- Back to Home »
- Cerita Mistery , Cerita Pendek , Cerpen Remaja »
- Segelas Air Putih
Posted by : Pena Tinta Hitam
Sunday, October 11, 2015
Karya : Intan Dewi Cahaya
Ctik..ctik..ctik suara ketikan
menggema di ruangan itu. Jari jemariku terlihat lihai dengan menekan setiap
huruf di keyboard.
“Menyebalkan sekali! Ini hari Sabtu,
kengapa aku harus terjebak di sini!” Umpatku.
Bagaimana tidak kesal ? Ini hari
Sabtu, hari libur bagi anak sekolah sepertiku.
Namun tak beberapa menit setelahnya
suara ketukan pintu datang menghampiri kamarku.
“Regal ! Ada teman mu tuh !” Teriak Ibuku
“Siapa ?” Jawabku sambil menghampiri
pintu kamar hendak membuka pintu.
Cklek . . .
“Biasa” Ucap Ibuku singkat, seakan
akan orang yang Ibu maksud sudah sangat dikenalinya.
“Oh” Setelah itu aku pun pergi ke
ruang tamu menghampiri temanku itu. Dan seperti yang dikatakan ibuku, ternyata
sang tamu adalah Fella, gadis pengganggu hidupku.
“Regal ! Kau tidak akan percaya ini !
Ada berita besar !” Ucap Fella dengan histeris, seperti biasanya.
“Oi oi tenanglah, jelaskan saja apa yang kau
maksud berita besarmu itu dengan santai.” Ucapku menenangkannya. Fella, teman
sekelas ku di SMK. Entah bagaimana sejak kapan dia sering menghampiriku hanya
untuk menceritakan misteri-misteri aneh yang sering terjadi disekitarnya, namun
yang menggangguku darinya adalah rasa penasarannya akan misteri yang tidak
pernah henti. Yah, seperti yang sekarang sedang terjadi ini.
“Ok, jadi begini aku baru saja ingin
pergi ke rumah Pamanku untuk mengantarkan bingkisan dari ibuku. Dan apa kau
tahu ? Baru sampai depan rumah, aku sudah melihat segerombolan orang
mengelilingi rumah Pamanku !” Ucapnya mulai bersemangat
“Lalu ? Apa lagi ?” Tanyaku melihat
Fella yang bersemangat namun tak melanjutkan ceritanya itu.
“Tidak tahu” Ucapnya polos sambil
memasang wajah yang sok imut.
“Ha ? Apa maksudmu ? Hanya itu ? Mana
berita besarnya ?” “Karena terlalu ramai aku jadi nggk bisa masuk, aku sudah
mencoba menerobos tapi malah berakhir di kerumunan paling belakang lagi.
“He..he..” Balasnya
“Ya sudah – “Makanya ! Ayo !” Potong
Fella
“Ayo kemana ?” “Tentu saja ke rumah Pamanku !
Untuk mencari tahu apa yang terjadi !” Ucapnya sambil mulai berdiri dan menarik
tanganku pergi keluar rumah.
“Ok ok, sabar dulu. Hei ! Aku
siap-siap dulu” Ucapku berontak, yang akhirnya hanya dibalas dengan lariannya
yang semakin kencang. Hah.. ya sudahlah, pikirku dalam hati. Dan benar saja
seperti yang diceritakan Fella, segerombolan orang mengelilingi rumah Pamannya
itu.
“Maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi disini
?” Tanyaku pada seorang lelaki paruh baya yang ada di depan gerbang.
“Oh, ini nak. Salah satu manager bimbingan
Pak Hendi yang meninggal secara misterius di rumahnya” Jawab kakek itu.
“Anak buah Paman ?” Ucap Fella yang berada di
belakangku lalu menengok ke arah kakek itu.
“Ah ! Kamu . . keponakannya Pak Hendi kan ?
Ucap kakek itu sambil menunjuk Fella
“Eh ? Iya”
“Tadi Pak Hendi mencarimu, Beliau baru saja
kemari tapi kembali lagi ke dalam rumah” Ucap kakek itu.
“Begitu ya . . trimakasih banyak kek. Kami
permisi dulu” Balasku sopan lalu mulai masuk ke dalam rumah Paman Fella, Pak
Hendi. Dan begitu kami masuk ke dalam, setelah berhasil melewati berbagai
rintangan tentunya. Dan benar saja, sudah ada polisi tersebar dimanamana.
“Ah ! Itu dia, Paman !” Teriak Fella
tiba-tiba, lalu pergi menuju seorang lelaki tua yang kurasa memang itulah
Pamannya. Dia terlihat sedang berbincang dengan seorang detektif (kurasa) yang
sibuk mencatat setiap kata yang diucapkan Paman itu.
“Fella, akhirnya datang juga. Aku mencarimu,
syukurlah kau baik – baik saja.” Ucap Pak Hendi, Paman Fella.
“Paman, sebenarnya apa yang terjadi ? Katanya
anak buah Paman meninggal ? Bagaimana bisa ?” Ucap Fella berturut-turut.
“Tenanglah Fella, dasar kau ini.”
Kataku menghentikan Fella yang sepertinya ingin terus mengoceh.
“Ahaha.. Ya, kau benar. Salah satu
manager Paman meninggal dunia malam kemarin. Entah bagaimana, secara misterius
beliau meninggal di rumahnya dalam keadaan sedang bekerja, kurasa.” Ucap Paman
Fella mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
“Menurut hasil pemeriksaan Beliau meninggal
karena terkena racun dari air minum yang ditemukan tumpah dimeja kerja korban.”
Ucap detektif yang tadi berbincang dengan Pamannya Fella.
“Terkena racun ? Kalau begitu pasti pelaku
berada di tempat kejadian.” Ucap Fella.
“Seharusnya sih begitu, dan yang kami tahu
hanya terdapat 3 orang di rumah kejadian tersebut.” Balas Paman
“Si-siapa ? Siapa saja Paman ?” Ucap
Fella yang rasa penasarannya mulai muncul
“Maaf, kami tidak bisa memberitahu, ini masih
menjadi rahasia ka-“ Ucap Pak detektif terhenti.
“Tidak apa-apa, beritahu saja. Kurasa
tidak ada ruginya memberitahu kepada keponakanku dan temannya ini.” Ucap Paman
Fella, memotong ucapan Pak detektif sambil melirikku sekilas.
“Hm. . . baiklah. Terdapat 3 calon
tersangka dalam kasus ini. Dengarkan baik-baik ini merupakan rahasia kami.
Kalian mengerti ?” Aku dan Fella membalas dengan sebuah anggukan
. “Pertama, Istri korban sendiri, kami
tidak tahu apa motifnya tapi ia mengatakan bahwa pada saat kejadian dia sedang
dalam perjalanan pulang kerja, dan ketika sampai rumah ia sudah mendapat kabar
bahwa suaminya meninggal di meja kerjanya.” Ucap Pak detektif dengan 2 kali
tarikan nafas. Sekilas aku melirik Fella, ia terlihat terkejut mendengarnya.
Yah kurasa tidak aneh, masa seorang istri tega membunuh suaminya sendiri.
“Kedua, pembantu rumah korban, yang
mengatakan bahwa dia tidak bersalah dan hanya menyajikan segelas air putih
kepada majikannya tersebut. Namun ia terus mengatakan bukan dialah pelakunya
dan tidak memberikan campuran apapun kedalam air putih tersebut.” Jelas Pak
detektif. Kurasa yang ini cukup umum terjadi, seorang pembantu meracuni
majikannya entah apapun alasannya. Tetapi selalu menolak tuduhan bahwa
pembantulah yang membunuh majikannya itu. Yah, belum tentu juga sih hal itu
terjadi. Kita tak pernah tahu, apakah pembantu itu berkata jujur atau tidak.
Semua itu akan terjawab jika memang sudah ada bukti yang kuat untuk
memutuskannya.
“Ketiga, sekretaris korban, yang
ditemukan berada di tempat kejadian. Ia mengaku ingin memberikan berkas yang
seharusnya ia berikan siang sebelumnya dan akhirnya diberikan malam harinya
tepat sebelum kejadian perkara terjadi. Dan ia lah yang pertama kali melihat
korban meninggal dunia.”
“Sulit sekali ditebak, setiap orang
memiliki alasan yang masuk akal jika dijadikan tersangka, kecuali Sekretaris
Korban sih. Kurasa” Ucap Fella yang mulai mengeluarkan pendapatnya.
“Tidak . . . Kita masih belum tahu apa motif
dari kasus ini. Kurasa semua dapat menjadi tersangka. “ Balasku pelan, karena
ragu ragu akan ucapan Fella tadi.
“Baiklah, Fella sebaiknya kamu pulang. Bilang
Ibumu trimakasih atas bingkisannya.” Kata Paman Fella
“Itu . . Paman, kalau boleh tahu. Siapa saja
nama calon tersangka ? Dan bukti apa saja yang ditemukan ?” Tanya Fella, yang
kurasa amat penasaran dengan apa yang terjadi.
“Sudahlah, tidak perlu khawatir ka-“ “
Nanda Deswika, Istri korban. Ani Rinanda, Sekretaris korban. Dan Ayu Intan
Permana, Pembantu korban.” Ucap Pak detektif memotong perkataan Paman Fella
“Kalau bukti yang ditemukan ?” Tanyaku
ikut ambil bagian, hanya untuk menghidupkan suasana saja sih. “Untuk itu, kami
masih menyelidiki nya. Dan itu mungkin akan menjadi rahasia polisi
” Jawab Pak detektif. “Begitu ya . .”
Ucap Fella lesu, kurasa dia kecewa. Meski mengetahui sebuah kasus pembunuhan
namun tanpa adanya bukti maka kasus itu akan dianggap sebagai bunuh diri. Dan
kurasa pemikiranku dan Fella sama, kasus pembunuhan yang ternyata merupakan
kasus bunuh diri tidak akan menjadi menarik karena tak ada trik didalamnya.
Itulah yang kami pikirkan.
“Kalau begitu kami pulang dulu, Paman.
Trimakasih at-“
“Permisi Pak !!! “ Teriak seorang
polisi lain yang kurasa bawahan Pak detektif yang dari tadi berbicara dengan
kami.
“Ada apa ?” Jawab Pak detektif
“Dari hasil penyelidikan, kami baru saja
menemukan bukti lain yang masih menjadi misteri di TKP, yaitu komputer korban
yang ditemukan menyala namun terdapat kata-kata aneh yang dituliskan di
dalamnya. “ Ucap Polisi tersebut. Dan sedetik kemudian, kalian bisa tahu
bagaimana reaksi Fella.
“Apa !? Apa yang tertulis Pak !
Beritahu kami !” Ucap Fella dengan nada meninggi dan mendekati Pak Polisi
dengan matanya yang sangat bersinar seolah-olah mengatakan
‘Beritahu kami!’ Yah asal tahu saja, aku dapat menjelaskan ini sumbernya
dari pengalaman.
“Eh ? Wsaterf ! Iya benar Wsaterf ,
itulah yang tertulis di note komputer korban !” Ucap Pak Polisi, sambil sedikit
mundur menjauh dari Fella.
“Wsa--terf ?” Ucap Fella pelan, dan
mulai berfikir. Sepertinya aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Regal !” Teriak Fella, sambil
menengok ke arahku dengan matanya yang bersinar itu. Hah .. . dia mulai lagi.
“Iya . . iya . . Itu, Paman kami permisi dulu.” Ucapku mengalihkan perhatian.
Atau lebih tepatnya kabur.
“Eh, baiklah. Hati-hati ya. Trimakasih
sudah berkunjung.” Balas Paman Fella. Dan kami pun pergi meninggalkan rumah
Paman, meski sempat terlihat Pak detektif mengatakan sesuatu kepada Paman Fella
sambil menatapku aneh.
“Anak itu . . . aku mengenalnya.” Ucap
Detektif kepada Paman Fella
“Apa ?” Jawab Paman Fella
“ Dia anak dari kenalanku yang terkenal dengan
pemikirannya yang gesit. Kenalanku itu dulunya adalah seniorku. “
“Benarkah ? Berarti anak itu pintar.”
“Sayang sekali, dia meninggal karena
tugas”
“Meninggal ? Siapa ?” Setelah itu kamipun
pergi meninggalkan rumah Paman Fella, dan tentu saja tujuanku adalah pulang ke
rumah. Tahu sendirikan tugasku masih menumpuk. Dan tak terduga pada belokan
terakhir yang harusnya menuju ke rumahku, Fella menarik tanganku dan menyeretku
pergi ke tempat makan (aku tidak harus menyebutkan apa nama tempatnyakan ?
Sebut saja KF-). Dan tidak ada respon, beberapa menit setelah kami memesan
kentang goreng dan minuman kami hanya terdiam. Fella yang meminum es nya dan
aku yang hanya memakan kentang gorengku
. “Jadi . . . bagaimana menurutmu ?”
Ucap Fella memulai pembicaraan.
“Biasa saja.” Jawabku singkat sambil
terus memakan kentangku. Enak juga pikirku
“Huh . . Ayolah Regal, coba pikirkan sebentar
saja.” Ucap Fella memohon. Inilah arti dari panggilan dan tatapan Fella tadi
kepadaku.
“Hah.. baiklah, tapi ada syaratnya !”
Jawabku tegas, dan mulai memanfaatkan rasa ingin tahunya itu.
“Apa ? Apa ?”
“Belikan aku mie ayam, ok ?”
“ Ok, itu gampang. Seperti biasakan.”
Jawab Fella. Tentu saja, ini sering terjadi.
“ Kerja bagus, baiklah akan coba kupikirkan.”
Ucapku dan mulai menggunakan otakku lagi.
“Cukup menarik, dan kurasa kasus ini
menggunakan trik sederhana. Yah, itu mungkin kau sudah tahu.” Ucapku “ Maksudmu
meracuni korban dengan racun yang dicampur disegelas air ?” Jawab Fella
“Benar, yang menjadi masalah adalah siapa
pelakunya ? Dan kenapa ia melakukannya ?”
“Untuk pertanyaan kenapa pelaku
melakukannya kupikir kita harus mengintograsi setiap tersangka secara
langsung.”
“Kau benar. Tapi itu mustahil, polisi tidak
akan mengijinkan kita mengintograsi pelaku, jadi kita lewatkan saja masalah
yang kedua itu.” Fellapun hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. “ Lalu,
kata yang ditinggalkan pelaku di komputernya.”
“Tunggu, kurasa itu hanya ketikan
iseng belaka. Karena kata – katanya tidak mengacu ke suatu nama, bahasa ataupun
kata lainnya, singkatnya terdengar berantakan.” Ucap Fella memberikan pendapat.
“Itu dia ! Berantakan, coba kau pikir.
Bisa saja . . . sebelum korban tak sadarkan diri, ia meninggalkan jejak untuk
memberitahu polisi siapa pelaku yang membunuhnya. Jika dipikirpikir dengan
keadaan terkena racun apa orang akan lancar dalam mengetikkan sebuah nama ?”
Jelas ku pada Fella.
“Be-benar juga ! Jadi maksudmu korban
ingin mengetikkan nama si pelaku tapi ketikkannya jadi berantakan karena dalam
keadaan terkena racun ?”
“Tepat ! Itu yang kumaksud. Jadi
jangan abaikan kata itu.” “Ehe..he..he.. benar juga”
“ Selanjutnya kita hanya perlu mengartikan
kata Wsaterf ke kata yang sebenarnya.”
“Wsaterf terdengar aneh di telingaku.”
“Namanya juga plesetan, ini adalah kata
plesetan. Coba sebentar . . . Wsa-terf Wsa-terf. Hm . . . “
“Hah.. ini sulit. Seperti main teka
teki bahasa saja” Ucap Fella tiba – tiba. “Tunggu ! Itu dia !Wsaterf !”
Ucapku tiba tiba
“Apa ? Ada apa Regal ? Kau tahu
sesuatu ?”
“Wsaterf adalah kata plesetan
bahasa inggris !”
“Maksudnya ?”
“Bagaimana jika Wsaterf menjadi Water
? Kurasa s dan f adalah plesetannya, secara huruf s
lah yang dekat dengan huruf a di keyboard begitu pula dengan f” Jelasku
kepada Fella “Water ! Hebat, Regal ! Tapi kenapa harus bahasa inggris ?”
“Hm . . cukup aneh juga sih, ini pendapatku.
Kurasa korban meninggalkan kata bahasa inggris yang dapat diterjemahkan ke
bahasa indonesia agar si pelaku tidak mengetahui maksud dari korban yaitu
memberitahu polisi siapa pelaku.”
“Tunggu ! Kalau pendapatmu itu benar, berarti
si pelaku berada di tempat kejadian dong, maksudku saat korban keadaan sakit
setelah terkena racun.”
“Bisa jadi. Intinya korban menggunakan kata
lain agar si pelaku tidak tahu bahwa sebenarnya arti kata itu mengacu pada
namanya. Jika korban langsung menuliskan nama si pelaku secara otomatis pelaku
pasti akan menghapus note itukan, maka dari itu dia menggunakan kata lain.”
Ucapku menjelaskan mengenai misteri kata yang ditinggalkan korban.
“Benar juga ! Kalau begitu Water
artinya Air. Memangnya dari calon tersangka ada yang namanya air ?”
“Tentu saja tidak, air itu pasti singkatan
namakan !?”
“Oh iya . . he ..he .”
“Lihat dulu siapa saja pelakunya,
Nanda Deswika, Istri korban. Ani Rinanda, Sekretaris korban. Dan Ayu Intan
Permana, Pembantu korban. Menurtmu singkatan mana yang cocok untuk kata Air ?”
Ucapku mencoba mengakhiri misteri ini
“Air, Nanda Deswika bukan. Ani Rinanda
– Itu dia ! Ani Rinanda – Air ! A dan i dari Ani lalu R nya untuk Rinanda !”
Ucap Fella berturut – turut dari pelan lalu keras.
“Begitulah, jadi misetri ini selesaikan ? Aku
menunggu mie ayamku lho” ucapku sambil memakan kentang goreng terakhirku.
“Hebat ! hebat ! Oh Iya apa kita harus
memberitahu polisi mengenai ini ?” Ujar Fella “Tidak perlu. Aku yakin Pak
detektif yang tadi dapat memcahkan misteri ini.” Ucapku lalu mulai beranjak
berdiri.
“Begitu ya . . Eh !? Regal tunggu !”
Teriak Fella lalu berlari mengejarku yang sudah pergi duluan.
“Lagipula Pak Detektif itu kan . .
sahabat ayahku” Ucapku pelan.
“Apa ? Kamu bilang apa Regal ?” Ucap Fella
disebelahku.
“Tidak, lupakan saja. Oi, mie ayamnya
sekarangkan ?”
“Iya iya, kau ini cerewet sekali.”
“Tentu saja ! Karena aku lapar !”
***
‘Beritahu kami!’ Yah asal tahu saja, aku dapat menjelaskan ini sumbernya dari pengalaman.