Popular Post

Archive for October 2015

Menunggu

By : Pena Tinta Hitam

Karya : Dandi Binastria



Sesampainya di rumah yang tidakku ketahui seluk-beluk dari rumah itu dan bahkan belum akrab sama sekali denganku. Kami sekeluarga pun harus tinggal di rumah asing tersebut. Tak lama kami menunggu ibuku akhirnya membuka pintu rumah itu. Didalamnya masih kotor dan lama tak terawat, dan hanya ada dua tikar untuk kami istirahat. Setelah tampak bersih, Aku pun pergi melihat lihat tiap inci rumah asing ini, agar Aku akrab dengan rumah ini. Disaat Aku berkeliling keluargaku memilih untuk istirahat. Setelah puas berkeliling Aku pun akhirnya memilih untuk istirahat.
Esoknya, perabot rumah kami sudah datang. Kami sekeluarga dan para tetangga baruku menata semuanya hingga rapi bak istana raja. Setelah berterima kasih kepada semuanya, Aku pergi untuk melihat lihat desa baruku itu. Didesa itu banyak sekali pepohonan yang rindang, dan air sungainya pun jernih dan bersih. Bahkan air tersebut dapat langsung diminum. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, saatnya waktuku untuk pulang.
Keesokan harinya aku didaftarkan oleh Ayahku di suatu sekolah di kota itu. Setelah Aku mengetahui bahwa Aku akan belajar ditempat yang baru, Aku mengajak Ayahku untuk melihat sekolahan itu. Ternyata sekolah itu cukup luas. Disana terdapat banyak sekali pohon, rumput yang hijau dan banyak burung berterbangan. Pada saat itu juga aku merasa ingin untuk sekolah ditempat itu.
Hari pertama sekolah berjalan seperti hari biasa. Layaknya siswa baru lainnya, Aku berkeliling disekolah itu pada saat istirahat. Dan ternyata sekolahan itu memiliki 2 buah kantin. Diantara kedua kantin tersebut terdapat dua perbedaan yang sangat mencolok, yaitu para pengunjungnya. Dikantin pertama banyak lebih banyak siswa perempuan daripada laki laki, begitu juga sebaliknya. Karena kantin kedua lebih banyak siswa laki laki, Aku lebih sering ke kantin dua dari pada kantin satu.
Setelah beberapa hari aku sudah memiliki banyak teman dan bahkan sudah ada yang menjadi sahabatku, dia bernama Ardi. Walaupun kami berbeda kelas, Dia di kelas A sedangkan Aku di Kelas B perbadaan itu tidak bermasalah bagi kita berdua. Dan tidak disangka sangka rumah Ardi dekat dengan rumahku, jadi aku sering bermain ke rumahnya. Saat sekolah, pada jam istirahat aku dan Ardi ke Kantin satu. Saat itu aku melihat seorang siswa perempuan yang baru pertama kali kulihat. Gadis itu berparas cantik jelita dan bertubuh tinggi, Aku jadi ingin untuk mendekatinya. Diantara teman temannnya menurutku dialah yang paling cantik. Ada rasa ingin berkenalan dengannya tetapi Aku masih merasa malu, Aku pun hanya bisa melihatnya dari jauh.
 Setelah melihat gadis cantik itu, Aku lebih sering mengajak Ardi untuk pergi ke Kantin satu agar dapat melihat wajah cantik gadis itu. Sesampainya di Kantin satu Aku melihat sekeliling dan ternyata gadis itu tidak berada disana. Aku pun akhirnya pergi meninggalkan gadis itu dengan rasa kecewa. Karena aku terlalu sering mengajak Ardi ke Kantin satu, ternyata Ardi merasa curiga kepadaku. Ketika Aku mengajaknya ke Kantin satu lagi, Dia bertanya kepadaku
 “Ren, kok kamu sering ke Kantin satu? Emang kamu nggak kangen tu sama Kantin dua?”. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman. 
“Ren, kamu kenapa oy?”
 “Udah ikut aja?” 
“ Oke deh”.
Setiap kali Aku mengajak Ardi ke Kantin satu Dia terus bertanya hal yang sama padaku, dan Aku hanya menjawab “Tidak apa apa”. Suatu hari ketika aku mengajaknya ke ketempat yang sama lagi, Ia merasa bosan dan mengajakku ke Kantin dua. Dan Aku menuruti kemauannya, karena Dia selalu menuruti kemauanku apalagi Ia sahabatku, Aku tidak ingin mengecewakannya.
Setelah kami naik kelas, disaat pembagian kelas ternyata kelasnya diacak. Dan ketika aku melihat daftar nama disuatu kelas tertera namaku dan juga Ardi. Aku merasa bahagia, karena akhirnya kami satu kelas. Dan setiap pulang sekolah aku bisa pulang bersamanya. Tetapi dikelasku hanya terdapat 6 siswa laki laki, hal tersebut termasuk hal yang lucu buatku. Karena baru kulihat kelas yang siswa laki lakinya hanya 6 orang, sedangkan sisanya siswa perempuan.
Esoknya ketika masuk sekolah aku berkenalan dengan semua teman baruku. Tak disangka sangka, orang yang kukagumi buatku Satu kelas denganku. Aku pun langsung berkenalan dengannya dan meminta nomor HPnya, ternyata namanya Ayu. Wajahnya sesuai dengan namanya. Dan Aku langsung mengambil tempat duduk dibelakangnya. Dan aku duduk bersebelahan dengan Ardi. Karena Aku duduk dibelakang Ayu, Aku lebih sering mengobrol dengannya dan Aku merasa gembira. Disaat pelajaran Aku malah lebih sering memperhatikan Ayu dari pada guruku sendiri.
Disaat ada tugas presentasi, dan aku disuruh mempresentasikan tugasku didepan kelas, mataku lebih sering tertuju pada Ayu. Dan ketika Ayu mempresentasikan tugasnya, Aku sangat memperhatikannya. Ketika Aku dirumah, Aku sering mengirim SMS kepadanya agar hubungan kami lebih dekat. Bahkan ketika Aku tidak masuk sekolah, Aku lebih sering bertanya tugas kepada Ayu daripada Ardi. Ketika sudah tau tugasnya Aku baru kerumah Ardi untuk mengerjakan tugas bersama. Dan jika dia tidak berangkat sekolah Aku selalu bertanya kenapa dia tidak berangkat.
Setelah hubungan Aku dan Ayu semakin dekat, Aku sering dibelikan makanan olehya dan juga sering membantuku mengerjakan tugas. Aku hanya bisa berterima kasih kepadanya dan hal itu membuatku senang sekali. Disaat ada kegiatan berkelompok, Aku sangat berharap dapat berkelompok dengannya. Disaat aku berkelompok dengan Ayu, Aku menjadi sangat bersemangat. Tetapi jika Aku tidak berkelompok dengannya, Aku juga bersemangat tapi tidak sesemangat satu kelompok dengan Ayu.
Bahkan saat hubunganku dengan Ayu sudah sangat dekat, ketika kami mengobrol lewat SMS kami menggunakan kata kata layaknya kekasih. Hal itu membuatku bahagia ketika Aku dirumah. Jika disekolahan Aku dibahagiakan oleh wajah cantiknya tapi jika dirumah Aku dibahagiakan oleh kata katanya. Hidupku seperti dilengkapi oleh dirinya.
Ketika hari ulang tahunnya, Aku bertanya pada Ayu hadiah apa yang ingin Ia miliki . Ternyata Dia hanya meminta sesuatu yang sederhana, yaitu 11 buah permen. Karena Ayu lahir ditanggal 2 September, jadi dia meminta permen hanya sebanyak itu. Dan ketika Aku berulang tahun Dia juga bertanya hal yang sama padaku, Aku hanya meminta sebuah ucapan ulang tahun yang spesial darinya. Karena ucapannya saja sudah cukup membuatku merasa bahagia.
Sudah satu tahun berlalu, kami akhirnya naik ke kelas 3. Dan sama seperti tahun sebelumnya, kelas kami diacak kembali. Aku berharap, Aku satu kelas dengan Ardi dan Ayu lagi dan juga semoga saja siswa laki lakinya bertambah. Dan ketika aku berkeliling disemua kelas akhirnya aku menemukan namaku disana. Setelah kubaca semua daftar nama itu, Aku melihat nama Ardi disana dan hal itu membuatku bahagia. Karena teman baikku dari kelas satu itu satu kelas denganku. Ternyata siswa laki lakinya hanya bertambah satu orang saja.
Tetapi ada satu hal yang membuatku kecewa, Aku tidak satu kelas dengan Ayu. Tapi Aku masih semangat untuk belajar. Besoknya ketika masuk sekolah ternyata Aku duduk dengan siswa wanita. Itu membuatku tambah kecewa, karena Aku tidak duduk bersama Ardi lagi. Tapi tak apalah karena tempat dudukku masih berdekatan dengan Ardi, Jadi Aku masih bisa mengobrol dengannya.
Bel tanda pembelajaran dimulai akhirnya berbunyi. Kami masih menunggu guru untuk mengajar kami. Lama kami menunggu sampai kelas kita menjadi ramai lagi, guru pun datang dengan tiba tiba. Kedatangan guruku itu membuat semua siswa menjadi diam kembali. Setelah kuperhatikan guruku itu, ternyata Dia adalah wali kelasku dikelas dua. Dia datang dan bertanya siapa yang ingin berganti kelas. Semua hanya diam dan Aku pikir tidak akan ada yang ingin berganti kelas. Tak kusangka teman yang duduk semeja denganku berdiri dan berkata dia ingin pindah kelas.
Setelah ditanya banyak hal oleh mantan wali kelasku itu, ternyata Ia benar benar ingin berpindah kelas. Akhirnya wali kelasku itu pergi dan berakata bahwa Ia akan kembali. Setelah Ia pergi temanku itu langsung diinterogasi oleh temanku yang lainnya, layaknya buronan. Wali kelasku masuk kelas dan membawa seorang siswa wanita. Ternyata Dia adalah orang yang kucintai, hal itu membuatku begitu bahagia. Terlebih lagi dia duduk disebelahku, yang membuatku tambah bahagia.
Karena Ayu duduk disebelahku Aku jadi lebih sering mengobrol dengannya. Tak jarang kami bercanda disaat pelajaran sampai sampai kami dimarahi oleh guru. Dan yang lebih membuatku bahagia Aku sering dituliskan materi materi yang perlu dicatat. Semua itu membuat kami menjadi semakin dekat. Hingga sesuatu yang sama ketika Aku kelas dua terulang kembali, yaitu kata sapaan ketika di SMS.
Ketika Aku ingin mengatakan perasaanku padanya, Aku mendengar kabar bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih. Dan Aku tidak begitu terkejut karena dia memang wanita cantik, yang di idamkan para lelaki lainnya. Dan Aku hanya bisa masih menunggu sampai Dia tidak memiliki kekasih lagi. Cukup lama Aku menunggu sampai seperti tidak ada harapan lagi untuk bisa memiliki hatinya. Di hari hari Aku menunggu, Aku masih berharap bahwa Aku bisa menjadi miliknya.
Hingga akhirnya penantianku sudah selesai, dia sudah tidak memiliki kekasih. Tapi Aku masih merasa malu untuk mengatakan perasaanku kepadanya, Aku pun hanya bisa menganggapnya sebagai teman semata. Tetapi Aku masih menikmati masa pertemananku dengannya, karena dia masih perhatian denganku. Dan dia juga masih sering membelikanku makanan dan membantuku mengerjakan tugas.
Hingga akhirnya Aku teringat bahwa Ayahku pernah berkata bahwa Aku hanya boleh berpacaran ketika Aku sudah bekerja. Dan Aku berpikir bahwa Aku tidak mungkin menjadi kekasihnya. Akhirnya masa kelas tiga sudah selesai dan Aku diperintahkan orang tuaku untuk sekolah diluar kota. Dan perpisahanku dengan Ayu hanya dilakukan dengan foto bersama sebagai kenangan. Akhirnya Aku pun pergi keluar kota untuk melanjutkan sekolah dan tidak pernah bertemu dengan Ayu lagi.

Jendela Hati

By : Pena Tinta Hitam

Karya: Cecillia Novensia



            Ini adalah kisah tentang dua gadis kembar yang bernama Klara dan Katrine. Klara adalah seorang anak difabel, ia mengalami kebutaan sejak lahir. Selain bersekolah, ia menghabiskan waktunya untuk mendengarkan musik dan bernyanyi, hanya itulah hal menyenangkan yang dapat ia lakukan. Beruntung ia memiliki keluarga yang selalu mendukung nya terutama Katrine. Dulu Klara muda belum bisa menghafal setiap sudut rumah, sehingga Klara sering tersandung, kejeduk, maupun salah masuk ruangan. Namun Katrine menolongnya, dengan sabar ia menuntun Klara ketempat yang ia mau. Katrine menjadi sumber semangat untuk Klara. Katrine sendiri adalah anak yang ceria, penyayang dan juga penyabar. Ia disukai oleh banyak orang karena keramahan dan kebaikannya.
    Setiap pagi Klara dan Katrine berangkat sekolah diantar oleh supir mereka yang bernama Pak Sarno. Klara diantar ke sekolah luar biasa Permata Bangsa dan Katrine diantar kesekolah SMA Permata Bangsa yang letaknya saling berhadapan. Tidak jarang Katrine sering membantu Klara untuk menyebrang. Hal ini sering dilihat oleh teman-teman Katrine, namun teman-teman Katrine tidak suka melihat hal itu. Menurut mereka hal itu merupakan hal yang najis untuk dilakukan karena bagi mereka orang cacat itu adalah orang yang sedang terkena kutukan. Pada akhirnya Katrine sering mendapat olok-olokan karena memiliki saudara kembar yang cacat
  "Hallo Katrine, mana saudara kembar mu yang cacat itu? cobalah tengok mungkin kutukan untuknya udah hilang."
  "Waww, Katrine pintar sekali memilih warna bando yang cocok untuk bajunya, coba kita lihat gimana si buta itu memilih aksesorisnya. hahaha.."
  "Hei, kamu Katrine atau si buta itu? coba lambaikan tangan ke arahnya!"
   Tidak jarang punggung Katrine ditempeli tulisan-tulisan seperti gue sodara si buta loohh atau tulisan invite pin bb si buta 7def3e7. Hal ini membuat geram Katrine, siapa yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu. Semakin teman-teman mengejeknya, semakin ia perlihatkan rasa sayangnya untuk Klara. Ia seakan tidak peduli dengan ejekan itu, ia tetap kukuh seperti unta yang diterjang badai. Ia tidak malu, ia tidak minder, ia tidak pernah menjauh dari kenyataan, ia tetap menyayangi saudaranya yang buta itu. Hal inilah yang membuat Brian kagum dengan Katrine. Brian adalah teman sekelas Katrine, ia bukan termasuk tipe anak seperti kebanyakan teman Katrine. Ia tidak pernah memandang penampilan dalam berteman, ia juga anak yang ramah dan cerdas. Tidak jarang Katrine meminta bantuan Brian dalam mengerjakan tugas sekolah.
"Brian, kamu hari ini ada acara nggak?"
"Engga Trin, kenapa?"
"Tolong ajarin kimia nya dong, aku nggak begitu ngerti nih."
"Oke Trin, dimana?"
"Kamu tahu rumahku kan? Nanti jam 3 dirumah ku gimana?"
"Siaap Trin."
Selain kecerdasannya, Brian juga anak yang tampan, sehingga banyak gadis-gadis yang juga tertarik dengannya salah satunya Elen.
"Brian, aku juga mau diajarin dong."
"Ayok nanti gabung aja di rumahnya Katrine, ngga apa kan Trin?"
"Tapi aku nggak mau di rumahnya Katrine. Ada si buta."
"Namanya Klara. Lagian kamu kenapa sih? Klara itu sama kayak kita."
"Dia nggak sama kayak kita! dia buta yan!"
"Emang kenapa kalo dia buta? Toh buta engga nular."
Melihat pertertengkaran itu Katrine pergi meninggalkan mereka. Kebetulan saat itu adalah jam pulang jadi seperti biasa Katrine menjemput Klara untuk menyebrang dan pulang bersama dijemput Pak Sarno. Di mobil seperti biasa Klara bertanya pada Katrine
 "Gimana hari ini? temen-temen ngejek kamu lagi ya? maaf ya Trin." 
"Apasih ra! engga kok, malahan ya hari ini ada yang mau main ke rumah."
 "Apa iya? siapa?"
 "Namanya Brian.." kemudian Katrine mulai bercerita seperti apa Brian itu.
    Sesampainya di rumah, Katrine dan Klara masuk kerumah dan melakukan rutinitas seperti biasanya ganti baju, makan, mandi. Terkadang bila tidak ada les alat musik untuk Katrine atau les menyanyi untuk Klara mereka suka membuat lagu bersama atau mungkin mengcover lagu-lagu milik orang lain. Ketika mereka berdua sedang asyik bernyanyi ada ketukan pintu yang mengganggu keasyikan mereka 
"Trin, ada tamu tuh, mungkin si Brian."
 "Oh iya sebentar biar aku buka." Kemudian Katrine beranjak dan membukakan pintu, ternyata benar yang diluar adalah Brian.
"Hallo Bri, ayo masuk! Elen nya mana?"
"Elen hari ini nggak bisa datang."
"Oalah yaudah nggak apa."
"Maaf ya kejadian tadi."
"Sssttt.. udah nggak apa, jangan omongin kejadian apapun tentang sekolah."
Brian hanya mengangguk, ia tahu kalau hal ini dikatakannya karena tidak mau membuat hati Klara sedih. Kemudian Katrine memperkenalkan Klara kepada Brian. Setelah itu Katrine meninggalkan mereka berdua untuk mengambilkan minum. Brian pun mengajak Klara berbincang 
"Hei, namaku Brian. Tadi itu duet paling keren yang pernah aku denger lho." 
"Hehe makasi. Permainan piano Katrine memang bagus baget." sambil membawa nampan berisi minum dan kue Katrine menambahkan "Apalagi suara Klara yang tiada duanya." mereka bertiga kemudian mengobrol asyik sambil mengerjakan tugas kimia. Tidak mau memojokan Klara, Katrine juga mencoba mengajak Klara dalam perbincangan mereka. Melihat kedewasaan Katrine, Brian menjadi tambah menyukai Katrine.
    Sekarang Brian sering sekali berkunjung ke rumah Katrine. Terkadang ia membawa sebuah coklat untuk Katrine tapi Katrine memberikan coklat itu untuk Klara. Bila Brian sedang bertamu, Katrine lebih sering meninggalkan dia sehingga Klara lah menemani Brian. Dengan berbagai alasan dia meninggalkan mereka. Hal itu dilakukannya karena dia tahu kalau Klara menyukai Brian. Klara memang tidak bisa melihat tapi hati nya peka akan perasaan dalam dirinya. Hanya saja Klara minder dengan keadaan nya, sehingga dia lebih menutup diri akan perasaannya. Namun Katrine tahu semua itu, oleh karena itu dia melakukannya.
    Tiap kunjungan Brian ke rumah Katrine dan klara selalu diketahui oleh Elen dan kawan-kawannya. Melihat itu tidak sukalah mereka. Menurut mereka tidak pantas seorang normal berkunjung ke rumah orang cacat. 
    Suatu hari sepulang sekolah, seperti biasa Katrine menjemput Klara untuk menyebrangkannya ke arah mereka pulang. Sampai di pinggir jalan ada beberapa teman Katrine yang menggosip di depan mereka 
"Hei, lihat Katrine dengan si buta!"
 "Mau sampai kapan ya si buta bergantung sama Katrine?" 
"Iya menyebrang saja tidak bisa." Katrine merasa kesal dengan mereka, tapi dia mencoba untuk sabar. Dalam hati Klara, dia sangat sedih 
"Tuhan, aku memang sudah banyak menyusahkan orang, aku tidak ada gunanya di dunia ini. Menyebrang jalan saja tidak bisa."
Keduanya kemudian berlalu menuju mobil hitam Xenia yang sudah terparkir di depan sekolah SMA Permata Bangsa. Ketika Katrine akan membukakan pintu untuk Klara, Klara berkata "Jangan! aku bisa sendiri!" kemudian Klara berusaha mencari gagang pintu mobil dan membukanya.
    Di dalam mobil tidak seperti biasanya Klara hanya diam, hal ini membuat penasaran Katrine "Kamu kenapa ra?" hanya diam
 "ra, kalo kamu ada apa-apa crita dong!" sekali lagi jawabannya nihil
 "Klara??"
"Apasih?? brisik!"
"Klara kamu itu kenapa? gara-gara temen-temenku?"
"Engga! Aku cuman ngerasa Tuhan itu pilih kasih! Dia cuman sayang kamu!"
"Engga Klara justru karena Tuhan sayang sama kamu makanya Tuhan....."
"Kalau Tuhan sayang sama aku, kenapa Tuhan kasih aku buta tapi kamu engga? kitakan kembar!"
"Tuhan punya rencana dari semuanya ini Klara, semuanya akan indah pada waktunya."
"Aku iri sama kamu."
"iri? kok bisa?"
    Kemudian Klara bercerita pada Katrine kalau sewaktu Brian sedang berbincang dengan Klara, Brian sering bercerita tentang Katrine. Ia berkata kalau ia kagum dengan Katrine, dengan kedewasaannya, dengan kecantikannya, dengan kebaikannya.
"coklat yang kamu kasih itu bukan untuk akukan?"
"Maaf raa.."
"Kenapa sih kamu pake bohong sama aku? karena aku buta? aku gak butuh kasihan dari kamu!"
    Ternyata sudah sampai di rumah. Pak Sarno supir mereka berusaha menenangkan keduanya "Mbak, sudah sudah ini sudah sampai." Klara kemudian turun dari mobil di susul oleh Pak Sarno dan mengantarkan nya masuk ke rumah. Sedangkan Katrine masih di dalam mobil. Keduanya menangis dan walau tangisan mereka masing-masing sudah berhenti mereka tidak saling bertutur sapa. "Mungkin Katrine sudah enggan berbicara denganku," pikir Klara. Tapi kenyataannya Katrine memang tidak di rumah.
    Keesokan harinya mereka masih membisu satu sama lain. Tak ada dari keduanya yang mau memulai pembicaraan. Hingga pulang sekolah tiba Klara sudah berencana untuk menyebrang sendiri. Ia tidak mau bergantung lagi dengan orang lain. Dengan berbekal pendengaran, ia nekad untuk menyebrang. Ketika ia mendengar ada yang mendekat ia sama sekali tidak bergerak, jika ia tidak mendengar sesuatu ia mulai melangkahnya. Hal ini berhasil ia lakukan, hingga Katrine berteriak "Klara berhenti!! Disitu bahayaa!!" Klara tidak menggagas 
"Klaraa awaaaas!!!" kemudian Katrine lari ke jalan, ia berusaha untuk menarik Klara ke pinggir tapi Klara tidak mau untuk dibantu, hingga akhirnya ada motor yang melaju sangat kencang. Katrine berusaha menyelamatkan Klara. Namun sayang mereka terserempet dan jatuh ke trotoar. Banyak orang berkerumun disitu 
"Mas, tolong angkatin mbak Katrine ke mobil! cepat!!" teriak Pak Sarno
"Mbak Klara ayo saya bantu berdiri!" lanjutnya. Klara tidak bisa menelaah apa yang terjadi., ia hanya merasakan luka di telapak tangannya.
"Katrine aku minta maaf, baru-baru ini aku sangat keras kepala sampai terjadi kejadian seperti ini"
"Mbak, mbak katrine tidak ada disini." Jelas Pak Sarno
"Terus dimana Katrine?"
"Dia pulang sama temannya."
    Hari selanjutnya ada banyak jawaban yang sama atas pertanyaan Katrine dimana? jawabannya selalu
 "sama temennya." Klara jadi berpikir kalau Katrine sedang marah dengannya. Tapi semenjak kejadian itu banyak teman-teman Katrine yang pada akhirnya mau berteman dengan Klara
"Klara, aku Elen temannya Katrine, maaf kalau selama ini aku dan temen-temen sudah jahat sama kaliaan.. aku bener-bener minta maaf." kemudian ada pelukan hangat yang datang dari seorang teman yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Klara sangat bahagia. Tapi kebahagiaannya menjadi berkurang manakala ketika ia berangkat sekolah, tidak lagi bersama dengan Katrine. Katrine menjadi sangat sering bermain dengan teman-temannya.
    Suatu hari ketika pulang sekolah, ia merasa dirinya dituntun untuk menyebrang jalan, ini bukan Pak Sarno ataupun ayah 
"Katrine?" cetus Klara bahagia.
 "Aku Brian, ingat?"
"Brian, kamu engga sama Katrine?"
"Enggak, sekarangkan aku sama kamu."
"Huh? Brian? terus mana Katrine?"
"sama temennya."
"Brian, aku ngerasa kalo sejak kejadian itu, aku jarang banget ketemu sama Katrine walaupun dirumah, aku udah jarang denger suara langkah kakinya yang lembut itu. Dia lebih sering main sama temennya. Aku kangen sama dia. Apa dia enggak kangen sama aku? Apa dia masih marah sama aku?"
"Ra, Katrine itu sayang banget sama kamu, ia rela melakukan apapun untuk bisa menjaga kamu, untuk tetap dekat sama kamu."
"Tapi kenapa sekarang dia engga pernah ngobrol lagi sama aku?"
"Dia ingin sekali, tapi dia tidak bisa."
"Kenapa?"
"Eh, itu mobil kamu sudah datang."
kemudian Klara masuk ke dalam mobil, di dalam mobil yang ternyata sudah ada ayah, bunda, dan Pak Sarno. Bunda langsung memeluk erat Klara sambil menangis dan berkata 
"Puji Tuhan, kita sudah dapat pendonor matamu nak." 
"siapa pendonorku?" bunda hanya diam dan menangis lebih keras.
    Beberapa hari setelah operasi mata, ia mulai berlatih untuk melihat dengan mata barunya, hal pertama yang ia lihat adalah cahaya terang yang tak pernah ia lihat, kemudian orang-orang yang berdiri mengelilingi dia, kembali ia bertanya
 "mana Katrine?" semua menunduk sedih
 "Katrine tidak ada disini kan?" tidak ada jawaban
 "kenapa semuanya diam?" kemudian ayah Katrine menjawab karena bunda tak bisa berbicara dengan kesedihan yang ia rasakan 
"Katrine ada bersama kita."
 "dimana?" "di hati kita, bersama kita."
 "Maksudnya?"
 "Katrine telah tiada."
 "Huh?" "Dia terkena kanker otak." Semua orang seketika menangis ; ayah, bunda, teman-teman, Pak Sarno, dan juga Brian. Brian yang mencintai Katrine merasa kehilangan dan belum bisa melepaskan Katrine, tapi ada maksud dari suatu peristiwa yang ingin disampaikan Katrine yakni dia ingin Brian bisa menjaga dan menemani Klara, dia ingin Brian peka terhadap siapa dia harus mencintai. Kemudian ia tersadarkan kalau selama ini Klara menyukainya dengan ketulusan. Sejak saat itu Brian dan Klara menjadi pasangan yang serasi, mereka sering membuat lagu yang semua inspirasinya berasal dari Katrine. Tidak hanya itu Elen dan teman-temannya juga telah berubah, sekarang mereka malah menjadi aktivis dalam suatu organisasi penyandang cacat ganda. Mereka melihat semangat Katrine untuk tetap tegar melawan penyakitnya dan ia juga harus merasakan penderitaan yang diderita oleh orang lain.
    Ketika semua telah berubah, Brian memberikan beberapa video yang ia temukan di handphone Katrine. Klara yang penasaran langsung melihat video-video itu.
"Sebenarnya aku ingin bercerita sama Klara kalau selama ini di kepala ku ada semacam bola tenes yang sembunyi di otakku, aku disuruh dokter untuk operasi tapi aku terlalu takut. Aku takut bila harus di botak."
"Semangat trin semangat! Biarlah anjing menggogong tapi Katrine terus maju! Teman-teman tidak boleh tau kalau aku terkena penyakit kanker, cukup ayah, bunda, dan Pak Sarno saja yang tahu. Kasian Klara yang selalu diejek terus."
"Check Up lagi. Maaf ya Klara Brian aku ninggal kalian dirumah, aku harus check up lagi nih, semoga kalian enggak marah dan doain semoga enggak kenapa-kenapa ya."
"Klaraa hari ini kamu marah banget ya sama aku, soal Brian? Klara kalo aja kamu tahu kalo aku itu enggak punya perasaan apapun sama Brian, Aku tahu kalo yang seharusnya sama Brian itu kamu.. karena kamu menyayangi Brian dengan tulus. Coklat itu cuman pantas buat kamu."
"Klaraa aku kangeen banget sama kamuuu.. di rumah sakit tidak ada yang bisa diajak ngobrol seseru kamu.. Seandainya aku tidak nabrak trotoar dan menyebabkan pendarahan di otak kecilku.. hal ini mungkin tidak akan terjadi."Hai, nanti aku mau operasi lho, bola tenesnya mau diambil, nanti aku bisa main bareng lagi sama Klara melakukan hal yang keren bareng, nyanyi bareng lagi..aku janji akan buat kamu bisa melihat, karena mungkin sekarang kamu bisa melihat karena aku adalah mata kamu dan kamu adalah mataku.

Sinkophobia

By : Pena Tinta Hitam

karya: Boy Riza Pahlevi



Namaku adalah Bob aku seorang anak tentara dan ibuku adalah seorang PNS. Waktu aku kecil aku pernah diajak orang tuaku ke pantai. Pada saat di pantai aku asyik bermain pasir, dan air di tepi pantai yang terkena ombak. Namun pada saat aku bermain aku digigit oleh kepiting, aku pun menangis sangat keras lalu ayah dan ibuku langsung membawa ku ke puskesmas terdekat setelah itu aku di bawa orang tuaku pulang kerumah untung lukanya tidak parah jadinya aku langsung bisa dibawa pulang oleh kedua orang tuaku. Dan semenjak itu aku tidak mau lagi di ajak ke pantai alias takut(phobia). Pada saat aku remaja aku mempunyai teman-teman yang asyik diajak main, namanya adalah Adel, Sofia dan, Roni mereka adalah temanku dari SMP. Kami berteman sangat baik dan kami sekarang teman satu kelas di SMA. Dari SMP aku sangat suka kepada Adel tapi sejak dulu aku tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Namun Adel suka dengan cowok yang bisa berenang atau anak pantai karena menurutnya anak pantai itu lebih macho. Tapi, Adel dan teman-temanku belum tahu bahwa aku takut air laut karena pernah digigit kepiting, namun mereka akhirnya pun tahu kalau aku takut dengan air (sinkophobia ). 
Saat aku piknik di Bali bersama teman-teman dalam acara study tour, teman-temanku mencoba menceburkan diri ke laut untuk diving bersama namun aku tetap menolak karena aku takut air laut. Tapi masalahnya si Roni dan teman-temanku masih mengajakku untuk diving bersama karena mereka belum tahu kalau aku ini sinkophobia alias takut tenggelam. Roni pun berkata kepadaku 
"ya iyalah semua orang kalau tenggelam juga takut. Takut air sih". Maka kita berusaha keras melatihnya untuk nyebur ke laut. Sampai ramai dilihat orang. Kacau nih.
“Daku tak ingin ikut! Lebih baik daku nongkrong di pohon jengkol bareng kalong dan sundel bolong!” rengeknya. “Dasar cengeng! Anak militer kok takut ama air.” Kata Sofia tegas sambil menendang punggung ku agar segera mencelupkan badannya.
Meskipun aku tidak ikut diving di laut tapi aku senang karena aku bias bersama Adel cewek yang aku taksir dari SMP dulu.
Setelah pulang dari study tour aku bertanya lagi kepada Adel setelah pertanyaan yang pernah aku ucapkan saat SMP dulu type cowok seperti apa yang dia inginkan. Adel pun menjawab bahwa type cowok yang dia inginkan adalah cowok yang bisa berenang. Aku tercengang sejenak dalam hatiku berkata “busyet kalau begini aku tak mungkin bisa jadi pacarnya nih’. Namun semenjak itu aku ingin berlatih berenang dengan ayahku mengingat ayahku adalah seorang tentara, meskipun awalnya aku tak berani berenang di laut karena takut air laut tapi ayahku berusaha melatihku untuk berani melawan rasa takut ku terhadap air laut itu. Hari pertama latihan berenang aku hanya mencelupkan jempol kakiku ke dalam air, sampai hari ke tujuh aku hanya berani mencemburkan jempolku ke dalam air. Sampai ayahku bertanya kepadaku “mengapa hanya jempolmu saja yang kau celupkan di air? Apakah jempolmu itu bisa berenang?. Ayahku sabar mengajariku berenang sampai 2 minggu latihan berenang aku hanya masih bisa mencelupkan jempolku ke dalam air laut. Wajah ayahku mulai berubah sepertinya kesabarannya mulai habis untuk mengajariku berenang, tapi disana masih ada ibuku yang membujuk ayahku untuk tetap sabar mengajariku. Sampai-sampai ayahku berjanji kepadaku kalau kamu bisa berenang dan kamu bisa jadi tentara sepeti ayah maka ayah akan membelikan kamu mobil baru. Hatiku sangat senang sekali mendengar perkataan ayahku itu tapi aku juga merasa bahwa itu tidak mungkin karena aku yang sudah 2 minggu latihan berenang belum berani menceburkan badanku ke laut apalagi berenang, tapi dibalik itu semua aku membayangkan bahwa seandainya nanti aku bisa berenang maka aku akan dapat 2 keuntungan sekaligus yaitu aku mendapatkan Adel dan yang kedua aku mendapatkan mobil baru. Setelah berbulan-bulan aku belajar berenag akhirnya aku bisa berenag dan tidak takut dengan air laut lagi. Semenjak aku bisa berenang aku mulai mendekati Adel karena Adel suka dengan cowok yang bisa berenang maka akhirnya aku mengajak Adel untuk pergi ke laut dan diving bersama, Adel pun mau tapi dia kok membawa cowok.dalam hatiku berkata ”siapa cowok yang dibawa Adel itu apakah mungkin itu saudaranya?. Lalu aku menyakan hal tersebut kepada Adel. Adel pun menjawab bahwa cowok itu adalah pacarnya. Betapa sakit hatiku mendengar perkataan Adel itu hatiku rasanya robek bak tertusuk pisau yang tajam. Kemudian setelah aku pulang dari laut aku menangis,aku tak mau makan dalam sehari. Sampai akhirnya ibuku datang dan bertanya kepadaku. 
"Bob kau ini kenapa kok dari siang kok gak mau makan”. Begitu tanya ibuku.
Aku pun menjawab bahwa aku sedang patah hati karena Adel cewek yang aku suka dia telah memilih cowok lain. Ibuku menasihatiku “bahwa perempuan diluar sana masih banyak”. 
Aku pun berkata kepada ibu "baiklah bu aku akan mengikuti permintaan ayah untuk menjadi seorang tentara seperti ayahku." 
Tapi aku masih berfikir pada saat nanti aku tes renang menyeberangi laut aku berfikir apakah aku bisa mneyeberangi laut, sedangkan aku baru bisa berenang akhir-akhir ini tapi ayahku menyakinkanku agar aku percaya diri untuk menhadapi tes renang itu. Akhirnya aku lolos tes renang dan aku berhasil membanggakan kedua orang tuaku bahwa selama ini anaknya yang penakut sama air bisa menjadi tentara seperti ayahnya. Kedua orangtuaku pun tidak menyangka bahwa anaknya yang dulu takut sekali dengan air laut tapi sekarang malah menjadi tentara angkatan laut seperti ayahnya. Selain aku senang menjadi tentara angkatan laut tapi di dalam hatiku masih kecewa karena aku tidak bisa mendapatkan Adel cewek yang sudah lama aku taksir dari dulu. Tapi meskipun begitu aku lapang dada menerima semuanya. Untung ibuku menasihatiku bahwa perempuan itu tidak hanya satu tapi di luaran sana masih banyak. Aku pun fokus pada profesiku sebagai TNI angkatan laut sekarang dan aku akan membela negara dengan penuh semangat dan pengorbanan.

Perih Kehidupan

By : Pena Tinta Hitam

Karya: Afiif Priyatama




      Ketika matahari hilang dibalik gunggung dengan berat hati Anto pulang, air peluh bercucuran di wajahnya yang penuh dengan rasa lelah. Sejak pagi ia mencari pekerjaan, tapi tak ada satupun yang menerima dirinya, berbekal ijazah SLTA dan keahlian yang ala kadarnya Anto mencari pekerjaan tanpa kenal lelah dan putus asa, hinaan dan cemooh saat melamar pekerjaan sering ia terima bahkan pengusiran sering ia terima,tapi apa yang Anto bisa buat, ia hanyalah orang kecil yang tidak memiliki kekuasaan atau harta apapun.

Saat perjalan pulang menuju rumahnya ia tak sengaja melihat pedagang martabak yang terkenal enaknya se kota Semarang, saking enaknya aroma martabak semerbak memenuhi isi angkot , aromanya menghipnotis Anto untuk membeli martabak, akhirnya tanpa pikir panjang Anto turun dari angkot dan menghampiri pedagang martabak tersebut, saat membayar Anto mengambil dan melihat dompetnya hanya berisi sepuluh ribu rupiah , dengan berat hati Anto membayar dan mendapat kembalian dua ribu rupiah ,”yaelah apes banget hari ini, ora entuk kerja eh balek balek gawa duit rung ewu, durung angkote patang ewu aduh nasib nasib balek mlaku ,tapi ra papa lah setidake aku gawa martabak kanggo anak lan bojoku “, akhirnya Anto meninggalkan pedagang martabak tersebut lalu pulang kerumah.Dari jauh Anto mendengar suara adzan,ia memutuskan untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid atau surau terdekat.Sambil terengah engah Anto memasuki masjid lalu ia mengambil air wudhu, setelah wudhu ia masuk dan melaksanakan shalat sunah tak lupa martabak diletakkan disampingnya, ada seorang marbot melihat hal tersebut dan memberitahu Anto kalau makanan tidak boleh masuk ke dalam masjid ,dengan berat hati Anto meletakkan martabak di dekat kotak amaal.Setelah melaksanakan shalat ia mengambil martabak tersebut.Betapa terkejutnya Anto melihat martabaknya telah hilang ,”Astagfirrullahhal adzim martabak ku dimana kok ditinggal shalat sebentar sudah hilang “, dengan spontan Anton berteriak “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!! Ya Allah cobaan apalagi ini ya Alllah” , seluruh jamaah shalat terkejut dan menghampiri Anton dan menanyakan apa yg terjadi, setelah Anto menceritakan kejadian tersebut ada seorang jamaah yang mengetahui siapa yang mengambil martabak tersebut.Betapa terkejutnya Anto ternyata yang mengambil martabaknya ialah istrinya sendiri, setelah iitu dia bergegas pulang kerumah.      
Sampainya dirumah Anto bergegas melepas sepatu dan masuk ke rumah
“Assalamualaikum , bapak pulang”
“Walaikumsalam ,wah bapak sudah pulang ,bagaimana pak sudah dapet pekerjaan?” sambil melepaskan dasi yang terikat di leher Anto
“Belum bu,bapak belum dapet pekerjaan tapi besok bapak akan cari kerja lagi” sambil mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi.
Setelah Mandi.
“Bapak udah makan?”
“Belum , emangnya ada beras? ,biasakan ibu nunggu bapak beli makanan buat makan malam”
“Emangnya bapak bawa makanan? Udah lupain aja pak hari ini spesial ibu beliin buat bapak martabak ,aromanya saja menggugah selera pasti bapak seneng” mengambil martabak didapur dan membawanya ke ruang makan .
“Nih pak martabaknya maknyus deh pokoknya” sambil memotong martabak jadi beberapa bagian
“Wih iya bu aromanya luar biasa,pasti enak nih bu,oh ya panggil anak anak bu pasti mereka juga suka”
“Ada apa bu kok malam malam gini manggil kita berdua? Ada makanan ya bu?”
“Eh tau saja si kakak kalo ada makanan, mari makan mumpung hangat “ sambil memberi potongan martabaknya pada si sulung   “lho kak adik mana kok ga kesini ,biasanya kalau ada makan dia cepet banget ngabisin”
“Katanya adik sudah kenyang , habis ngambil buah mangga di rumah mbah sri trus dimakan sendiri bu ndak bagi bagi sama kakak” sambil makan
“Aduh adik kamu itu memang bandel ya anaknya susah banget di beritahu”   belom ibu habis bicara bapak memotong pembicaraan ibu   “Ibu dapet uang darimana kok bisa beli martabak?”
“Aduh bapak udah jangan dibahas , pokoknya itu rahasia  “
“Ya udah kalau ibu ndak mau cerita , oh ya bapak punya cerita tadi pas perjalan pulang?”
“Ada apa pak cepet cerita ibu kepingin tau?”
“Saat Bapak pulang ,bapak mampir beli martabak trus uang nya Cuma 10 ribu trus bapak dapet kembalian 2 ribu habis itu bapak kerumah jalan kaki trus sebelum bapak pulang ke rumah, bapak mampir ke masjid habis itu martabaknya bapak taruh di kotak amal tapi pas bapak udah selesai shalat martabaknya hilang ,serem kan bu?”
“Iya pak serem ,bapak tau yang ngambil martabak itu?” gemetar
“Tau bu , tapi jangan terlalu dipikirin bu, pokoknya rahasia”
Setelah menghabiskan martabak seluruh keluarga Anto bergegas menuju tempat tidur. Anto menikah dengan seorang perempuan yang cantik jelita yang bernama Ira dan dikarunia dua anak yang satu perempuan dan yang satunya lagi laki laki .Walau miskin mereka dikenal di kampung sebagai keluarga paling harmonis, tapi anak mereka yang paling bungsu yang bernama Yudha juga dikenal sebagai anak yang bandel,ia suka mencuri buah dari pohon tetangga, ia juga sering melukai temannya, tetangga Anto merasa terganggu atas perilaku anaknya, tapi menurut Anto itu hal yang wajar karena anaknya itu masih berusia 5 tahun, itu adalah masa masa dimana anak anak mencari perhatian orang orang sekitar.Dan Anto tidak merasa terganggu dengan perilaku anaknya tersebut.

            Adzan Subuh bersautan, Anto bergegas bangun dari tempat tidur lalu langsung mengambil sarung dan sajadah dan melaksanakan shalat subuh.Setelah shalat subuh ia kembali kerumah dan langsung mandi,setelah mandi Anto bergegas mempersiapkan semua barang barang untuk melamar pekerjaan ,Kemudian Anto berpamitan kepada keluarga untuk mencari pekerjaan. Anto berharap agar hari ini dia mendapatkan pekerjaan, di jalan Anto melihat soerang kakek yang tidak mempunyai daya untuk berdiri, tak ada seorang pun yang menolong kakek tersebut, entah sebenarnya kita ini berada di jaman apa , pada jaman dulu banyak orang yang peduli satu sama lain tapi pada jaman ini bisa kita lihat banyak orang yang hanya memikirkan diri sendiri, mungkin mereka meniru para pemimpin negeri ini, yang melakukan segala cara untuk kepentingan diri sendiri, mereka tidak tahu bahwa kita ini di dunia hanya mampir minum saja, kita di dunia tidak kekal, semua akan kembali pada Allah SWT . Bahkan menolong orang dijaman sekarang bisa masuk TV, itu adalah hal yang aneh .Anto menolong kakek itu dan mengajak kakek tersebut ke warteg di dekat tempat kejadian tersebut, Anto menanyakan nama kakek tersebut dan dimana tempat tinggal kakek tersebut. Ternyata kakek tersebut tersesat dan lupa dimana rumahnya bahkan beliau lupa namanya sendiri,tapi beliau menceritakan tempat tinggal nya di daerah klenteng tapi dia tak tau letak persisnya. Akhirnya Anto tak jadi mencari pekerjaan karena ia membantu kakek tersebut mencari rumahnya , alasannya kalau kakek diajak kerumah Anto nanti kakek akan makan apa? Untuk makan sehari hari saja susahnya minta ampun belum lagi bayar sekolah buat si sulung. Anto berpikir, klentheng yang ada dikota Semarang yang terkenal hanya klenteng Sam Po Kong mungkin saja kakek  tinggal di daerah , Anto bergegas menuju Sam Po Kong dengan jalan kaki, wajar saja uang nya tadi habis buat makan kakek, mana mungkin bisa buat naik angkot. Sampainya di Sam Po Kong Anto menanyai warga sekitar,apakah mereka mengenal kakek ini. Setelah penelusuran yang begitu lama akhirnya ada seorang warga yang mengenal kakek ini, ternyata warga tersbut adalah tetangga nya beliau, warga itu menceritakan kenapa beliau kabur dari rumah , betapa kagetnya Anto saat mendengar hal tersebut ternyata beliau kabur dari rumah, Anto kira beliau tersesat. Setelah cerita yang panjang akhirnya warga itu megantarkan Anto menuju rumah kakek. Sesampainya di rumah kakek , putra beliau dengan spontan memeluk ayahnya tersebut betapa bahagianya mereka. Putra beliau menceritakan bahwa ini semua salahnya, ia menyesal dan berterima kasih pada Anto .
“Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, saya sangat berterima kasih karena sudah menolong ayah saya”
“Tidak usah pak tidak usah saya melakukannya dengan ikhlas, kita sesama manusia harus saling tolong menolong , lagian saya juga merasa kasihan maka nya saya tolong ayah bapak”
“Sekali lagi makasih ya mas, dan saya juga minta maaf ya mas tidak bisa memberikan apa apa untuk mas”
“Ga papa saya ikhlas”
Akhirnya Anto berpamitan pada keluarga bahagia tersebut, dan ternyata matahari sudah tenggelam dari ufuk barat , tanda hari mulai malam. Anto bertolak menuju rumahnya dengan jalan kaki. Tak lupa ia mampir ke warung untuk membeli mie Sed*p untuk makan malam. Sampai dirumah Anto memberikan mie kepada istrinya dan menyuruhnya memasak mie untuk makan malam mereka. Setiap hari mereka melakukan hal tersebut berulang ulang, pagi pamit cari kerja pulang nya tak dapat kerja dan makan malam nya selalu mie. Sampai akhirnya Anto mendapat pekerjaan sebagai pedagang kaki lima di pasar Johar, tapi nahas setelah berjualan selama satu bulan tanpa di duga duga lapak tempat ia berjualan terbakar habis ,seluruh barang dagangan nya habis dilahap si jago merah ,betapa sedihnya Anto, mereka menangis meratapi barang dagangannya tersebut ”Ya Allah apa salah hambamu ini Ya Allah kenapa Kau memberi kami cobaan yang sangat berat, bagaimana nasib keluarga kami,bagaimana saya bisa melunasi seluruh utang kami pada rentenir rentenir itu. Bagaimna Ya Allah, sungguh berat cobaan kami,entah sampai kapan kami bisa memikul semua cobaan Mu Ya Allah” jerit lirih Anto sambil terisak isak. Kemudian Anto pingsan , didalam alam bawah sadarnya ia langsung mengingat keluarganya , “Ya Allah apakah ini karma yang Engkau berikan padaku karena aku telah menyakiti hati orang tua ku Ya Allah, seharusnya aku menuruti mereka tapi mau bagaimana lagi aku terlanjur mencintai Ira Ya Allah, menurut mereka Ira tak pantas jadi istri ku karena bisa merusak masa depan ku karena Ira hanya mencintai hartaku, tapi semua itu salah buktinya saat ia ku ajak Ira menikah, ia mau bahkan saat aku mau menceritakan rencanaku untuk melamar Ira pada orang tua ku, orang tuaku langusng melarang keras rencana ku ini dan akhirnya aku.....................”, akhirnya Anton tersadar ,dengan bantuan medis Ambulance yang tanggap menolong semua orang yang tak sadarkan diri, Anton terheran “Mengapa aku mengingat hal itu, sudah aku lupakan semua hal tersebut tapi itu membuatku menjadi tambah sedih”, Anton sebernarnya tidak mau mengingat masa lalu nya yang kelam, tapi saat ia pingsan ia mengingatnya kembali, ”Kenapa saat seperti ini aku masih mengingat hal itu”.
           
Satu bulan setelah insiden kebakaran, Anto mulai menata kehidupan keluarganya kembali, walau utang pada rentenir masih menumpuk , Anto tak patah semangat dan mulai kembali seperti kehidupan yang lama, pagi pamit cari kerja pulang malam gak dapat kerja makan malam selalu mie saja. Bahkan saat hujan badai banjir cuaca tak mendukung Anton masih saja rajin mencari kerja. Akhirnya keuletan Anto mencari pekerjaan berbuah juga .Pada saat Anto melamar pekerjaan di sebuah perusahaan kecil di Tanggul Indah, saat wawancara pada pimpinan perusahaan Anto kaget bukan kepalang ternyata pimpinan perusahaan adalah orang yang pernah ditolong Anto menghantarkan pulang ayahnya. Pemimpin perusahaan juga kaget dan mempersilahkan Anto duduk. Pemimpin perusahaan menanyakan kabar Anto dan menanyakan ada keperluan apa Anto di perusahaan tersebut. Anto menceritakan semua permasalahan yang menimpa dirinya pada pemimpin perusahaan dan ia bertanya apakah ada lowongan pekerjaan untuk dirinya. Dengan tangan terbuka pemimpin perusahaan menerima Anto, karena pada jaman sekarang sulit mencari pegawai yang jujur dan peduli sesama. Pemimpin perusahaan menerima Anto sebagai OB, Anto tidak marah atau sakit hati karena diposisikan sebagai OB, malahan di berterima kasih karena Anto sadar bahwa dirinya tidak mempunyai keahliaan sama sekali. Setelah bekerja selama satu bulan, pemimpin perusahaan mengajukan Anto untuk mengikuti pelatihan tentang saham saham dan tatanan perusahaan dengan syarat Anto harus melaksanakan tugasnya sebagai OB, mendengar hal itu Anton merasa sangat bahagia karena masih ada yang mau menolong dan peduli padanya. Setelah mengikuti pelatihan selama sepuluh bulan, pemimpin perusahaan menge-test Anto tentang saham dan tatanan perusahaan, betapa kagetnya pemimpin perusahan karena Anto bisa memberikan ide-ide yang revolusioner tentang bagaimana harus menjaga agar saham tidak turun. Pemimpin terkesan dan Anto pun diangkat menjadi Kepala bagian marketing. Ternyata keputusan pemimpin perusahaan tidak salah, setelah dua tahun Anto menjabat sebagai kepala marketing, Anto bisa menaikan saham dan membuat perusahaan kecil itu menjadi perusahhan yang besar bahkan mempunyai cabang di berbagai kota di Jawa Tengah. Hal itu tidak membuat Anto sombong, Anto malah sering menolong orang orang seperti dia melalui seminar dan berbagai kesempatan. Setelah menjabat menjadi kepala marketing selama sepuluh tahun akhirnya Anto diangkat menjadi wakil pemimpin perusahaan, betapa bahagianya Anto mendengar tentang kenaikan jabatan itu, bahkan pemimpin perusahaan juga membuat pesta atas kenaikan Anto, mereka merayakan kenaikan pangkat itu di tempat karaoke, betapa senang Anto karena dia tak pernah ke tempat karaoke. Setelah karaoke tanpa sadar Anto mabuk dan tidak mengendarai mobilnya, akhirnya Anto dihantar oleh pegawai karaoke, sampai dirumah istri Anto kaget karena mendapati Anto mabuk dan membawa pulang seorang wanita. Pegawai karaoke berusaha menjelaskan tapi istrinya menolak penjelasan pegawai karaoke dan segera membawa masuk Anto di dalam rumah. Anto pun tersadar dari mabuk nya dan kaget karena tiba tiba dia sudah ada di rumah, kemudian teringat tentang pesta itu dan akhirnya......Anto melihat istrinya menangis dan menanyakan perihal apa yang membuat istrinya menangis, Isrtinya diam seribu kata , “Kenapa? Kenapa Adinda menangis”, ternyata saat bekerja di perusahaan Anto tidak lagi memanggil istrinya bu tapi adinda. Istrinya akhirnya menjawab “Kenapa? Kenapa kau bilang!!” menangis .
“Emangnya ada apa? Benar aku tidak tahu kenapa adinda menangis, sudah jangan menangis adinda lama kelamaan aku  jadi ikut menangis” memegang tangan istrinya dengan lembut
“Mengapa ayah tega melakukan hal itu padaku”
“Melakukan apa dinda ?“
“Mengapa kau tega menduakan aku yah, apakah ayah sudah tidak cinta sama dinda, ternyata kekayaan ini telah membuat ayah tidak mencintai dinda ,dengan uang ayah bisa memilih wanita lain yang ayah sukai, dinda ingin ayah jadi seperti yang dulu”
“Apa maksudmu dinda”, Setelah itu Anto dengan penuh penyesalan, kasih dan sabar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Kemudian mereka bersatu lagi dan saling mengasihi dan Anto berjanji tidak akan melakukan hal hal yang tak perlu itu lagi.

            Perusahaan semakin maju dan berkembang, tapi sayang seribu sayang saat masa masa kejayaan perusahaan ini berada di puncak, pemimpin perusahaan terkena penipuan yang dilakukan oleh salah satu pemegang saham dan akhirnya di akhir tahun ini perusahaan mengalami kebangkrutan yang luar biasa bahkan pemimpin perusahaan sudah tidak bisa mengatasi dan mulai menutup perusahaan, mau bagaimana lagi nasi telah berubah menjadi bubur. Mendengar tentang kabangkrutan perusahaan, Anto merasa sedih dan syok, “bagaimana hal tersebut bisa terjadi”, Anto pun juga dipecat oleh pemimpin karena sudah tidak dapat menggajinya. Kebangkrutan perusahaan membuat Anto memutar otak dan berinisiatif untuk membuat perusahaan, ternyata inisiatif nya berhasil dan membentuk perusahaan “Beruk naga corp” (Berusaha sekuat tenaga). Setahun setelah pembuatan perusahhan itu Anto dapat membuka cabang di seluruh Indonesia, dan juga membuka minimarket “Modus” (modal usaha) dan Anto juga membangun banyak sekali toko, mall, Restoran, dll.

Berbagai kesuksesan dapat diraih oleh Anto, sampai suatu hari saat Anto memberikan seminar tanpa diduga Anto jatuh tak sadarkan diri, semua orang terkejut dan segera menolong Anto, panitia seminar memanggil ambulance, dengan sigap ambulance datang diwaktu yang tepat. Segera Anto di bawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, setelah pemeriksaan lebih lanjut dokter mendiagnosis Anto terkena infeksi saluran pernapasan itu disebabkan karena Anto selalu berpindah kota setiap harinya karena mempunyai scedhule yang padat. Sudah lebih dari enam bulan Anto dirawat dirumah Sakit, bukannya membaik keadaan Anto tiap hari semakin memburuk, bahkan berdiri saja tak bisa. Sampai suatu hari Anto membisikan sebuah pesan  kepada istrinya. Anto mengatakan pesan tersebut sambil menangis entah apa pesan apa itu, bahkan istrinya Ira menangis dan langsung keluar dari ruangan itu sambil menangis, sepertinya itu pesan terakhir Anto. Kemudian istrinya masuk membawa banyak orang, ternyata mereka adalah keluarga Anto dan kemudian Anto menangis tersedu sedu “Maafkan aku Mama , maafkan kesalahan anakmu ini ampuni aku Mama, semenjak Mama sama Papa melarang keras dengan rencana lamaran itu, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Ira untuk kawin lari, dan terbukti Ira mencintaiku Ma, maafkan aku ma karena sudah membuat Papa meninggal serangan jantung, mungkin nanti aku akan bertemu dengan Papa dan meminta maaf atas semua kesalahan ku ini dan untuk Ira jaga anak anak ya maafkan aku karena selalu membuatmu menderita”
Seketika semua orang yang berada di ruangan itu menangis.

Toko Burger

By : Pena Tinta Hitam

Karya : R Danantyo Andaro K.



Tak seperti biasanya, besok aku ingin sekali pergi ke toko burger. Katanya, di kota ada satu toko burger terkenal yang akan dibuka. Rumor mengatakan, pada hari pembukaannya (yaitu besok) harga burger di toko itu hanya 50 sen per buah. Karena alasan itulah, aku ingin pergi kesana.
Bukankah itu suatu hal yang lumayan, mendapatkan burger yang enak dengan harga semurah itu. Siapa orang yang tak mau mendapatkan kesempatan langka seperti itu? Sepulang kerja, aku langsung merebahkan badanku di sofa. Menonton TV sembari membayangkan kira-kira berapa burger yang sanggup kubeli keesokan harinya. Tapi tak berselang lama, sebuah berita di TV membuyarkan lamunanku."Telah terjadi pembunuhan besar-besaran di Panti Asuhan Brownsburry. Anehnya, tak ditemukan satupun mayat di dalam gedung Panti Asuhan tersebut. Hanya terdapat genangan darah di setiap ruangan dalam gedung. Polisi masih mencoba untuk menyelidiki kasus aneh ini dan motif dibaliknya."'Hmm, cukup aneh. Tapi hal seperti itu takkan membuatku mengurungkan niat untuk membeli burger murah itu besok.' pikirku. Aku lalu mematikan TV dan pergi tidur.
 Hari ini adalah hari pembukaan toko burger baru. Saat istirahat makan siang, aku bergegas pergi kesana. Tampaknya bukan hanya aku yang ingin membeli burger murah. Aku melihat beberapa teman kantorku, teman SMA ku dulu, beberapa tetanggaku. Sangat banyak sangat ramai, benar-benar penuh sesak. Aku sempat ragu apakah aku akan tetap mengantre burger. Aku takut jam makan siangku habis hanya untuk mengantre. Lalu aku berpikir, 'Ah, sudahlah. Tak apa sekali-kali datang terlambat.' Aku terus mengantre.
Akhirnya, tibalah giliranku untuk memesan burger.
 "Pak, double cheese burger satu."
"Ini dia." Pelayan langsung menyodorkan kantong berisi burger yang masih hangat.
"Whoa. Cepat sekali! Berapa harganya?"
 "Sesuai promo, 50 sen."
 "Baik, ini uangnya. Terimakasih!"
Aku segera pergi meninggalkan toko burger itu. Antrian terlihat semakin panjang bersamaan dengan kepergianku.
Sesampainya di kantor, aku benar-benar dibuat heran. Sangat sepi, seperti tak ada tanda kehidupan. 'Mungkinkah semua orang pergi ke toko burger itu?' pikirku. Aku bergegas pergi ke mejaku dan mulai melanjutkan pekerjaanku sambil menyantap burger yang baru saja aku beli. Sedap sekali. Dagingnya lembut, sausnya sangat terasa. 'Pantas saja toko itu sangat terkenal di tempat-tempat lain'. Aku terus melahap burger itu.
 Hingga mendekati jam pulang kantor, beberapa teman kantorku belum kembali dari toko burger itu. 'Sangat mengherankan, antriannya pastilah sangat panjang.' pikirku. Tak ingin banyak membuang waktu, aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya aku punya janji dengan salah seorang teman kantorku, tapi dia belum kembali dari mengantri. Aku lebih memilih untuk membatalkan janji dengannya. Dalam perjalanan pulang, aku melihat toko itu sudah tutup dan sepi. 'Lalu, kemana perginya teman-temanku?' tanyaku dalam hati. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkan hal itu.
 Keesokan harinya, aku masih saja memikirkan nasib temanku. Dari kemungkinan terbaik, hingga kemungkinan terburuk. Di kantor, meja temanku kosong. Aku menanyakan tentang hal ini pada beberapa orang di sana, tetapi tak ada seorang pun yang tahu. 'Belum pulang sejak kemarin? Kemana perginya dia?' aku masih saja bingung.
 "Hei, apa yang kau lamunkan?" tanya Louis, teman sekantorku.
"Oh. Tidak ada. Tidak ada."
 "Ayolah. Setiap kali kau melamun, pasti ada yang sedang kau pikirkan."
 "Okay. Baiklah. Ini tentang Marcel. Sejak kemarin sore hingga hari ini aku sama sekali belum melihatnya."
 "Kau tahu bagaimana tipikal Marcel kan, Pablo? Dia memang orang yang seperti itu, suka menghilang tiba-tiba. Jangan terlalu mencemaskannya. Oh ya, kau tahu. Harga burger di toko baru itu naik menjadi 1 Dollar."
 Aku langsung pergi meninggalkan Louis.
Aku bergegas menuju toko burger baru itu. Aku sudah sedikit melupakan masalah tentang Marcel. Aku hanya ingin membuktikan perkataan Louis. Ternyata benar juga. Harga burger itu menjadi 1 Dollar. Antrian terlihat tidak sepadat kemarin. Aku sama sekali tak berminat untuk membeli burger, jadi aku langsung kembali ke kantor. Sorenya dalam perjalanan pulang, kulihat toko burger itu sudah tutup sama seperti kemarin.
Keesokan harinya di kantor
"Hei, Pablo! Kau tahu, harga burger di toko itu naik lagi. Sekarang harganya menjadi 1,5 Dollar."
"Lou, bisakah kita berhenti membicarakan burger. Aku masih banyak urusan."
"Oh, baiklah." Louis pergi meninggalkanku Aku tak tahu harus bagaimana. Tugas kantor sangat banyak, Marcel belum juga kembali, aku benar-benar stress. Tak ada waktu memikirkan berapa harga burger di toko itu.
Hingga akhirnya, tubuhku sudah sampai pada batas ketahanannya. Aku jatuh sakit dan harus dirawat dengan waktu yang lama. Sejujurnya, aku sangat tak ingin dirawat di rumah sakit. Bau obat-obatan membuatku sangat tak nyaman. Aku tak tahu berapa lama aku akan dirawat di sana. Aku juga masih tidak tahu bagaimana kabar Marcel. Hanya Louis dan Julia pacarku, yang menjengukku setiap hari.
Akhirnya, dokter memperbolehkan aku untuk keluar dari rumah sakit. Julia datang menjemputku. Tak seperti biasanya, dia hanya diam. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesampainya di rumah, dia langsung pergi begitu saja. 'Pasti ada sesuatu yang aneh.' pikirku.
Keesokan harinya, aku kembali pergi bekerja. Kantor terlihat lebih sepi dari biasanya. Aku mencoba bertanya pada seorang temanku.
"Hei, Rachel. Kenapa kantor terlihat sepi?"
"Aku tak tahu, Pablo. Beberapa orang tiba-tiba menghilang. Matt, Andrew, Marie, Katie, dan kau pasti tahu. Marcel. Mereka tak pernah terlihat bekerja kembali."
 "Sesuatu pasti telah terjadi, Rachel. Katakan padaku apa yang telah terjadi kemarin."
 "Beruntung sekali kau. Aku mencatat hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Kemarin harga burger di toko baru itu 25 Dollar. Kemarin juga hari dimana kau keluar dari rumah sakit setelah 1 bulan dari rumah sakit. Hanya itu."
 Aku segera menelpon Julia. Sangat banyak pertanyaan di dalam benakku yang menunggu untuk dijawab. Julia menjawab panggilanku. Dia hanya ingin menceritakannya nanti saat perjalanan pulang. Saat ini dia sedang sibuk. Terpaksa aku mengiyakan keinginannya.
 Sorenya, aku pergi menjemputnya di kantor. 'Aneh, kantornya sudah sepi. Terlihat sama sekali tak ada kegiatan. Kira-kira di mana Julia sekarang berada?'1 jam, 2 jam, 3 jam, 5 jam sudah aku menunggu kedatangan Julia. Aku terus berusaha untuk menghubunginya tetapi tak dijawabnya. 'Apa yang terjadi padanya? Jangan, aku mohon jangan seperti Marcel.' Air mata keluar membasahi pipiku.
Keesokan harinya, aku dan Louis memutuskan untuk menyelidiki toko burger baru itu. Toko itu sudah tutup. Aku memutuskan untuk membuka pintu depan. Pintu itu tak dikunci. Kami berdua menerobos masuk. Salah satu pelayan melihat perbuatan kami.
"Pak, kami sudah tutup."
 "Kami berdua hanya ingin memesan burger." kataku
"Maaf, pak. Kami kehabisan daging untuk bahan patty. Terpaksa kami menaikkan harganya dari hari ke hari."
"Kami menginginkan burger dan kau harus memberikannya pada kami. SEKARANG!" Louis mengancam
“Baik, baiklah. Tetapi kalian harus membayar mahal."
Tiba-tiba aku merasakan pukulan benda tumpul mengenai tengkukku. Aku terjatuh ke lantai.
Semua menghitam.
Aku merasakan hawa dingin yang tidak biasa. Sangat dingin. Kedua tangan dan kakiku terikat. Sesuatu menutupi mataku. 'Aku harus keluar dari sini. Aku harus!' Aku terus mencoba menggerakkan seluruh tubuhku tetapi tidak bisa.
"Wah wah wah, tampaknya kau sudah sadar." suara itu terdengar seperti suara pelayan tadi.
"Sayang sekali, kami benar-benar tak bisa memberimu burger. Sebagai gantinya, kau akan menjadi bahan patty." Aku diam.
 "Kau tahu anak-anak Panti Asuhan itu? Well, mereka telah menjadi patty dalam burger yang telah kau makan. Kau mau tahu bagaimana nasib orang-orang yang menghilang belakangan ini? Mereka sudah berada di penggorengan. Mau tahu apa yang terjadi pada temanmu yang masuk bersamamu? Kami tengah membumbuinya. Kau hanya perlu menunggu waktu untuk masuk mesin penggiling."

***


- Copyright © Cerita Pendek Remaja - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Dicky Fatma -