Archive for 2015
Menunggu
By : Pena Tinta HitamKarya : Dandi Binastria
Sesampainya di rumah
yang tidakku ketahui seluk-beluk dari rumah itu dan bahkan belum akrab sama
sekali denganku. Kami sekeluarga pun harus tinggal di rumah asing tersebut. Tak
lama kami menunggu ibuku akhirnya membuka pintu rumah itu. Didalamnya masih
kotor dan lama tak terawat, dan hanya ada dua tikar untuk kami istirahat.
Setelah tampak bersih, Aku pun pergi melihat lihat tiap inci rumah asing ini,
agar Aku akrab dengan rumah ini. Disaat Aku berkeliling keluargaku memilih
untuk istirahat. Setelah puas berkeliling Aku pun akhirnya memilih untuk
istirahat.
Esoknya, perabot rumah
kami sudah datang. Kami sekeluarga dan para tetangga baruku menata semuanya
hingga rapi bak istana raja. Setelah berterima kasih kepada semuanya, Aku pergi
untuk melihat lihat desa baruku itu. Didesa itu banyak sekali pepohonan yang
rindang, dan air sungainya pun jernih dan bersih. Bahkan air tersebut dapat
langsung diminum. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, saatnya waktuku untuk
pulang.
Keesokan harinya aku didaftarkan
oleh Ayahku di suatu sekolah di kota itu. Setelah Aku mengetahui bahwa Aku akan
belajar ditempat yang baru, Aku mengajak Ayahku untuk melihat sekolahan itu.
Ternyata sekolah itu cukup luas. Disana terdapat banyak sekali pohon, rumput
yang hijau dan banyak burung berterbangan. Pada saat itu juga aku merasa ingin
untuk sekolah ditempat itu.
Hari pertama sekolah
berjalan seperti hari biasa. Layaknya siswa baru lainnya, Aku berkeliling
disekolah itu pada saat istirahat. Dan ternyata sekolahan itu memiliki 2 buah
kantin. Diantara kedua kantin tersebut terdapat dua perbedaan yang sangat
mencolok, yaitu para pengunjungnya. Dikantin pertama banyak lebih banyak siswa
perempuan daripada laki laki, begitu juga sebaliknya. Karena kantin kedua lebih
banyak siswa laki laki, Aku lebih sering ke kantin dua dari pada kantin satu.
Setelah beberapa hari
aku sudah memiliki banyak teman dan bahkan sudah ada yang menjadi sahabatku,
dia bernama Ardi. Walaupun kami berbeda kelas, Dia di kelas A sedangkan Aku di
Kelas B perbadaan itu tidak bermasalah bagi kita berdua. Dan tidak disangka
sangka rumah Ardi dekat dengan rumahku, jadi aku sering bermain ke rumahnya.
Saat sekolah, pada jam istirahat aku dan Ardi ke Kantin satu. Saat itu aku
melihat seorang siswa perempuan yang baru pertama kali kulihat. Gadis itu
berparas cantik jelita dan bertubuh tinggi, Aku jadi ingin untuk mendekatinya.
Diantara teman temannnya menurutku dialah yang paling cantik. Ada rasa ingin
berkenalan dengannya tetapi Aku masih merasa malu, Aku pun hanya bisa
melihatnya dari jauh.
Setelah melihat gadis cantik itu, Aku lebih
sering mengajak Ardi untuk pergi ke Kantin satu agar dapat melihat wajah cantik
gadis itu. Sesampainya di Kantin satu Aku melihat sekeliling dan ternyata gadis
itu tidak berada disana. Aku pun akhirnya pergi meninggalkan gadis itu dengan
rasa kecewa. Karena aku terlalu sering mengajak Ardi ke Kantin satu, ternyata
Ardi merasa curiga kepadaku. Ketika Aku mengajaknya ke Kantin satu lagi, Dia
bertanya kepadaku
“Ren, kok kamu sering ke Kantin satu? Emang kamu nggak kangen
tu sama Kantin dua?”. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman.
“Ren, kamu
kenapa oy?”
“Udah ikut aja?”
“ Oke deh”.
Setiap kali Aku
mengajak Ardi ke Kantin satu Dia terus bertanya hal yang sama padaku, dan Aku
hanya menjawab “Tidak apa apa”. Suatu hari ketika aku mengajaknya ke ketempat
yang sama lagi, Ia merasa bosan dan mengajakku ke Kantin dua. Dan Aku menuruti
kemauannya, karena Dia selalu menuruti kemauanku apalagi Ia sahabatku, Aku
tidak ingin mengecewakannya.
Setelah kami naik
kelas, disaat pembagian kelas ternyata kelasnya diacak. Dan ketika aku melihat
daftar nama disuatu kelas tertera namaku dan juga Ardi. Aku merasa bahagia,
karena akhirnya kami satu kelas. Dan setiap pulang sekolah aku bisa pulang
bersamanya. Tetapi dikelasku hanya terdapat 6 siswa laki laki, hal tersebut
termasuk hal yang lucu buatku. Karena baru kulihat kelas yang siswa laki
lakinya hanya 6 orang, sedangkan sisanya siswa perempuan.
Esoknya ketika masuk
sekolah aku berkenalan dengan semua teman baruku. Tak disangka sangka, orang
yang kukagumi buatku Satu kelas denganku. Aku pun langsung berkenalan dengannya
dan meminta nomor HPnya, ternyata namanya Ayu. Wajahnya sesuai
dengan namanya. Dan Aku langsung mengambil tempat duduk dibelakangnya. Dan aku
duduk bersebelahan dengan Ardi. Karena Aku duduk dibelakang Ayu, Aku lebih
sering mengobrol dengannya dan Aku merasa gembira. Disaat pelajaran Aku malah
lebih sering memperhatikan Ayu dari pada guruku sendiri.
Disaat ada tugas
presentasi, dan aku disuruh mempresentasikan tugasku didepan kelas, mataku
lebih sering tertuju pada Ayu. Dan ketika Ayu mempresentasikan tugasnya, Aku
sangat memperhatikannya. Ketika Aku dirumah, Aku sering mengirim SMS kepadanya
agar hubungan kami lebih dekat. Bahkan ketika Aku tidak masuk sekolah, Aku
lebih sering bertanya tugas kepada Ayu daripada Ardi. Ketika sudah tau tugasnya
Aku baru kerumah Ardi untuk mengerjakan tugas bersama. Dan jika dia tidak
berangkat sekolah Aku selalu bertanya kenapa dia tidak berangkat.
Setelah hubungan Aku
dan Ayu semakin dekat, Aku sering dibelikan makanan olehya dan juga sering
membantuku mengerjakan tugas. Aku hanya bisa berterima kasih kepadanya dan hal
itu membuatku senang sekali. Disaat ada kegiatan berkelompok, Aku sangat
berharap dapat berkelompok dengannya. Disaat aku berkelompok dengan Ayu, Aku
menjadi sangat bersemangat. Tetapi jika Aku tidak berkelompok dengannya, Aku
juga bersemangat tapi tidak sesemangat satu kelompok dengan Ayu.
Bahkan saat hubunganku
dengan Ayu sudah sangat dekat, ketika kami mengobrol lewat SMS kami menggunakan
kata kata layaknya kekasih. Hal itu membuatku bahagia ketika Aku dirumah. Jika
disekolahan Aku dibahagiakan oleh wajah cantiknya tapi jika dirumah Aku
dibahagiakan oleh kata katanya. Hidupku seperti dilengkapi oleh dirinya.
Ketika hari ulang
tahunnya, Aku bertanya pada Ayu hadiah apa yang ingin Ia miliki . Ternyata Dia
hanya meminta sesuatu yang sederhana, yaitu 11 buah permen. Karena Ayu lahir
ditanggal 2 September, jadi dia meminta permen hanya sebanyak itu. Dan ketika
Aku berulang tahun Dia juga bertanya hal yang sama padaku, Aku hanya meminta
sebuah ucapan ulang tahun yang spesial darinya. Karena ucapannya saja sudah
cukup membuatku merasa bahagia.
Sudah satu tahun
berlalu, kami akhirnya naik ke kelas 3. Dan sama seperti tahun sebelumnya,
kelas kami diacak kembali. Aku berharap, Aku satu kelas dengan Ardi dan Ayu
lagi dan juga semoga saja siswa laki lakinya bertambah. Dan ketika aku
berkeliling disemua kelas akhirnya aku menemukan namaku disana. Setelah kubaca
semua daftar nama itu, Aku melihat nama Ardi disana dan hal itu membuatku
bahagia. Karena teman baikku dari kelas satu itu satu kelas denganku. Ternyata
siswa laki lakinya hanya bertambah satu orang saja.
Tetapi ada satu hal
yang membuatku kecewa, Aku tidak satu kelas dengan Ayu. Tapi Aku masih semangat
untuk belajar. Besoknya ketika masuk sekolah ternyata Aku duduk dengan siswa
wanita. Itu membuatku tambah kecewa, karena Aku tidak duduk bersama Ardi lagi.
Tapi tak apalah karena tempat dudukku masih berdekatan dengan Ardi, Jadi Aku
masih bisa mengobrol dengannya.
Bel tanda pembelajaran
dimulai akhirnya berbunyi. Kami masih menunggu guru untuk mengajar kami. Lama
kami menunggu sampai kelas kita menjadi ramai lagi, guru pun datang dengan tiba
tiba. Kedatangan guruku itu membuat semua siswa menjadi diam kembali. Setelah
kuperhatikan guruku itu, ternyata Dia adalah wali kelasku dikelas dua. Dia
datang dan bertanya siapa yang ingin berganti kelas. Semua hanya diam dan Aku
pikir tidak akan ada yang ingin berganti kelas. Tak kusangka teman yang duduk
semeja denganku berdiri dan berkata dia ingin pindah kelas.
Setelah ditanya banyak
hal oleh mantan wali kelasku itu, ternyata Ia benar benar ingin berpindah
kelas. Akhirnya wali kelasku itu pergi dan berakata bahwa Ia akan kembali. Setelah
Ia pergi temanku itu langsung diinterogasi oleh temanku yang lainnya, layaknya
buronan. Wali kelasku masuk kelas dan membawa seorang siswa wanita. Ternyata Dia
adalah orang yang kucintai, hal itu membuatku begitu bahagia. Terlebih lagi dia
duduk disebelahku, yang membuatku tambah bahagia.
Karena Ayu duduk
disebelahku Aku jadi lebih sering mengobrol dengannya. Tak jarang kami bercanda
disaat pelajaran sampai sampai kami dimarahi oleh guru. Dan yang lebih
membuatku bahagia Aku sering dituliskan materi materi yang perlu dicatat. Semua
itu membuat kami menjadi semakin dekat. Hingga sesuatu yang sama ketika Aku
kelas dua terulang kembali, yaitu kata sapaan ketika di SMS.
Ketika Aku ingin
mengatakan perasaanku padanya, Aku mendengar kabar bahwa dia sudah memiliki
seorang kekasih. Dan Aku tidak begitu terkejut karena dia memang wanita cantik,
yang di idamkan para lelaki lainnya. Dan Aku hanya bisa masih menunggu sampai
Dia tidak memiliki kekasih lagi. Cukup lama Aku menunggu sampai seperti tidak
ada harapan lagi untuk bisa memiliki hatinya. Di hari hari Aku menunggu, Aku
masih berharap bahwa Aku bisa menjadi miliknya.
Hingga akhirnya
penantianku sudah selesai, dia sudah tidak memiliki kekasih. Tapi Aku masih
merasa malu untuk mengatakan perasaanku kepadanya, Aku pun hanya bisa
menganggapnya sebagai teman semata. Tetapi Aku masih menikmati masa
pertemananku dengannya, karena dia masih perhatian denganku. Dan dia juga masih
sering membelikanku makanan dan membantuku mengerjakan tugas.
Hingga akhirnya Aku
teringat bahwa Ayahku pernah berkata bahwa Aku hanya boleh berpacaran ketika
Aku sudah bekerja. Dan Aku berpikir bahwa Aku tidak mungkin menjadi kekasihnya.
Akhirnya masa kelas tiga sudah selesai dan Aku diperintahkan orang tuaku untuk
sekolah diluar kota. Dan perpisahanku dengan Ayu hanya dilakukan dengan foto
bersama sebagai kenangan. Akhirnya Aku pun pergi keluar kota untuk melanjutkan
sekolah dan tidak pernah bertemu dengan Ayu lagi.
Tag :
Cerpen Remaja,
Cerpen Romance,
Jendela Hati
By : Pena Tinta HitamKarya: Cecillia Novensia
Ini
adalah kisah tentang dua gadis kembar yang bernama Klara dan Katrine. Klara
adalah seorang anak difabel, ia mengalami kebutaan sejak lahir. Selain
bersekolah, ia menghabiskan waktunya untuk mendengarkan musik dan bernyanyi,
hanya itulah hal menyenangkan yang dapat ia lakukan. Beruntung ia memiliki
keluarga yang selalu mendukung nya terutama Katrine. Dulu Klara muda belum bisa
menghafal setiap sudut rumah, sehingga Klara sering tersandung, kejeduk, maupun
salah masuk ruangan. Namun Katrine menolongnya, dengan sabar ia menuntun Klara
ketempat yang ia mau. Katrine menjadi sumber semangat untuk Klara. Katrine
sendiri adalah anak yang ceria, penyayang dan juga penyabar. Ia disukai oleh
banyak orang karena keramahan dan kebaikannya.
Setiap pagi Klara dan Katrine berangkat sekolah diantar oleh supir
mereka yang bernama Pak Sarno. Klara diantar ke sekolah luar biasa Permata
Bangsa dan Katrine diantar kesekolah SMA Permata Bangsa yang letaknya saling
berhadapan. Tidak jarang Katrine sering membantu Klara untuk menyebrang. Hal
ini sering dilihat oleh teman-teman Katrine, namun teman-teman Katrine tidak
suka melihat hal itu. Menurut mereka hal itu merupakan hal yang najis untuk
dilakukan karena bagi mereka orang cacat itu adalah orang yang sedang terkena
kutukan. Pada akhirnya Katrine sering mendapat olok-olokan karena memiliki
saudara kembar yang cacat
"Hallo Katrine, mana saudara kembar mu yang cacat itu? cobalah
tengok mungkin kutukan untuknya udah hilang."
"Waww, Katrine pintar sekali memilih warna bando yang cocok untuk
bajunya, coba kita lihat gimana si buta itu memilih aksesorisnya.
hahaha.."
"Hei, kamu Katrine atau si buta itu? coba lambaikan tangan ke
arahnya!"
Tidak jarang punggung Katrine ditempeli tulisan-tulisan seperti gue
sodara si buta loohh atau tulisan invite pin bb si buta 7def3e7. Hal ini
membuat geram Katrine, siapa yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti
itu. Semakin teman-teman mengejeknya, semakin ia perlihatkan rasa sayangnya
untuk Klara. Ia seakan tidak peduli dengan ejekan itu, ia tetap kukuh seperti
unta yang diterjang badai. Ia tidak malu, ia tidak minder, ia tidak pernah
menjauh dari kenyataan, ia tetap menyayangi saudaranya yang buta itu. Hal
inilah yang membuat Brian kagum dengan Katrine. Brian adalah teman sekelas Katrine,
ia bukan termasuk tipe anak seperti kebanyakan teman Katrine. Ia tidak pernah
memandang penampilan dalam berteman, ia juga anak yang ramah dan cerdas. Tidak
jarang Katrine meminta bantuan Brian dalam mengerjakan tugas sekolah.
"Brian, kamu hari ini ada acara
nggak?"
"Engga Trin, kenapa?"
"Tolong ajarin kimia nya dong, aku
nggak begitu ngerti nih."
"Oke Trin, dimana?"
"Kamu tahu rumahku kan? Nanti jam
3 dirumah ku gimana?"
"Siaap Trin."
Selain kecerdasannya, Brian juga anak
yang tampan, sehingga banyak gadis-gadis yang juga tertarik dengannya salah
satunya Elen.
"Brian, aku juga mau diajarin
dong."
"Ayok nanti gabung aja di rumahnya
Katrine, ngga apa kan Trin?"
"Tapi aku nggak mau di rumahnya
Katrine. Ada si buta."
"Namanya Klara. Lagian kamu kenapa
sih? Klara itu sama kayak kita."
"Dia nggak sama kayak kita! dia
buta yan!"
"Emang kenapa kalo dia buta? Toh
buta engga nular."
Melihat pertertengkaran itu Katrine
pergi meninggalkan mereka. Kebetulan saat itu adalah jam pulang jadi seperti
biasa Katrine menjemput Klara untuk menyebrang dan pulang bersama dijemput Pak
Sarno. Di mobil seperti biasa Klara bertanya pada Katrine
"Gimana hari
ini? temen-temen ngejek kamu lagi ya? maaf ya Trin."
"Apasih ra!
engga kok, malahan ya hari ini ada yang mau main ke rumah."
"Apa iya?
siapa?"
"Namanya Brian.." kemudian Katrine mulai bercerita
seperti apa Brian itu.
Sesampainya di rumah, Katrine dan Klara masuk kerumah dan melakukan
rutinitas seperti biasanya ganti baju, makan, mandi. Terkadang bila tidak ada
les alat musik untuk Katrine atau les menyanyi untuk Klara mereka suka membuat
lagu bersama atau mungkin mengcover lagu-lagu milik orang lain. Ketika mereka
berdua sedang asyik bernyanyi ada ketukan pintu yang mengganggu keasyikan
mereka
"Trin, ada tamu tuh, mungkin si Brian."
"Oh iya sebentar
biar aku buka." Kemudian Katrine beranjak dan membukakan pintu, ternyata
benar yang diluar adalah Brian.
"Hallo Bri, ayo masuk! Elen nya
mana?"
"Elen hari ini nggak bisa
datang."
"Oalah yaudah nggak apa."
"Maaf ya kejadian tadi."
"Sssttt.. udah nggak apa, jangan
omongin kejadian apapun tentang sekolah."
Brian hanya mengangguk, ia tahu kalau
hal ini dikatakannya karena tidak mau membuat hati Klara sedih. Kemudian
Katrine memperkenalkan Klara kepada Brian. Setelah itu Katrine meninggalkan
mereka berdua untuk mengambilkan minum. Brian pun mengajak Klara berbincang
"Hei, namaku Brian. Tadi itu duet paling keren yang pernah aku denger
lho."
"Hehe makasi. Permainan piano Katrine memang bagus baget."
sambil membawa nampan berisi minum dan kue Katrine menambahkan "Apalagi
suara Klara yang tiada duanya." mereka bertiga kemudian mengobrol asyik
sambil mengerjakan tugas kimia. Tidak mau memojokan Klara, Katrine juga mencoba
mengajak Klara dalam perbincangan mereka. Melihat kedewasaan Katrine, Brian
menjadi tambah menyukai Katrine.
Sekarang Brian sering sekali berkunjung ke rumah Katrine. Terkadang ia
membawa sebuah coklat untuk Katrine tapi Katrine memberikan coklat itu untuk
Klara. Bila Brian sedang bertamu, Katrine lebih sering meninggalkan dia
sehingga Klara lah menemani Brian. Dengan berbagai alasan dia meninggalkan
mereka. Hal itu dilakukannya karena dia tahu kalau Klara menyukai Brian. Klara
memang tidak bisa melihat tapi hati nya peka akan perasaan dalam dirinya. Hanya
saja Klara minder dengan keadaan nya, sehingga dia lebih menutup diri akan
perasaannya. Namun Katrine tahu semua itu, oleh karena itu dia melakukannya.
Tiap kunjungan Brian ke rumah Katrine dan klara selalu diketahui oleh
Elen dan kawan-kawannya. Melihat itu tidak sukalah mereka. Menurut mereka tidak
pantas seorang normal berkunjung ke rumah orang cacat.
Suatu hari sepulang sekolah, seperti biasa Katrine menjemput Klara untuk
menyebrangkannya ke arah mereka pulang. Sampai di pinggir jalan ada beberapa
teman Katrine yang menggosip di depan mereka
"Hei, lihat Katrine dengan si
buta!"
"Mau sampai kapan ya si buta bergantung sama Katrine?"
"Iya menyebrang saja tidak bisa." Katrine merasa kesal dengan mereka,
tapi dia mencoba untuk sabar. Dalam hati Klara, dia sangat sedih
"Tuhan, aku
memang sudah banyak menyusahkan orang, aku tidak ada gunanya di dunia ini.
Menyebrang jalan saja tidak bisa."
Keduanya kemudian berlalu menuju mobil
hitam Xenia yang sudah terparkir di depan sekolah SMA Permata Bangsa. Ketika Katrine
akan membukakan pintu untuk Klara, Klara berkata "Jangan! aku bisa
sendiri!" kemudian Klara berusaha mencari gagang pintu mobil dan
membukanya.
Di dalam mobil tidak seperti biasanya Klara hanya diam, hal ini membuat
penasaran Katrine "Kamu kenapa ra?" hanya diam
"ra, kalo kamu
ada apa-apa crita dong!" sekali lagi jawabannya nihil
"Klara??"
"Apasih?? brisik!"
"Klara kamu itu kenapa? gara-gara
temen-temenku?"
"Engga! Aku cuman ngerasa Tuhan itu
pilih kasih! Dia cuman sayang kamu!"
"Engga Klara justru karena Tuhan
sayang sama kamu makanya Tuhan....."
"Kalau Tuhan sayang sama aku, kenapa
Tuhan kasih aku buta tapi kamu engga? kitakan kembar!"
"Tuhan punya rencana dari semuanya
ini Klara, semuanya akan indah pada waktunya."
"Aku iri sama kamu."
"iri? kok bisa?"
Kemudian Klara bercerita pada Katrine kalau sewaktu Brian sedang
berbincang dengan Klara, Brian sering bercerita tentang Katrine. Ia berkata
kalau ia kagum dengan Katrine, dengan kedewasaannya, dengan kecantikannya,
dengan kebaikannya.
"coklat yang kamu kasih itu bukan
untuk akukan?"
"Maaf raa.."
"Kenapa sih kamu pake bohong sama
aku? karena aku buta? aku gak butuh kasihan dari kamu!"
Ternyata sudah sampai di rumah. Pak Sarno supir mereka berusaha
menenangkan keduanya "Mbak, sudah sudah ini sudah sampai." Klara
kemudian turun dari mobil di susul oleh Pak Sarno dan mengantarkan nya masuk ke
rumah. Sedangkan Katrine masih di dalam mobil. Keduanya menangis dan walau
tangisan mereka masing-masing sudah berhenti mereka tidak saling bertutur sapa. "Mungkin Katrine sudah enggan berbicara denganku," pikir Klara. Tapi kenyataannya
Katrine memang tidak di rumah.
Keesokan harinya mereka masih membisu satu sama lain. Tak ada dari
keduanya yang mau memulai pembicaraan. Hingga pulang sekolah tiba Klara sudah
berencana untuk menyebrang sendiri. Ia tidak mau bergantung lagi dengan orang
lain. Dengan berbekal pendengaran, ia nekad untuk menyebrang. Ketika ia
mendengar ada yang mendekat ia sama sekali tidak bergerak, jika ia tidak
mendengar sesuatu ia mulai melangkahnya. Hal ini berhasil ia lakukan, hingga
Katrine berteriak "Klara berhenti!! Disitu bahayaa!!" Klara tidak
menggagas
"Klaraa awaaaas!!!" kemudian Katrine lari ke jalan, ia
berusaha untuk menarik Klara ke pinggir tapi Klara tidak mau untuk dibantu,
hingga akhirnya ada motor yang melaju sangat kencang. Katrine berusaha
menyelamatkan Klara. Namun sayang mereka terserempet dan jatuh ke trotoar.
Banyak orang berkerumun disitu
"Mas, tolong angkatin mbak Katrine ke
mobil! cepat!!" teriak Pak Sarno
"Mbak Klara ayo saya bantu
berdiri!" lanjutnya. Klara tidak bisa menelaah apa yang terjadi., ia hanya
merasakan luka di telapak tangannya.
"Katrine aku minta maaf, baru-baru
ini aku sangat keras kepala sampai terjadi kejadian seperti ini"
"Mbak, mbak katrine tidak ada
disini." Jelas Pak Sarno
"Terus dimana Katrine?"
"Dia pulang sama temannya."
Hari selanjutnya ada banyak jawaban yang sama atas pertanyaan Katrine
dimana? jawabannya selalu
"sama temennya." Klara jadi berpikir kalau
Katrine sedang marah dengannya. Tapi semenjak kejadian itu banyak teman-teman
Katrine yang pada akhirnya mau berteman dengan Klara
"Klara, aku Elen temannya Katrine,
maaf kalau selama ini aku dan temen-temen sudah jahat sama kaliaan.. aku
bener-bener minta maaf." kemudian ada pelukan hangat yang datang dari
seorang teman yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Klara sangat bahagia. Tapi
kebahagiaannya menjadi berkurang manakala ketika ia berangkat sekolah, tidak
lagi bersama dengan Katrine. Katrine menjadi sangat sering bermain dengan
teman-temannya.
Suatu hari ketika pulang sekolah, ia merasa dirinya dituntun untuk
menyebrang jalan, ini bukan Pak Sarno ataupun ayah
"Katrine?" cetus
Klara bahagia.
"Aku Brian, ingat?"
"Brian, kamu engga sama
Katrine?"
"Enggak, sekarangkan aku sama
kamu."
"Huh? Brian? terus mana
Katrine?"
"sama temennya."
"Brian, aku ngerasa kalo sejak
kejadian itu, aku jarang banget ketemu sama Katrine walaupun dirumah, aku udah
jarang denger suara langkah kakinya yang lembut itu. Dia lebih sering main sama
temennya. Aku kangen sama dia. Apa dia enggak kangen sama aku? Apa dia masih
marah sama aku?"
"Ra, Katrine itu sayang banget sama
kamu, ia rela melakukan apapun untuk bisa menjaga kamu, untuk tetap dekat sama
kamu."
"Tapi kenapa sekarang dia engga
pernah ngobrol lagi sama aku?"
"Dia ingin sekali, tapi dia tidak
bisa."
"Kenapa?"
"Eh, itu mobil kamu sudah datang."
kemudian Klara masuk ke dalam mobil, di
dalam mobil yang ternyata sudah ada ayah, bunda, dan Pak Sarno. Bunda langsung
memeluk erat Klara sambil menangis dan berkata
"Puji Tuhan, kita sudah
dapat pendonor matamu nak."
"siapa pendonorku?" bunda hanya diam
dan menangis lebih keras.
Beberapa hari setelah operasi mata, ia mulai berlatih untuk melihat
dengan mata barunya, hal pertama yang ia lihat adalah cahaya terang yang tak
pernah ia lihat, kemudian orang-orang yang berdiri mengelilingi dia, kembali ia
bertanya
"mana Katrine?" semua menunduk sedih
"Katrine tidak ada
disini kan?" tidak ada jawaban
"kenapa semuanya diam?" kemudian
ayah Katrine menjawab karena bunda tak bisa berbicara dengan kesedihan yang ia
rasakan
"Katrine ada bersama kita."
"dimana?" "di hati
kita, bersama kita."
"Maksudnya?"
"Katrine telah
tiada."
"Huh?" "Dia terkena kanker otak." Semua orang
seketika menangis ; ayah, bunda, teman-teman, Pak Sarno, dan juga Brian. Brian
yang mencintai Katrine merasa kehilangan dan belum bisa melepaskan Katrine,
tapi ada maksud dari suatu peristiwa yang ingin disampaikan Katrine yakni dia
ingin Brian bisa menjaga dan menemani Klara, dia ingin Brian peka terhadap
siapa dia harus mencintai. Kemudian ia tersadarkan kalau selama ini Klara
menyukainya dengan ketulusan. Sejak saat itu Brian dan Klara menjadi pasangan
yang serasi, mereka sering membuat lagu yang semua inspirasinya berasal dari
Katrine. Tidak hanya itu Elen dan teman-temannya juga telah berubah, sekarang
mereka malah menjadi aktivis dalam suatu organisasi penyandang cacat ganda.
Mereka melihat semangat Katrine untuk tetap tegar melawan penyakitnya dan ia
juga harus merasakan penderitaan yang diderita oleh orang lain.
Ketika semua telah berubah, Brian memberikan beberapa video yang ia
temukan di handphone Katrine. Klara yang penasaran langsung melihat video-video
itu.
"Sebenarnya aku ingin bercerita
sama Klara kalau selama ini di kepala ku ada semacam bola tenes yang sembunyi
di otakku, aku disuruh dokter untuk operasi tapi aku terlalu takut. Aku takut
bila harus di botak."
"Semangat trin semangat! Biarlah
anjing menggogong tapi Katrine terus maju! Teman-teman tidak boleh tau kalau
aku terkena penyakit kanker, cukup ayah, bunda, dan Pak Sarno saja yang tahu.
Kasian Klara yang selalu diejek terus."
"Check Up lagi. Maaf ya Klara Brian
aku ninggal kalian dirumah, aku harus check up lagi nih, semoga kalian enggak
marah dan doain semoga enggak kenapa-kenapa ya."
"Klaraa hari ini kamu marah banget
ya sama aku, soal Brian? Klara kalo aja kamu tahu kalo aku itu enggak punya
perasaan apapun sama Brian, Aku tahu kalo yang seharusnya sama Brian itu kamu..
karena kamu menyayangi Brian dengan tulus. Coklat itu cuman pantas buat
kamu."
"Klaraa aku kangeen banget sama
kamuuu.. di rumah sakit tidak ada yang bisa diajak ngobrol seseru kamu..
Seandainya aku tidak nabrak trotoar dan menyebabkan pendarahan di otak
kecilku.. hal ini mungkin tidak akan terjadi."Hai, nanti aku mau operasi
lho, bola tenesnya mau diambil, nanti aku bisa main bareng lagi sama Klara melakukan
hal yang keren bareng, nyanyi bareng lagi..aku janji akan buat kamu bisa
melihat, karena mungkin sekarang kamu bisa melihat karena aku adalah mata kamu
dan kamu adalah mataku.
Sinkophobia
By : Pena Tinta Hitamkarya: Boy Riza Pahlevi
Namaku adalah Bob aku seorang anak tentara dan ibuku adalah seorang PNS. Waktu aku kecil aku pernah
diajak orang tuaku ke pantai. Pada saat di pantai aku asyik bermain
pasir, dan air di tepi pantai yang terkena ombak. Namun pada saat aku bermain
aku digigit oleh kepiting, aku pun menangis sangat keras lalu ayah dan ibuku
langsung membawa ku ke puskesmas terdekat setelah itu aku di bawa orang tuaku
pulang kerumah untung lukanya tidak parah jadinya aku langsung bisa dibawa
pulang oleh kedua orang tuaku. Dan semenjak itu aku tidak mau lagi di ajak ke
pantai alias takut(phobia). Pada saat aku remaja aku mempunyai teman-teman yang asyik diajak main, namanya adalah Adel, Sofia dan, Roni mereka adalah
temanku dari SMP. Kami berteman sangat baik dan kami sekarang teman
satu kelas di SMA. Dari SMP aku sangat suka kepada Adel tapi sejak dulu aku
tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Namun Adel suka dengan cowok yang bisa
berenang atau anak pantai karena menurutnya anak pantai itu lebih macho. Tapi,
Adel dan teman-temanku belum tahu bahwa aku takut air laut karena pernah digigit
kepiting, namun mereka akhirnya pun tahu kalau aku takut dengan air (sinkophobia ).
Saat aku piknik di Bali bersama teman-teman dalam
acara study tour, teman-temanku mencoba menceburkan diri ke laut untuk diving bersama
namun aku tetap menolak karena aku takut air laut. Tapi
masalahnya si Roni dan teman-temanku masih mengajakku untuk diving
bersama karena mereka belum tahu kalau aku ini sinkophobia alias takut tenggelam.
Roni pun berkata kepadaku
"ya iyalah semua orang kalau tenggelam juga takut. Takut air sih". Maka kita berusaha keras
melatihnya untuk nyebur ke
laut. Sampai ramai dilihat orang. Kacau nih.
“Daku tak ingin ikut! Lebih baik daku nongkrong di pohon jengkol bareng kalong dan
sundel bolong!” rengeknya.
“Dasar cengeng! Anak militer kok takut ama air.” Kata Sofia tegas sambil
menendang punggung
ku agar segera mencelupkan badannya.
Meskipun aku tidak ikut
diving di laut tapi aku senang karena aku bias bersama Adel cewek yang aku
taksir dari SMP dulu.
Setelah
pulang dari study tour aku bertanya lagi kepada Adel setelah pertanyaan yang pernah aku ucapkan saat SMP dulu
type cowok seperti apa yang dia inginkan. Adel pun menjawab bahwa type cowok
yang dia inginkan adalah cowok yang bisa berenang. Aku tercengang sejenak dalam
hatiku berkata “busyet kalau begini aku tak mungkin bisa jadi pacarnya nih’.
Namun semenjak itu aku ingin berlatih berenang dengan ayahku mengingat ayahku
adalah seorang tentara, meskipun awalnya aku tak berani berenang di laut karena
takut air laut tapi ayahku berusaha melatihku untuk berani melawan rasa takut ku terhadap air laut itu.
Hari pertama latihan berenang aku hanya mencelupkan jempol kakiku ke dalam
air, sampai hari ke tujuh aku hanya berani mencemburkan jempolku ke dalam air.
Sampai ayahku bertanya kepadaku “mengapa hanya jempolmu saja yang kau celupkan
di air? Apakah jempolmu itu bisa berenang?. Ayahku sabar mengajariku berenang
sampai 2 minggu latihan berenang aku hanya masih bisa mencelupkan jempolku ke
dalam air laut. Wajah ayahku mulai berubah sepertinya kesabarannya mulai habis
untuk mengajariku berenang, tapi disana masih ada ibuku yang membujuk ayahku
untuk tetap sabar mengajariku. Sampai-sampai ayahku berjanji kepadaku kalau kamu bisa berenang dan kamu bisa jadi tentara sepeti ayah maka ayah akan
membelikan kamu mobil baru. Hatiku sangat senang sekali mendengar perkataan
ayahku itu tapi aku juga merasa bahwa itu tidak mungkin karena aku yang sudah
2 minggu latihan berenang belum berani menceburkan badanku ke laut apalagi
berenang, tapi dibalik itu semua aku membayangkan bahwa seandainya nanti aku
bisa berenang maka aku akan dapat 2 keuntungan sekaligus yaitu aku mendapatkan
Adel dan yang kedua aku mendapatkan mobil baru. Setelah berbulan-bulan aku
belajar berenag akhirnya aku bisa berenag dan tidak takut dengan air laut lagi.
Semenjak aku bisa berenang aku mulai mendekati Adel karena Adel suka dengan
cowok yang bisa berenang maka akhirnya aku mengajak Adel untuk pergi ke laut
dan diving bersama, Adel pun mau tapi dia kok membawa cowok.dalam hatiku
berkata ”siapa cowok yang dibawa Adel itu apakah mungkin itu saudaranya?. Lalu
aku menyakan hal tersebut kepada Adel. Adel pun menjawab bahwa cowok itu adalah
pacarnya. Betapa sakit hatiku mendengar perkataan Adel itu hatiku rasanya robek
bak tertusuk pisau yang tajam. Kemudian setelah aku pulang dari laut aku
menangis,aku tak mau makan dalam sehari. Sampai akhirnya ibuku datang dan
bertanya kepadaku.
"Bob kau ini kenapa kok dari siang kok gak mau makan”. Begitu
tanya ibuku.
Aku pun menjawab bahwa aku sedang patah hati karena Adel cewek yang
aku suka dia telah memilih cowok lain. Ibuku menasihatiku “bahwa perempuan
diluar sana masih banyak”.
Aku pun berkata kepada ibu "baiklah bu aku akan
mengikuti permintaan ayah untuk menjadi seorang tentara seperti ayahku."
Tapi
aku masih berfikir pada saat nanti aku tes renang menyeberangi laut aku
berfikir apakah aku bisa mneyeberangi laut, sedangkan aku baru bisa berenang
akhir-akhir ini tapi ayahku menyakinkanku agar aku percaya diri untuk menhadapi
tes renang itu. Akhirnya aku lolos tes renang dan aku berhasil membanggakan
kedua orang tuaku bahwa selama ini anaknya yang penakut sama air bisa menjadi
tentara seperti ayahnya. Kedua orangtuaku pun tidak menyangka bahwa anaknya
yang dulu takut sekali dengan air laut tapi sekarang malah menjadi tentara
angkatan laut seperti ayahnya. Selain aku senang menjadi tentara angkatan laut
tapi di dalam hatiku masih kecewa karena aku tidak bisa mendapatkan Adel cewek
yang sudah lama aku taksir dari dulu. Tapi meskipun begitu aku lapang dada
menerima semuanya. Untung ibuku menasihatiku bahwa perempuan itu tidak hanya
satu tapi di luaran sana masih banyak. Aku pun fokus pada profesiku sebagai TNI
angkatan laut sekarang dan aku akan membela negara dengan penuh semangat dan
pengorbanan.
Tag :
Cerpen Remaja,
Cerpen Romance,
Perih Kehidupan
By : Pena Tinta HitamKarya: Afiif Priyatama
Ketika
matahari
hilang dibalik gunggung dengan berat hati Anto pulang,
air peluh bercucuran di wajahnya yang penuh dengan rasa lelah. Sejak pagi ia
mencari pekerjaan, tapi tak ada satupun yang menerima dirinya, berbekal ijazah
SLTA dan keahlian yang ala kadarnya Anto mencari pekerjaan tanpa kenal lelah
dan putus asa, hinaan dan cemooh saat melamar pekerjaan sering ia terima bahkan
pengusiran sering ia terima,tapi apa yang Anto bisa buat, ia hanyalah orang
kecil yang tidak memiliki kekuasaan atau harta apapun.
Saat perjalan pulang
menuju rumahnya ia tak sengaja melihat pedagang martabak yang terkenal enaknya
se kota Semarang, saking enaknya
aroma martabak semerbak memenuhi isi angkot , aromanya menghipnotis Anto untuk
membeli martabak, akhirnya tanpa pikir panjang Anto turun dari angkot dan
menghampiri pedagang martabak tersebut, saat membayar Anto mengambil dan
melihat dompetnya hanya berisi sepuluh
ribu rupiah , dengan berat hati Anto membayar dan mendapat kembalian dua ribu rupiah ,”yaelah apes banget hari ini, ora entuk kerja eh balek balek gawa duit
rung ewu, durung angkote patang ewu aduh nasib nasib balek mlaku ,tapi ra papa
lah setidake aku gawa martabak kanggo anak lan bojoku “, akhirnya Anto
meninggalkan pedagang martabak tersebut lalu pulang kerumah.Dari jauh Anto
mendengar suara adzan,ia memutuskan untuk
melaksanakan ibadah shalat di masjid atau surau terdekat.Sambil terengah
engah Anto memasuki masjid lalu ia mengambil air wudhu, setelah wudhu ia masuk dan
melaksanakan shalat sunah tak lupa martabak diletakkan disampingnya, ada
seorang marbot melihat hal tersebut dan memberitahu Anto kalau makanan tidak
boleh masuk ke dalam masjid ,dengan berat hati Anto meletakkan martabak di
dekat kotak amaal.Setelah melaksanakan shalat ia mengambil martabak
tersebut.Betapa terkejutnya Anto melihat martabaknya telah hilang
,”Astagfirrullahhal adzim martabak ku dimana kok ditinggal shalat sebentar
sudah hilang “, dengan spontan Anton berteriak “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!! Ya
Allah cobaan apalagi ini ya Alllah” , seluruh jamaah shalat terkejut dan
menghampiri Anton dan menanyakan apa yg terjadi, setelah Anto menceritakan
kejadian tersebut ada seorang jamaah yang mengetahui siapa yang mengambil
martabak tersebut.Betapa terkejutnya Anto ternyata yang mengambil martabaknya
ialah istrinya sendiri, setelah iitu dia bergegas pulang kerumah.
Sampainya dirumah Anto
bergegas melepas sepatu dan masuk ke rumah
“Assalamualaikum , bapak pulang”
“Walaikumsalam ,wah bapak sudah pulang
,bagaimana pak sudah dapet pekerjaan?” sambil melepaskan dasi yang terikat di
leher Anto
“Belum bu,bapak belum dapet pekerjaan
tapi besok bapak akan cari kerja lagi” sambil mengambil handuk dan langsung ke
kamar mandi.
Setelah Mandi.
“Bapak udah makan?”
“Belum , emangnya ada beras? ,biasakan
ibu nunggu bapak beli makanan buat makan malam”
“Emangnya bapak bawa makanan? Udah
lupain aja pak hari ini spesial ibu beliin buat bapak martabak ,aromanya saja
menggugah selera pasti bapak seneng” mengambil martabak didapur dan membawanya
ke ruang makan .
“Nih pak martabaknya maknyus deh
pokoknya” sambil memotong martabak jadi beberapa bagian
“Wih iya bu aromanya luar biasa,pasti
enak nih bu,oh ya panggil anak anak bu pasti mereka juga suka”
“Ada apa bu kok malam malam gini manggil
kita berdua? Ada makanan ya bu?”
“Eh tau saja si kakak kalo ada makanan,
mari makan mumpung hangat “ sambil memberi potongan martabaknya pada si
sulung “lho kak adik mana kok ga kesini
,biasanya kalau ada makan dia cepet banget ngabisin”
“Katanya adik sudah kenyang , habis
ngambil buah mangga di rumah mbah sri trus dimakan sendiri bu ndak bagi bagi
sama kakak” sambil makan
“Aduh adik kamu itu memang bandel ya
anaknya susah banget di beritahu” belom
ibu habis bicara bapak memotong pembicaraan ibu “Ibu dapet uang darimana kok bisa beli
martabak?”
“Aduh bapak udah jangan dibahas ,
pokoknya itu rahasia “
“Ya udah kalau ibu ndak mau cerita , oh
ya bapak punya cerita tadi pas perjalan pulang?”
“Ada apa pak cepet cerita ibu kepingin
tau?”
“Saat Bapak pulang ,bapak mampir beli
martabak trus uang nya Cuma 10 ribu trus bapak dapet kembalian 2 ribu habis itu
bapak kerumah jalan kaki trus sebelum bapak pulang ke rumah, bapak mampir ke
masjid habis itu martabaknya bapak taruh di kotak amal tapi pas bapak udah
selesai shalat martabaknya hilang ,serem kan bu?”
“Iya pak serem ,bapak tau yang ngambil
martabak itu?” gemetar
“Tau bu , tapi jangan terlalu dipikirin
bu, pokoknya rahasia”
Setelah menghabiskan martabak seluruh
keluarga Anto bergegas menuju tempat tidur. Anto menikah dengan seorang
perempuan yang cantik jelita yang bernama Ira dan dikarunia dua anak yang satu
perempuan dan yang satunya lagi laki laki .Walau miskin mereka dikenal di
kampung sebagai keluarga paling harmonis, tapi anak mereka yang paling bungsu
yang bernama Yudha juga dikenal sebagai anak yang bandel,ia suka mencuri buah
dari pohon tetangga, ia juga sering melukai temannya, tetangga Anto merasa
terganggu atas perilaku anaknya, tapi menurut Anto itu hal yang wajar karena
anaknya itu masih berusia 5 tahun, itu adalah masa masa dimana anak anak
mencari perhatian orang orang sekitar.Dan Anto tidak merasa terganggu dengan
perilaku anaknya tersebut.
Adzan
Subuh bersautan, Anto bergegas bangun dari tempat tidur lalu langsung mengambil
sarung dan sajadah dan melaksanakan shalat subuh.Setelah shalat subuh ia
kembali kerumah dan langsung mandi,setelah mandi Anto bergegas mempersiapkan
semua barang barang untuk melamar pekerjaan ,Kemudian Anto berpamitan kepada
keluarga untuk mencari pekerjaan. Anto berharap agar hari ini dia mendapatkan
pekerjaan, di jalan Anto melihat soerang kakek yang tidak mempunyai daya untuk
berdiri, tak ada seorang pun yang menolong kakek tersebut, entah sebenarnya
kita ini berada di jaman apa , pada jaman dulu banyak orang yang peduli satu
sama lain tapi pada jaman ini bisa kita lihat banyak orang yang hanya
memikirkan diri sendiri, mungkin mereka meniru para pemimpin negeri ini, yang
melakukan segala cara untuk kepentingan diri sendiri, mereka tidak tahu bahwa
kita ini di dunia hanya mampir minum
saja, kita di dunia tidak kekal, semua akan kembali pada Allah SWT . Bahkan
menolong orang dijaman sekarang bisa masuk TV, itu adalah hal yang aneh .Anto
menolong kakek itu dan mengajak kakek tersebut ke warteg di dekat tempat kejadian
tersebut, Anto menanyakan nama kakek tersebut dan dimana tempat tinggal kakek
tersebut. Ternyata kakek tersebut tersesat dan lupa dimana rumahnya bahkan
beliau lupa namanya sendiri,tapi beliau menceritakan tempat tinggal nya di
daerah klenteng tapi dia tak tau letak persisnya. Akhirnya Anto tak jadi
mencari pekerjaan karena ia membantu kakek tersebut mencari rumahnya ,
alasannya kalau kakek diajak kerumah Anto nanti kakek akan makan apa? Untuk
makan sehari hari saja susahnya minta ampun belum lagi bayar sekolah buat si
sulung. Anto berpikir, klentheng yang ada dikota Semarang yang terkenal hanya
klenteng Sam Po Kong mungkin saja kakek
tinggal di daerah , Anto bergegas menuju Sam Po Kong dengan jalan kaki,
wajar saja uang nya tadi habis buat makan kakek, mana mungkin bisa buat naik
angkot. Sampainya di Sam Po Kong Anto menanyai warga sekitar,apakah mereka
mengenal kakek ini. Setelah penelusuran yang begitu lama akhirnya ada seorang
warga yang mengenal kakek ini, ternyata warga tersbut adalah tetangga nya
beliau, warga itu menceritakan kenapa beliau kabur dari rumah , betapa kagetnya
Anto saat mendengar hal tersebut ternyata beliau kabur dari rumah, Anto kira
beliau tersesat. Setelah cerita yang panjang akhirnya warga itu megantarkan
Anto menuju rumah kakek. Sesampainya di rumah kakek , putra beliau dengan
spontan memeluk ayahnya tersebut betapa bahagianya mereka. Putra beliau
menceritakan bahwa ini semua salahnya, ia menyesal dan berterima kasih pada
Anto .
“Apa yang bisa saya lakukan untuk anda,
saya sangat berterima kasih karena sudah menolong ayah saya”
“Tidak usah pak tidak usah saya
melakukannya dengan ikhlas, kita sesama manusia harus saling tolong menolong ,
lagian saya juga merasa kasihan maka nya saya tolong ayah bapak”
“Sekali lagi makasih ya mas, dan saya
juga minta maaf ya mas tidak bisa memberikan apa apa untuk mas”
“Ga papa saya ikhlas”
Akhirnya Anto berpamitan pada keluarga
bahagia tersebut, dan ternyata matahari sudah tenggelam dari ufuk barat , tanda
hari mulai malam. Anto bertolak menuju rumahnya dengan jalan kaki. Tak lupa ia
mampir ke warung untuk membeli mie Sed*p untuk
makan malam. Sampai dirumah Anto memberikan mie kepada istrinya dan menyuruhnya
memasak mie untuk makan malam mereka. Setiap hari mereka melakukan hal tersebut
berulang ulang, pagi pamit cari kerja pulang nya tak dapat kerja dan makan
malam nya selalu mie. Sampai akhirnya Anto mendapat pekerjaan sebagai pedagang
kaki lima di pasar Johar, tapi nahas setelah berjualan selama satu bulan tanpa
di duga duga lapak tempat ia berjualan terbakar habis ,seluruh barang dagangan
nya habis dilahap si jago merah ,betapa sedihnya Anto, mereka menangis meratapi
barang dagangannya tersebut ”Ya Allah apa salah hambamu ini Ya Allah kenapa Kau
memberi kami cobaan yang sangat berat, bagaimana nasib keluarga kami,bagaimana
saya bisa melunasi seluruh utang kami pada rentenir rentenir itu. Bagaimna Ya
Allah, sungguh berat cobaan kami,entah sampai kapan kami bisa memikul semua
cobaan Mu Ya Allah” jerit lirih Anto sambil terisak isak. Kemudian Anto pingsan
, didalam alam bawah sadarnya ia langsung mengingat keluarganya , “Ya Allah
apakah ini karma yang Engkau berikan padaku karena aku telah menyakiti hati
orang tua ku Ya Allah, seharusnya aku menuruti mereka tapi mau bagaimana lagi
aku terlanjur mencintai Ira Ya Allah, menurut mereka Ira tak pantas jadi istri
ku karena bisa merusak masa depan ku karena Ira hanya mencintai hartaku, tapi
semua itu salah buktinya saat ia ku ajak Ira menikah, ia mau bahkan saat aku
mau menceritakan rencanaku untuk melamar Ira pada orang tua ku, orang tuaku
langusng melarang keras rencana ku ini dan akhirnya aku.....................”,
akhirnya Anton tersadar ,dengan bantuan medis Ambulance yang tanggap menolong
semua orang yang tak sadarkan diri, Anton terheran “Mengapa aku mengingat hal
itu, sudah aku lupakan semua hal tersebut tapi itu membuatku menjadi tambah
sedih”, Anton sebernarnya tidak mau mengingat masa lalu nya yang kelam, tapi
saat ia pingsan ia mengingatnya kembali, ”Kenapa saat seperti ini aku masih
mengingat hal itu”.
Satu bulan setelah
insiden kebakaran, Anto mulai menata kehidupan keluarganya kembali, walau utang
pada rentenir masih menumpuk , Anto tak patah semangat dan mulai kembali
seperti kehidupan yang lama, pagi pamit cari kerja pulang malam gak dapat kerja
makan malam selalu mie saja. Bahkan saat hujan badai banjir cuaca tak mendukung
Anton masih saja rajin mencari kerja. Akhirnya keuletan Anto mencari pekerjaan
berbuah juga .Pada saat Anto melamar pekerjaan di sebuah perusahaan kecil di
Tanggul Indah, saat wawancara pada pimpinan perusahaan Anto kaget bukan
kepalang ternyata pimpinan perusahaan adalah orang yang pernah ditolong Anto
menghantarkan pulang ayahnya. Pemimpin perusahaan juga kaget dan mempersilahkan
Anto duduk. Pemimpin perusahaan menanyakan kabar Anto dan menanyakan ada
keperluan apa Anto di perusahaan tersebut. Anto menceritakan semua permasalahan
yang menimpa dirinya pada pemimpin perusahaan dan ia bertanya apakah ada
lowongan pekerjaan untuk dirinya. Dengan tangan terbuka pemimpin perusahaan
menerima Anto, karena pada jaman sekarang sulit mencari pegawai yang jujur dan
peduli sesama. Pemimpin perusahaan menerima Anto sebagai OB, Anto tidak marah
atau sakit hati karena diposisikan sebagai OB, malahan di berterima kasih
karena Anto sadar bahwa dirinya tidak mempunyai keahliaan sama sekali. Setelah
bekerja selama satu bulan, pemimpin perusahaan mengajukan Anto untuk mengikuti
pelatihan tentang saham saham dan tatanan perusahaan dengan syarat Anto harus
melaksanakan tugasnya sebagai OB, mendengar hal itu Anton merasa sangat bahagia
karena masih ada yang mau menolong dan peduli padanya. Setelah mengikuti
pelatihan selama sepuluh bulan, pemimpin perusahaan menge-test Anto tentang
saham dan tatanan perusahaan, betapa kagetnya pemimpin perusahan karena Anto
bisa memberikan ide-ide yang revolusioner tentang bagaimana harus menjaga agar
saham tidak turun. Pemimpin terkesan dan Anto pun diangkat menjadi Kepala
bagian marketing. Ternyata keputusan pemimpin perusahaan tidak salah, setelah
dua tahun Anto menjabat sebagai kepala marketing, Anto bisa menaikan saham dan
membuat perusahaan kecil itu menjadi perusahhan yang besar bahkan mempunyai
cabang di berbagai kota di Jawa Tengah. Hal itu tidak membuat Anto sombong, Anto
malah sering menolong orang orang seperti dia melalui seminar dan berbagai
kesempatan. Setelah menjabat menjadi kepala marketing selama sepuluh tahun
akhirnya Anto diangkat menjadi wakil pemimpin perusahaan, betapa bahagianya
Anto mendengar tentang kenaikan jabatan itu, bahkan pemimpin perusahaan juga
membuat pesta atas kenaikan Anto, mereka merayakan kenaikan pangkat itu di
tempat karaoke, betapa senang Anto karena dia tak pernah ke tempat karaoke.
Setelah karaoke tanpa sadar Anto mabuk dan tidak mengendarai mobilnya, akhirnya
Anto dihantar oleh pegawai karaoke, sampai dirumah istri Anto kaget karena
mendapati Anto mabuk dan membawa pulang seorang wanita. Pegawai karaoke
berusaha menjelaskan tapi istrinya menolak penjelasan pegawai karaoke dan
segera membawa masuk Anto di dalam rumah. Anto pun tersadar dari mabuk nya dan
kaget karena tiba tiba dia sudah ada di rumah, kemudian teringat tentang pesta
itu dan akhirnya......Anto melihat istrinya menangis dan menanyakan perihal apa
yang membuat istrinya menangis, Isrtinya diam seribu kata , “Kenapa? Kenapa
Adinda menangis”, ternyata saat bekerja di perusahaan Anto tidak lagi memanggil
istrinya bu tapi adinda. Istrinya akhirnya menjawab “Kenapa? Kenapa kau
bilang!!” menangis .
“Emangnya ada apa? Benar aku tidak tahu
kenapa adinda menangis, sudah jangan menangis adinda lama kelamaan aku jadi ikut menangis” memegang tangan istrinya
dengan lembut
“Mengapa ayah tega melakukan hal itu
padaku”
“Melakukan apa dinda ?“
“Mengapa kau tega menduakan aku yah,
apakah ayah sudah tidak cinta sama dinda, ternyata kekayaan ini telah membuat
ayah tidak mencintai dinda ,dengan uang ayah bisa memilih wanita lain yang ayah
sukai, dinda ingin ayah jadi seperti yang dulu”
“Apa maksudmu dinda”, Setelah itu Anto
dengan penuh penyesalan, kasih dan sabar menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi.
Kemudian mereka bersatu lagi dan saling
mengasihi dan Anto berjanji tidak akan melakukan hal hal yang tak perlu itu
lagi.
Perusahaan
semakin maju dan berkembang, tapi sayang seribu sayang saat masa masa kejayaan
perusahaan ini berada di puncak, pemimpin perusahaan terkena penipuan yang
dilakukan oleh salah satu pemegang saham dan akhirnya di akhir tahun ini
perusahaan mengalami kebangkrutan yang luar biasa bahkan pemimpin perusahaan
sudah tidak bisa mengatasi dan mulai menutup perusahaan, mau bagaimana lagi
nasi telah berubah menjadi bubur. Mendengar tentang kabangkrutan perusahaan, Anto
merasa sedih dan syok, “bagaimana hal tersebut bisa terjadi”, Anto pun juga
dipecat oleh pemimpin karena sudah tidak dapat menggajinya. Kebangkrutan perusahaan
membuat Anto memutar otak dan berinisiatif untuk membuat perusahaan, ternyata
inisiatif nya berhasil dan membentuk perusahaan “Beruk naga corp” (Berusaha sekuat tenaga). Setahun setelah
pembuatan perusahhan itu Anto dapat membuka cabang di seluruh Indonesia, dan
juga membuka minimarket “Modus”
(modal usaha) dan Anto juga membangun banyak sekali toko, mall, Restoran, dll.
Berbagai kesuksesan
dapat diraih oleh Anto, sampai suatu hari saat Anto memberikan seminar tanpa
diduga Anto jatuh tak sadarkan diri, semua orang terkejut dan segera menolong
Anto, panitia seminar memanggil ambulance, dengan sigap ambulance datang
diwaktu yang tepat. Segera Anto di bawa ke rumah sakit untuk menjalani
perawatan, setelah pemeriksaan lebih lanjut dokter mendiagnosis Anto terkena
infeksi saluran pernapasan itu disebabkan karena Anto selalu berpindah kota setiap
harinya karena mempunyai scedhule yang padat. Sudah lebih dari enam bulan Anto
dirawat dirumah Sakit, bukannya membaik keadaan Anto tiap hari semakin
memburuk, bahkan berdiri saja tak bisa. Sampai suatu hari Anto membisikan
sebuah pesan kepada istrinya. Anto
mengatakan pesan tersebut sambil menangis entah apa pesan apa itu, bahkan
istrinya Ira menangis dan langsung keluar dari ruangan itu sambil menangis,
sepertinya itu pesan terakhir Anto. Kemudian istrinya masuk membawa banyak
orang, ternyata mereka adalah keluarga Anto dan kemudian Anto menangis tersedu
sedu “Maafkan aku Mama , maafkan kesalahan anakmu ini ampuni aku Mama, semenjak
Mama sama Papa melarang keras dengan rencana lamaran itu, akhirnya aku
memutuskan untuk mengajak Ira untuk kawin lari, dan terbukti Ira mencintaiku
Ma, maafkan aku ma karena sudah membuat Papa meninggal serangan jantung,
mungkin nanti aku akan bertemu dengan Papa dan meminta maaf atas semua
kesalahan ku ini dan untuk Ira jaga anak anak ya maafkan aku karena selalu
membuatmu menderita”
Seketika semua orang yang berada di
ruangan itu menangis.
Tag :
Cerita Kehidupan,
Cerita Pendek,
Toko Burger
By : Pena Tinta HitamKarya : R Danantyo Andaro K.
Tak seperti biasanya, besok aku ingin
sekali pergi ke toko burger. Katanya, di kota ada satu toko burger terkenal
yang akan dibuka. Rumor mengatakan, pada hari pembukaannya (yaitu besok) harga
burger di toko itu hanya 50 sen per buah. Karena alasan itulah, aku ingin pergi
kesana.
Bukankah itu suatu hal yang lumayan,
mendapatkan burger yang enak dengan harga semurah itu. Siapa orang yang tak mau
mendapatkan kesempatan langka seperti itu? Sepulang kerja, aku langsung
merebahkan badanku di sofa. Menonton TV sembari membayangkan kira-kira berapa
burger yang sanggup kubeli keesokan harinya. Tapi tak berselang lama, sebuah
berita di TV membuyarkan lamunanku."Telah terjadi pembunuhan besar-besaran
di Panti Asuhan Brownsburry. Anehnya, tak ditemukan satupun mayat di dalam
gedung Panti Asuhan tersebut. Hanya terdapat genangan darah di setiap ruangan
dalam gedung. Polisi masih mencoba untuk menyelidiki kasus aneh ini dan motif
dibaliknya."'Hmm, cukup aneh. Tapi hal seperti itu takkan membuatku
mengurungkan niat untuk membeli burger murah itu besok.' pikirku. Aku lalu
mematikan TV dan pergi tidur.
Hari ini adalah hari pembukaan toko burger
baru. Saat istirahat makan siang, aku bergegas pergi kesana. Tampaknya bukan
hanya aku yang ingin membeli burger murah. Aku melihat beberapa teman kantorku,
teman SMA ku dulu, beberapa tetanggaku. Sangat banyak sangat ramai, benar-benar
penuh sesak. Aku sempat ragu apakah aku akan tetap mengantre burger. Aku takut
jam makan siangku habis hanya untuk mengantre. Lalu aku berpikir, 'Ah, sudahlah.
Tak apa sekali-kali datang terlambat.' Aku terus mengantre.
Akhirnya, tibalah giliranku untuk
memesan burger.
"Pak, double cheese burger satu."
"Ini dia." Pelayan langsung
menyodorkan kantong berisi burger yang masih hangat.
"Whoa. Cepat sekali! Berapa
harganya?"
"Sesuai promo, 50 sen."
"Baik, ini uangnya. Terimakasih!"
Aku segera pergi meninggalkan toko
burger itu. Antrian terlihat semakin panjang bersamaan dengan kepergianku.
Sesampainya di kantor, aku benar-benar
dibuat heran. Sangat sepi, seperti tak ada tanda kehidupan. 'Mungkinkah semua
orang pergi ke toko burger itu?' pikirku. Aku bergegas pergi ke mejaku dan
mulai melanjutkan pekerjaanku sambil menyantap burger yang baru saja aku beli.
Sedap sekali. Dagingnya lembut, sausnya sangat terasa. 'Pantas saja toko itu
sangat terkenal di tempat-tempat lain'. Aku terus melahap burger itu.
Hingga mendekati jam pulang kantor, beberapa
teman kantorku belum kembali dari toko burger itu. 'Sangat mengherankan,
antriannya pastilah sangat panjang.' pikirku. Tak ingin banyak membuang waktu,
aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya aku punya janji dengan
salah seorang teman kantorku, tapi dia belum kembali dari mengantri. Aku lebih
memilih untuk membatalkan janji dengannya. Dalam perjalanan pulang, aku melihat
toko itu sudah tutup dan sepi. 'Lalu, kemana perginya teman-temanku?' tanyaku
dalam hati. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkan hal itu.
Keesokan harinya, aku masih saja memikirkan
nasib temanku. Dari kemungkinan terbaik, hingga kemungkinan terburuk. Di
kantor, meja temanku kosong. Aku menanyakan tentang hal ini pada beberapa orang
di sana, tetapi tak ada seorang pun yang tahu. 'Belum pulang sejak kemarin?
Kemana perginya dia?' aku masih saja bingung.
"Hei, apa yang kau lamunkan?" tanya
Louis, teman sekantorku.
"Oh. Tidak ada. Tidak ada."
"Ayolah. Setiap kali kau melamun, pasti
ada yang sedang kau pikirkan."
"Okay. Baiklah. Ini tentang Marcel. Sejak
kemarin sore hingga hari ini aku sama sekali belum melihatnya."
"Kau tahu bagaimana tipikal Marcel kan,
Pablo? Dia memang orang yang seperti itu, suka menghilang tiba-tiba. Jangan
terlalu mencemaskannya. Oh ya, kau tahu. Harga burger di toko baru itu naik
menjadi 1 Dollar."
Aku langsung pergi meninggalkan Louis.
Aku bergegas menuju toko burger baru
itu. Aku sudah sedikit melupakan masalah tentang Marcel. Aku hanya ingin
membuktikan perkataan Louis. Ternyata benar juga. Harga burger itu menjadi 1
Dollar. Antrian terlihat tidak sepadat kemarin. Aku sama sekali tak berminat
untuk membeli burger, jadi aku langsung kembali ke kantor. Sorenya dalam
perjalanan pulang, kulihat toko burger itu sudah tutup sama seperti kemarin.
Keesokan harinya di
kantor
"Hei, Pablo! Kau tahu, harga
burger di toko itu naik lagi. Sekarang harganya menjadi 1,5 Dollar."
"Lou, bisakah kita berhenti
membicarakan burger. Aku masih banyak urusan."
"Oh, baiklah." Louis pergi
meninggalkanku Aku tak tahu harus bagaimana. Tugas kantor sangat banyak, Marcel
belum juga kembali, aku benar-benar stress. Tak ada waktu memikirkan berapa
harga burger di toko itu.
Hingga akhirnya, tubuhku sudah sampai
pada batas ketahanannya. Aku jatuh sakit dan harus dirawat dengan waktu yang
lama. Sejujurnya, aku sangat tak ingin dirawat di rumah sakit. Bau obat-obatan
membuatku sangat tak nyaman. Aku tak tahu berapa lama aku akan dirawat di sana.
Aku juga masih tidak tahu bagaimana kabar Marcel. Hanya Louis dan Julia
pacarku, yang menjengukku setiap hari.
Akhirnya, dokter memperbolehkan aku
untuk keluar dari rumah sakit. Julia datang menjemputku. Tak seperti biasanya,
dia hanya diam. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah kata pun keluar dari
mulutnya. Sesampainya di rumah, dia langsung pergi begitu saja. 'Pasti ada
sesuatu yang aneh.' pikirku.
Keesokan harinya, aku kembali pergi
bekerja. Kantor terlihat lebih sepi dari biasanya. Aku mencoba bertanya pada
seorang temanku.
"Hei, Rachel. Kenapa kantor
terlihat sepi?"
"Aku tak tahu, Pablo. Beberapa
orang tiba-tiba menghilang. Matt, Andrew, Marie, Katie, dan kau pasti tahu.
Marcel. Mereka tak pernah terlihat bekerja kembali."
"Sesuatu pasti telah terjadi, Rachel.
Katakan padaku apa yang telah terjadi kemarin."
"Beruntung sekali kau. Aku mencatat
hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Kemarin harga burger di toko baru itu 25
Dollar. Kemarin juga hari dimana kau keluar dari rumah sakit setelah 1 bulan
dari rumah sakit. Hanya itu."
Aku segera menelpon Julia. Sangat banyak
pertanyaan di dalam benakku yang menunggu untuk dijawab. Julia menjawab
panggilanku. Dia hanya ingin menceritakannya nanti saat perjalanan pulang. Saat
ini dia sedang sibuk. Terpaksa aku mengiyakan keinginannya.
Sorenya, aku pergi menjemputnya di kantor.
'Aneh, kantornya sudah sepi. Terlihat sama sekali tak ada kegiatan. Kira-kira
di mana Julia sekarang berada?'1 jam, 2 jam, 3 jam, 5 jam sudah aku menunggu
kedatangan Julia. Aku terus berusaha untuk menghubunginya tetapi tak
dijawabnya. 'Apa yang terjadi padanya? Jangan, aku mohon jangan seperti
Marcel.' Air mata keluar membasahi pipiku.
Keesokan harinya, aku dan Louis
memutuskan untuk menyelidiki toko burger baru itu. Toko itu sudah tutup. Aku
memutuskan untuk membuka pintu depan. Pintu itu tak dikunci. Kami berdua
menerobos masuk. Salah satu pelayan melihat perbuatan kami.
"Pak, kami sudah tutup."
"Kami berdua hanya ingin memesan
burger." kataku
"Maaf, pak. Kami kehabisan daging
untuk bahan patty. Terpaksa kami menaikkan harganya dari hari ke hari."
"Kami menginginkan burger dan kau
harus memberikannya pada kami. SEKARANG!" Louis mengancam
“Baik, baiklah. Tetapi kalian harus
membayar mahal."
Tiba-tiba aku merasakan pukulan benda
tumpul mengenai tengkukku. Aku terjatuh ke lantai.
Semua menghitam.
Aku merasakan hawa dingin yang tidak
biasa. Sangat dingin. Kedua tangan dan kakiku terikat. Sesuatu menutupi mataku.
'Aku harus keluar dari sini. Aku harus!' Aku terus mencoba menggerakkan seluruh
tubuhku tetapi tidak bisa.
"Wah wah wah, tampaknya kau sudah
sadar." suara itu terdengar seperti suara pelayan tadi.
"Sayang sekali, kami benar-benar
tak bisa memberimu burger. Sebagai gantinya, kau akan menjadi bahan
patty." Aku diam.
"Kau tahu anak-anak Panti Asuhan itu?
Well, mereka telah menjadi patty dalam burger yang telah kau makan. Kau mau
tahu bagaimana nasib orang-orang yang menghilang belakangan ini? Mereka sudah
berada di penggorengan. Mau tahu apa yang terjadi pada temanmu yang masuk
bersamamu? Kami tengah membumbuinya. Kau hanya perlu menunggu waktu untuk masuk
mesin penggiling."
***