Popular Post

Posted by : Pena Tinta Hitam Thursday, April 7, 2016

Karya : M. Hedi Azis




Suara desingan peluru yang saling bersahutan, suara mortar, granat, maupun bom yang terus berdentuman... AH, itu adalah sesuatu yang sudah biasa bagiku. Aku adalah seorang tentara yang bergabung pada tim 5 di Divisi 1 pasukan Garuda. Sejak para pemimpin mendeklarasikan perang dengan Pasukan One Rule, tentu saja mau tak mau aku harus mengikuti perintah untuk berperang. Bagaimanapun, aku harus membela negara tempatku lahir dan tinggal, meninggalkan keluargaku dan juga anakku yang berusia 2 tahun. Sekarang adalah hari ketiga dalam perang ini, bisa dikatakan ini sudah memasuki “World War III”. Peperangan yang berlangsung kemarin banyak merenggut kawan-kawanku dan beberapa senior, serta menghancurkan banyak peralatan perang. Aku sekarang sampai di Jembatan Usluf, sebuah jembatan yang biasa dilewati untuk supply medis dan senjata musuh. “Sekarang, kita sudah sampai di Jembatan Usluf. Tugas kalian adalah menghancurkan jembatan ini secara cepat agar musuh tidak bisa mensuplai medis dan senjata. Tentu saja penyerangan ini tidak akan mudah mengingat banyak musuh yang lalu lalang melewati jembatan itu. Jadi persiapkan diri kalian! Tim 1 akan berada di belakang untuk bersiap menghancurkan jembatan sedangkan yang lain akan melindungi mereka dan menghancurkan pasukan musuh.” Kata Kapiten HOK. “SIAP!!!!” teriak seluruh pasukan. Maka semua bersiap untuk menyerang. Aku bersiap dengan senjataku yang bertipe SNIPER RIFFLE, dan akupun mulai menembak setiap musuh.
DUUARRR..... suara tembakan menggebu-nggebu, suara ledakan dimana-mana, dan suara rintihan saling bersahutan. Dengan tepat aku membidik kepala para tentara One Rules. Satu per satu dari mereka tumbang terkena tembakan peluru yang melesat secepat kilat. “Maju,maju maju!!!” teriak Kapiten untuk memberi semangat lebih. “Ahh, sakit!!” dengan suara agak lemah, seorang prajurit terkapar bersimbah darah. “Tenanglah kawan aku akan membantu!”. Setelah berlari menujunya, prajurit itu langsung tewas di tempat karena tertembak di dada dan salah satu kakinya putus terkena granat musuh. “Maafkan aku kawan, aku tidak bisa membantumu. Tapi aku yakin kematianmu tidaklah sia-sia.” Kataku dengan penuh penyesalan. Pertempuran kali ini dimenangkan oleh pasukan Garuda, namun banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Setengah dari pasukan Garuda gugur dan hampir seluruh pasukan musuh tewas. Mungkin ada beberapa yang kabur dan ada juga yang menyerah.
            Pasukan diarahkan maju ke depan dan diperintahkan untuk menyisir sebuah Distrik yang kabarnya masih ada beberapa musuh yang masih bertahan di sana. Setelah sampai, tim dipecah menjadi 5 bagian yang 1 tim terdiri dari 10 orang yang akan dibagi wilayah penyisirannya, dan sisanya akan terus maju kedepan . Aku berada di tim 5 yang akan menyisir bagian kanan dari Distrik tersebut. “Aku lelah sekali” “Ya kau benar, ngomong-ngomong bagaimana ya keadaan keluarga kita yang ada di rumah?” “Pastinya mereka sangat khawatir. Setelah perang ini usai, aku akan menghabiskan hidupku bersama keluarga saja.”kataku. “Aku juga, setuju” kata kawan-kawanku. “Tap,tap,tap” terdengar suara langkah kaki yang sangat mencurigakan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyapkan senapanku jikalau itu adalah musuh yang masih tersisa dari pertempuran kemarin. Dari dalam sebuah rumah, keluarlah dua orang yang ternyata seorang anak dan ibunya. Senjata kami pun diturunkan lagi. Melihat mereka berdua, aku teringat dengan keluargaku yang menunggu di rumah. Teringat dengan istriku yang tersayang, serta Doni, anakku yang baru berusia 1 tahun yang aku tinggalkan untuk berperang.
          Sungguh tak diduga, anak itu membawa sebuah mortar berdaya ledak tinggi. Ia lalu berlari menuju tim ku. Timku terkaget-kaget dan segera menyiapkan senapan masing-masing. “Tembak dia!”. “Jangan! Dia hanya anak kecil” kataku. “Walaupun anak kecil tapi dia membawa mortar! Kau mau dia mati atau kita semua mati konyol terkena mortar yang dilemparkan oleh seorang anak kecil? Tembak dia!”. DUARRR... dengan rasa menyesal aku ikut menembaknya. Total 5 peluru yang langsung menembus jantungnya. Mortar itu masih ia genggam ditangannya, lalu Ibunya langsung menghampiri dan mengambil mortar itu sambil menangis. Mereka mengira kalau pasukan Garuda adalah dalang dari hancurnya rumah dan negara tempat kelahirannya, maka mereka mencoba menyerang walaupun hanya dengan sebuah mortar. Tanpa pikir panjang prajurit segera menembaknya. Wanita itu tertembak di bagian kepalanya dan langsung tewas seketika. Melihat mereka tewas tak berdaya, aku jadi teringat keluargaku kembali.
***
          KRIIINGGG....suara alarmku membangunkanku tepat pukul 6 pagi. Seperti biasa tidak ada yang menarik dari hidupku. Aku hanya tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tua di pinggiran kota. Makanan tidak punya, uang tidak punya, pekerjaan pun hanya sebatas kurir pengantar yang gajinya tak seberapa. Hari itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Tanpa disengaja aku melihat sebuah lembaran yang bertuliskan”JADILAH TENTARA UNTUK MENGABDI PADA NEGARA”. “Wah ini sangat menarik, daripada tidak melakukan apa-apa dirumah, lebih baik aku mendaftar jadi tentara. Agar bisa mengabdi pada negara.” Segeralah aku mendatangi kantor sekretariat tentara. Setelah mengisi formulir pendaftaran, keesokan harinya aku langsung ikut seleksi masuk akademi militer tersebut. Seleksi fisik yang sangat berat membuat tubuhku hampir tumbang, akan tetapi “ejekan” dari para senior dan pelatih melecut semangatku agar terus berjuang mengikuti seleksi. Akhirnya aku lolos masuk akademi militer setelah seleksi fisik yang panjang dan melelahkan. “Kalian, para Kadet-kadet akan ditugaskan di Distrik Sukamaju. Apabila ada perubahan nanti sebagian dari kalian akan ditugaskan di daerah-daerah konflik.” Kata Kapten Dasuki.
          Alangkah senangnya bisa ikut mengabdi pada negara, itu membuatku sangat bersemangat sekaligus sedih karena aku akan ditugaskan di daerah konflik terluar, yang sangat jauh dari rumah dan kampung halamanku. Namun aku segera melupakan itu dan pergi ke kafe untuk minum kopi. Disitulah aku bertemu seorang perempuan berambut pendek sebahu dan berkacamata. Namanya Putri, wanita yang menurutku “sangat sempurna” ini mulai aku dekati. Aku mulai ngobrol dengannya, bertanya-tanya, bercanda, dan akhirnya aku berdansa dengan dia. Setelah lelah, aku pun pulang, namun tak lupa aku meminta nomor teleponnya. Berhari-hari, berminggu-minggu aku mulai dekat dengannya, akhirnya aku mencoba melamarnya. “Ya aku mau”. Dengan jawaban yang diucapkannya, aku loncat kegirangan dan hampir menghancurkan benda-benda yang ada. Pesta pernikahan berlangsung sangat sederhana, tidak ada kemewahan yang dihadirkan, yang penting adalah makna dari pernikahan itu sendiri. Beberapa bulan berlalu, Putri menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Setelah mengecek ke dokter kehamilan, hasilnya positif. Di tengah kegembiraan itu, aku dihubungi oleh militer untuk segera berkumpul di markas besar. “Ada sesuatu yang sangat besar yang akan terjadi. Sepertinya akan ada peperangan yang akan terjadi. Negara kita akan masuk ke dalam aliansi negara-negara Non-Blok yang akan memerangi pasukan One Rule, Organisasi yang paling berbahaya yang sudah menyebarkan ancaman ke seluruh dunia. Aku mengumpulkan kalian semua di sini untuk menyiapkan pasukan apabila perang tersebut benar-benar terjadi. Perang itu sangat keras, kejam! Aku butuh kalian yang berani dan siap mati untuk berjuang membela kebenaran dan negara! Akan banyak darah, ledakan, rintihan. Banyak diantara kalian yang akan mati! Mungkin banyak yang tidak akan kembali! Silahkan tinggalkan ruangan ini jika kalian tidak mau ikut, tapi aku hargai kalian yang tetap ingin berjuang!” kata Kapten Dasuki dengan lantang.
          Setelah dibubarkan, aku segera kembali ke rumah untuk mengabarkan ini kepada istriku. “Sayang, aku akan ditugaskan keluar untuk mengikuti peperangan besar.” Istriku ternyata sudah mengetahui kabar yang disiarkan di saluran televisi nasional, yang mengabarkan kalau para pemimpin di dunia sudah mendeklarasikan perang melawan kekuasaan One Rule. “Akankah kamu mau pergi ke medan perang? Bagaimana dengan aku di sini? Bagaimana dengan anak di dalam perutku ini?” tanyanya sambil memelukku dan menangis. “Tapi, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang tentara dan seorang warga negara yang baik. Aku harus ikut berjuang di medang pertempuran itu, Sayang.” “Aku mohon, aku yakin aku akan kembali ke sini dengan selamat. Mungkin tubuhku ini nanti akan ada yang tidak utuh dan penuh lubang bekas tembakan.” “Tapi...,tapi....,tapi??”. “tolonglah, kumohon”. “Hiks...hiks...baiklah...tapi kamu harus berjanji. Kamu akan kembali dengan selamat dan kamu akan menemui anakmu ini yang sudah terlahir kedunia ini.” “Baiklah, aku berjanji. Janjiku ini janji seorang pelaut, yang tidak akan pernah aku ingkari apapun yang terjadi. Sueerrr aku nggak akan pernah ngingkari. Aku kan sayang sama kamu.” Kataku . “Yeehh, gombal ah. Biasanya aja kamu mesti lupa janji. Dasar tukang gombal haha.” “yah itukan lupa, kamu tau sendiri,kan? Kalo aku itu pelupa?” . “Haha iya iya semoga berhasil ya sayang dan jangan lupa kamu harus pulang”. “Sipp deh,Yang.” Berangkatlah aku menuju pangkalan militer Distrik Sembungharjo. Banyak dari kami yang ketakutan dan banyak juga yang tetap memberanikan diri untuk terus berjuang. Dengan rasa sedih, istri dan keluargaku melepasku dengan penuh tangis haru.

***
          “Hei, kau! Jangan melamun! Kita masih dalam peperangan!”. Tersadarlah aku kalau ini belum di rumah, tapi ini masih di tanah yang kejam, medan peperangan. Musuh yang tersisa masih terdapat 5 batalion tempur, bertahan di sebuah bangunan. Penggempuran hanya dilakukan oleh tim 1 dan tim 5. Panggilan bantuan sudah dikirim, tetapi belum mendapat balasan, meskipun begitu pasukan ku tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Entah mendapat kekuatan dari mana, secara ajaib pasukan yang berjumlah hanya 20 orang, bisa melawan dan menghabisi musuh yang berjumlah sekitar 75 orang. “Wow, hah, hah. Melelahkan sekali. Tak kusangka kita bisa memenangkan ini.” “Hore kita menang!” “Oh ya”. “Jangan senang dulu! Di pihak kita masih ada korban jiwa! Kumpulkan mereka dan bawa yang terluka ke Base Camp!”. Suasana malam itu sudah mulai membaik, karena pasukan bisa memenangkan pembersihan dan penggempuran musuh. Tetapi dibalik semua itu, masih banyak juga prajurit yang harus meregang nyawa untuk membela panji-panji bangsa dan negara serta membela kebenaran dan keadilan. Banyak yang tewas karena tertembak, terkena ledakan, bahkan ada pula yang hilang alias M.I.A.
          Pagi itu juga secara mengejutkan aku mendengar kabar kalau musuh melancarkan serangan tiba-tiba ke daerah Sukamaju, daerah tempat tinggalku. Dikabarkan pula para penduduk yang ada disana menjadi sandera dari para pasukan musuh. Ini menjadi pukulan yang sangat mendalam bagi kami, karena kami tidak sadar dan bahkan lupa untuk melindungi para warga dan daerah kami agar aman. Para pemimpin dengan cekatan mengadakan pertemuan untuk membahas bagaimana untuk menghabisi musuh disana. Karena daerah pasukan mayoritas lebih dari 3000 km, maka untuk perjalanan akan menempuh waktu yang lama. “Kita memutuskan untuk menghancurleburkan Distrik Sukamaju dan sekitarnya. Untuk para warga yang ada disana, kita tidak bisa menghubungi mereka karena jaringan telepon dan yang lain sudah diretas oleh pihak musuh.” Keputusan sudah Fix, para pemimpin sudah menyetujuinya. Namun, keputusan ini sangat kontroversial, karena harus meleburkan pasukan musuh, tapi juga warga setempat yang masih berada di Distrik itu. “Hei, apa kau gila? Mereka masih ada di Distrik itu! Mana yang kau maksud dengan kebaikan? Mana yang kau maksud dengan keadilan itu? Kau sama saja dengan mereka! Kejam!” kataku dengan penuh amarah. “Ini demi kepentingan negara dan dunia kita! Kemenangan tidak akan dicapai tanpa pengorbanan!” “Iya, aku tahu! Tapi caranya tidak harus begitu juga, kan?” “Oh, jadi kau lebih memilih kepentingan orang-orang di daerahmu ketimbang kepentingan orang-orang di negaramu?” sejenak aku berpikir dan merenung. Akupun kembali ke Camp dan mulai memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh salah satu pimpinan. “Aku tidak terima dengan tindakan mereka! Itu sangat kejam dan tidak adil” kata salah satu tentara. Banyak yang menyetujuinya dan ingin berunding dengan para pimpinan. Namun, ada juga yang langsung menentang dan mengancam akan membelot dan bergabung dengan pasukan musuh demi melindungi sanak keluarga dan saudaranya.
          “Mana yang harus kupilih? Membunuh mereka demi kemenangan negara dan tegaknya kebenaran, atau menyelamatkan mereka karena mereka adalah bagian dari hidupku? Aku masih bingung.” “Bagaimana ini? “ secara bertahap, pikiranku mulai memilih untuk melindungi keluargaku. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku akan melindungi keluargaku, apapun yang terjadi, karena itu sudah menjadi janjiku selama perang ini belum dimulai. Beberapa rekanku mulai membelot dan bekerja sama secara diam-diam dengan musuh demi melindungi keluarga dan saudara mereka. Mereka pun mengajakku untuk bergabung juga, tetapi aku masih kurang yakin dengan apa yang akan kupilih. “Sudahlah, para pemimpin itu sudah bertindak tidak adil, kita memihak ke pihak yang salah. Tidak mungkin pihak yang benar akan melakukan hal seperti itu. Ayo, ikut kami untuk bergabung dengan pasukan One Rule, dimana kebahagiaan akan terwujud dengan dunia yang berada dalam satu pimpinan.” Kata salah satu rekan satu peleton. ‘Sebentar, aku masih bingung dengan pilihanku. Jika sudah kuputuskan, nanti aku akan berbicara mengenai itu dengan kau. Sementara ini lanjutkanlah berbincangan rahasiamu dengan pasukan One Rule mengenai niatmu dan lainnya.”
          Keesokan harinya, satu persatu prajurit pun meninggalkan Camp secara sembunyi-sembunyi melalui jalur bawah tanah yang sebelumnya sudah dibangun untuk menyusup ke daerah musuh. Aku pun mulai bersiap-siap dan mengemasi barang-barangku untuk ikut bergabung dengan musuh. Ini adalah ide gila namun aku ingin tetap menyelamatkan keluargaku. Sejenak aku mengingat kembali apa yang dikatakan oleh para pimpinan. Kalau aku lebih mementingkan keluargaku dibandingkan kepentingan orang banyak dan kepentingan negara, mungkin hal yang lebih buruk dan mengerikan akan terjadi. Aku kembali terdiam dan merenung memikirkan hal tersebut. Sangat mengiang-ngiang di dalam otakku. “Baiklah, ayo kita lakukan” DUAARRR BUMMM BUMMM BUMMM,
          Dua tahun berlalu, perang sudah usai, tetapi banyak hal dari perang itu yang sampai kini masih tidak bisa kulupakan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, masih saja kupikirkan itu. Setiap hari aku mengunjungi tempat ini, bekas rumahku yang hancur akibat perang yang kejam itu, yang juga menjadi kuburan mendiang istriku dan juga anakku yang tewas karena kebiadaban perang. Tangisan, renungan, rasa menyesal, Ya, itulah yang sering kutampilkan selama ini. Kini aku hidup sendiri, baik keluargaku maupun keluarga istriku sudah membenciku karena penghancuran itu, yang meghancurkan istri dan juga anakku. Mereka sama sekali tidak memberiku ucapan terima kasih seperti orang lain, karena aku menjadi salah satu pahlawan di perang dunia ketiga. Melainkan hujatan, ejekan, ancaman yang aku terima dari keluarga, sangat bertolak belakang dengan orang-orang kebanyakan. Sedih,sedih dan sedih, air mataku menetes setiap hari, serasa mataku ini akan kucopot karena mengenang istri dan anakku yang sudah tewas.. aku depresi dan sering merenung. “Mengapa aku melakukan semua ini? Memang aku ini payah, pecundang! Kau benar Sayang, aku memang tidak bisa menepati janji, aku malah membunuhmu...”. Disaat itu pula aku menyadari sebuah hal...


“Tidak ada kejayaan sesungguhnya di dalam peperangan.”

~SELESAI~

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -