Popular Post

Posted by : Pena Tinta Hitam Thursday, April 7, 2016

Karya : M. Alfarizi F.




Saat itu matahari telah menampakkan wujudnya dan ayam-ayam disebelah rumah telah mulai bernyanyi. Terdengar suara wanita paruh baya yang memanggil nama anaknya untuk bangun dari tidurnya.
“Erik ayo bangun hari ini hari Senin nanti kamu sekolah”.Kata ibu sambil menarik selimut dari tubuh Erik.
“Iyaaa”.Katanya dengan suara yang masih mengantuk.
“Setelah merapikan tempat tidur terus mandi setelah mandi sarapan”.Kata ibu dengan nada lembut.
Setelah itu Erik berangkat sekolah dengan temannya. Saat itu Erik sudah menginjak kelas 4.Erik yang terkenal lugu dan periang menjadikannyaa murid yang menyenangkan untuk berteman. Kemudian bel masuk sekolahpun berbunyi dan pelajaran dimulai. Saat mendekati akhir pelajaran Bu Guru memberikan tugas untuk mengerjakan 20 soal Matematika.
          Sepulang sekolah Aku dan Erik sepakat untuk mengerjakannya nanti malam. Saat malam tiba kami mengerjakan soal tersebut bersama-sama. Tidak lama kemudian ada suara yang memanggil Erik dari depan rumahku. Kemudian Erik pergi ke depan rumah,ternyata yang memanggilnya adalah ibunya. Tidak lama kemudian Erik masuk kerumahku,ia memberesi bukunya dan pamit pulang kepada ku dan Orang Tuaku yang sedang menonton TV. Kemudian Erik bilang kalau ia harus belajar dirumah agar belajarnya serius. Setelah sampai rumah Erik membuka buku PR yang tadi kami kerjakan setelah dibuka ia tidak bisa menjawabnya kemudian ia bertanya kepada anggota keluarganya,tetapi apa daya keluarganya sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri.
          Kemudian pagi harinya disekolah Erik meminjam buku PRku dan ia menyalin apa yang kukerjakan tadi malam.Kemudian aku bertanya pada Erik.
”Kenapa kamu belum mengerjakan PRnya padahal kamu bisa belajar dirumah dan bertanya kepada Orang Tua atau Kakakmu?”dengan nada penasaran.
”Aku tadi malam saat ingin mengerjakan PRnya aku mengalami kesulitan saat mengerjakannya dan saat aku bertanya kepada kakakku ia sibuk dengan tugasnya yang banyak”
.Kemudian aku bertanya lagi “Lalu Orang Tuamu?”dengan penasaran aku tanyakan semua yang ingin kuketahui.
Kemudian Erik menjawab”Orang Tuaku sibuk dengan kepentingannya sendiri sendiri”.
Setelah mengetahui itu aku menyuruhnya untuk mengerjakan PRnya dulu lalu melanjutkan pembicaraan tadi setelah ia selesai mengerjakan PRnya.
          Tidak lama kemudian bel sekolahpun terdengar nyaring,yang menandakan bahwa pelajaran akan dimulai. Tepat saat Bu Guru datang ke kelas PR yang dikerjakan Erikpun telah selesai. Beberapa saat kemudian Bu Guru meminta PR yang kemarin diberikan untuk dikumpulkan didepan meja guru. Saat PR sudah dikumpulkan bu guru menghitung buku yang ada didepan mejanya ternyata kurang 3 anak yang belum mengumpulkan. Kemudian 3 anak tersebut dipanggil maju kedepan kelas dan dimarahi oleh Guru tersebut. Sebagai hukumannya 3 anak tersebut disuruh membersihkan kamar mandi saat pelajaran itu.
          “Untung kamu sudah mengerjakan PRnya tepat waktu kalau tidak mungkin kamu akan ikut dengan mereka membersihkan kamar mandi” Kataku kepada Erik.
Erik pun menjawab “Iya untung saja aku cepat-cepat mengerjakannya kalau tidak pasti aku sudah membersihkan kamar mandi”Kata Erik dengan nada senang.
          Kemudian setelah pulang sekolah teman-teman mengajak Erik dan aku untuk bermain didepan rumah Erik secara halaman rumahnya luas jadi pas untuk bermain disana. Tak lama kemudian Erik dipanggil ibunya untuk tidur siang. Kemudian aku dan teman-teman merasa setiap Erik diajak bermain ataupun belajar kelompok selalu Orang Tuanya memintanya untuk cepat-cepat pulang kerumah. Setelah membahas itu aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang karena adzan ashar mulai terdengar.
          Hal itu terus berlanjut sampai Ujian Nasional SD tiba. Kemudian aku bertemu dengan ayah Erik yang baru pulang dari masjid. Ia memintaku untuk belajar bersama dengan Erik agar Erik bisa masuk ke SMP Negeri. Setelah seminggu belajar bersama Ujian Nasional pun tiba. Kemudian setelah melewati hari pertama Ujian Nasional aku bertanya pada Erik
“Bagaimana tadi apakah kamu bisa mengerjakan soalnya?”kataku dengan nada ingin tahu.
Erik menjawab “Aku bisa mengerjakan soalnya tadi tapi ada yang tidak bisa”kata Erik.
Kemudian aku bertanya lagi “Antara bisa dan nggak bisa mana yang paling banyak?”.
Erik pun menjawab “50:50”kata Erik sambil melihat kebawah.
Aku pun kaget dengan pernyataan tersebut bagaimana bisa soal semudah itu tidak bisa dijawab. Aku berpikir mungkin ini karena selama ini Erik tidak pernah belajar karena keluarganya tidak terlalu memperhatikannya. Hal ini membuat Erik menjadi pendiam saat di tengah keluarganya dan membuat ia ngeyel saat diberitahu oleh orang tuanya.
          Setelah Ujian Nasional selesai kami menunggu kurang lebih satu bulan hasil dari Ujian Nasional dibagikan. Kemudian kami membukanya bersama-sama ternyata diluar perkiraanku aku menempati posisi 3 tertinggi disekolahan. Saat itu aku memperkirakan nilai Erik berapa sudah kupikirkan saat aku mengetahui nilaiku ternyata nilai Erik jauh dibawahku. Kemudian Erik mencoba untuk mendaftar ke SMP Negeri tapi apa daya nilainya yang pas pasan membuatnya tidak diterima di SMP Negeri.
          Kemudian 1 bulan setelah pengumuman aku bertanya kepada Erik ia bersekolah dimana. Kemudian Erik menjawab “Aku tidak diterima di SMP Negeri karena nilaiku pas-pasan jadi aku sekolah di SMP Swasta dekat rumah.”Kata Erik. Aku sempat berpikir kasihan sekali Erik, ia ingin sekolah di sekolah Negeri tetapi ia tidak bisa mencaapainya karena keluarganya tidak terlalu memperdulikan Erik.
          Tidak lama setelah menjalani sekolah di SMP ia menjadi terkekang dengan keluarganya karena anaknya tidak bisa masuk SMP Negeri .Akibat terkekang di rumah saat pulang ia tidak langsung pulang karena jika langsung pulang ia tidak boleh keluar rumah lagi. Pada saat itu ia selalu pulang sore padahal jam pulang sekolah pukul 12.30 WIB.
          Setelah pulang dari sekolah ia langsung dimarahi oleh orang tuanya karena sehabis pulang sekolah ia tidak langsung pulang tetapi malah nongkrong diwarung dekat sekolahannya dengan teman-temannya.Waktu itu pernah ia bermain sepak bola dilapangan sehingga dia lupa kalau ia tidak boleh bermain lebih dari jam 5 sore. Saat pulang ia langsung disambut oleh sapu yang dibawa oleh ayahnya. Hal itu membuat ia takut sekali dengan orang tua karena terlalu banyak peraturan. Sesama laki-laki aku dan Erik saling bertukar pikiran tentang apa yang dialaminya. Kemudian aku memberi saran yang membuat Erik tertantang untuk mencobanya. Saran tersebut adalah membuatnya merasa betah didalam rumahnya tanpa bermain diluar selama seminggu.
Setelah beberapa hari aku bertemu dengan Erik ia berkata “aku tidak kuat dengan saran yang kau berikan karena setiap aku berada dirumah aku selalu diceramahi oleh orang tuaku tentang inilah itulah,itu membuatku tidak betah dirumah”.Kata Erik
          Lama kelamaan Erik menjadi anak yang tidak kenal dengan saudaranya.Setiap ke tempat saudaranya ia selalu takut dan malu karena tidak pernah berkumpul dengannya lagi. Setiap saudaranya berkata apa ia tidak pernah menanggapi ia hanya tersenyum kepadanya. Saat itu adalah hari raya Idul Fitri dimana semua orang halal bihalal dari satu rumah ke rumah lainnya. Waktu itu kami sekeluarga besar halal bihalal ke tempat saudara kami,saudara kami itu adalah guru SMP Erik. Ia berbicara kepada kami bahwa Erik sering bolos sekolah dan jarang membuat PR,ia juga sering mencontek saat ulangan. Semua itu dilontarkan dari mulut guru Erik ke seluruh telinga keluarga besar kami. Kemudian Erik yang mendengar hal itu ia hanya bisa diam dan melihat ke arah bawah.
          Sampainya dirumah Erik terkena marah lagi oleh kedua Orang Tuanya. Erik pun hanya terdiam saat dimarahi oleh kedua Orang Tuanya. Ia merasa bahwa ia ingin bertukar posisi antara orang lain dengan dirinya apakah bisa orang lain hidup seperti dirinya. Kemudian Erik mengurung diri dikamarnya karena ia tidak mau lagi dengar celotehan orang tuanya itu. Mungkin dalam hatiku Erik merasa jiwanya tertekan karena tuntutan yang banyak dan mau tidak mau ia harus memenuhi tuntutan tersebut.
          Saat itu Ujian Nasional kurang 2 minggu lagi. Aku bertanya kepada Erik “setelah ini kamu ingin melanjutkan disekolah mana?”.
Erik pun menjawab “Aku belum tahu ingin melanjutkan dimana setelah lulus ini”.
Aku pun tidak terlalu memperdulikan hal tersebut karena pasti orang tuanya telah memilihkannya sekolah yang baik. Kemudian Ujian Nasional kurang 1 minggu aku dihampiri oleh ayah Erik saat aku sedang duduk didepan rumah. Ia menghampiriku dengan tujuan untuk mengajak anaknya belajar bersama. Akupun mengiyakan ajakan itu,setelah itu aku menghampiri Erik dan mengajaknya belajar bersama. Kemudian apa jawab Erik, dia menolak ajakan tersebut. Kemudian aku bilang kepada ayah Erik bahwa Erik tidak mau belajar bersama. Sebenarnya aku tidak enak kepada Erik karena aku terkesan memaksakan kehendaknya.

          Setelah Ujian Nasional dimulai aku bertanya kepada Erik “Apakah ia bisa menjawab soalnya?. Ia menjawab “Aku mengerjakannya hanya 30 menit setelah itu aku tinggal tidur”.
Aku berpikir pintar sekali anak ini aku saja membutuhkan waktu 1 jam 30 menit untuk menjawab soal tersebut. Aku percaya bahwa nilainya akan menjadi seperti SD lalu.
 Ujian Nasional pun telah selesai, kemudian aku bertanya lagi kepada Erik “Mau melanjutkan dimana habis ini?”.
Erik menjawab “Aku setelah ini akan melanjutkan di SMK yang telah dipilihkkan oleh Orang Tuaku”.Aku berpikir mungkin SMK yang dipilihkan adalah SMK Negeri.
          Setelah menerima hasil Ujian Nasional aku kaget ternyata aku dan Erik hanya selisih 0,3 saja. Aku berpikir hebat juga anak ini bisa mendekati nilaiku padahal ia tidak pernah belajar.
Kemudian aku bertanya “Ingin sekolah di SMK mana?”.
Ia pun menjawab “SMK *****”.
Aku berpikir nilai sebesar itu kenapa sekolah di SMK Swasta kan nilainya sayang. Selang waktu, aku mendengar kabar bahwa ia mendapat bocoran dari temannya. Aku jadi menyayangkan Erik yang dulunya Lugu,Jujur dan Periang sekarang menjadi seperti ini.
          Setelah memasuki SMK kenakalannya pun menjadi-jadi sekarang ia berani merokok. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa merokok adalah hal yang wajar bagi anak remaja sekarang. Tetapi ia merokoknya di area sekolah yang ada peraturan dilarang merokok. Setelah ketahuan ia merokok Orang Tuanya pun dipanggil ke sekolahan. Orang Tuanya bilang ia belum pernah melihat anaknya merokok. Setelah sampai rumah Erik pun dimarahi oleh kedua Orang Tuanya habis-habisan karena merokok disekolahan.
          Kemudian beberapa bulan kemudian Ia sering pulang larut malam. Orang Tuanya yang sudah lelah menasihatinya sekarang membiarkan anaknya bertindak semaunya sendiri. Aku dan teman-teman SD juga menyayangkan hal ini padahal ia saat SD orangnya Lugu dan Periang sekarang ia menjadi orang yang tidak karuan kelakuannya,sekarang ia tidak pernah bermain dengan saudaranya dan perkumpulannya sekarang menjadi tidak karuan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -