perlahan agar bisa pindah ke kursi roda. Ia
mendorong kursi roda menuju taman, sesampai di taman aku menjadi pusat
perhatian orang di sekeliling, Adit menatapku dan aku hanya tersenyum untuk
meyakinkan Adit bahwa aku baik – baik saja. Segerombolan anak remaja seusia
kami menghampiri kami, ternyata itu teman – teman komunitas basket Adit. Adit
mengenalkanku pada mereka.
“Kenalin ini citra, pacar” ucap Adit dengan rasa bangga
Aku hanya tersenyum, mereka melihatku dengan jijik, bahkan ekspresi muka
mereka tidak mengenakkan
“Dit, kamu yakin ini pacar kamu?” ucap salah seorang temannya
“Iyalah, ada yg salah?” sahut Adit
“Ngga nyangka aja kamu pacaran sama cewe yang nggak ada bagus –
bagusnya, penyakitan juga kan ,
duduk di kursi roda ngga bisa ngapa-ngapain” ucap temannya yg lain.
“Kalo kesini Cuma mau ngeledekin mending pergi aja deh” bentak Adit
Merekapun langsung pergi, aku tak bisa membendung air mataku,
pertahananku jebol, tetesan air mata mengalir di pipiku.
“Maafin mereka ya cit” ucap Adit
“Dit, aku minta maaf kalo kehadiranku dihidupmu Cuma ngebuat kamu malu,
maaf aku udah buat kamu malu di depan teman – temanmu, aku emang cewe yg nggak
berguna dit, tinggalin aja aku, kamu bisa cari yg lebih daripada aku” ucapku
sambil terus meneteskan air mata
“Aku sayang kamu cit, aku nerima kamu walaupun keadaan kamu kaya gini,
aku ngga peduli sama semuanya, jangan peduliin omongan mereka, aku bakalan
terus disamping kamu, sampai kapanpun” ucap adit sambil mengelap air mataku
Aku menatap Adit, memberikan senyuman tipis
“Cit, udah mulai malem nih, ke rumah sakit yuk, nanti dicariin orang tua
kamu, dicariin dokter juga”
Aku hanya mengangguk, sampai di ruanganku Adit menuntunku kembali ke
kasur, namun entah mengapa badanku terasa sangat lemas, Adit menggendongku.
Tiba – tiba orang tuaku datang. Mereka berbincang dengan Adit. Badanku
benar – benar terasa lemas, entah apa yang terjadi padaku setelah itu.
“Citttt..citra, kamu kenapa cit?” Adit khawatir
Orang tua citrapun memanggilkan dokter, dan dokter memberikan isyarat
pada kami untuk keluar. Dokter pun memeriksa citra. Setelah memeriksa dokter
keluar.
“Gimana keadaan anak saya dok?” Tanya ibu citra sambil menangis
“Maaf bu, citra sekarang dalam keadaan kritis, ada dua kemungkinan,
citra bisa selamat dan melewati masa kritisnya, atau dia pergi meninggalkan
kita” jelas dokter
Adit, dan orang tua citra menangis mendengar kabar tersebut.
“Bolehkah saya masuk dok?” Tanya adit pada dokter
“Silahkan, nanti kalo ada apa – apa bisa memanggil saya” jawab dokter
Adit menginap dirumah sakit, orang tua citra harus pulang karma ada
keperluan, dan mempercayai adit untuk menunggu citra.
Keesokan harinya ada suara wanita yg lemas, dan lemah memanggil nama
Adit, Adit pun terbangun
“Cit, kamu udah sadar, kamu gimana keadaannya, aku khawatir sama kamu,
aku ngga mau kamu tambah parah, aku mau kamu sembuh” ucap Adit sambil
meneteskan air mata
“Aku gapapa kok dit” ucap Citra dengan suara lemas
“Aku panggil dokter sebentar ya cit, kamu baik – baik ya”
Adit memanggil dokter, setelah dokter datang Citra pun berbisik kepada
dokter. Dan beberapa saat kemudian Adit diminta untuk keluar.
“Dok bagaimana keadaan saya dok?” Tanya Citra pada dokter
Dokterpun hanya terdiam
“Aku tahu umurku sudah tak lama lagi dok” ujar Citra sembari mengambil
secarik kertas dan bolpoin
Citra menuliskan sesuatu, dan beberapa menit kemudia ia meneteskan air
mata, ia mengambil sesuatu dalam laci didekatnya, ia melipat kertas itu dan
didalam lipatan itu ada sesuatu, ia memberikan lipatan tersebut ke dokter
“Ini buat Adit dok, dikasihinnya kalo besok aku sudah berbeda alam
dengan Adit ya dok. Tolong kasih tau Adit kalau aku baik – baik saja”
“Baiklah” jawab dokter tersebut
“Terimakasih dok”
Dokter hanya membalas dengan senyuman. Dokterpun keluar
“Bagaimana keadaan citra dok?” Tanya Adit
“Baik – baik saja kok, jaga dia” tutur dokter meninggalkan Adit
Seminggu kemudian, rambut Citra benar- benar habis, mukanya sangat
pucat, ia terbaring lemas, walaupun begitu ia tetap tersenyum.
“Dit, makasih ya selama ini kamu udah jagain aku, hari ini hari ulang tahun
kamu kan , maaf
ya dit aku ngga bisa ngasih apa –apa ke kamu”
“Aku nggak perlu sesuatu dari kamu kok cit, kamu ada disamping aku aja
udah lebih dari cukup” ucap Adit sambil menggenggam tangan Citra
“Aku yang kaya gini? Yang Cuma malu – maluin kamu karma keadaanku
seperti ini?”
“Bagaimanapun keadaanmu aku tetep sayang sama kamu cit, aku nggak malu
sama kamu, kamu udah kaya malaikat dihidupku, hebat ya cit Tuhan kamu, nyiptain
hamba se istimewa kamu”
“Dit, makasih yaa, makasih buat semuanya, jangan lupa ke gereja, jangan
males buat ke gereja”
“Iya cit, pasti kok”
“Dit aku suka lagunya marcell deh, pas banget buat kita”
Citra memutar lagu tersebut dari handphonenya
Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin
Iman kita yg berbeda
Tuhan memang satu
Kita yg tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cita takkan bisa pergi
Adit mematikan lagu itu
“Kamu ataupun aku nggak boleh ada yg pergi, kita tetep sama – sama kok”
“Dit, aku capek, aku udah nggak kuat, aku mau tidur”
“Yaudah kamu tidur aja cit, aku disini kok”
Hingga beberapa jam citra dibangunkan untuk minum obat, namun tak ada
reaksi dari citra, Adit memanggil dokter sambil menangis, mengkhawatirkan
citra. Setelah dokter memeriksa, dokter menghela nafas panjang.
“Citra sudah meninggalkan kita, kamu yg sabar ya” ucap dokter kepada
Adit, sambil menyodorkan lipatan kertas
Pemakaman citra dilakukan esok hari karena hari mulai malam, adit terus
disamping jenazah citra. Keesokan harinya adit mengantar pemakaman citra.
Sesampai dirumah tubuhku terasa lemas. “Inikah kado ulang tahunku? Aku sayang
kamu cit, aku nggak mau kehilangan kamu” omelan adit pada dirinya sendiri. Adit
ingat dengan kertas yang diberikan dokter kemarin, ia membukanya, didalam
lipatan kertas itu tenyata ada kalung, berliontin salib. Adit melihat kalung
itu sambil meneteskan air matanya. Dan iapun membaca Surat yg berisi
Hai Adit,
Kamu jaga diri baik – baik ya, makasih udah
setia nungguin aku yang penyakitan ini.
Makasih udah ngerawat aku, makasih kamu udah
sayang sama aku, makasih udah nerima aku,makasih buat coklatnya, makasih udah
selalu ngehibur aku, ya walaupun kita beda keyakinan, kamu masih nerima aku.
Aku sadar disaat aku ke masjid, kamu ke gereja,
disaat aku membuka Al-Quran kamu membuka Alkitab, saat kamu memakai gelang salib,
aku menggenggam tasbih. Walaupun agama kita berbeda, cinta menyatukan kita. Makasih
dit buat semuanya, mungkin setelah aku pergi kamu bisa cari yang lebih dari
aku, makasih ya dit udah bikin aku seneng selama ini, aku lebih bahagia disini,
aku nggak ngerasa kesakitan lagi, kamu jangan nangisin aku ya dit, doain aja
aku di surga, aku nggak bermaksud ninggalin kamu kok dit, ini udah kehendak
Allah. Maafin aku yang udah bikin kamu malu dengan keadaan fisik aku, makasih
kamu udah ngebela aku di depan teman – temanmu saat mereka menertawakan
keadaanku. Aku sayang kamu dit, jangan nangis mulu, aku sedih disini liat kamu
nangis. Aku pengen liat kamu bahagia dit, aku pengen banget bahagia sama kamu,
tapi aku tau itu semua mustahil karena aku juga udah pergi. Walaupun aku pergi
dari dunia ini bukan berarti aku pergi dari hati km dit. Jaga baik – baik
kalungnya ya dit, jangan lupain semua kenangan kita. Jangan males ke gereja. Makasih
pangeranku, makasih malaikat hatiku. Maaf ngerepotin kamu selama ini, kamu udah
bebas kok dari cewe penyakitan yg suka ngerepotin kamu, yang selalu nyusahin
kamu. Aku sayang banget sama kamu dit
Citra
Tag :
Cerita Pendek,
Cerpen Remaja,