Popular Post

Archive for 2016

BANTERAN

By : Pena Tinta Hitam

Karya : M. Ivanda Ramadhan




     Jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Aku sudah siap masuk sekolah di sekolah baruku ditahun pelajaran baru. Seperti biasa, sebelum berangkat aku selalu berpamitan kepada kedua orang tuaku dan tak lupa memohon doa agar hari-hariku di sekolah menyenangkan.
          Sesudah di sekolah, tampak wajah-wajah asing yang tak kukenal. Setelah pembagian kelas, aku berkenalan dengan seseorang yang pada saat itu duduk disebelahku. Namanya Rio, dia nampak seperti orang misterius. Sifatnya sedikit aneh seperti Kepompong yang tak pernah mau muncul dari cangkangnya. Aku heran dengannya, dia hanya mau berkenalan denganku saja.
          Sebulan telah berlalu, banyak teman-temanku sudah tidak  jaim lagi, mereka sudah saling mengenal sifatnya satu sama lain. Namun tidak dengan Rio, dia masih belum menampakkan sifat aslinya. Tetapi pada suatu hari disekolah, Rio bercerita denganku tidak seperti biasanya, saat ini Rio banyak bicara. Dari cerita panjang Rio yang telah kudengar, aku menyimpulkan bahwa Rio tidak suka dengan seseorang perempuan yang ada dikelasku. Tidak hanya Rio yang tidak suka dengannya, tapi hampir satu kelasku. Namanya Sinta, sifatnya memang sedikit kemayu, oleh karena itulah teman-temanku tidak suka dengannya.
          Hari demi hari berlalu, Rio dan teman-temanku semakin tidak suka dengan Sinta. Sifatnya tambah menjengkelkan, dia semakin sombong dengan apa yang ia miliki, dari tiap bicaranya bagaikan merendah diatas bukit. Rio sudah tidak bisa menahan emosinya karena tidak suka dengannya. Rio mencela Sinta pada saat jam istirahat.
          “Hei Sin, kamu jadi cewek jangan sombong, mentang-mentang kamu punya semua, kamu belagu gitu, males tau satu kelas denganmu!” Rio sambil menunjuk wajah Sinta.
          “Suka-suka gue dong, hidup-hidupku ngapain kamu ngurusin gue. Jangan-jangan kamu suka sama gue. Iya kan ngaku aja deh” Sinta dengan wajah mengejek memandangi Rio.
          “Hisss sorry yaa ngapain gue suka sama cewek sombong sepertimu! Lebih baik gue sama tembok dari pada sama kamu!” Rio semakin marah dengan Sinta.
          “Terserah kamu aja ah” Sinta dengan sombongnya pergi begitu saja.
          Setelah Sinta pergi, Rio menghampiriku dan menceritakan semua kejadiannya tadi.
          “Hei Nda, aku semakin sebel dengan si Sinta. Barusan aku sempat adu mulut dengannya.” Dengan nada tinggi Rio berbicara denganku.
          “Haaa ? adu mulut ? Maksudnya ?” Aku pura-pura tidak tahu
          “ Hiss kamu gak mudengan sih” Rio pun langsung meninggalkanku
Setelah Rio pergi, aku pun tertawa dan sedikit terkejut dengan cerita Rio tadi.
          Hari terus berlalu tak terasa sudah 5 bulan kami berteman. Mulai tumbuh benih-benih cinta Rio terhadap Sinta. Rio yang dulu benci dengan Sinta, kini kebencian itu nampaknya sudah hilang dan berganti dengan rasa suka. Rasa suka Rio terhadap Sinta dikarenakan perhatian Rio kepada Sinta berlebihan. Awalnya hanya aku yang tau soal itu, namun lama kelamaan teman-temanku tahu dikarenakan perhatian Rio kepada Sinta semakin memeperlihatkan kalau Rio suka dengan Sinta. Aku dan teman-temanku pun terkejut melihat kenyataan ini, dulu mereka saling memaki namun sekarang mereka bisa dibilang sudah satu hati.
          “Hei aku dengar Si Rio sudah pacaran ya sama Sinta” Bisik Si Fariz  
          “Kelihatannya sih begitu, soalnya mereka berdua semakin cocok, mereka aja sering upload foto berdua di instagram” Jawab Si Iqbal
          “Waduh Sosweet yaah, jadi iri nih” Kata Shela
          “Dasar cewek!” Jawab Fariz
          “Sepertinya Rio sudah menyatakan cinta pada Sinta, soalnya kemarin waktu pulang sekolah, aku liat mereka berduaan duduk mesra sambil berpegangan tangan di taman depan kelas kita” Kata Masha
          “Rio seperti menjilat ludahnya sendiri ya. Dulu aja sering mencela tapi sekarang malah jadi cinta.” Seru Si Iqbal dengan nada tinggi
          “Ssssst jangan seperti itu Iqbal, dia kan juga teman kita” Kata Eva
          Dari pembicaraan teman-temanku tadi, aku sangat terkejut mendengarnya. Aku berusaha membuktikan apakah benar perkataan para temanku. Dan ternyata perkataan teman-temanku benar. Rio dan Sinta sudah  berpacaran.
          Semakin hari mereka berdua lupa dengan teman-temannya dikelas. Mereka kemana-mana hanya berdua dan teman-temanku pun mulai ada rasa tidak suka dengan mereka berdua. Aku pun sempat jengkel kepada Rio, sejak dekat dengan Sinta dia seperti tak kenal aku lagi. Sifat Rio mulai berubah total. Aku sempat berfikir apakah ini sifat Rio yang asli. Tetapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu.
          Semester 2 telah datang, tak terasa kami sudah berteman setengah tahun. Hari pertama masuk pun tidak jauh beda dengan semester yang lalu. Rio dan Sinta pun masih pacaran. Di semester 2 ini, Rio dan Sinta ikut ekstrakulikuler tambahan Programming. Ekstra ini yang menjadi pengajarnya adalah kakak kelas. Rio dan Sinta sangat antusisas mengikuti Ekstra ini.
           Satu bulan berlalu, cerita Rio dan Sinta diekstra Programming masih berlanjut. Namun ada yang aneh pada sifat Sinta akhir-akhir ini. Tak biasanya Sinta pulang sendiri dan dia jadi pendiam di kelas namun tidak pada saat ekstra. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semenjak hari itu Rio dan Sinta jarang bercanda bersama dikelas. Rio pun mulai merasa ada yang aneh pada sifat Sinta.
          “Nda, kamu tahu ada apa dengan Sinta?” Tanya Rio kepadaku.
          “Ha? Kok kamu tanya padaku ? Dia kan pasanganmu, harusnya kamu tahu dengan apa yang terjadi padanya.” Jawabku dengan nada sedikit mengejek.
          “Halah, aku tak tahu apa yang terjadi dengan Sinta Nda, tolong aku.” Rio memohon kepadaku.
          “Aku tak tahu masalahmu. Selesaikan masalahmu sendiri! Aku tak mau tahu!” Jawabku dengan nada tinggi. Setelah itu aku meninggalkan Rio.
          Aku sedikit marah pada Rio. Dia lupa denganku saat dia senang-senang dengan Sinta, namun pada saat ada masalah dia baru minta tolong padaku.
          Suatu sore saat pulang ekstra programming, Rio terlihat sedih dan tak bersemangat. Aku pun bertanya kepada Tama
          “Tam Rio kenapa?” tanyaku pada Tama
          “Aku tidak tahu, mungkin dia sudah putus dengan Sinta, soalnya dari kemarin kan mereka berdua berbeda tak seperti biasanya.” Jawab si Tama
          “Hussh jangan seperti itu. Mereka kan pasangan sosweet. Haha.” Kata ku pada Tama
          “Haha iya sih.” Jawab Tama.
          Seperti ada masalah besar pada mereka berdua namun aku tak tahu apa itu.
           Suatu pagi sebelum jam pelajaran dimulai aku mendengar pembicaraan temanku.
          “Kamu tahu kalau Sinta punya pacar lagi?” Si Odi berkata pada Masha
          “Maksudmu selingkuh ? Yang benar saja kamu di, apa mungkin Sinta tega seperti itu pada Rio. Aku tak percaya ah.” Jawab si Masha.
          “Benar. Sumpah aku tidak bohong!” Seru si Odi
          “Kamu tahu dari mana?” Tanya Masha pada Odi
          “Aku kan juga ikut ekstra Programming, jadi aku tahu semuanya.” Jawab Odi
          “Apa hubungannya dengan ekstra?” Tanya Si Eva.
          “Perlu kalian tahu Sinta selingkuh dengan kakak kelas, pengajar di ekstra programming. Namanya Kak Brian.” Jawab Odi
          “Apaaa ? Kak Brian ? Jadi Kak Brian itu Banterannya Sinta? aku tak percaya” Kata Eva
          “sssst Bu guru sudah datang diam.” Kata Fariz pada semua yang sedang berbincang-bincang.
          Pada saat jam istirahat aku menghampiri Sinta untuk menanyakan semua seperti apa yang dibicarakan teman-temanku. Sinta pun mengakui dia pacaran dengan Kak Brian. Pada saat itu juga aku marah pada Sinta. Setelah itu aku mencoba menghampiri Rio dan menghiburnya tetapi dia tak bisa dihibur karena sakit hati yang terlalu dalam. Rio sudah mengetahui semua tentang Sinta dengan Kak Brian. Sepulang sekolah Rio memutuskan hubungannya dengan Sinta dengan rasa kecewa. Setelah itu dia minta maaf pada ku dan teman-teman satu kelas karena perbuatannya selama pacaran dengan Sinta.
          Hari terus berganti, Rio sudah tidak termenung lagi seperti biasanya, dia sudah bisa melupakan Sinta. Namun pada saat pulang sekolah Sinta menghampiri Rio dan meminta maaf padanya sambil menangis. Ternyata Kak Brian hanya main-main dengan Sinta. Sinta menyesali semua keputusannya. Dia ingin kembali ke masa dimana dia bersama sama dengan Rio. Namun Rio tak pernah mau kembali ke masa itu. Walaupun Rio tak mau, Rio sudah mau memaafkan Sinta. Akhirnya mereka berteman seperti biasa seperti halnya Rio berteman dengan perempuan lain dikelasku. Dan sejak masalah itu dikelasku tidak ada yang berpacaran satu kelas.
Akan tetapi saat kami naik kelas ada lagi yang memulai kisah cinta baru dikelasku, Iqbal dan Shela. Apakah kisah cinta mereka berlanjut pada saat mereka lulus dan mendapat pekerjaan atau harus berakhir dengan penyesalan atau jangan-jangan sama dengan cerita Rio dan Sinta?


***

YANG LEBIH PENTING

By : Pena Tinta Hitam

Karya : M. Hedi Azis




Suara desingan peluru yang saling bersahutan, suara mortar, granat, maupun bom yang terus berdentuman... AH, itu adalah sesuatu yang sudah biasa bagiku. Aku adalah seorang tentara yang bergabung pada tim 5 di Divisi 1 pasukan Garuda. Sejak para pemimpin mendeklarasikan perang dengan Pasukan One Rule, tentu saja mau tak mau aku harus mengikuti perintah untuk berperang. Bagaimanapun, aku harus membela negara tempatku lahir dan tinggal, meninggalkan keluargaku dan juga anakku yang berusia 2 tahun. Sekarang adalah hari ketiga dalam perang ini, bisa dikatakan ini sudah memasuki “World War III”. Peperangan yang berlangsung kemarin banyak merenggut kawan-kawanku dan beberapa senior, serta menghancurkan banyak peralatan perang. Aku sekarang sampai di Jembatan Usluf, sebuah jembatan yang biasa dilewati untuk supply medis dan senjata musuh. “Sekarang, kita sudah sampai di Jembatan Usluf. Tugas kalian adalah menghancurkan jembatan ini secara cepat agar musuh tidak bisa mensuplai medis dan senjata. Tentu saja penyerangan ini tidak akan mudah mengingat banyak musuh yang lalu lalang melewati jembatan itu. Jadi persiapkan diri kalian! Tim 1 akan berada di belakang untuk bersiap menghancurkan jembatan sedangkan yang lain akan melindungi mereka dan menghancurkan pasukan musuh.” Kata Kapiten HOK. “SIAP!!!!” teriak seluruh pasukan. Maka semua bersiap untuk menyerang. Aku bersiap dengan senjataku yang bertipe SNIPER RIFFLE, dan akupun mulai menembak setiap musuh.
DUUARRR..... suara tembakan menggebu-nggebu, suara ledakan dimana-mana, dan suara rintihan saling bersahutan. Dengan tepat aku membidik kepala para tentara One Rules. Satu per satu dari mereka tumbang terkena tembakan peluru yang melesat secepat kilat. “Maju,maju maju!!!” teriak Kapiten untuk memberi semangat lebih. “Ahh, sakit!!” dengan suara agak lemah, seorang prajurit terkapar bersimbah darah. “Tenanglah kawan aku akan membantu!”. Setelah berlari menujunya, prajurit itu langsung tewas di tempat karena tertembak di dada dan salah satu kakinya putus terkena granat musuh. “Maafkan aku kawan, aku tidak bisa membantumu. Tapi aku yakin kematianmu tidaklah sia-sia.” Kataku dengan penuh penyesalan. Pertempuran kali ini dimenangkan oleh pasukan Garuda, namun banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Setengah dari pasukan Garuda gugur dan hampir seluruh pasukan musuh tewas. Mungkin ada beberapa yang kabur dan ada juga yang menyerah.
            Pasukan diarahkan maju ke depan dan diperintahkan untuk menyisir sebuah Distrik yang kabarnya masih ada beberapa musuh yang masih bertahan di sana. Setelah sampai, tim dipecah menjadi 5 bagian yang 1 tim terdiri dari 10 orang yang akan dibagi wilayah penyisirannya, dan sisanya akan terus maju kedepan . Aku berada di tim 5 yang akan menyisir bagian kanan dari Distrik tersebut. “Aku lelah sekali” “Ya kau benar, ngomong-ngomong bagaimana ya keadaan keluarga kita yang ada di rumah?” “Pastinya mereka sangat khawatir. Setelah perang ini usai, aku akan menghabiskan hidupku bersama keluarga saja.”kataku. “Aku juga, setuju” kata kawan-kawanku. “Tap,tap,tap” terdengar suara langkah kaki yang sangat mencurigakan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyapkan senapanku jikalau itu adalah musuh yang masih tersisa dari pertempuran kemarin. Dari dalam sebuah rumah, keluarlah dua orang yang ternyata seorang anak dan ibunya. Senjata kami pun diturunkan lagi. Melihat mereka berdua, aku teringat dengan keluargaku yang menunggu di rumah. Teringat dengan istriku yang tersayang, serta Doni, anakku yang baru berusia 1 tahun yang aku tinggalkan untuk berperang.
          Sungguh tak diduga, anak itu membawa sebuah mortar berdaya ledak tinggi. Ia lalu berlari menuju tim ku. Timku terkaget-kaget dan segera menyiapkan senapan masing-masing. “Tembak dia!”. “Jangan! Dia hanya anak kecil” kataku. “Walaupun anak kecil tapi dia membawa mortar! Kau mau dia mati atau kita semua mati konyol terkena mortar yang dilemparkan oleh seorang anak kecil? Tembak dia!”. DUARRR... dengan rasa menyesal aku ikut menembaknya. Total 5 peluru yang langsung menembus jantungnya. Mortar itu masih ia genggam ditangannya, lalu Ibunya langsung menghampiri dan mengambil mortar itu sambil menangis. Mereka mengira kalau pasukan Garuda adalah dalang dari hancurnya rumah dan negara tempat kelahirannya, maka mereka mencoba menyerang walaupun hanya dengan sebuah mortar. Tanpa pikir panjang prajurit segera menembaknya. Wanita itu tertembak di bagian kepalanya dan langsung tewas seketika. Melihat mereka tewas tak berdaya, aku jadi teringat keluargaku kembali.
***
          KRIIINGGG....suara alarmku membangunkanku tepat pukul 6 pagi. Seperti biasa tidak ada yang menarik dari hidupku. Aku hanya tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tua di pinggiran kota. Makanan tidak punya, uang tidak punya, pekerjaan pun hanya sebatas kurir pengantar yang gajinya tak seberapa. Hari itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Tanpa disengaja aku melihat sebuah lembaran yang bertuliskan”JADILAH TENTARA UNTUK MENGABDI PADA NEGARA”. “Wah ini sangat menarik, daripada tidak melakukan apa-apa dirumah, lebih baik aku mendaftar jadi tentara. Agar bisa mengabdi pada negara.” Segeralah aku mendatangi kantor sekretariat tentara. Setelah mengisi formulir pendaftaran, keesokan harinya aku langsung ikut seleksi masuk akademi militer tersebut. Seleksi fisik yang sangat berat membuat tubuhku hampir tumbang, akan tetapi “ejekan” dari para senior dan pelatih melecut semangatku agar terus berjuang mengikuti seleksi. Akhirnya aku lolos masuk akademi militer setelah seleksi fisik yang panjang dan melelahkan. “Kalian, para Kadet-kadet akan ditugaskan di Distrik Sukamaju. Apabila ada perubahan nanti sebagian dari kalian akan ditugaskan di daerah-daerah konflik.” Kata Kapten Dasuki.
          Alangkah senangnya bisa ikut mengabdi pada negara, itu membuatku sangat bersemangat sekaligus sedih karena aku akan ditugaskan di daerah konflik terluar, yang sangat jauh dari rumah dan kampung halamanku. Namun aku segera melupakan itu dan pergi ke kafe untuk minum kopi. Disitulah aku bertemu seorang perempuan berambut pendek sebahu dan berkacamata. Namanya Putri, wanita yang menurutku “sangat sempurna” ini mulai aku dekati. Aku mulai ngobrol dengannya, bertanya-tanya, bercanda, dan akhirnya aku berdansa dengan dia. Setelah lelah, aku pun pulang, namun tak lupa aku meminta nomor teleponnya. Berhari-hari, berminggu-minggu aku mulai dekat dengannya, akhirnya aku mencoba melamarnya. “Ya aku mau”. Dengan jawaban yang diucapkannya, aku loncat kegirangan dan hampir menghancurkan benda-benda yang ada. Pesta pernikahan berlangsung sangat sederhana, tidak ada kemewahan yang dihadirkan, yang penting adalah makna dari pernikahan itu sendiri. Beberapa bulan berlalu, Putri menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Setelah mengecek ke dokter kehamilan, hasilnya positif. Di tengah kegembiraan itu, aku dihubungi oleh militer untuk segera berkumpul di markas besar. “Ada sesuatu yang sangat besar yang akan terjadi. Sepertinya akan ada peperangan yang akan terjadi. Negara kita akan masuk ke dalam aliansi negara-negara Non-Blok yang akan memerangi pasukan One Rule, Organisasi yang paling berbahaya yang sudah menyebarkan ancaman ke seluruh dunia. Aku mengumpulkan kalian semua di sini untuk menyiapkan pasukan apabila perang tersebut benar-benar terjadi. Perang itu sangat keras, kejam! Aku butuh kalian yang berani dan siap mati untuk berjuang membela kebenaran dan negara! Akan banyak darah, ledakan, rintihan. Banyak diantara kalian yang akan mati! Mungkin banyak yang tidak akan kembali! Silahkan tinggalkan ruangan ini jika kalian tidak mau ikut, tapi aku hargai kalian yang tetap ingin berjuang!” kata Kapten Dasuki dengan lantang.
          Setelah dibubarkan, aku segera kembali ke rumah untuk mengabarkan ini kepada istriku. “Sayang, aku akan ditugaskan keluar untuk mengikuti peperangan besar.” Istriku ternyata sudah mengetahui kabar yang disiarkan di saluran televisi nasional, yang mengabarkan kalau para pemimpin di dunia sudah mendeklarasikan perang melawan kekuasaan One Rule. “Akankah kamu mau pergi ke medan perang? Bagaimana dengan aku di sini? Bagaimana dengan anak di dalam perutku ini?” tanyanya sambil memelukku dan menangis. “Tapi, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang tentara dan seorang warga negara yang baik. Aku harus ikut berjuang di medang pertempuran itu, Sayang.” “Aku mohon, aku yakin aku akan kembali ke sini dengan selamat. Mungkin tubuhku ini nanti akan ada yang tidak utuh dan penuh lubang bekas tembakan.” “Tapi...,tapi....,tapi??”. “tolonglah, kumohon”. “Hiks...hiks...baiklah...tapi kamu harus berjanji. Kamu akan kembali dengan selamat dan kamu akan menemui anakmu ini yang sudah terlahir kedunia ini.” “Baiklah, aku berjanji. Janjiku ini janji seorang pelaut, yang tidak akan pernah aku ingkari apapun yang terjadi. Sueerrr aku nggak akan pernah ngingkari. Aku kan sayang sama kamu.” Kataku . “Yeehh, gombal ah. Biasanya aja kamu mesti lupa janji. Dasar tukang gombal haha.” “yah itukan lupa, kamu tau sendiri,kan? Kalo aku itu pelupa?” . “Haha iya iya semoga berhasil ya sayang dan jangan lupa kamu harus pulang”. “Sipp deh,Yang.” Berangkatlah aku menuju pangkalan militer Distrik Sembungharjo. Banyak dari kami yang ketakutan dan banyak juga yang tetap memberanikan diri untuk terus berjuang. Dengan rasa sedih, istri dan keluargaku melepasku dengan penuh tangis haru.

***
          “Hei, kau! Jangan melamun! Kita masih dalam peperangan!”. Tersadarlah aku kalau ini belum di rumah, tapi ini masih di tanah yang kejam, medan peperangan. Musuh yang tersisa masih terdapat 5 batalion tempur, bertahan di sebuah bangunan. Penggempuran hanya dilakukan oleh tim 1 dan tim 5. Panggilan bantuan sudah dikirim, tetapi belum mendapat balasan, meskipun begitu pasukan ku tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Entah mendapat kekuatan dari mana, secara ajaib pasukan yang berjumlah hanya 20 orang, bisa melawan dan menghabisi musuh yang berjumlah sekitar 75 orang. “Wow, hah, hah. Melelahkan sekali. Tak kusangka kita bisa memenangkan ini.” “Hore kita menang!” “Oh ya”. “Jangan senang dulu! Di pihak kita masih ada korban jiwa! Kumpulkan mereka dan bawa yang terluka ke Base Camp!”. Suasana malam itu sudah mulai membaik, karena pasukan bisa memenangkan pembersihan dan penggempuran musuh. Tetapi dibalik semua itu, masih banyak juga prajurit yang harus meregang nyawa untuk membela panji-panji bangsa dan negara serta membela kebenaran dan keadilan. Banyak yang tewas karena tertembak, terkena ledakan, bahkan ada pula yang hilang alias M.I.A.
          Pagi itu juga secara mengejutkan aku mendengar kabar kalau musuh melancarkan serangan tiba-tiba ke daerah Sukamaju, daerah tempat tinggalku. Dikabarkan pula para penduduk yang ada disana menjadi sandera dari para pasukan musuh. Ini menjadi pukulan yang sangat mendalam bagi kami, karena kami tidak sadar dan bahkan lupa untuk melindungi para warga dan daerah kami agar aman. Para pemimpin dengan cekatan mengadakan pertemuan untuk membahas bagaimana untuk menghabisi musuh disana. Karena daerah pasukan mayoritas lebih dari 3000 km, maka untuk perjalanan akan menempuh waktu yang lama. “Kita memutuskan untuk menghancurleburkan Distrik Sukamaju dan sekitarnya. Untuk para warga yang ada disana, kita tidak bisa menghubungi mereka karena jaringan telepon dan yang lain sudah diretas oleh pihak musuh.” Keputusan sudah Fix, para pemimpin sudah menyetujuinya. Namun, keputusan ini sangat kontroversial, karena harus meleburkan pasukan musuh, tapi juga warga setempat yang masih berada di Distrik itu. “Hei, apa kau gila? Mereka masih ada di Distrik itu! Mana yang kau maksud dengan kebaikan? Mana yang kau maksud dengan keadilan itu? Kau sama saja dengan mereka! Kejam!” kataku dengan penuh amarah. “Ini demi kepentingan negara dan dunia kita! Kemenangan tidak akan dicapai tanpa pengorbanan!” “Iya, aku tahu! Tapi caranya tidak harus begitu juga, kan?” “Oh, jadi kau lebih memilih kepentingan orang-orang di daerahmu ketimbang kepentingan orang-orang di negaramu?” sejenak aku berpikir dan merenung. Akupun kembali ke Camp dan mulai memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh salah satu pimpinan. “Aku tidak terima dengan tindakan mereka! Itu sangat kejam dan tidak adil” kata salah satu tentara. Banyak yang menyetujuinya dan ingin berunding dengan para pimpinan. Namun, ada juga yang langsung menentang dan mengancam akan membelot dan bergabung dengan pasukan musuh demi melindungi sanak keluarga dan saudaranya.
          “Mana yang harus kupilih? Membunuh mereka demi kemenangan negara dan tegaknya kebenaran, atau menyelamatkan mereka karena mereka adalah bagian dari hidupku? Aku masih bingung.” “Bagaimana ini? “ secara bertahap, pikiranku mulai memilih untuk melindungi keluargaku. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku akan melindungi keluargaku, apapun yang terjadi, karena itu sudah menjadi janjiku selama perang ini belum dimulai. Beberapa rekanku mulai membelot dan bekerja sama secara diam-diam dengan musuh demi melindungi keluarga dan saudara mereka. Mereka pun mengajakku untuk bergabung juga, tetapi aku masih kurang yakin dengan apa yang akan kupilih. “Sudahlah, para pemimpin itu sudah bertindak tidak adil, kita memihak ke pihak yang salah. Tidak mungkin pihak yang benar akan melakukan hal seperti itu. Ayo, ikut kami untuk bergabung dengan pasukan One Rule, dimana kebahagiaan akan terwujud dengan dunia yang berada dalam satu pimpinan.” Kata salah satu rekan satu peleton. ‘Sebentar, aku masih bingung dengan pilihanku. Jika sudah kuputuskan, nanti aku akan berbicara mengenai itu dengan kau. Sementara ini lanjutkanlah berbincangan rahasiamu dengan pasukan One Rule mengenai niatmu dan lainnya.”
          Keesokan harinya, satu persatu prajurit pun meninggalkan Camp secara sembunyi-sembunyi melalui jalur bawah tanah yang sebelumnya sudah dibangun untuk menyusup ke daerah musuh. Aku pun mulai bersiap-siap dan mengemasi barang-barangku untuk ikut bergabung dengan musuh. Ini adalah ide gila namun aku ingin tetap menyelamatkan keluargaku. Sejenak aku mengingat kembali apa yang dikatakan oleh para pimpinan. Kalau aku lebih mementingkan keluargaku dibandingkan kepentingan orang banyak dan kepentingan negara, mungkin hal yang lebih buruk dan mengerikan akan terjadi. Aku kembali terdiam dan merenung memikirkan hal tersebut. Sangat mengiang-ngiang di dalam otakku. “Baiklah, ayo kita lakukan” DUAARRR BUMMM BUMMM BUMMM,
          Dua tahun berlalu, perang sudah usai, tetapi banyak hal dari perang itu yang sampai kini masih tidak bisa kulupakan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, masih saja kupikirkan itu. Setiap hari aku mengunjungi tempat ini, bekas rumahku yang hancur akibat perang yang kejam itu, yang juga menjadi kuburan mendiang istriku dan juga anakku yang tewas karena kebiadaban perang. Tangisan, renungan, rasa menyesal, Ya, itulah yang sering kutampilkan selama ini. Kini aku hidup sendiri, baik keluargaku maupun keluarga istriku sudah membenciku karena penghancuran itu, yang meghancurkan istri dan juga anakku. Mereka sama sekali tidak memberiku ucapan terima kasih seperti orang lain, karena aku menjadi salah satu pahlawan di perang dunia ketiga. Melainkan hujatan, ejekan, ancaman yang aku terima dari keluarga, sangat bertolak belakang dengan orang-orang kebanyakan. Sedih,sedih dan sedih, air mataku menetes setiap hari, serasa mataku ini akan kucopot karena mengenang istri dan anakku yang sudah tewas.. aku depresi dan sering merenung. “Mengapa aku melakukan semua ini? Memang aku ini payah, pecundang! Kau benar Sayang, aku memang tidak bisa menepati janji, aku malah membunuhmu...”. Disaat itu pula aku menyadari sebuah hal...


“Tidak ada kejayaan sesungguhnya di dalam peperangan.”

~SELESAI~

Tak Pandang Halilintar Menghadang

By : Pena Tinta Hitam

Karya : Maslakhatul Maftukhah




          Riko dan Tasya adalah pasangan yang cocok, namun karena kegundulannya Riko yang plontos tos tos mengakibatkan Tasya jijik, dan akhirnya Tasya selalu mencari alasan untuk pisah, namun Riko tetap mempertahankan dan sia-sia. Tasya selalu gonta-ganti pasangan setelah bersama Riko. Rikopun kebalikan dari Tasya, Riko lebih giat belajar untuk capai kesuksesan. Semua kan indah pada waktunya.
***
          STM Pembangunan Semarang adalah sekolah favorit yang ada di Semarang dan salah satu sekolah yang bertaraf internasional, jadi seluruh Indonesia kebanyakan tahu kualitas STM Pembangunan Semarang. Disekolah ini pun menerapkan aturan yang unik dan khas untuk bisa cepat membedakan mana anak STM Pembangunan dan sekolah lainnya tanpa melihat badge sekolah, yaitu harus memakai sepatu PDH bagi laki-laki dan Pantovel bagi perempuan. Selain itu potongan anak laki-laki harus gundul, jika suatu saat ada anak yang melanggar hal tersebut ketahuan sama guru maka akan dilaporkan kepada kesiswaan atau walikelas untuk menindaklanjuti. Begitu disiplinnya sekolah ini menerapkan aturan aturan tata tertib tersebut.
          Sekolah ini dipenuhi makhluk makhluk gundul didalamnya termasuk Riko anak kelas XI TKR-2. Riko selalu melanggar aturan sekolah yaitu rambut yang seharusnya digundul namun dia tidak pernah digundul. Riko melakukan itu semua demi pacarnya yang bernama Tasya. Tasya adalah salah satu murid famous yang ada di STM Pembangunan, dia anak jurusan TKJ-1 kelas XI.
          Riko dan Tasya adalah pasangan yang sangat cocok. Riko adalah sosok yang terkenal ganteng disekolah, pinter juga, kece daaah pokoknya. Begitupun Tasya, diapun terkenal disekolahnya juga orang yang sangat cantik, putih, berbehel, hijab juga,  kaum sosialita, dan juga yang  tak kalah terkenalnya yaitu cerdas yang dia punya. Karena keduanya memiliki kelebihan kelebihan yang tentunya lebih dari cukup untuk melengkapi cerita cinta mereka.
          Sering sekali keduanya bertukar bekal yang dibawakan oleh bundanya masing masing kalau disekolah. Sering juga bertukar pikiran untuk materi yang disampaikan oleh guru masing masing, jadi kayak belajar bareng gitu. Makanya keduanya saling nyaman gitulah. Enak kan ya kalau punya pasangan seperti itu.
          Begini ya pasti disetiap hubungan memiiki konflik lahyaa, entah itu konfliknya konflik yang ringan maupun yang berat. Ya pastinya yang dimaksud disini konflik hubungan antara Tasya dan Riko. Riko dan Tasya sudah menjalani hubungan selama 3 bulanan lah. Selama 3 bulan itu pastinya ada rintangan didalamnya, namun faktanya dari keduanya bisa melewati semua itu. Tiba tiba pada masalah yang sangat sepele dapat memisahkan antar keduanya. Riko yang awalnya seseorang yang tampan dengan rambutnya yang pastinya tidak pernah gundul, karena  dia tidak pernah ketangkep sama kesiswaan atau guru pembimbingnya untuk potong. Pada saat itu ada razia rambut yang dilakukan oleh salah satu kesiswaan disekolah, baru pertama kali ini si Riko ketangkap sama kesiswaan dan akhirnya dipotong gratis oleh guru kesiswaan. Siapapun yang melanggar aturan rambut, akan dipotong plontos tos tos oleh kesiswaan didepan ruang kesiswaan Stemba.
          Biasanya yang tampak dari Si Riko adalah rambut dengan wajahnya yang cucok sampai pesona wajahnya memancar kemana mana, kali ini Riko tampil beda dengan kegundulannya. Riko tidak berani bilang kepada Tasya ketika dia digundul oleh kesiswaan, karena menurut Riko pasti Tasya malu jalan sama Riko, nah ternyata benar. Keesokan harinya Tasya dibully sama teman temannya mengenai kegundulan Riko.
Desta: “Syaaaa...., Riko kek kentos.”
Tasya: “Kobisaa?”
Bivi: “Noh liat dikelasnya sendiri hahahahahaha.”
Annisa: “Riko gundul Sya, kemaren habis digundul sama kesiswaan ketika ada razia rambut dikelasnya.”
Tasya: “Yaudah yaudah terimakasih ya.”
          Seketika itu Tasya langsung BBM Riko kalau dia pengen ketemu Riko pas pulang sekolah, namun Riko mencari alasan untuk tidak bertemu Tasya. Dan akhirnya alasan apapun yang disampaikan Riko, Tasya tambah memaksa untuk bertemu Riko.
Bel berbunyi saatnya pulang, dan pasangan itu ketemu didepan kelasnya Tasya. Namun Riko ketika bertemu Tasya, dia memaakai helm. Tasya langsung dengan kasar membuka helm tersebut.
Tasya: “ih jelek banget sih Ri”
Riko: “(hanya terdiam nahan malu)”
Tasya: “ketahuan kesiswaan?”
Riko: “iya Sya.”
          Tak lama kemudian Tasya langsung minta putus, karena dia malu punya cowo yang kek kentos, tetapi Riko selalu bilang tidak mau jika dia pisah sama Tasya karena hal yang sangat sepele itu. Semakin lama semakin lama Tasya ngoyot  minta putus, akhirnya Riko tidak bisa melakukan apa apa. Apa dayanya kalau sudah begitu. Sore itu juga hubungan mereka yang mereka jalani 3 bulanan itu terpisah sia-sia.
          Seminggu kemudian, Tasya dapat pacar baru anak SMA 1 Semarang orang nya kece abizzz namanya Faisal dan putus lagi putus lagi dan punya pacar lagi dan putus lagi dan punya pacar lagi dan begitu seterusnya. Namun, Riko kebalikan dari  Tasya. Riko lebih mengembangkan bakatnya di otomotif  karena jurusan yang dia ampu adalah otomotif. Prinsipnya Riko setelah hubungan dengan Tasya adalah sukses dulu baru mikir pasangan karena dia percaya jodoh sudah ada ditangan Allah.
          4 Tahun sudah dilampaui Riko di STM Pembangunan dan ketika magang dia diambil oleh perusahaan NASMOCO. Karena usaha dia sebelumnya, dia sukses di NASMOCO tersebut dan tak lama kemudian di angkat jadi direktur utama.
          Apa kabarnya dengan Tasya? Tasya setelah lulus dari sekolahnya, dia melanjutkan studinya kejenjang yang lebih tinggi di UNDIP. Setelah lulus dari UNDIP dia dikerjakan oleh ayahnya di perusahaan yang sama dengan Riko (kebetulan). Tasya ditempatkan dibagian sekretaris direktur. Dan kebetulan juga dia menjadi sekretaris pribadi dari Riko mantannya. Riko juga mengetahui itu semua.
          Selama 3 hari sudah masuk kerja, muncul lagi perasaan diantara keduanya karena dipekerjaan selalu bertemu. Tak menunggu lama Riko mengungkapkan isi hatinya lagi kepada Tasya dan kebetulan Tasya juga lagi sendiri. Akhirnya ya akhirnya pemirsahhh keduanya kembali menjalin hubungan lagi. Tasya mau menerima Riko karena Riko sekarang menjadi sosok laki-laki yang tampan gagah berwibawa sukses dan pastinya tidak gundul eaaa hahah.
          Semakin hari hubungan mereka semakin romantis dan nyaman, tanpa pikir panjang Riko ada rencana ingin melamar Tasya dan Tasya mengenalkan Riko kepada orangtuanya karena keseriusan Riko juga. Tasya tak malu lagi mengenalkan kepada orang tua nya karena Riko sudah mapan, tampan juga.
          Akhir pekan harinya hari Sabtu malam minggu Riko silatur rahmi kerumah Tasya. Sesampainya dirumah Tasya, bundanya Tasya menyambut dengan keramahannya. Tak lupa mempersilahkan masuk ke ruang tamu. Diruang tamu bundanya Tasya tanya tanya tentang Riko kepada Riko entah itu soal orang tua, kerjanya apa dan lain lain. Setelah mengetahui tentang ayahnya yang bernama Komang yang kebetulan musuh bebuyutan dari bundanya Tasya sejak SMP hingga sekarang  tadi. Sepulangnya Riko, bundanya Tasya langsung bilang sama Tasya kalau Tasya dilarang bergaul dengan Riko. Tasya kebingungan kenapa kok bundanya tidak memperbolehkan Tasya bergaul dengan Riko. Kemudian bundanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan akhirnya Tasya faham.
          Ketika keduanya kembali bekerja, Tasya yang biasanya memperlakukan Riko dengan romantis kali ini Tasya memperlakukannya biasa biasa saja dan Rikopun kebingungan ada apa sebenarnya kok tiba-tiba Tasya seperti ini padanya. Dan hari berikutnya pun begitu, sampai-sampai Riko menanyakan kepada Tasya kaya gini “kamu kenapa sya? Ada masalah? Cerita sini.” Tasya tak mau menjawab ketika ditanya seperti itu dan Riko bertanya lagi dan lagi, dan akhirnya Tasya menceritakan apa yang diberi tau oleh bundanya kemaren malam kepada Riko.
          Setelah mengetahui itu semua mereka berdua bangkit dan mencari solusi supaya masalah tersebut tidak berlarut larut untuk selanjutnya. Cara pertama untuk menyelesaikan yaitu Riko berusaha berbicara kepada ayahnya dan Tasya berusaha berbicara kepada bundanya dan cara tersebut gagal, kemudian disusul lah rencana rencana lainnya dan gagal lagi gagal lagi. Setelah keduanya stres mikir ini itu untuk memperbaiki hubungan silaturrahmi antar keduanya, akhirnya ketemu cara yang bener bener emang mungkin menurut mereka ampuh yaitu  mempertemukan kedua keluarga tersebut pada acara makan malam yang sudah dirancang oleh Riko dan Tasya dan cara tersebut akhirnya berhasil. Dan akhirnya ya akhirnya pemirsaaaaah Riko melamar Tasya dan karena kedua keluarga sudah baik-baik hubungannya dan tidak ada konflik apapun lagi, lamaran Riko diterima oleh keluarga Tasya.

*** 

180 Derajat

By : Pena Tinta Hitam

Karya : M. Alfarizi F.




Saat itu matahari telah menampakkan wujudnya dan ayam-ayam disebelah rumah telah mulai bernyanyi. Terdengar suara wanita paruh baya yang memanggil nama anaknya untuk bangun dari tidurnya.
“Erik ayo bangun hari ini hari Senin nanti kamu sekolah”.Kata ibu sambil menarik selimut dari tubuh Erik.
“Iyaaa”.Katanya dengan suara yang masih mengantuk.
“Setelah merapikan tempat tidur terus mandi setelah mandi sarapan”.Kata ibu dengan nada lembut.
Setelah itu Erik berangkat sekolah dengan temannya. Saat itu Erik sudah menginjak kelas 4.Erik yang terkenal lugu dan periang menjadikannyaa murid yang menyenangkan untuk berteman. Kemudian bel masuk sekolahpun berbunyi dan pelajaran dimulai. Saat mendekati akhir pelajaran Bu Guru memberikan tugas untuk mengerjakan 20 soal Matematika.
          Sepulang sekolah Aku dan Erik sepakat untuk mengerjakannya nanti malam. Saat malam tiba kami mengerjakan soal tersebut bersama-sama. Tidak lama kemudian ada suara yang memanggil Erik dari depan rumahku. Kemudian Erik pergi ke depan rumah,ternyata yang memanggilnya adalah ibunya. Tidak lama kemudian Erik masuk kerumahku,ia memberesi bukunya dan pamit pulang kepada ku dan Orang Tuaku yang sedang menonton TV. Kemudian Erik bilang kalau ia harus belajar dirumah agar belajarnya serius. Setelah sampai rumah Erik membuka buku PR yang tadi kami kerjakan setelah dibuka ia tidak bisa menjawabnya kemudian ia bertanya kepada anggota keluarganya,tetapi apa daya keluarganya sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri.
          Kemudian pagi harinya disekolah Erik meminjam buku PRku dan ia menyalin apa yang kukerjakan tadi malam.Kemudian aku bertanya pada Erik.
”Kenapa kamu belum mengerjakan PRnya padahal kamu bisa belajar dirumah dan bertanya kepada Orang Tua atau Kakakmu?”dengan nada penasaran.
”Aku tadi malam saat ingin mengerjakan PRnya aku mengalami kesulitan saat mengerjakannya dan saat aku bertanya kepada kakakku ia sibuk dengan tugasnya yang banyak”
.Kemudian aku bertanya lagi “Lalu Orang Tuamu?”dengan penasaran aku tanyakan semua yang ingin kuketahui.
Kemudian Erik menjawab”Orang Tuaku sibuk dengan kepentingannya sendiri sendiri”.
Setelah mengetahui itu aku menyuruhnya untuk mengerjakan PRnya dulu lalu melanjutkan pembicaraan tadi setelah ia selesai mengerjakan PRnya.
          Tidak lama kemudian bel sekolahpun terdengar nyaring,yang menandakan bahwa pelajaran akan dimulai. Tepat saat Bu Guru datang ke kelas PR yang dikerjakan Erikpun telah selesai. Beberapa saat kemudian Bu Guru meminta PR yang kemarin diberikan untuk dikumpulkan didepan meja guru. Saat PR sudah dikumpulkan bu guru menghitung buku yang ada didepan mejanya ternyata kurang 3 anak yang belum mengumpulkan. Kemudian 3 anak tersebut dipanggil maju kedepan kelas dan dimarahi oleh Guru tersebut. Sebagai hukumannya 3 anak tersebut disuruh membersihkan kamar mandi saat pelajaran itu.
          “Untung kamu sudah mengerjakan PRnya tepat waktu kalau tidak mungkin kamu akan ikut dengan mereka membersihkan kamar mandi” Kataku kepada Erik.
Erik pun menjawab “Iya untung saja aku cepat-cepat mengerjakannya kalau tidak pasti aku sudah membersihkan kamar mandi”Kata Erik dengan nada senang.
          Kemudian setelah pulang sekolah teman-teman mengajak Erik dan aku untuk bermain didepan rumah Erik secara halaman rumahnya luas jadi pas untuk bermain disana. Tak lama kemudian Erik dipanggil ibunya untuk tidur siang. Kemudian aku dan teman-teman merasa setiap Erik diajak bermain ataupun belajar kelompok selalu Orang Tuanya memintanya untuk cepat-cepat pulang kerumah. Setelah membahas itu aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang karena adzan ashar mulai terdengar.
          Hal itu terus berlanjut sampai Ujian Nasional SD tiba. Kemudian aku bertemu dengan ayah Erik yang baru pulang dari masjid. Ia memintaku untuk belajar bersama dengan Erik agar Erik bisa masuk ke SMP Negeri. Setelah seminggu belajar bersama Ujian Nasional pun tiba. Kemudian setelah melewati hari pertama Ujian Nasional aku bertanya pada Erik
“Bagaimana tadi apakah kamu bisa mengerjakan soalnya?”kataku dengan nada ingin tahu.
Erik menjawab “Aku bisa mengerjakan soalnya tadi tapi ada yang tidak bisa”kata Erik.
Kemudian aku bertanya lagi “Antara bisa dan nggak bisa mana yang paling banyak?”.
Erik pun menjawab “50:50”kata Erik sambil melihat kebawah.
Aku pun kaget dengan pernyataan tersebut bagaimana bisa soal semudah itu tidak bisa dijawab. Aku berpikir mungkin ini karena selama ini Erik tidak pernah belajar karena keluarganya tidak terlalu memperhatikannya. Hal ini membuat Erik menjadi pendiam saat di tengah keluarganya dan membuat ia ngeyel saat diberitahu oleh orang tuanya.
          Setelah Ujian Nasional selesai kami menunggu kurang lebih satu bulan hasil dari Ujian Nasional dibagikan. Kemudian kami membukanya bersama-sama ternyata diluar perkiraanku aku menempati posisi 3 tertinggi disekolahan. Saat itu aku memperkirakan nilai Erik berapa sudah kupikirkan saat aku mengetahui nilaiku ternyata nilai Erik jauh dibawahku. Kemudian Erik mencoba untuk mendaftar ke SMP Negeri tapi apa daya nilainya yang pas pasan membuatnya tidak diterima di SMP Negeri.
          Kemudian 1 bulan setelah pengumuman aku bertanya kepada Erik ia bersekolah dimana. Kemudian Erik menjawab “Aku tidak diterima di SMP Negeri karena nilaiku pas-pasan jadi aku sekolah di SMP Swasta dekat rumah.”Kata Erik. Aku sempat berpikir kasihan sekali Erik, ia ingin sekolah di sekolah Negeri tetapi ia tidak bisa mencaapainya karena keluarganya tidak terlalu memperdulikan Erik.
          Tidak lama setelah menjalani sekolah di SMP ia menjadi terkekang dengan keluarganya karena anaknya tidak bisa masuk SMP Negeri .Akibat terkekang di rumah saat pulang ia tidak langsung pulang karena jika langsung pulang ia tidak boleh keluar rumah lagi. Pada saat itu ia selalu pulang sore padahal jam pulang sekolah pukul 12.30 WIB.
          Setelah pulang dari sekolah ia langsung dimarahi oleh orang tuanya karena sehabis pulang sekolah ia tidak langsung pulang tetapi malah nongkrong diwarung dekat sekolahannya dengan teman-temannya.Waktu itu pernah ia bermain sepak bola dilapangan sehingga dia lupa kalau ia tidak boleh bermain lebih dari jam 5 sore. Saat pulang ia langsung disambut oleh sapu yang dibawa oleh ayahnya. Hal itu membuat ia takut sekali dengan orang tua karena terlalu banyak peraturan. Sesama laki-laki aku dan Erik saling bertukar pikiran tentang apa yang dialaminya. Kemudian aku memberi saran yang membuat Erik tertantang untuk mencobanya. Saran tersebut adalah membuatnya merasa betah didalam rumahnya tanpa bermain diluar selama seminggu.
Setelah beberapa hari aku bertemu dengan Erik ia berkata “aku tidak kuat dengan saran yang kau berikan karena setiap aku berada dirumah aku selalu diceramahi oleh orang tuaku tentang inilah itulah,itu membuatku tidak betah dirumah”.Kata Erik
          Lama kelamaan Erik menjadi anak yang tidak kenal dengan saudaranya.Setiap ke tempat saudaranya ia selalu takut dan malu karena tidak pernah berkumpul dengannya lagi. Setiap saudaranya berkata apa ia tidak pernah menanggapi ia hanya tersenyum kepadanya. Saat itu adalah hari raya Idul Fitri dimana semua orang halal bihalal dari satu rumah ke rumah lainnya. Waktu itu kami sekeluarga besar halal bihalal ke tempat saudara kami,saudara kami itu adalah guru SMP Erik. Ia berbicara kepada kami bahwa Erik sering bolos sekolah dan jarang membuat PR,ia juga sering mencontek saat ulangan. Semua itu dilontarkan dari mulut guru Erik ke seluruh telinga keluarga besar kami. Kemudian Erik yang mendengar hal itu ia hanya bisa diam dan melihat ke arah bawah.
          Sampainya dirumah Erik terkena marah lagi oleh kedua Orang Tuanya. Erik pun hanya terdiam saat dimarahi oleh kedua Orang Tuanya. Ia merasa bahwa ia ingin bertukar posisi antara orang lain dengan dirinya apakah bisa orang lain hidup seperti dirinya. Kemudian Erik mengurung diri dikamarnya karena ia tidak mau lagi dengar celotehan orang tuanya itu. Mungkin dalam hatiku Erik merasa jiwanya tertekan karena tuntutan yang banyak dan mau tidak mau ia harus memenuhi tuntutan tersebut.
          Saat itu Ujian Nasional kurang 2 minggu lagi. Aku bertanya kepada Erik “setelah ini kamu ingin melanjutkan disekolah mana?”.
Erik pun menjawab “Aku belum tahu ingin melanjutkan dimana setelah lulus ini”.
Aku pun tidak terlalu memperdulikan hal tersebut karena pasti orang tuanya telah memilihkannya sekolah yang baik. Kemudian Ujian Nasional kurang 1 minggu aku dihampiri oleh ayah Erik saat aku sedang duduk didepan rumah. Ia menghampiriku dengan tujuan untuk mengajak anaknya belajar bersama. Akupun mengiyakan ajakan itu,setelah itu aku menghampiri Erik dan mengajaknya belajar bersama. Kemudian apa jawab Erik, dia menolak ajakan tersebut. Kemudian aku bilang kepada ayah Erik bahwa Erik tidak mau belajar bersama. Sebenarnya aku tidak enak kepada Erik karena aku terkesan memaksakan kehendaknya.

          Setelah Ujian Nasional dimulai aku bertanya kepada Erik “Apakah ia bisa menjawab soalnya?. Ia menjawab “Aku mengerjakannya hanya 30 menit setelah itu aku tinggal tidur”.
Aku berpikir pintar sekali anak ini aku saja membutuhkan waktu 1 jam 30 menit untuk menjawab soal tersebut. Aku percaya bahwa nilainya akan menjadi seperti SD lalu.
 Ujian Nasional pun telah selesai, kemudian aku bertanya lagi kepada Erik “Mau melanjutkan dimana habis ini?”.
Erik menjawab “Aku setelah ini akan melanjutkan di SMK yang telah dipilihkkan oleh Orang Tuaku”.Aku berpikir mungkin SMK yang dipilihkan adalah SMK Negeri.
          Setelah menerima hasil Ujian Nasional aku kaget ternyata aku dan Erik hanya selisih 0,3 saja. Aku berpikir hebat juga anak ini bisa mendekati nilaiku padahal ia tidak pernah belajar.
Kemudian aku bertanya “Ingin sekolah di SMK mana?”.
Ia pun menjawab “SMK *****”.
Aku berpikir nilai sebesar itu kenapa sekolah di SMK Swasta kan nilainya sayang. Selang waktu, aku mendengar kabar bahwa ia mendapat bocoran dari temannya. Aku jadi menyayangkan Erik yang dulunya Lugu,Jujur dan Periang sekarang menjadi seperti ini.
          Setelah memasuki SMK kenakalannya pun menjadi-jadi sekarang ia berani merokok. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa merokok adalah hal yang wajar bagi anak remaja sekarang. Tetapi ia merokoknya di area sekolah yang ada peraturan dilarang merokok. Setelah ketahuan ia merokok Orang Tuanya pun dipanggil ke sekolahan. Orang Tuanya bilang ia belum pernah melihat anaknya merokok. Setelah sampai rumah Erik pun dimarahi oleh kedua Orang Tuanya habis-habisan karena merokok disekolahan.
          Kemudian beberapa bulan kemudian Ia sering pulang larut malam. Orang Tuanya yang sudah lelah menasihatinya sekarang membiarkan anaknya bertindak semaunya sendiri. Aku dan teman-teman SD juga menyayangkan hal ini padahal ia saat SD orangnya Lugu dan Periang sekarang ia menjadi orang yang tidak karuan kelakuannya,sekarang ia tidak pernah bermain dengan saudaranya dan perkumpulannya sekarang menjadi tidak karuan.

- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -