Popular Post

Posted by : Pena Tinta Hitam Thursday, April 7, 2016

Karya : M. Ivanda Ramadhan




     Jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Aku sudah siap masuk sekolah di sekolah baruku ditahun pelajaran baru. Seperti biasa, sebelum berangkat aku selalu berpamitan kepada kedua orang tuaku dan tak lupa memohon doa agar hari-hariku di sekolah menyenangkan.
          Sesudah di sekolah, tampak wajah-wajah asing yang tak kukenal. Setelah pembagian kelas, aku berkenalan dengan seseorang yang pada saat itu duduk disebelahku. Namanya Rio, dia nampak seperti orang misterius. Sifatnya sedikit aneh seperti Kepompong yang tak pernah mau muncul dari cangkangnya. Aku heran dengannya, dia hanya mau berkenalan denganku saja.
          Sebulan telah berlalu, banyak teman-temanku sudah tidak  jaim lagi, mereka sudah saling mengenal sifatnya satu sama lain. Namun tidak dengan Rio, dia masih belum menampakkan sifat aslinya. Tetapi pada suatu hari disekolah, Rio bercerita denganku tidak seperti biasanya, saat ini Rio banyak bicara. Dari cerita panjang Rio yang telah kudengar, aku menyimpulkan bahwa Rio tidak suka dengan seseorang perempuan yang ada dikelasku. Tidak hanya Rio yang tidak suka dengannya, tapi hampir satu kelasku. Namanya Sinta, sifatnya memang sedikit kemayu, oleh karena itulah teman-temanku tidak suka dengannya.
          Hari demi hari berlalu, Rio dan teman-temanku semakin tidak suka dengan Sinta. Sifatnya tambah menjengkelkan, dia semakin sombong dengan apa yang ia miliki, dari tiap bicaranya bagaikan merendah diatas bukit. Rio sudah tidak bisa menahan emosinya karena tidak suka dengannya. Rio mencela Sinta pada saat jam istirahat.
          “Hei Sin, kamu jadi cewek jangan sombong, mentang-mentang kamu punya semua, kamu belagu gitu, males tau satu kelas denganmu!” Rio sambil menunjuk wajah Sinta.
          “Suka-suka gue dong, hidup-hidupku ngapain kamu ngurusin gue. Jangan-jangan kamu suka sama gue. Iya kan ngaku aja deh” Sinta dengan wajah mengejek memandangi Rio.
          “Hisss sorry yaa ngapain gue suka sama cewek sombong sepertimu! Lebih baik gue sama tembok dari pada sama kamu!” Rio semakin marah dengan Sinta.
          “Terserah kamu aja ah” Sinta dengan sombongnya pergi begitu saja.
          Setelah Sinta pergi, Rio menghampiriku dan menceritakan semua kejadiannya tadi.
          “Hei Nda, aku semakin sebel dengan si Sinta. Barusan aku sempat adu mulut dengannya.” Dengan nada tinggi Rio berbicara denganku.
          “Haaa ? adu mulut ? Maksudnya ?” Aku pura-pura tidak tahu
          “ Hiss kamu gak mudengan sih” Rio pun langsung meninggalkanku
Setelah Rio pergi, aku pun tertawa dan sedikit terkejut dengan cerita Rio tadi.
          Hari terus berlalu tak terasa sudah 5 bulan kami berteman. Mulai tumbuh benih-benih cinta Rio terhadap Sinta. Rio yang dulu benci dengan Sinta, kini kebencian itu nampaknya sudah hilang dan berganti dengan rasa suka. Rasa suka Rio terhadap Sinta dikarenakan perhatian Rio kepada Sinta berlebihan. Awalnya hanya aku yang tau soal itu, namun lama kelamaan teman-temanku tahu dikarenakan perhatian Rio kepada Sinta semakin memeperlihatkan kalau Rio suka dengan Sinta. Aku dan teman-temanku pun terkejut melihat kenyataan ini, dulu mereka saling memaki namun sekarang mereka bisa dibilang sudah satu hati.
          “Hei aku dengar Si Rio sudah pacaran ya sama Sinta” Bisik Si Fariz  
          “Kelihatannya sih begitu, soalnya mereka berdua semakin cocok, mereka aja sering upload foto berdua di instagram” Jawab Si Iqbal
          “Waduh Sosweet yaah, jadi iri nih” Kata Shela
          “Dasar cewek!” Jawab Fariz
          “Sepertinya Rio sudah menyatakan cinta pada Sinta, soalnya kemarin waktu pulang sekolah, aku liat mereka berduaan duduk mesra sambil berpegangan tangan di taman depan kelas kita” Kata Masha
          “Rio seperti menjilat ludahnya sendiri ya. Dulu aja sering mencela tapi sekarang malah jadi cinta.” Seru Si Iqbal dengan nada tinggi
          “Ssssst jangan seperti itu Iqbal, dia kan juga teman kita” Kata Eva
          Dari pembicaraan teman-temanku tadi, aku sangat terkejut mendengarnya. Aku berusaha membuktikan apakah benar perkataan para temanku. Dan ternyata perkataan teman-temanku benar. Rio dan Sinta sudah  berpacaran.
          Semakin hari mereka berdua lupa dengan teman-temannya dikelas. Mereka kemana-mana hanya berdua dan teman-temanku pun mulai ada rasa tidak suka dengan mereka berdua. Aku pun sempat jengkel kepada Rio, sejak dekat dengan Sinta dia seperti tak kenal aku lagi. Sifat Rio mulai berubah total. Aku sempat berfikir apakah ini sifat Rio yang asli. Tetapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu.
          Semester 2 telah datang, tak terasa kami sudah berteman setengah tahun. Hari pertama masuk pun tidak jauh beda dengan semester yang lalu. Rio dan Sinta pun masih pacaran. Di semester 2 ini, Rio dan Sinta ikut ekstrakulikuler tambahan Programming. Ekstra ini yang menjadi pengajarnya adalah kakak kelas. Rio dan Sinta sangat antusisas mengikuti Ekstra ini.
           Satu bulan berlalu, cerita Rio dan Sinta diekstra Programming masih berlanjut. Namun ada yang aneh pada sifat Sinta akhir-akhir ini. Tak biasanya Sinta pulang sendiri dan dia jadi pendiam di kelas namun tidak pada saat ekstra. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semenjak hari itu Rio dan Sinta jarang bercanda bersama dikelas. Rio pun mulai merasa ada yang aneh pada sifat Sinta.
          “Nda, kamu tahu ada apa dengan Sinta?” Tanya Rio kepadaku.
          “Ha? Kok kamu tanya padaku ? Dia kan pasanganmu, harusnya kamu tahu dengan apa yang terjadi padanya.” Jawabku dengan nada sedikit mengejek.
          “Halah, aku tak tahu apa yang terjadi dengan Sinta Nda, tolong aku.” Rio memohon kepadaku.
          “Aku tak tahu masalahmu. Selesaikan masalahmu sendiri! Aku tak mau tahu!” Jawabku dengan nada tinggi. Setelah itu aku meninggalkan Rio.
          Aku sedikit marah pada Rio. Dia lupa denganku saat dia senang-senang dengan Sinta, namun pada saat ada masalah dia baru minta tolong padaku.
          Suatu sore saat pulang ekstra programming, Rio terlihat sedih dan tak bersemangat. Aku pun bertanya kepada Tama
          “Tam Rio kenapa?” tanyaku pada Tama
          “Aku tidak tahu, mungkin dia sudah putus dengan Sinta, soalnya dari kemarin kan mereka berdua berbeda tak seperti biasanya.” Jawab si Tama
          “Hussh jangan seperti itu. Mereka kan pasangan sosweet. Haha.” Kata ku pada Tama
          “Haha iya sih.” Jawab Tama.
          Seperti ada masalah besar pada mereka berdua namun aku tak tahu apa itu.
           Suatu pagi sebelum jam pelajaran dimulai aku mendengar pembicaraan temanku.
          “Kamu tahu kalau Sinta punya pacar lagi?” Si Odi berkata pada Masha
          “Maksudmu selingkuh ? Yang benar saja kamu di, apa mungkin Sinta tega seperti itu pada Rio. Aku tak percaya ah.” Jawab si Masha.
          “Benar. Sumpah aku tidak bohong!” Seru si Odi
          “Kamu tahu dari mana?” Tanya Masha pada Odi
          “Aku kan juga ikut ekstra Programming, jadi aku tahu semuanya.” Jawab Odi
          “Apa hubungannya dengan ekstra?” Tanya Si Eva.
          “Perlu kalian tahu Sinta selingkuh dengan kakak kelas, pengajar di ekstra programming. Namanya Kak Brian.” Jawab Odi
          “Apaaa ? Kak Brian ? Jadi Kak Brian itu Banterannya Sinta? aku tak percaya” Kata Eva
          “sssst Bu guru sudah datang diam.” Kata Fariz pada semua yang sedang berbincang-bincang.
          Pada saat jam istirahat aku menghampiri Sinta untuk menanyakan semua seperti apa yang dibicarakan teman-temanku. Sinta pun mengakui dia pacaran dengan Kak Brian. Pada saat itu juga aku marah pada Sinta. Setelah itu aku mencoba menghampiri Rio dan menghiburnya tetapi dia tak bisa dihibur karena sakit hati yang terlalu dalam. Rio sudah mengetahui semua tentang Sinta dengan Kak Brian. Sepulang sekolah Rio memutuskan hubungannya dengan Sinta dengan rasa kecewa. Setelah itu dia minta maaf pada ku dan teman-teman satu kelas karena perbuatannya selama pacaran dengan Sinta.
          Hari terus berganti, Rio sudah tidak termenung lagi seperti biasanya, dia sudah bisa melupakan Sinta. Namun pada saat pulang sekolah Sinta menghampiri Rio dan meminta maaf padanya sambil menangis. Ternyata Kak Brian hanya main-main dengan Sinta. Sinta menyesali semua keputusannya. Dia ingin kembali ke masa dimana dia bersama sama dengan Rio. Namun Rio tak pernah mau kembali ke masa itu. Walaupun Rio tak mau, Rio sudah mau memaafkan Sinta. Akhirnya mereka berteman seperti biasa seperti halnya Rio berteman dengan perempuan lain dikelasku. Dan sejak masalah itu dikelasku tidak ada yang berpacaran satu kelas.
Akan tetapi saat kami naik kelas ada lagi yang memulai kisah cinta baru dikelasku, Iqbal dan Shela. Apakah kisah cinta mereka berlanjut pada saat mereka lulus dan mendapat pekerjaan atau harus berakhir dengan penyesalan atau jangan-jangan sama dengan cerita Rio dan Sinta?


***

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -