Archive for 2016
BANTERAN
By : Pena Tinta HitamKarya : M. Ivanda Ramadhan
Jam
sudah menunjukkan pukul 04.00. Aku sudah siap masuk sekolah di sekolah baruku
ditahun pelajaran baru. Seperti biasa, sebelum berangkat aku selalu berpamitan
kepada kedua orang tuaku dan tak lupa memohon doa agar hari-hariku di sekolah
menyenangkan.
Sesudah
di sekolah, tampak wajah-wajah asing yang tak kukenal. Setelah pembagian kelas,
aku berkenalan dengan seseorang yang pada saat itu duduk disebelahku. Namanya Rio,
dia nampak seperti orang misterius. Sifatnya sedikit aneh seperti Kepompong
yang tak pernah mau muncul dari cangkangnya. Aku heran dengannya, dia hanya mau
berkenalan denganku saja.
Sebulan
telah berlalu, banyak teman-temanku sudah tidak
jaim lagi, mereka sudah saling
mengenal sifatnya satu sama lain. Namun tidak dengan Rio, dia masih belum
menampakkan sifat aslinya. Tetapi pada suatu hari disekolah, Rio bercerita
denganku tidak seperti biasanya, saat ini Rio banyak bicara. Dari cerita
panjang Rio yang telah kudengar, aku menyimpulkan bahwa Rio tidak suka dengan
seseorang perempuan yang ada dikelasku. Tidak hanya Rio yang tidak suka
dengannya, tapi hampir satu kelasku. Namanya Sinta, sifatnya memang sedikit kemayu, oleh karena itulah teman-temanku
tidak suka dengannya.
Hari
demi hari berlalu, Rio dan teman-temanku semakin tidak suka dengan Sinta.
Sifatnya tambah menjengkelkan, dia semakin sombong dengan apa yang ia miliki,
dari tiap bicaranya bagaikan merendah diatas bukit. Rio sudah tidak bisa
menahan emosinya karena tidak suka dengannya. Rio mencela Sinta pada saat jam
istirahat.
“Hei
Sin, kamu jadi cewek jangan sombong, mentang-mentang kamu punya semua, kamu
belagu gitu, males tau satu kelas denganmu!” Rio sambil menunjuk wajah Sinta.
“Suka-suka
gue dong, hidup-hidupku ngapain kamu ngurusin gue. Jangan-jangan kamu suka sama
gue. Iya kan ngaku aja deh” Sinta dengan wajah mengejek memandangi Rio.
“Hisss
sorry yaa ngapain gue suka sama cewek sombong sepertimu! Lebih baik gue sama
tembok dari pada sama kamu!” Rio semakin marah dengan Sinta.
“Terserah
kamu aja ah” Sinta dengan sombongnya pergi begitu saja.
Setelah
Sinta pergi, Rio menghampiriku dan menceritakan semua kejadiannya tadi.
“Hei
Nda, aku semakin sebel dengan si Sinta. Barusan aku sempat adu mulut
dengannya.” Dengan nada tinggi Rio berbicara denganku.
“Haaa
? adu mulut ? Maksudnya ?” Aku pura-pura tidak tahu
“
Hiss kamu gak mudengan sih” Rio pun langsung meninggalkanku
Setelah Rio pergi, aku pun tertawa dan
sedikit terkejut dengan cerita Rio tadi.
Hari
terus berlalu tak terasa sudah 5 bulan kami berteman. Mulai tumbuh benih-benih
cinta Rio terhadap Sinta. Rio yang dulu benci dengan Sinta, kini kebencian itu
nampaknya sudah hilang dan berganti dengan rasa suka. Rasa suka Rio terhadap
Sinta dikarenakan perhatian Rio kepada Sinta berlebihan. Awalnya hanya aku yang
tau soal itu, namun lama kelamaan teman-temanku tahu dikarenakan perhatian Rio
kepada Sinta semakin memeperlihatkan kalau Rio suka dengan Sinta. Aku dan
teman-temanku pun terkejut melihat kenyataan ini, dulu mereka saling memaki
namun sekarang mereka bisa dibilang sudah satu hati.
“Hei
aku dengar Si Rio sudah pacaran ya sama Sinta” Bisik Si Fariz
“Kelihatannya
sih begitu, soalnya mereka berdua semakin cocok, mereka aja sering upload foto
berdua di instagram” Jawab Si Iqbal
“Waduh
Sosweet yaah, jadi iri nih” Kata Shela
“Dasar
cewek!” Jawab Fariz
“Sepertinya
Rio sudah menyatakan cinta pada Sinta, soalnya kemarin waktu pulang sekolah,
aku liat mereka berduaan duduk mesra sambil berpegangan tangan di taman depan
kelas kita” Kata Masha
“Rio
seperti menjilat ludahnya sendiri ya. Dulu aja sering mencela tapi sekarang
malah jadi cinta.” Seru Si Iqbal dengan nada tinggi
“Ssssst
jangan seperti itu Iqbal, dia kan juga teman kita” Kata Eva
Dari
pembicaraan teman-temanku tadi, aku sangat terkejut mendengarnya. Aku berusaha
membuktikan apakah benar perkataan para temanku. Dan ternyata perkataan
teman-temanku benar. Rio dan Sinta sudah
berpacaran.
Semakin
hari mereka berdua lupa dengan teman-temannya dikelas. Mereka kemana-mana hanya
berdua dan teman-temanku pun mulai ada rasa tidak suka dengan mereka berdua.
Aku pun sempat jengkel kepada Rio, sejak dekat dengan Sinta dia seperti tak
kenal aku lagi. Sifat Rio mulai berubah total. Aku sempat berfikir apakah ini
sifat Rio yang asli. Tetapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu.
Semester
2 telah datang, tak terasa kami sudah berteman setengah tahun. Hari pertama
masuk pun tidak jauh beda dengan semester yang lalu. Rio dan Sinta pun masih
pacaran. Di semester 2 ini, Rio dan Sinta ikut ekstrakulikuler tambahan
Programming. Ekstra ini yang menjadi pengajarnya adalah kakak kelas. Rio dan
Sinta sangat antusisas mengikuti Ekstra ini.
Satu bulan berlalu, cerita Rio dan Sinta
diekstra Programming masih berlanjut. Namun ada yang aneh pada sifat Sinta
akhir-akhir ini. Tak biasanya Sinta pulang sendiri dan dia jadi pendiam di
kelas namun tidak pada saat ekstra. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semenjak
hari itu Rio dan Sinta jarang bercanda bersama dikelas. Rio pun mulai merasa
ada yang aneh pada sifat Sinta.
“Nda,
kamu tahu ada apa dengan Sinta?” Tanya Rio kepadaku.
“Ha?
Kok kamu tanya padaku ? Dia kan pasanganmu, harusnya kamu tahu dengan apa yang
terjadi padanya.” Jawabku dengan nada sedikit mengejek.
“Halah,
aku tak tahu apa yang terjadi dengan Sinta Nda, tolong aku.” Rio memohon
kepadaku.
“Aku
tak tahu masalahmu. Selesaikan masalahmu sendiri! Aku tak mau tahu!” Jawabku
dengan nada tinggi. Setelah itu aku meninggalkan Rio.
Aku
sedikit marah pada Rio. Dia lupa denganku saat dia senang-senang dengan Sinta,
namun pada saat ada masalah dia baru minta tolong padaku.
Suatu
sore saat pulang ekstra programming, Rio terlihat sedih dan tak bersemangat.
Aku pun bertanya kepada Tama
“Tam
Rio kenapa?” tanyaku pada Tama
“Aku
tidak tahu, mungkin dia sudah putus dengan Sinta, soalnya dari kemarin kan
mereka berdua berbeda tak seperti biasanya.” Jawab si Tama
“Hussh
jangan seperti itu. Mereka kan pasangan sosweet. Haha.” Kata ku pada Tama
“Haha
iya sih.” Jawab Tama.
Seperti
ada masalah besar pada mereka berdua namun aku tak tahu apa itu.
Suatu pagi sebelum jam pelajaran dimulai aku
mendengar pembicaraan temanku.
“Kamu
tahu kalau Sinta punya pacar lagi?” Si Odi berkata pada Masha
“Maksudmu
selingkuh ? Yang benar saja kamu di, apa mungkin Sinta tega seperti itu pada
Rio. Aku tak percaya ah.” Jawab si Masha.
“Benar.
Sumpah aku tidak bohong!” Seru si Odi
“Kamu
tahu dari mana?” Tanya Masha pada Odi
“Aku
kan juga ikut ekstra Programming, jadi aku tahu semuanya.” Jawab Odi
“Apa
hubungannya dengan ekstra?” Tanya Si Eva.
“Perlu
kalian tahu Sinta selingkuh dengan kakak kelas, pengajar di ekstra programming.
Namanya Kak Brian.” Jawab Odi
“Apaaa
? Kak Brian ? Jadi Kak Brian itu Banterannya Sinta? aku tak percaya” Kata Eva
“sssst
Bu guru sudah datang diam.” Kata Fariz pada semua yang sedang
berbincang-bincang.
Pada
saat jam istirahat aku menghampiri Sinta untuk menanyakan semua seperti apa
yang dibicarakan teman-temanku. Sinta pun mengakui dia pacaran dengan Kak
Brian. Pada saat itu juga aku marah pada Sinta. Setelah itu aku mencoba
menghampiri Rio dan menghiburnya tetapi dia tak bisa dihibur karena sakit hati
yang terlalu dalam. Rio sudah mengetahui semua tentang Sinta dengan Kak Brian.
Sepulang sekolah Rio memutuskan hubungannya dengan Sinta dengan rasa kecewa.
Setelah itu dia minta maaf pada ku dan teman-teman satu kelas karena
perbuatannya selama pacaran dengan Sinta.
Hari
terus berganti, Rio sudah tidak termenung lagi seperti biasanya, dia sudah bisa
melupakan Sinta. Namun pada saat pulang sekolah Sinta menghampiri Rio dan
meminta maaf padanya sambil menangis. Ternyata Kak Brian hanya main-main dengan
Sinta. Sinta menyesali semua keputusannya. Dia ingin kembali ke masa dimana dia
bersama sama dengan Rio. Namun Rio tak pernah mau kembali ke masa itu. Walaupun
Rio tak mau, Rio sudah mau memaafkan Sinta. Akhirnya mereka berteman seperti
biasa seperti halnya Rio berteman dengan perempuan lain dikelasku. Dan sejak
masalah itu dikelasku tidak ada yang berpacaran satu kelas.
Akan tetapi saat kami naik kelas ada
lagi yang memulai kisah cinta baru dikelasku, Iqbal dan Shela. Apakah kisah
cinta mereka berlanjut pada saat mereka lulus dan mendapat pekerjaan atau harus
berakhir dengan penyesalan atau jangan-jangan sama dengan cerita Rio dan Sinta?
***
YANG LEBIH PENTING
By : Pena Tinta HitamKarya : M. Hedi Azis
Suara desingan peluru yang saling
bersahutan, suara mortar, granat, maupun bom yang terus berdentuman... AH, itu adalah sesuatu yang sudah biasa bagiku. Aku adalah seorang
tentara yang bergabung pada tim 5 di Divisi 1 pasukan Garuda. Sejak para
pemimpin mendeklarasikan perang dengan Pasukan One Rule, tentu saja mau tak mau
aku harus mengikuti perintah untuk berperang. Bagaimanapun, aku harus membela
negara tempatku lahir dan tinggal, meninggalkan keluargaku dan juga anakku yang
berusia 2 tahun. Sekarang adalah hari ketiga dalam perang ini, bisa dikatakan
ini sudah memasuki “World War III”.
Peperangan yang berlangsung kemarin banyak merenggut kawan-kawanku dan beberapa
senior, serta menghancurkan banyak peralatan perang. Aku sekarang sampai di
Jembatan Usluf, sebuah jembatan yang biasa dilewati untuk supply medis dan senjata musuh. “Sekarang, kita sudah sampai di
Jembatan Usluf. Tugas kalian adalah menghancurkan jembatan ini secara cepat
agar musuh tidak bisa mensuplai medis dan senjata. Tentu saja penyerangan ini
tidak akan mudah mengingat banyak musuh yang lalu lalang melewati jembatan itu.
Jadi persiapkan diri kalian! Tim 1 akan berada di belakang untuk bersiap
menghancurkan jembatan sedangkan yang lain akan melindungi mereka dan
menghancurkan pasukan musuh.” Kata Kapiten HOK. “SIAP!!!!” teriak seluruh
pasukan. Maka semua bersiap untuk menyerang. Aku bersiap dengan senjataku yang
bertipe SNIPER RIFFLE, dan akupun
mulai menembak setiap musuh.
DUUARRR..... suara tembakan
menggebu-nggebu, suara ledakan dimana-mana, dan suara rintihan saling
bersahutan. Dengan tepat aku membidik kepala para tentara One Rules. Satu per satu dari mereka tumbang terkena tembakan
peluru yang melesat secepat kilat. “Maju,maju maju!!!” teriak Kapiten untuk
memberi semangat lebih. “Ahh, sakit!!” dengan suara agak lemah, seorang
prajurit terkapar bersimbah darah. “Tenanglah kawan aku akan membantu!”.
Setelah berlari menujunya, prajurit itu langsung tewas di tempat karena
tertembak di dada dan salah satu kakinya putus terkena granat musuh. “Maafkan
aku kawan, aku tidak bisa membantumu. Tapi aku yakin kematianmu tidaklah
sia-sia.” Kataku dengan penuh penyesalan. Pertempuran kali ini dimenangkan oleh
pasukan Garuda, namun banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Setengah
dari pasukan Garuda gugur dan hampir seluruh pasukan musuh tewas. Mungkin ada
beberapa yang kabur dan ada juga yang menyerah.
Pasukan
diarahkan maju ke depan dan diperintahkan untuk menyisir sebuah Distrik yang
kabarnya masih ada beberapa musuh yang masih bertahan di sana. Setelah sampai,
tim dipecah menjadi 5 bagian yang 1 tim terdiri dari 10 orang yang akan dibagi
wilayah penyisirannya, dan sisanya akan terus maju kedepan . Aku berada di tim
5 yang akan menyisir bagian kanan dari Distrik tersebut. “Aku lelah sekali” “Ya
kau benar, ngomong-ngomong bagaimana ya keadaan keluarga kita yang ada di
rumah?” “Pastinya mereka sangat khawatir. Setelah perang ini usai, aku akan
menghabiskan hidupku bersama keluarga saja.”kataku. “Aku juga, setuju” kata
kawan-kawanku. “Tap,tap,tap” terdengar suara langkah kaki yang sangat
mencurigakan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyapkan senapanku jikalau itu
adalah musuh yang masih tersisa dari pertempuran kemarin. Dari dalam sebuah
rumah, keluarlah dua orang yang ternyata seorang anak dan ibunya. Senjata kami
pun diturunkan lagi. Melihat mereka berdua, aku teringat dengan keluargaku yang
menunggu di rumah. Teringat dengan istriku yang tersayang, serta Doni, anakku
yang baru berusia 1 tahun yang aku tinggalkan untuk berperang.
Sungguh tak diduga, anak itu membawa
sebuah mortar berdaya ledak tinggi. Ia lalu berlari menuju tim ku. Timku
terkaget-kaget dan segera menyiapkan senapan masing-masing. “Tembak dia!”.
“Jangan! Dia hanya anak kecil” kataku. “Walaupun anak kecil tapi dia membawa
mortar! Kau mau dia mati atau kita semua mati konyol terkena mortar yang
dilemparkan oleh seorang anak kecil? Tembak dia!”. DUARRR... dengan rasa
menyesal aku ikut menembaknya. Total 5 peluru yang langsung menembus
jantungnya. Mortar itu masih ia genggam ditangannya, lalu Ibunya langsung
menghampiri dan mengambil mortar itu sambil menangis. Mereka mengira kalau
pasukan Garuda adalah dalang dari hancurnya rumah dan negara tempat
kelahirannya, maka mereka mencoba menyerang walaupun hanya dengan sebuah
mortar. Tanpa pikir panjang prajurit segera menembaknya. Wanita itu tertembak
di bagian kepalanya dan langsung tewas seketika. Melihat mereka tewas tak
berdaya, aku jadi teringat keluargaku kembali.
***
KRIIINGGG....suara alarmku
membangunkanku tepat pukul 6 pagi. Seperti biasa tidak ada yang menarik dari
hidupku. Aku hanya tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tua di
pinggiran kota. Makanan tidak punya, uang tidak punya, pekerjaan pun hanya sebatas
kurir pengantar yang gajinya tak seberapa. Hari itu aku memutuskan untuk
berjalan-jalan di kota. Tanpa disengaja aku melihat sebuah lembaran yang
bertuliskan”JADILAH TENTARA UNTUK MENGABDI PADA NEGARA”. “Wah ini sangat
menarik, daripada tidak melakukan apa-apa dirumah, lebih baik aku mendaftar
jadi tentara. Agar bisa mengabdi pada negara.” Segeralah aku mendatangi kantor
sekretariat tentara. Setelah mengisi formulir pendaftaran, keesokan harinya aku
langsung ikut seleksi masuk akademi militer tersebut. Seleksi fisik yang sangat
berat membuat tubuhku hampir tumbang, akan tetapi “ejekan” dari para senior dan
pelatih melecut semangatku agar terus berjuang mengikuti seleksi. Akhirnya aku
lolos masuk akademi militer setelah seleksi fisik yang panjang dan melelahkan.
“Kalian, para Kadet-kadet akan ditugaskan di Distrik Sukamaju. Apabila ada
perubahan nanti sebagian dari kalian akan ditugaskan di daerah-daerah konflik.”
Kata Kapten Dasuki.
Alangkah senangnya bisa ikut mengabdi
pada negara, itu membuatku sangat bersemangat sekaligus sedih karena aku akan
ditugaskan di daerah konflik terluar, yang sangat jauh dari rumah dan kampung
halamanku. Namun aku segera melupakan itu dan pergi ke kafe untuk minum kopi.
Disitulah aku bertemu seorang perempuan berambut pendek sebahu dan berkacamata.
Namanya Putri, wanita yang menurutku “sangat sempurna” ini mulai aku dekati.
Aku mulai ngobrol dengannya, bertanya-tanya, bercanda, dan akhirnya aku
berdansa dengan dia. Setelah lelah, aku pun pulang, namun tak lupa aku meminta
nomor teleponnya. Berhari-hari, berminggu-minggu aku mulai dekat dengannya,
akhirnya aku mencoba melamarnya. “Ya aku mau”. Dengan jawaban yang
diucapkannya, aku loncat kegirangan dan hampir menghancurkan benda-benda yang
ada. Pesta pernikahan berlangsung sangat sederhana, tidak ada kemewahan yang
dihadirkan, yang penting adalah makna dari pernikahan itu sendiri. Beberapa
bulan berlalu, Putri menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Setelah mengecek ke
dokter kehamilan, hasilnya positif. Di tengah kegembiraan itu, aku dihubungi
oleh militer untuk segera berkumpul di markas besar. “Ada sesuatu yang sangat
besar yang akan terjadi. Sepertinya akan ada peperangan yang akan terjadi.
Negara kita akan masuk ke dalam aliansi negara-negara Non-Blok yang akan
memerangi pasukan One Rule, Organisasi yang paling berbahaya yang sudah
menyebarkan ancaman ke seluruh dunia. Aku mengumpulkan kalian semua di sini
untuk menyiapkan pasukan apabila perang tersebut benar-benar terjadi. Perang
itu sangat keras, kejam! Aku butuh kalian yang berani dan siap mati untuk
berjuang membela kebenaran dan negara! Akan banyak darah, ledakan, rintihan.
Banyak diantara kalian yang akan mati! Mungkin banyak yang tidak akan kembali!
Silahkan tinggalkan ruangan ini jika kalian tidak mau ikut, tapi aku hargai
kalian yang tetap ingin berjuang!” kata Kapten Dasuki dengan lantang.
Setelah dibubarkan, aku segera kembali
ke rumah untuk mengabarkan ini kepada istriku. “Sayang, aku akan ditugaskan keluar
untuk mengikuti peperangan besar.” Istriku ternyata sudah mengetahui kabar yang
disiarkan di saluran televisi nasional, yang mengabarkan kalau para pemimpin di
dunia sudah mendeklarasikan perang melawan kekuasaan One Rule. “Akankah kamu
mau pergi ke medan perang? Bagaimana dengan aku di sini? Bagaimana dengan anak
di dalam perutku ini?” tanyanya sambil memelukku dan menangis. “Tapi, ini sudah
menjadi kewajibanku sebagai seorang tentara dan seorang warga negara yang baik.
Aku harus ikut berjuang di medang pertempuran itu, Sayang.” “Aku mohon, aku
yakin aku akan kembali ke sini dengan selamat. Mungkin tubuhku ini nanti akan
ada yang tidak utuh dan penuh lubang bekas tembakan.”
“Tapi...,tapi....,tapi??”. “tolonglah, kumohon”. “Hiks...hiks...baiklah...tapi
kamu harus berjanji. Kamu akan kembali dengan selamat dan kamu akan menemui
anakmu ini yang sudah terlahir kedunia ini.” “Baiklah, aku berjanji. Janjiku
ini janji seorang pelaut, yang tidak akan pernah aku ingkari apapun yang
terjadi. Sueerrr aku nggak akan pernah ngingkari. Aku kan sayang sama kamu.”
Kataku . “Yeehh, gombal ah. Biasanya aja kamu mesti lupa janji. Dasar tukang
gombal haha.” “yah itukan lupa, kamu tau sendiri,kan? Kalo aku itu pelupa?” .
“Haha iya iya semoga berhasil ya sayang dan jangan lupa kamu harus pulang”. “Sipp
deh,Yang.” Berangkatlah aku menuju pangkalan militer Distrik Sembungharjo.
Banyak dari kami yang ketakutan dan banyak juga yang tetap memberanikan diri
untuk terus berjuang. Dengan rasa sedih, istri dan keluargaku melepasku dengan
penuh tangis haru.
***
“Hei, kau! Jangan melamun! Kita masih
dalam peperangan!”. Tersadarlah aku kalau ini belum di rumah, tapi ini masih di
tanah yang kejam, medan peperangan. Musuh yang tersisa masih terdapat 5
batalion tempur, bertahan di sebuah bangunan. Penggempuran hanya dilakukan oleh
tim 1 dan tim 5. Panggilan bantuan sudah dikirim, tetapi belum mendapat
balasan, meskipun begitu pasukan ku tetap berjuang sampai titik darah
penghabisan. Entah mendapat kekuatan dari mana, secara ajaib pasukan yang
berjumlah hanya 20 orang, bisa melawan dan menghabisi musuh yang berjumlah
sekitar 75 orang. “Wow, hah, hah. Melelahkan sekali. Tak kusangka kita bisa
memenangkan ini.” “Hore kita menang!” “Oh ya”. “Jangan senang dulu! Di pihak
kita masih ada korban jiwa! Kumpulkan mereka dan bawa yang terluka ke Base Camp!”. Suasana malam itu sudah
mulai membaik, karena pasukan bisa memenangkan pembersihan dan penggempuran musuh. Tetapi dibalik semua itu, masih
banyak juga prajurit yang harus meregang nyawa untuk membela panji-panji bangsa
dan negara serta membela kebenaran dan keadilan. Banyak yang tewas karena
tertembak, terkena ledakan, bahkan ada pula yang hilang alias M.I.A.
Pagi itu juga secara mengejutkan aku
mendengar kabar kalau musuh melancarkan serangan tiba-tiba ke daerah Sukamaju,
daerah tempat tinggalku. Dikabarkan pula para penduduk yang ada disana menjadi
sandera dari para pasukan musuh. Ini menjadi pukulan yang sangat mendalam bagi
kami, karena kami tidak sadar dan bahkan lupa untuk melindungi para warga dan
daerah kami agar aman. Para pemimpin dengan cekatan mengadakan pertemuan untuk
membahas bagaimana untuk menghabisi musuh disana. Karena daerah pasukan
mayoritas lebih dari 3000 km, maka untuk perjalanan akan menempuh waktu yang
lama. “Kita memutuskan untuk menghancurleburkan Distrik Sukamaju dan
sekitarnya. Untuk para warga yang ada disana, kita tidak bisa menghubungi
mereka karena jaringan telepon dan yang lain sudah diretas oleh pihak musuh.”
Keputusan sudah Fix, para pemimpin
sudah menyetujuinya. Namun, keputusan ini sangat kontroversial, karena harus
meleburkan pasukan musuh, tapi juga warga setempat yang masih berada di Distrik
itu. “Hei, apa kau gila? Mereka masih ada di Distrik itu! Mana yang kau maksud
dengan kebaikan? Mana yang kau maksud dengan keadilan itu? Kau sama saja dengan
mereka! Kejam!” kataku dengan penuh amarah. “Ini demi kepentingan negara dan
dunia kita! Kemenangan tidak akan dicapai tanpa pengorbanan!” “Iya, aku tahu!
Tapi caranya tidak harus begitu juga, kan?” “Oh, jadi kau lebih memilih
kepentingan orang-orang di daerahmu ketimbang kepentingan orang-orang di
negaramu?” sejenak aku berpikir dan merenung. Akupun kembali ke Camp dan mulai memikirkan kembali apa
yang dikatakan oleh salah satu pimpinan. “Aku tidak terima dengan tindakan
mereka! Itu sangat kejam dan tidak adil” kata salah satu tentara. Banyak yang
menyetujuinya dan ingin berunding dengan para pimpinan. Namun, ada juga yang
langsung menentang dan mengancam akan membelot dan bergabung dengan pasukan
musuh demi melindungi sanak keluarga dan saudaranya.
“Mana yang harus kupilih? Membunuh
mereka demi kemenangan negara dan tegaknya kebenaran, atau menyelamatkan mereka
karena mereka adalah bagian dari hidupku? Aku masih bingung.” “Bagaimana ini? “
secara bertahap, pikiranku mulai memilih untuk melindungi keluargaku. Tidak
peduli apa yang akan terjadi, aku akan melindungi keluargaku, apapun yang
terjadi, karena itu sudah menjadi janjiku selama perang ini belum dimulai.
Beberapa rekanku mulai membelot dan bekerja sama secara diam-diam dengan musuh
demi melindungi keluarga dan saudara mereka. Mereka pun mengajakku untuk
bergabung juga, tetapi aku masih kurang yakin dengan apa yang akan kupilih.
“Sudahlah, para pemimpin itu sudah bertindak tidak adil, kita memihak ke pihak
yang salah. Tidak mungkin pihak yang benar akan melakukan hal seperti itu. Ayo,
ikut kami untuk bergabung dengan pasukan One Rule, dimana kebahagiaan akan
terwujud dengan dunia yang berada dalam satu pimpinan.” Kata salah satu rekan
satu peleton. ‘Sebentar, aku masih bingung dengan pilihanku. Jika sudah
kuputuskan, nanti aku akan berbicara mengenai itu dengan kau. Sementara ini
lanjutkanlah berbincangan rahasiamu dengan pasukan One Rule mengenai niatmu dan
lainnya.”
Keesokan harinya, satu persatu
prajurit pun meninggalkan Camp secara sembunyi-sembunyi melalui jalur bawah
tanah yang sebelumnya sudah dibangun untuk menyusup ke daerah musuh. Aku pun
mulai bersiap-siap dan mengemasi barang-barangku untuk ikut bergabung dengan
musuh. Ini adalah ide gila namun aku ingin tetap menyelamatkan keluargaku.
Sejenak aku mengingat kembali apa yang dikatakan oleh para pimpinan. Kalau aku
lebih mementingkan keluargaku dibandingkan kepentingan orang banyak dan
kepentingan negara, mungkin hal yang lebih buruk dan mengerikan akan terjadi.
Aku kembali terdiam dan merenung memikirkan hal tersebut. Sangat
mengiang-ngiang di dalam otakku. “Baiklah, ayo kita lakukan” DUAARRR BUMMM
BUMMM BUMMM,
Dua tahun berlalu, perang sudah usai,
tetapi banyak hal dari perang itu yang sampai kini masih tidak bisa kulupakan.
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, masih saja kupikirkan itu.
Setiap hari aku mengunjungi tempat ini, bekas rumahku yang hancur akibat perang
yang kejam itu, yang juga menjadi kuburan mendiang istriku dan juga anakku yang
tewas karena kebiadaban perang. Tangisan, renungan, rasa menyesal, Ya, itulah
yang sering kutampilkan selama ini. Kini aku hidup sendiri, baik keluargaku
maupun keluarga istriku sudah membenciku karena penghancuran itu, yang
meghancurkan istri dan juga anakku. Mereka sama sekali tidak memberiku ucapan
terima kasih seperti orang lain, karena aku menjadi salah satu pahlawan di
perang dunia ketiga. Melainkan hujatan, ejekan, ancaman yang aku terima dari
keluarga, sangat bertolak belakang dengan orang-orang kebanyakan. Sedih,sedih
dan sedih, air mataku menetes setiap hari, serasa mataku ini akan kucopot karena
mengenang istri dan anakku yang sudah tewas.. aku depresi dan sering merenung.
“Mengapa aku melakukan semua ini? Memang aku ini payah, pecundang! Kau benar
Sayang, aku memang tidak bisa menepati janji, aku malah membunuhmu...”. Disaat
itu pula aku menyadari sebuah hal...
“Tidak
ada kejayaan sesungguhnya di dalam peperangan.”
~SELESAI~
Tag :
Cerita Kehidupan,
Tak Pandang Halilintar Menghadang
By : Pena Tinta HitamKarya : Maslakhatul Maftukhah
Riko dan Tasya adalah pasangan yang
cocok, namun karena kegundulannya Riko yang plontos tos tos mengakibatkan Tasya
jijik, dan akhirnya Tasya selalu mencari alasan untuk pisah, namun Riko tetap
mempertahankan dan sia-sia. Tasya selalu gonta-ganti pasangan setelah bersama
Riko. Rikopun kebalikan dari Tasya, Riko lebih giat belajar untuk capai
kesuksesan. Semua kan indah pada waktunya.
***
STM Pembangunan Semarang adalah
sekolah favorit yang ada di Semarang dan salah satu sekolah yang bertaraf
internasional, jadi seluruh Indonesia kebanyakan tahu kualitas STM Pembangunan
Semarang. Disekolah ini pun menerapkan aturan yang unik dan khas untuk bisa
cepat membedakan mana anak STM Pembangunan dan sekolah lainnya tanpa melihat
badge sekolah, yaitu harus memakai sepatu PDH bagi laki-laki dan Pantovel bagi
perempuan. Selain itu potongan anak laki-laki harus gundul, jika suatu saat ada
anak yang melanggar hal tersebut ketahuan sama guru maka akan dilaporkan kepada
kesiswaan atau walikelas untuk menindaklanjuti. Begitu disiplinnya sekolah ini
menerapkan aturan aturan tata tertib tersebut.
Sekolah ini dipenuhi makhluk makhluk
gundul didalamnya termasuk Riko anak kelas XI TKR-2. Riko selalu melanggar
aturan sekolah yaitu rambut yang seharusnya digundul namun dia tidak pernah
digundul. Riko melakukan itu semua demi pacarnya yang bernama Tasya. Tasya
adalah salah satu murid famous yang ada di STM Pembangunan, dia anak jurusan
TKJ-1 kelas XI.
Riko dan Tasya adalah pasangan yang
sangat cocok. Riko adalah sosok yang terkenal ganteng disekolah, pinter juga,
kece daaah pokoknya. Begitupun Tasya, diapun terkenal disekolahnya juga orang
yang sangat cantik, putih, berbehel, hijab juga, kaum sosialita, dan juga yang tak kalah terkenalnya yaitu cerdas yang dia
punya. Karena keduanya memiliki kelebihan kelebihan yang tentunya lebih dari
cukup untuk melengkapi cerita cinta mereka.
Sering sekali keduanya bertukar bekal
yang dibawakan oleh bundanya masing masing kalau disekolah. Sering juga
bertukar pikiran untuk materi yang disampaikan oleh guru masing masing, jadi
kayak belajar bareng gitu. Makanya keduanya saling nyaman gitulah. Enak kan ya
kalau punya pasangan seperti itu.
Begini ya pasti disetiap hubungan
memiiki konflik lahyaa, entah itu konfliknya konflik yang ringan maupun yang
berat. Ya pastinya yang dimaksud disini konflik hubungan antara Tasya dan Riko.
Riko dan Tasya sudah menjalani hubungan selama 3 bulanan lah. Selama 3 bulan
itu pastinya ada rintangan didalamnya, namun faktanya dari keduanya bisa
melewati semua itu. Tiba tiba pada masalah yang sangat sepele dapat memisahkan
antar keduanya. Riko yang awalnya seseorang yang tampan dengan rambutnya yang
pastinya tidak pernah gundul, karena dia
tidak pernah ketangkep sama kesiswaan atau guru pembimbingnya untuk potong.
Pada saat itu ada razia rambut yang dilakukan oleh salah satu kesiswaan
disekolah, baru pertama kali ini si Riko ketangkap sama kesiswaan dan akhirnya
dipotong gratis oleh guru kesiswaan. Siapapun yang melanggar aturan rambut,
akan dipotong plontos tos tos oleh kesiswaan didepan ruang kesiswaan Stemba.
Biasanya yang tampak dari Si Riko
adalah rambut dengan wajahnya yang cucok sampai pesona wajahnya memancar kemana
mana, kali ini Riko tampil beda dengan kegundulannya. Riko tidak berani bilang
kepada Tasya ketika dia digundul oleh kesiswaan, karena menurut Riko pasti
Tasya malu jalan sama Riko, nah ternyata benar. Keesokan harinya Tasya dibully
sama teman temannya mengenai kegundulan Riko.
Desta:
“Syaaaa...., Riko kek kentos.”
Tasya:
“Kobisaa?”
Bivi: “Noh
liat dikelasnya sendiri hahahahahaha.”
Annisa:
“Riko gundul Sya, kemaren habis digundul sama kesiswaan ketika ada razia rambut
dikelasnya.”
Tasya:
“Yaudah yaudah terimakasih ya.”
Seketika itu Tasya langsung BBM Riko
kalau dia pengen ketemu Riko pas pulang sekolah, namun Riko mencari alasan
untuk tidak bertemu Tasya. Dan akhirnya alasan apapun yang disampaikan Riko,
Tasya tambah memaksa untuk bertemu Riko.
Bel
berbunyi saatnya pulang, dan pasangan itu ketemu didepan kelasnya Tasya. Namun
Riko ketika bertemu Tasya, dia memaakai helm. Tasya langsung dengan kasar
membuka helm tersebut.
Tasya: “ih
jelek banget sih Ri”
Riko: “(hanya
terdiam nahan malu)”
Tasya:
“ketahuan kesiswaan?”
Riko: “iya
Sya.”
Tak lama kemudian Tasya langsung minta
putus, karena dia malu punya cowo yang kek kentos, tetapi Riko selalu bilang
tidak mau jika dia pisah sama Tasya karena hal yang sangat sepele itu. Semakin
lama semakin lama Tasya ngoyot minta
putus, akhirnya Riko tidak bisa melakukan apa apa. Apa dayanya kalau sudah
begitu. Sore itu juga hubungan mereka yang mereka jalani 3 bulanan itu terpisah
sia-sia.
Seminggu kemudian, Tasya dapat pacar
baru anak SMA 1 Semarang orang nya kece abizzz namanya Faisal dan putus lagi
putus lagi dan punya pacar lagi dan putus lagi dan punya pacar lagi dan begitu
seterusnya. Namun, Riko kebalikan dari
Tasya. Riko lebih mengembangkan bakatnya di otomotif karena jurusan yang dia ampu adalah otomotif.
Prinsipnya Riko setelah hubungan dengan Tasya adalah sukses dulu baru mikir
pasangan karena dia percaya jodoh sudah ada ditangan Allah.
4 Tahun sudah dilampaui Riko di STM
Pembangunan dan ketika magang dia diambil oleh perusahaan NASMOCO. Karena usaha
dia sebelumnya, dia sukses di NASMOCO tersebut dan tak lama kemudian di angkat
jadi direktur utama.
Apa kabarnya dengan Tasya? Tasya
setelah lulus dari sekolahnya, dia melanjutkan studinya kejenjang yang lebih
tinggi di UNDIP. Setelah lulus dari UNDIP dia dikerjakan oleh ayahnya di
perusahaan yang sama dengan Riko (kebetulan). Tasya ditempatkan dibagian
sekretaris direktur. Dan kebetulan juga dia menjadi sekretaris pribadi dari
Riko mantannya. Riko juga mengetahui itu semua.
Selama 3 hari sudah masuk kerja,
muncul lagi perasaan diantara keduanya karena dipekerjaan selalu bertemu. Tak
menunggu lama Riko mengungkapkan isi hatinya lagi kepada Tasya dan kebetulan
Tasya juga lagi sendiri. Akhirnya ya akhirnya pemirsahhh keduanya kembali
menjalin hubungan lagi. Tasya mau menerima Riko karena Riko sekarang menjadi
sosok laki-laki yang tampan gagah berwibawa sukses dan pastinya tidak gundul
eaaa hahah.
Semakin hari hubungan mereka semakin
romantis dan nyaman, tanpa pikir panjang Riko ada rencana ingin melamar Tasya
dan Tasya mengenalkan Riko kepada orangtuanya karena keseriusan Riko juga.
Tasya tak malu lagi mengenalkan kepada orang tua nya karena Riko sudah mapan,
tampan juga.
Akhir pekan harinya hari Sabtu malam
minggu Riko silatur rahmi kerumah Tasya. Sesampainya dirumah Tasya, bundanya
Tasya menyambut dengan keramahannya. Tak lupa mempersilahkan masuk ke ruang
tamu. Diruang tamu bundanya Tasya tanya tanya tentang Riko kepada Riko entah
itu soal orang tua, kerjanya apa dan lain lain. Setelah mengetahui tentang
ayahnya yang bernama Komang yang kebetulan musuh bebuyutan dari bundanya Tasya
sejak SMP hingga sekarang tadi.
Sepulangnya Riko, bundanya Tasya langsung bilang sama Tasya kalau Tasya
dilarang bergaul dengan Riko. Tasya kebingungan kenapa kok bundanya tidak
memperbolehkan Tasya bergaul dengan Riko. Kemudian bundanya menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi dan akhirnya Tasya faham.
Ketika keduanya kembali bekerja, Tasya
yang biasanya memperlakukan Riko dengan romantis kali ini Tasya
memperlakukannya biasa biasa saja dan Rikopun kebingungan ada apa sebenarnya
kok tiba-tiba Tasya seperti ini padanya. Dan hari berikutnya pun begitu, sampai-sampai
Riko menanyakan kepada Tasya kaya gini “kamu kenapa sya? Ada masalah? Cerita
sini.” Tasya tak mau menjawab ketika ditanya seperti itu dan Riko bertanya lagi
dan lagi, dan akhirnya Tasya menceritakan apa yang diberi tau oleh bundanya
kemaren malam kepada Riko.
Setelah mengetahui itu semua mereka
berdua bangkit dan mencari solusi supaya masalah tersebut tidak berlarut larut
untuk selanjutnya. Cara pertama untuk menyelesaikan yaitu Riko berusaha
berbicara kepada ayahnya dan Tasya berusaha berbicara kepada bundanya dan cara
tersebut gagal, kemudian disusul lah rencana rencana lainnya dan gagal lagi
gagal lagi. Setelah keduanya stres mikir ini itu untuk memperbaiki hubungan
silaturrahmi antar keduanya, akhirnya ketemu cara yang bener bener emang
mungkin menurut mereka ampuh yaitu
mempertemukan kedua keluarga tersebut pada acara makan malam yang sudah
dirancang oleh Riko dan Tasya dan cara tersebut akhirnya berhasil. Dan akhirnya
ya akhirnya pemirsaaaaah Riko melamar Tasya dan karena kedua keluarga sudah
baik-baik hubungannya dan tidak ada konflik apapun lagi, lamaran Riko diterima
oleh keluarga Tasya.
***
Tag :
Cerpen Remaja,
Cerpen Romance,
180 Derajat
By : Pena Tinta HitamKarya : M. Alfarizi F.
Saat itu matahari telah
menampakkan wujudnya dan ayam-ayam disebelah rumah telah mulai bernyanyi. Terdengar suara wanita paruh baya yang
memanggil nama anaknya untuk bangun dari tidurnya.
“Erik ayo bangun hari ini hari Senin nanti kamu sekolah”.Kata ibu
sambil menarik selimut dari tubuh Erik.
“Iyaaa”.Katanya dengan suara yang masih
mengantuk.
“Setelah merapikan tempat tidur terus
mandi setelah mandi sarapan”.Kata ibu dengan nada lembut.
Setelah itu Erik
berangkat sekolah dengan temannya. Saat
itu Erik sudah menginjak kelas 4.Erik yang terkenal lugu dan periang menjadikannyaa
murid yang menyenangkan untuk berteman. Kemudian bel masuk sekolahpun berbunyi
dan pelajaran dimulai. Saat
mendekati akhir pelajaran Bu Guru memberikan tugas untuk mengerjakan 20 soal
Matematika.
Sepulang
sekolah Aku dan Erik sepakat untuk mengerjakannya nanti malam. Saat malam tiba kami mengerjakan soal
tersebut bersama-sama. Tidak
lama kemudian ada suara yang memanggil Erik dari depan rumahku. Kemudian Erik pergi ke depan
rumah,ternyata yang memanggilnya adalah ibunya. Tidak lama kemudian Erik masuk kerumahku,ia memberesi
bukunya dan pamit pulang kepada ku dan Orang Tuaku yang sedang menonton TV. Kemudian Erik bilang kalau ia harus
belajar dirumah agar belajarnya serius. Setelah sampai rumah Erik membuka buku PR yang tadi kami
kerjakan setelah dibuka ia tidak bisa menjawabnya kemudian ia bertanya kepada
anggota keluarganya,tetapi apa daya keluarganya sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri.
Kemudian
pagi harinya disekolah Erik
meminjam buku PRku dan ia menyalin apa yang kukerjakan tadi malam.Kemudian aku
bertanya pada Erik.
”Kenapa kamu belum mengerjakan PRnya
padahal kamu bisa belajar dirumah dan bertanya kepada Orang Tua atau
Kakakmu?”dengan nada penasaran.
”Aku tadi malam saat ingin mengerjakan
PRnya aku mengalami kesulitan saat mengerjakannya dan saat aku bertanya kepada
kakakku ia sibuk dengan tugasnya yang banyak”
.Kemudian aku bertanya lagi “Lalu Orang
Tuamu?”dengan penasaran aku tanyakan semua yang ingin kuketahui.
Kemudian Erik menjawab”Orang Tuaku
sibuk dengan kepentingannya sendiri sendiri”.
Setelah mengetahui itu aku menyuruhnya
untuk mengerjakan PRnya dulu lalu melanjutkan pembicaraan tadi setelah ia
selesai mengerjakan PRnya.
Tidak
lama kemudian bel sekolahpun terdengar nyaring,yang menandakan bahwa pelajaran
akan dimulai. Tepat saat
Bu Guru datang ke kelas
PR yang dikerjakan Erikpun telah selesai. Beberapa saat kemudian Bu Guru meminta
PR yang kemarin diberikan untuk dikumpulkan didepan meja guru. Saat PR sudah dikumpulkan bu guru
menghitung buku yang ada didepan mejanya ternyata kurang 3 anak yang belum
mengumpulkan. Kemudian 3
anak tersebut dipanggil maju kedepan kelas dan dimarahi oleh Guru tersebut. Sebagai hukumannya 3 anak tersebut
disuruh membersihkan kamar mandi saat pelajaran itu.
“Untung
kamu sudah mengerjakan PRnya tepat waktu kalau tidak mungkin kamu akan ikut
dengan mereka membersihkan kamar mandi” Kataku kepada Erik.
Erik pun menjawab “Iya untung saja aku
cepat-cepat mengerjakannya kalau tidak pasti aku sudah membersihkan kamar
mandi”Kata Erik dengan nada senang.
Kemudian
setelah pulang sekolah teman-teman mengajak Erik
dan aku untuk bermain didepan rumah Erik
secara halaman rumahnya luas jadi
pas untuk bermain disana. Tak
lama kemudian Erik dipanggil ibunya untuk tidur siang. Kemudian aku dan teman-teman merasa
setiap Erik diajak bermain ataupun belajar
kelompok selalu Orang Tuanya memintanya untuk cepat-cepat pulang kerumah. Setelah membahas itu aku dan
teman-teman memutuskan untuk pulang karena adzan ashar mulai terdengar.
Hal
itu terus berlanjut sampai Ujian Nasional SD tiba. Kemudian aku bertemu dengan ayah Erik yang baru pulang dari
masjid. Ia
memintaku untuk belajar bersama dengan Erik agar Erik
bisa masuk ke SMP Negeri. Setelah
seminggu belajar bersama Ujian Nasional pun tiba. Kemudian setelah melewati hari pertama
Ujian Nasional aku bertanya pada Erik
“Bagaimana tadi apakah kamu bisa
mengerjakan soalnya?”kataku dengan nada ingin tahu.
Erik menjawab “Aku bisa mengerjakan
soalnya tadi tapi ada yang tidak bisa”kata Erik.
Kemudian aku bertanya lagi “Antara bisa
dan nggak bisa mana yang paling banyak?”.
Erik pun menjawab “50:50”kata Erik sambil melihat kebawah.
Aku pun kaget dengan pernyataan tersebut
bagaimana bisa soal semudah itu tidak bisa dijawab. Aku berpikir mungkin ini karena selama
ini Erik tidak pernah belajar karena keluarganya tidak terlalu
memperhatikannya. Hal
ini membuat Erik menjadi pendiam saat di tengah
keluarganya dan membuat ia ngeyel saat diberitahu oleh orang tuanya.
Setelah
Ujian Nasional selesai kami menunggu kurang lebih satu bulan hasil dari Ujian
Nasional dibagikan. Kemudian
kami membukanya bersama-sama ternyata diluar perkiraanku aku menempati posisi 3
tertinggi disekolahan. Saat
itu aku memperkirakan nilai Erik berapa sudah kupikirkan saat aku mengetahui
nilaiku ternyata nilai Erik jauh dibawahku. Kemudian Erik mencoba untuk mendaftar ke SMP Negeri tapi apa daya
nilainya yang pas pasan membuatnya tidak diterima di SMP Negeri.
Kemudian
1 bulan setelah pengumuman aku bertanya kepada Erik ia bersekolah dimana. Kemudian Erik menjawab “Aku tidak
diterima di SMP Negeri karena nilaiku pas-pasan jadi aku sekolah di SMP Swasta
dekat rumah.”Kata Erik. Aku sempat berpikir kasihan sekali Erik, ia ingin sekolah di sekolah Negeri
tetapi ia tidak bisa mencaapainya karena keluarganya tidak terlalu
memperdulikan Erik.
Tidak
lama setelah menjalani sekolah di SMP ia menjadi terkekang dengan keluarganya
karena anaknya tidak bisa masuk SMP Negeri .Akibat terkekang di rumah saat pulang
ia tidak langsung pulang karena jika langsung pulang ia tidak boleh keluar
rumah lagi. Pada saat
itu ia selalu pulang sore padahal jam pulang sekolah pukul 12.30 WIB.
Setelah
pulang dari sekolah ia langsung dimarahi oleh orang tuanya karena sehabis
pulang sekolah ia tidak langsung pulang tetapi malah nongkrong diwarung dekat
sekolahannya dengan teman-temannya.Waktu itu pernah ia bermain sepak bola
dilapangan sehingga dia lupa kalau ia tidak boleh bermain lebih dari jam 5
sore. Saat pulang
ia langsung disambut oleh sapu yang dibawa oleh ayahnya. Hal itu membuat ia takut sekali dengan
orang tua karena terlalu banyak peraturan. Sesama laki-laki aku dan Erik saling
bertukar pikiran tentang apa yang dialaminya. Kemudian aku memberi saran yang membuat
Erik tertantang untuk mencobanya. Saran tersebut adalah membuatnya merasa
betah didalam rumahnya tanpa bermain diluar selama seminggu.
Setelah beberapa hari aku bertemu
dengan Erik ia berkata “aku tidak kuat dengan saran yang kau berikan karena
setiap aku berada dirumah aku selalu diceramahi oleh orang tuaku tentang inilah
itulah,itu membuatku tidak betah dirumah”.Kata Erik
Lama
kelamaan Erik menjadi anak yang tidak kenal dengan saudaranya.Setiap ke tempat
saudaranya ia selalu takut dan malu karena tidak pernah berkumpul dengannya
lagi. Setiap saudaranya berkata apa ia tidak pernah
menanggapi ia hanya tersenyum kepadanya. Saat itu adalah hari raya Idul Fitri
dimana semua orang halal bihalal dari satu rumah ke rumah lainnya. Waktu itu kami sekeluarga besar halal bihalal ke tempat saudara
kami,saudara kami itu adalah guru SMP Erik. Ia berbicara kepada kami bahwa Erik
sering bolos sekolah dan jarang membuat PR,ia juga sering mencontek saat
ulangan. Semua itu
dilontarkan dari mulut guru Erik ke seluruh telinga keluarga besar kami. Kemudian Erik
yang mendengar hal itu ia hanya bisa diam dan melihat ke arah bawah.
Sampainya
dirumah Erik terkena marah lagi oleh kedua Orang Tuanya. Erik pun hanya terdiam saat dimarahi oleh
kedua Orang Tuanya. Ia
merasa bahwa ia ingin bertukar posisi antara orang lain dengan dirinya apakah
bisa orang lain hidup seperti dirinya. Kemudian
Erik mengurung diri dikamarnya karena ia tidak mau lagi dengar celotehan orang
tuanya itu. Mungkin
dalam hatiku Erik merasa jiwanya tertekan karena tuntutan yang banyak dan mau
tidak mau ia harus memenuhi tuntutan tersebut.
Saat
itu Ujian Nasional kurang 2 minggu lagi. Aku bertanya kepada Erik “setelah ini kamu ingin melanjutkan
disekolah mana?”.
Erik pun menjawab “Aku belum tahu ingin
melanjutkan dimana setelah lulus ini”.
Aku pun tidak terlalu memperdulikan hal
tersebut karena pasti orang tuanya telah memilihkannya sekolah yang baik. Kemudian Ujian Nasional kurang 1 minggu
aku dihampiri oleh ayah Erik saat aku sedang duduk didepan rumah. Ia menghampiriku dengan tujuan untuk
mengajak anaknya belajar bersama. Akupun
mengiyakan ajakan itu,setelah itu aku menghampiri Erik dan mengajaknya belajar
bersama. Kemudian
apa jawab Erik, dia menolak ajakan tersebut. Kemudian aku bilang kepada ayah Erik bahwa Erik tidak mau belajar
bersama. Sebenarnya
aku tidak enak kepada Erik karena
aku terkesan memaksakan kehendaknya.
Setelah
Ujian Nasional dimulai aku bertanya kepada Erik “Apakah
ia bisa menjawab soalnya?. Ia
menjawab “Aku mengerjakannya hanya 30 menit setelah itu aku tinggal tidur”.
Aku berpikir pintar sekali anak ini aku
saja membutuhkan waktu 1 jam 30 menit untuk menjawab soal tersebut. Aku percaya bahwa nilainya akan menjadi
seperti SD lalu.
Ujian Nasional pun
telah selesai, kemudian
aku bertanya lagi kepada Erik “Mau
melanjutkan dimana habis ini?”.
Erik menjawab “Aku setelah ini akan
melanjutkan di SMK yang telah dipilihkkan oleh Orang Tuaku”.Aku berpikir
mungkin SMK yang dipilihkan adalah SMK Negeri.
Setelah
menerima hasil Ujian Nasional aku kaget ternyata aku dan Erik hanya selisih 0,3 saja. Aku berpikir hebat juga anak ini bisa
mendekati nilaiku padahal ia tidak pernah belajar.
Kemudian aku bertanya “Ingin sekolah di
SMK mana?”.
Ia pun menjawab “SMK *****”.
Aku berpikir nilai sebesar itu kenapa
sekolah di SMK Swasta kan nilainya sayang. Selang waktu, aku mendengar
kabar bahwa ia mendapat bocoran dari temannya. Aku jadi menyayangkan Erik yang dulunya Lugu,Jujur dan Periang
sekarang menjadi seperti ini.
Setelah
memasuki SMK kenakalannya pun menjadi-jadi sekarang ia berani merokok. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa
merokok adalah hal yang wajar bagi anak remaja sekarang. Tetapi ia merokoknya di area sekolah
yang ada peraturan dilarang merokok. Setelah
ketahuan ia merokok Orang Tuanya pun dipanggil ke sekolahan. Orang Tuanya bilang ia belum pernah
melihat anaknya merokok. Setelah
sampai rumah Erik pun dimarahi oleh kedua Orang Tuanya
habis-habisan karena merokok disekolahan.
Kemudian
beberapa bulan kemudian Ia sering pulang larut malam. Orang Tuanya yang sudah lelah
menasihatinya sekarang membiarkan anaknya bertindak semaunya sendiri. Aku dan teman-teman SD juga
menyayangkan hal ini padahal ia saat SD orangnya Lugu dan Periang sekarang ia menjadi
orang yang tidak karuan kelakuannya,sekarang ia tidak pernah bermain dengan saudaranya dan perkumpulannya sekarang menjadi tidak karuan.
Tag :
Cerita Kehidupan,
Cerpen Remaja,